selasar-loader

Apakah Manusia Selalu Berpikir dan Bertindak Rasional? (Bagian 1)

LINE it!
Muhammad Kholid
Muhammad Kholid
Expert Staff at House of Representative, Republic of Indonesia
Journal May 20, 2016

Apakah manusia selalu rasional dalam setiap pengambilan keputusannya? Jika pertanyaan ini Anda sampaikan kepada para ekonom mainstream (baca neoklasikal), mereka akan menjawab dengan tegas: YA, Pasti! Sepasti besok matahari akan terbit lagi.  Manusia itu selalu berpikir dan bertindak secara rasional. Apa yang disebut dengan rasional? Manusia yang rasional adalah manusia yang dalam setiap situasi apa pun dan kondisi apa pun, dengan sumber daya dan satu set preferensi tertentu, akan selalu mengejar self-interest, dia memaksimalkan utilitasnya, konsisten dalam berpikir dan bertindak (asas transitivity= jika A>B dan B>C maka A>C), tidak mengalami cognitive bias, dan dengan tersedianya perfect information dia mampu mengkalkulasi nilai untung-rugi dari setiap keputusan yang dia ambil.

Manusia yang rasional adalah manusia yang otonom, dia mampu menguasai dirinya untuk menentukan pilihan yang paling menguntungkan. Jadi hal yang mustahil jika manusia mengambil keputusan yang justru meminimalkan kesejahteraannya. Dengan asumsi manusia yang rasional tersebut, ekonom membuat model ekonomi untuk mensimplifikasi kehidupan nyata dengan menggunakan sebuah persamaan matematis dan atau ekonometrik. Model ekonomi dibuat agar fokus observasi pada variabel tertentu yang ingin didalami, sehingga variabel lain yang tidak menjadi fokus perhatian dianggap cateris paribus (tidak berubah, konstan) dan hal yang tidak terjelaskan hanya dijadikan sebagi error atau disturbance. Inilah kurang lebih dasar rational choice theory yang menjadi kerangka pikir ekonom dalam menganalisis perilaku manusia.  

Pertanyaan sederhana saya: apakah rational choice theory adalah teori yang paling tepat dalam menjelaskan perilaku actual manusia?

Pendapat saya: tidak!

Saya tidak ingin menegasikan kontribusi teori ini. Apakah teori ini useful? Tentu useful. Tapi useful bukan berarti jadi yang paling hebat dan menegasikan teori atau pemikiran yang lain! Apalagi saya liat, penganut rational choice theory ini tampak sombong dan merendahkan pendapat pemikiran yang lain. Ini sangat mengganggu pikiran saya sehingga saya menuliskan kritikan lewat tulisan ini. Bukankah melawan kesombongan dengan kesombongan adalah sedekah? Begitu kira-kira.

Dalam tulisan ini saya ingin berpendapat bahwa rational choice theory bukanlah sebuah teori yang one-size fits for all. Namanya teori, mengikuti tradisi Popperian, hal itu harus bisa difalsifikasi. Bagi saya personally sering gemes sekali jika bertemu dengan orang yang menjadikan rational choice theory sebagai doktrin yang seolah-olah menjadi kebenaran final. Terlebih lagi, dia menggunakan teori ini (yang sebenarnya masih lemah fondasinya), sebagai metode yang paling valid dalam menjelaskan segala fenomena kehidupan (seolah-olah dunia ini milik ilmu ekonomi saja dan ilmu-ilmu lainnya hanya ngekost).

Ini konyol sekali, bagaimana mungkin ilmu ekonomi yang pada dasarnya masih belum selesai dengan dirinya sendiri, lalu kemudian dengan arogan menjadi super-science yang mampu menjelaskan segala fenomena kehidupan atau the science of everything seperti yang dilakukan buku-buku popular Tim Harford dan Freakonomics?

