selasar-loader

Menjadi Ingat dan Waspada

LINE it!
Ghufron Mustaqim
Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia
Journal Feb 5, 2015

Pada tahun 1873 di Kasunanan Surakarta, pada masa kepemimpinan Sri Pakubuwono VII,  seorang pujangga utama keraton R.Ng. Ronggowarsito menulis Serat Kalatidha. Bait ketujuh dalam serat itu berbunyi: “Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilallah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada.”  Arti bait tersebut adalah: “Mengalami hidup pada jaman edan (gila-pen); memang serba repot; mau ikut ngedan hati tidak sampai; kalau tidak mengikuti; tidak kebagian apa-apa; akhirnya malah kelaparan; namun sudah menjadi kehendak Allah; bagaimanapun beruntungnya orang yang lupa; masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada”.

Bait di atas merupakan kritik sosial Ronggowarsito yang melihat gejala masyarakat di sekitarnya pada abad-19 yang menunjukkan sikap pragmatisme, mengejar kepentingan-kepentingan sempit dengan segala cara tanpa memperhatikan kepentingan umum dan kebijasanaan. Pada masa sekarang, ketika pranata negara dibuat tanpa memperhatikan hikmah kebijaksanaan, ketika pembangunan peradaban tidak disertai bangun pondasi kebudayaan yang kokoh, ketika orang-orang sering kagetan lan nggumunan (mudah heran) dan ketika kedangkalan dipuja, petuah Ronggowarsito yang ditulis menjelang kematiannya itu menarik untuk kita tilik kembali.

Apabila kita berhenti sejenak dari rutinitas dan merenungkan perkembangan Indonesia, kita akan menemukan betapa kita menuju ke arah yang semakin jauh dari cita-cita berdirinya republik. Kebijakan-kebijakan negara dibuat berdasar analisis teknokratis berbasis pertimbangan biaya-manfaat tanpa mengacu nilai dan moralitas. Pembangunan digagas dengan paradigma bahwa kemajuan itu Barat, yang efeknya melahirkan ketidakteraturan dan kekosongan. Demokrasi didewasakan dengan menganut demokrasi liberal padat modal yang mengkhianati asas permusyawaratan perwakilan. Ekonomi dilangsungkan untuk menyediakan jalan raya bebas hambatan bagi pemenuhan hasrat sedikit pemilik modal, menistakan asas kekeluargaan dan membuahkan ketimpangan ekstrem. Para pemimpin tidak memiliki referensi ideologis. Masyarakat buru-buru meramaikan budaya virtual tanpa sebelumnya menekuni budaya literatur yang mantap. Dominasi matra ekspresif dalam kebudayaan kita membuat matra progresif terperosok, arus anti-intelektualisme semakin membesar.

Merenungkan hal tersebut boleh jadi akan membuat sebagian kita mengalami perasaan keterasingan. Kita resah dengan kondisi di sekitar kita, namun kita belum memiliki legitimasi yang cukup untuk bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan. Kita tidak rela sejarah masa depan Indonesia ditulis oleh segelintir elit yang tak peduli dengan kemaslahatan umum. Rasa kemanusiaan kita teriris pedih oleh ketidakberpihakan para penguasa terhadap keadilan. Kita merasa kasihan kepada saudara dan teman kita yang saling berebut menjemput impian ilusif yang tak memiliki akar pengetahuan naratif. Kita sedih dengan diberhalakannya segala sesuatu yang terasosiasi dengan “keren” dan “populer”  yang  mengakibatkan ketidaktertarikan, bahkan kebencian kepada sesuatu yang “dalam” dan “sejati”.

Tapi mungkin juga sebagian kita kemudian berminat untuk mengikuti tren yang ada. Tidak mau terlalu dipusingkan dengan segala refleksi atas kondisi. Kita perlu survive dengan mengikuti perkembangan zaman. Dan ketika untuk survive di zaman ini diperlukan ketebalan hati untuk tak mendengar nurani yang terusik, maka kita akan lakukan itu. Tekanan sosial bagi mereka yang tidak mengikuti perkembangan zaman terlalu berat dan kita mungkin tak kuasa menerima. Marwah diri seperti terinjak berkat malu apabila tidak ikut mengalir searah air di sungai kemajuan yang kita sebenarnya menginsyafi bahwa sungai itu tak bermuara ke samudra yang perlu kita tuju. Sesuatu yang wajar, seperti yang diungkapkan Ronggowarsito.

Namun yang wajar belum tentu berarti benar, ingat lagi bait bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”, masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”. Inti dari sikap “ingat” dan “waspada” adalah mendasarkan segala pemikiran dan perilaku kita pada ilmu, keluhuran budi, dan kearifan. Hal ini memerlukan kebesaran jiwa dan kemurnian intelegensia agar kita dapat menghalau kedangkalan dan tetap konsisten menunaikan idealisme. Penghayatan mendalam atas siapa diri kita dan apa kontribusi yang dapat kita perankan selama hidup adalah suatu keniscayaan. Kita perlu mengkaji setiap pemikiran dan perbuatan kita berdasarkan tidak hanya pada panduan nafsu, kepopuleran, dan estetika, namun juga ilmu, kebijaksanaan, dan etika. Hal tersebut akan menjauhkan kita dari berpikir dan berbuat dangkal karena hanya kagetan dan nggumunan; kaget terhadap tren yang berkembang, nggumun (heran) terhadap gemerlap materialisme. Sehingga pada akhirnya akan mengantarkan bangkitnya matra progresif kebudayaan kita berupa filsafat, sastra, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Dalam konteks bernegara, kita memerlukan pemimpin yang memiliki kesadaran dan pemahaman filosofis tentang bagaimana mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Ia harus memiliki referensi ideologis dan keberpihakan sosial yang jelas. Tidak cukup bagi pemimpin hanya memiliki kapasitas bagaimana melakukan sesuatu, seperti yang diulas oleh Yudi Latief (2015) ketika menganalisis berbagai kegagalan Jokowi di awal masa kepemimpinannya. Presiden ke-36 Amerika Serikat, Lyndon B Johnson, mengatakan ”Tugas terberat seorang presiden bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.” Kebijakan-kebijakan pun perlu dirumuskan dengan pertimbangan sosial, tidak melulu mengacu pada pertimbangan ekonomi. Arah kemajuan tidak selalu menjiplak pengalaman Barat, kita perlu menggali kearifan peradaban sendiri dari narasi sejarah, antropologi, dan sosio-politik khas Nusantara. Ekonomi kita gagas dengan mengedepankan asas kekeluargaan dan keadilan yang melibatkan partisipasi masyarakat yang luas.

Sikap “ingat” dan “waspada” tidak serta merta menjanjikan keuntungan yang dipuji oleh nalar ekonomi. Hidup dengan kedalaman, baik pada level pribadi maupun bangsa, menjanjikan kesejatian dan kemuliaan prestasi yang akan mengantarkan kita kepada manusia dan bangsa yang beradab. Dan itulah yang penting, apabila kita menyadari bahwa kita adalah pewaris peradaban yang dititipi tanggung jawab oleh Tuhan.

 

474 Views

Author Overview


Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia