selasar-loader

Handry Satriago tentang Menjadi Follower

LINE it!
Handry Satriago
Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Journal Sep 1, 2016

-sXS5_pFLiDukOpHRBFU8gag2jvSeYZm.jpg

Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya jadi "anak buah", jadi follower, dalam perjalanan karier kerja saya selama ini. Sebagai awalan, bukannya mau diskusikan soal arti kata, tapi saya gunakan follower karena memang tidak pernah suka dengan istilah "anak buah".

Well, pertama kali saya bekerja, saya kerja di sebuah Yayasan. Kerjaan saya pertama literally jadi tukang ketik. Saya ingat kata-kata atasan saya waktu itu, "Handry, bekerja itu harus ada titik mulainya, and for you, hal itu adalah mengetik".

Semua hal ada titik mulainya. Seringkali titik mulainya tak bisa sesuai dengan yang kita inginkan. "Game" nya atau perjuangannya adalah bagaimana bisa growth, bertumbuh dari titik mulai yang tak selalu menyenangkan itu. Saya akan bagikan pengalaman saya terkait hal ini.

Sejak awal bekerja saya bertekad untuk selalu men-deliver lebih dari yang diharapkan oleh atasan saya. Karena kalau hanya mengikuti apa yang disuruh atasan, tanpa run extra miles, susah beranjak jauh dari "titik mulai" tadi.

Saya tidak hanya berusaha mengetik lebih cepat dan akurat, tetapi juga memberi catatan dan pendapat mengenai yang saya ketikkan. Jadi follower itu harus bisa memberikan pendapat dan pemikiran.

Berikutnya saya kerja di sebuah perusahaan. Pemilik perusahaan tersebut termasuk orang "besar" di zamannya. Di tempat itu saya belajar mengenali karakter atasan. Jadi follower itu perlu untuk mengetahui karakter atasan, cara berpikir mereka, cara mereka mengambil keputusan.

"Karena kalau hanya mengikuti apa yang disuruh atasan, tanpa run extra miles, susah beranjak jauh dari "titik mulai" tadi"

Lalu, juga penting to know who are the "buttons", orang-orang yang merupakan "tombol" kunci, para influencer. Cara kita bekerja dengan orang-orang ini dalam sebuah organisasi akan menentukan hubungan kita dengan atasan.

Saat itu saya bikin kesalahan pertama, saya ikutan ber-"kelompok" pada segolongan orang yang saya anggap asyik. Saya bergaul hanya dengan kelompok saya dan menganggap kelompok lain tak penting. 

Salah banget! Dalam bekerja, jangan pernah membangun "dinding pemisah" dengan rekan sekerja. Beberapa tahun berikutnya baru saya dapatkan rumusan "never make a wall" tersebut, which is "treat everybody the same". Ketika kita bekerja dengan konsep "treat everybody the same", pintu-pintu pembelajaran pun terbuka di mana saja.

Satu hari saya termenung di meja kerja saya, saya merasakan pekerjaan saya itu-itu saja, saya tidak mendapatkan hal baru. Hari itu saya membuat keputusan penting, berhenti bekerja dan kembali sekolah. Keputusan yang ditentang banyak orang. Saya baru sadar bahwa "if you cannot learn anything in your work, it is a time to make a turn". Kerja itu harus ada "growth"-nya. Kalau pangkat dan gaji tidak, sekurangnya pengetahuan bisa growth.

Then jadilah saya sekolah dan masuk General Electric (GE) sesudahnya. Pertama kerja, bikin kesalahan fatal, karena nunggu dikasih kerjaan. No no no, orang yang bekerja nunggu dikasih kerjaan itu jadi doers saja nantinya, we have to find apa yang bisa dikerjakan. Bos saya bilang "make your first mistake and learn from it". My first mistake adalah nunggu dikasih kerjaan.

Jadi follower perlu punya passion to know what the boss want before he/she even say it to you. Sebelum diminta kita harus tahu maunya atasan kita. Bedakan juga antara "cari muka" dengan work extra miles.

Cari muka seringkali tanpa menunjukkan performa, lips service saja. Work extra miles ini adalah kunci untuk grow dalam bekerja. Di awal-awal kerja, saya habiskan banyak akhir pekan untuk belajar produk dan proses, nggak menunggu diberi pelatihan.

"Pertama kerja, bikin kesalahan fatal, karena nunggu dikasih kerjaan. No no no, orang yang bekerja nunggu dikasih kerjaan itu jadi doers saja nantinya, we have to find apa yang bisa dikerjakan"

Saya juga belajar pentingnya untuk tidak perlu blaming orang lain atau situasi when things goes wrong, karena blaming tidak akan menyelesaikan masalah. Daripada blaming dan ngedumel, lebih baik coba untuk mempelajari di mana salahnya dan bertanya bagaimana baiknya ke orang-orang yang berpengalaman.

Atasan semasa jadi follower, salah satu bos yang saya kagumi adalah Hadi Ismail, orang Irish-Jews-Egypt (gila ya? what a combination). Nah, Hadi yang ngajarin saya bahwa jadi follower itu ada waktunya untuk berani menyampaikan pendapat berbeda.

Dia bilang, "if you just ok and agree on what I said, why should I hire you? Nancep banget kata-kata itu. Lalu bermetamorfosislah saya menjadi "rebel", tetapi rebel dengan strong rationalities di belakang pendapat saya yang beda itu.

Rationalities and Data, that's what boss needed when you try to make your points. And make your points direct to the point. Putar-putar dan berbunga-bunga tapi nggak ada isinya cuma bikin bete bos

"Dia bilang, "if you just ok and agree on what I said, why should I hire you? Nancep banget kata-kata itu"

Jadi follower, jadi anak buah, adalah proses seperti juga jadi leader. Jangan pernah berhenti belajar dan mendengar. Oleh karena itulah, good follower akan jadi good leader dan good leader akan bertambah bagus ketika punya good follower.

Orang yang ketika jadi follower-nya tidak bisa good, kalau kebetulan jadi leader (entah karena apa), susah untuk jadi good leader.

 

873 Views