Bagaimana mungkin ilmu yang jelas-jelas gagal memprediksi dan menangani krisis yang merupakan core competence-nya yakni the science of economy, tiba-tiba didaulat menjadi ilmu yang paling mampu dan paling hebat dalam menjelaskan hal-hal yang bukan bidangnya (baca: non-ekonomi) sebagaimana yang digagas oleh Prof Gary Becker pemikir utama microeconomics for non-economic phenomena dari Chicago School? Bagaimana Anda bisa menjelaskan This Time is Different Syndrome yang menceritakan 8 Abad kebodohan krisis keuangan yang trennya justru semakin intens? (Anda bisa baca buku Ekonom Senior Harvard University yakni Reinhart & Rogoff: This Time is Different: 8 Centuries of Financial Folly).

Buat ekonom orthodox yang bangga dengan model ekonomi neoklasikalnya mungkin bisa berkata bahwa ini hanyalah kesalahan teknis saja, basic teori tetap tak tergantikan. Kalau Anda menjawab seperti itu maka saya ucapkan: Selamat! Anda termasuk orang yang memiliki pendirian yang sangat kuat. Sebagaimana kuatnya pendirian pemimpin gereja dahulu yang tetap bertahan pada pendiriannya jika bumi itu pusat tata surya, walaupun para ilmuwan saat itu sudah mengingatkannya bahwa itu adalah pendapat yang salah.

Mungkin orang seperti Anda memandang teori itu lebih tinggi dari kitab suci, sehingga 8 Abad kebodohan krisis financial itu hanyalah kesalahan teknikal belaka, dan secara konseptual tidak ada yang perlu diperbaiki sedikit pun. Bahkan Kenneth Arrow saja, seorang Nobel Prize Winner yang juga pencipta formalisasi Theory of General Equilibrium, mengakui bahwa dia dan kawan-kawannya melakukan kesalahan dalam mengkonstruksi dasar-dasar ilmu ekonomi yang yang sudah lama menjadi rujukan utama di kampus-kampus di seluruh dunia.

Lain Arrow lain Anda bukan?

Mungkin Anda punya kompetensi dan kredibilitas keilmuan yang lebih hebat darinya, jadi tidak perlu mengakui kesalahan itu. Atau Anda lebih mumpuni dari Prof Samuelson, Nobel Prize Winner sang ‘anak ajaib’ yang menciptakan buku teks ekonomi pertama dan menjadi rujukan pertama di seluruh kampus di dunia. Anda tahu, betapa frustasinya si professor MIT itu mengadapi Stagflation (ekonomi stagnan, inflasi dan pengangguran tinggi: fenomena yang tidak rasional) di tahun 1970-an karena semua alternatif kebijakan dicoba, secara konseptual rasionalisasinya jalan, namun pada prakteknya ternyata macet. Sehingga saat itu media melabeli ilmu ekonomi sebagai dismal science, profesi dan ilmu suram yang tak punya harapan berkembang lebih baik di masa depan. Atau bagaimana menjelaskan rasionalitas ekonomi atas fenomena Liquidity Trap di Jepang, atau bagaimana Quantitative Easing (kebijakan non konvensional moneter mencetak uang dan membeli toxic asset di pasar dalam jumlah sangat besar secara terus menerus dalam periode tertentu) yang mana secara teoritikal rasional harusnya berdampak signifikan kepada wealth effect - transmisinya lewat pasar modal ke peningkatan pertumbuhan M1 (uang beredar dimasyarakat yang mencerminkan daya beli meningkat atau tidak) - tapi kenapa tidak berjalan sebaik yang diperkirakan?

Coba Anda tanyakan kepada Profesor Paul Krugman, ekonom paling tersohor abad ini dan seorang peraih Nobel Ekonomi di bidang Ekonomi Internasional yang juga pencipta teori-teori krisis ekonomi dari generasi satu hingga generasi ketiga, apakah dia bisa memprediksi dan menangani krisis tahun 2008? Krugman secara berkelakar menyebut era ini sebagai The Dark Age of Macroeconomics, saking kusut dan sophisticated-nya masalah ekonomi saat ini. Atau kalau Anda tidak percaya Paul Krugman karena dia seorang Keynesian dan bukan Chicago boys, coba Anda tanyakan ke Professor Robert Lucas Nobel Prize Winner penemu Rational Expectation Theory dan dia adalah Godfather Chicago School untuk macroeconomics di kampus Anda.

