selasar-loader

Handry Satriago Tentang Bernegosiasi (Bagian 2)

LINE it!
Handry Satriago
Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Journal Feb 10, 2015

EcVDTKeOXQAs_PryuyCrfzbSjg8t-PJ0.jpg

Kali ini, saya akan lanjutkan berbagi tentang teknik bernegoisasi. Bagian sebelumnya dari tulisan ini bisa dibaca di sini. Bagian terakhir ini kita bicara tentangkomunikasi dan body language dalam bernegosiasi. Dalam negosiasi, bisa dibilang 50% keberhasilan ada dalam bagaimana cara kita mengkomunikasikan konten negosiasi serta body language kita.

Komunikasi

Karena fundamen dari negosiasi adalah mencapai win-win situation, anggaplah orang yang bernegosiasi dengan Anda sebagai teman, jangan musuh. Sampaikan point-poin anda dengan runut, use Why, What and How dalam flow rasionalitas Anda untuk setiap poin yang anda inginkan. Do not push without having good rationalitiy dalam proses berkomunikasi dalam negosiasi. Anda hanya akan membuat diri Anda sendiri terlihat bodoh.

Soal komunikasi ini, kalau saya, saya tidak akan melakukan penjelasan bertele-tele. Go to the point, dan sampaikan alasan mengapa kita memintanya. Juga tanyakan poin rasionalitas yang diajukan oleh orang yang anda ajak bernegosiasi. Jika dia tak bisa menjelaskan, bargaining kita membesar. Kita bisa mengarahkan poin tersebut ke bagian yang memberikan win-win.

Saat memulai negosiasi, mulailah pembicaraan dengan menjelaskan tujuannya, yaitu untuk mencari win-win situation, dan tidak ingin terjadi debat kusir. Jika terjadi kebuntuan dan tidak bisa dicapai kesepakatan, ajaklah untuk mencari solusi alternatif secara bersama. Jika poin Anda ditolak, walaupun sudah dijelaskan rasionalitasnya, coba tawarkan penjelasan dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kadang, juga ada baiknya Anda yang melihat dari sudut pandang berbeda terhadap poin yang mereka ajukan

Dalam bernegosiasi, jaga tone suara agar tidak terlihat emosional. Rule of thumb saya adalah, kalau terjadi emosi negosiasi tidak bisa berlangsung smooth. Kalau Anda dikasari, jangan terpancing. Tetap stay on the rule: ini poinnya, ini rasionalitasnya. Jangan takut dengan "setting" yang kadang sengaja dibuat oleh pihak lawan yang Anda ajak bernegosiasi. Anda datang untuk menemukan win-win solution. Not for fight. Tidak perlu menunjukkan emosi seperti nangis atau sedih. Hal ini mungkin berhasil sesekali. Tapi habis itu, orang malas bernegosiasi lagi dengan kita.

Selanjutnya Ini klise, but really work. Jangan pernah kehilangan kepercayaan diri Anda saat bernegosiasi, bahkan ketika ditekan pun. Stay with your rationalities flow. Biasanya, kepercayaan diri ini akan lahir sendiri ketika kita tahu betul subjek yang dinegosiasikan secara detil, dan datang dengan niat baik untuk menemukan solusi win-win.

Lalu coba juga untuk mengkomunikasikan rencana Anda di masa depan ("kalau negosiasi ini berhasil, saya akan bla.bla") Hal ini baik untuk menjalin future cooperation.

Hindari "ngibul" dalam bernegosiasi. Kadang agar menarik perhatian orang yang kita ajak nego, kita suka kebablasan ngomong ngalor ngidul.

Hati-hati ketika pihak yang anda ajak berbegosiasi bicara "oke, saya terima hal ini, tapi...". Biasanya permintaan berikut adalah trade off yang besar. Jangan cepat-cepat setuju ketika semua poin sudah dibicarakan. Summarize lagi, dan bikin catatan hasil negosiasi, tandatangani bareng-bareng.

Body Language

Body language berperan penting dalam negosiasi. Jika di awal sudah "menunduk-runduk takut" atau "jumawa", proses negosiasi jadi jelek nantinya.

Eye contact penting, tatap mata pihak yang anda ajak negosiasi ketika dia bicara. Tapi jangan pake melotot ya. Ketika bingung jawab pertanyaan, jangan tatap langit-langit atau putar-putar mata cari bantuan. Take it easy, minta waktu sebentar untuk berpikir.

Keep your body straight, jangan nggelosor, bersilang tangan, atau megang kepala sembari bersandar.

Ketahui kebiasaan dressing code orang/team yang bernegosiasi dengan Anda. Jangan overdress, tapi jangan juga gembel. Lepas dasi atau jas ketika mereka tidak memakainya. K

Ketika negosiasi dengan orang yang dipikir sexy, cakep, ganteng, jangan sampe melototin hal-hal yang bisa menimbulkan harrasment. Kepalanya aja yang diliat.

Terkadang kita juga suka grogi kalau sedang bernegosiasi . Apalagi posisi kita sebagai orang yang ada di "bawah". Nah, tidak perlu mainin bolpen atau getok-getok meja.

Atur juga kebutuhan ke toilet dalam bernegosiasi. Jangan sebentar-sebentar permisi ke belakang. Ga asik banget itu.

Selanjutnya kalau sedang bernegosiasi tim dengan tim, jangan bercanda dengan tim Anda ketika tim mereka sedang bicara. Simpan semua celaan-celaan tentang orang tertentu. Kadang diperlukan diskusi internal atau bisik-bisik dengan tim kita dalam proses negosiasi. Lakukan ini sesudah orang bicara. Atau minta waktu ke luar ruangan.

Nah ini yang menyebalkan dalam negosiasi. BBM/SMS, menerima telepon, atau main sosial media. Stop dulu. Kalau penting banget, minta izin.

Lalu untuk amannya, negosiasi dengan siapa pun, jangan sampai menunjuk-nunjuk. Kadang suka lupa. Gunakan seluruh telapak tangan kalau perlu pointing sesuatu.

Tidak perlu juga untuk memaksakan diri mengikuti culture orang yang bernegosiasi dengan Anda. Jelaskan saja dengan baik kalau Anda misalnya tidak minum alkohol. Daripada memaksakan minum atau makan hal yang anda tidak biasa atau tidak mau, terus anda jadi "lucu" ketika bernegosiasi, kan malah berabe?

Pada akhirnya kemampuan bernegosiasi itu adalah kombinasi antara seni dan ilmu pengetahuan. Know the people, the content, and the environment. Sisanya adalah effort untuk mencari win-win solution dan mengembangkan hubungan yang baik sesudah negosiasi tersebut.

 

525 Views