Di tahun 2003, Lucas dengan sangat percaya diri mengatakan di depan American Economic Association bahwa semua kerangka teori dan model ekonomi yang sudah diciptakan sudah sempurna, jadi segala hal untuk mencegah terjadinya krisis sudah selesai. Apa yang terjadi setelah itu? Krisis keuangan global 2008 dan krisis Uni Eropa 2010 menjadi kado istimewa buat analisisnya yang brilian itu.

Maka pikiran yang sangat tidak bijaksana (untuk tidak mengatakan bodoh) jika masih saja menggunakan satu pemikiran untuk semua kejadian dan mengatakan bahwa teori ini sudah sempurna. Kalau Anda masih tetap ngotot, apa bedanya Anda dengan orang-orang yang menyerukan gerakan antivaksin dan hanya percaya bahwa obat yang paling mujarab adalah cukup dengan Asi Ibu dan Tibun Nabawi seperti bekam, habbatussauda, dan madu maka semua penyakit akan sembuh? Ketika diberi jurnal ilmiah tentang efek cakupan vaksin terhadap peningkatan kesehatan masyarakat dimana hasilnya positif dan signifikan, mereka menolaknya mentah-mentah hanya karena jurnal-jurnal ilmiah itu dari orang-orang kafir. Kata gerakan antivaksin, model pengobatan Tibun Nabawi itu sudah jaminan Al Quran dan As Sunnah dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Qur’an-Sunnah keabsahannya lebih akurat dibandingkan teori bikinan manusia. Hello? Kalo itu sudah jaminan, kenapa Rasullulah meminta para sahabatnya belajar tabib dan mengembangkan ilmu pengobatan?

Jika sudah ada jaminan dari Qur’an dan Sunnah kenapa dasar-dasar kedokteran modern justru lahir dari perdaban Islam? (Oke, untuk yang satu ini saya ngelantur terlalu jauh, karena saya kesal sekali hampir setiap hari dapat cerita dari istri saya tentang gerakan antivaksin ini, dan ini contoh irrational behavior yang dilakukan secara berjamaah). Atau ambil contoh lain yang lebih relevan, kebijakan versi  IMF dengan Structural Adjustment Program misalnya, yang dia bikin satu resep dan berlaku untuk semua negara tidak peduli apa diagnosanya sampai-sampai Stiglitz menyindir IMF yang copy-paste resep IMF untuk Turkey buat Indonesia pada saat krisis 1998.

Kembali lagi masalah rasionalitas: kenapa rasionalitas kebijakan (yang menurut rasio kita sudah benar dan mengikuti semua aksioma rasionalitas) seringkali macet di tataran aplikasinya? Ini adalah black box, masih sangat banyak teka-teki, dan pencarian kebenaran final (yang sepertinya tidak mungkin untuk mencapai final), akan terus berlangsung mengikuti kerangka pikir Hegelian (Tesis-Anti Tesis-Sintesis dan berulang seterusnya).

Jika demikian kompleksnya memahami perilaku manusia apalagi memahami perilaku masyarakat, apakah pasti semuanya beres hanya dengan analisis untung rugi yang hampir setiap saat Anda dengung-dengungkan itu. Apakah Anda masih meyakini bahwa “manusia adalah agen yang rasional” adalah kebenaran final seyakin anda meyakini bahwa bumi itu bulat? Kalau Anda jawab, YA! Maka selamat Anda bisa dijadikan contoh oleh Albert Einstein bahwa definisi kegilaan adalah ketika Anda percaya bahwa untuk menyeleseikan masalah saat ini cukup dengan pola pikir dan pendekatan masa lampau.  

Saya jadi bertanya-tanya, dari mana konsep ini lahir sebenarnya? Apakah basis argumentasi bahwa manusia rasional memiliki bangunan evidence yang sangat solid  sehingga bisa diverifikasi secara empirical dan critical? Kenapa para akademisi hebat seperti Anda sangat memercayainya sampai-sampai dipakai untuk acuan dalam menganalisis kehidupan yang sangat personal misalnya: cinta dan beragama! Mungkin anda memercayainya karena itu adalah hasil usaha ‘discovery’ yang ilmiah? Saya kok curiga, keyakinan ini lahir dari sebuah rekaan para filsuf zaman dulu dalam merumuskan idenya pada saat itu.

Coba kita runut asumsi bahwa manusia yang rasional itu selalu self-interest, selalu mengejar kepentingannya secara maksimal. Kunci kemakmuran adalah setiap manusia diberi kebebasan tanpa ada batasan sedikit pun untuk sama-sama mengejar kepentingan mereka. Dengan mekanisme alamiah, ‘invisible hand’ akan membantu setiap individu rasional memaksimalkan kepentingannya dengan melakukan pertukaran secara optimal sehingga hal ini akan menciptakan kemakmuran bersama.

Ini adalah ide yang dikontruksi oleh Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation (1776) untuk mengadvokasi kebijakan industrialisasi dan perdagangan bebas dimana sebelumnya perekonomian sangat protektif dan menganut merkantilisme. Alasan Smith sangat politis, dan Anda harus ingat, sejak Adam Smith sampai sebelum Alfred Marshall, tidak ada ilmu ekonomi (economics)! Yang ada hanyalah ilmu moral, filsafat, ilmu politik, atau ekonomi-politik. Jadi bagi Smith jelas: Economics is a political argument!

Sifatnya sangat politis sesuai dengan kepentingannya dalam merespon perubahan lanskap politik ekonomi saat itu (Tidak jauh beda dengan konsep sosialisme utopia Karl Marx yang lahir karena konteks dominasi para pemilik modal terhadap faktor-faktor produksi saat itu. Itulah alasan Marx menciptakan konsep materialisme historis dan alienasi untuk melawan kapitalisme). Adam Smith lewat Magnum Opusnya itu mengkonstruksi model manusia yang akan secara konsisten untuk mengejar kepentingan dirinya. Sifat manusia yang selalu mementingkan kepentingan dirinya inilah yang mendorong setiap keputusan ekonomi yang diambilnya akan meningkatkan welfare individu dan jika kesejahteraan individu ini di agregasi dengan kesejahteraan individual lainnya dalam sebuah masyarakat akan secara alamiah menciptakan kesejahteraan sosial atau publik.

Smith meyakini bahwa basis perekonomian harus dibangun atas dasar kebebasan alamiah setiap individunya, tanpa itu kesejahteraan sosial tidak akan pernah ada. Para economic historian menobatkan Smith sebagai bapak ilmu ekonomi modern dan pendiri classical economics yangdi kemudian hari berkembang menjadi neoclassical economics. Hingga saat ini, neoclassical economics adalah school of thought tertua, terkuat dan paling mendominasi di universitas-universitas di seluruh dunia. Sebagai status quo, aliran ini juga paling mempengaruhi seluruh kebijakan publik di negara-negara maju, berkembang atau pun terbelakang. Makanya tidak heran, ketika terjadi krisis hebat seperti The Great Depression tahun 1930-an, Amerika Latin tahun 1994, Krisis Asia tahun 1998, Krisis Keuangan Global tahun 2008 dan krisis utang tahun 2010 di Uni Eropa, neoclassical economics menjadi sasaran utama kritikan para intellectual

Salah satu pengkritik utamanya adalah Professor Joseph Stiglitz, Nobel Prize Winner  tahun 2001 yang juga Guru Besar di Columbia University. Dia menulis dalam bukunya yang berjudul, The Price of Inequality (2012),

Adam Smith, the father of modern economics, argued that the private pursuit of self-interest would lead, as if by invisible hand, to the well-being of all. In the aftermath of the financial crisis, no one today would argue that the bankers’ pursuit of their self-interest has led to the well-being of all. At most, it led to the bankers’ well-being, with the rest of society bearing the cost. It wasn’t even what economist call a zero-sum game, where what one person gains exactly equals what the others lose. It was a negative-sum game, where the gains to winner are less than the losses to the losers. What the rest of society lost was far, far greater than what the bankers’ gained”.

Konsep self-interest ini dikembangkan lagi menjadi konsep utility maximization. Bagi mahasiswa tahun pertama di Fakultas Ekonomi mana pun, dalam mata kuliah pengantar ekonomi akan mendapatkan pelajaran terkait konsep utility. Individu rasional selalu berperilaku untuk memaksimalkan utilitasnya. Apa itu utility? Dari mana konsep ini muncul? Apakah ini sekedar abstraksi ide atau sebuah scientific finding? Konsep utility pertama kali dikenalkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832) dalam bukunya Introduction to the Principles of Morals and Legislation pada tahun 1789 yakni 13 tahun setelah Wealth of Nations diterbitkan. 

Secara sederhana, Bentham mengatakan, “Alam telah menempatkan manusia di bawah kekuasaan dua penguasa: rasa sakit (pain) dan kesenangan (pleasure). Satu-satunya tujuan manusia adalah mencari kesenangan dan menghilangkan penderitaan”.

Dengan pemikiran ini, Bentham meyakini bahwa setiap manusia selalu digerakan oleh dua motif tersebut, yakni memaksimalkan kesenangan dan menghindari penderitaan. Disinilah muncul konsep utility sebagai “a measurement of a person’s happiness or human’s well-being”.  Coba Anda perhatikan, buku Bentham itu sangat jelas ditujukan untuk siapa? Buku itu untuk para politisi dan penguasa dalam membuat kebijakan legislasi. Konsep utility sangat politis motifnya, bukan dari proses scientific methodology.

Konsep utilitas Bentham ini disempurnakan lagi oleh William Stanley Jevons (1835-1882) dengan teori utilitas marginal yang menurun (ingat konsep minum air dimana minum pertama akan mencapai utilitas maksium, tapi tegukan kedua dan selanjutnya akan terus menurun). Konsep Jevons ini lalu disempurnakan oleh Alfred Marshall (1842-1924) dengan meminjam instrument analisisnya dari ilmu matematika, fisika dan biologi dalam membuat konsep kurva permintaan dan penawaran, elastisitas harga dari permintaan, dan consumer surplus sebagai salah satu ukuran kesejahteraan. 

Bentham, Jevons dan Marshall meletakan dasar utilitarianisme yang menjadi basis ekonomi klasik dan neoklasik. Konsep ini pun diperluas dengan teori ekonomi kesejahteraan yang melihat analisis ekonomi tidak hanya pada level individu atau perusahaan tapi juga secara umum atau sosial. Disinilah peran strategis Leon Walras (1834-1910) dengan konsep Walrasian Equilibrium (teori keseimbangan umum awal), Vilfredo Pareto (1848-1923) dengan konsep Pareto Optimality (alokasi yang paling efesien) dan Francis  Edgeworth (1845-1926) dengan konsep Edgworth Box Diagram (diagram yang menggambarkan pertukaran antara dua agen ekonomi dalam mengkonsumsi dua komoditas sehingga menciptakan pareto optimaliy/kondisi paling efesien).  

Mengapa saya bercerita cukup panjang lebar disini terkait akar sejarahnya?

Saya ingin menunjukkan bahwa konsep self-interest, utility maximization, free market economics adalah konsep yang dikonstruksi para founding fathers ilmu ini dengan motif politik-ekonomi tertentu. Konteks ini mengajarkan saya bahwa economics is not a pure science, economics is a political argument! Saya meyakini bahwa economics itu tidak value free (adalah kondisi yang tidak apple to apple jika membandingkan hukum gravitasi Newton dengan Hukum Permintaan Marshallian, misalnya). Ilmu ekonomi bukan pure science sebagaimana fisika, biologi, kimia dan matematika. Ada muatan motif politik yang kuat di dalamnya. Sejarah munculnya neoliberalisme di Era Ronald Reagan dan Margaret Thatcher salah satu contoh bahwa Economics is a political argument.

Di tulisan berikutnya, saya akan mengajukan beberapa argument yang membuktikan bahwa manusia tidak selalu berpikir dan bertindak rasional. Nantikan sambungannya tulisan saya ya. 

 

Tulisan ini ditanggapi dengan tulisan balasan di sini

5398 Views

Author Overview


Muhammad Kholid
Expert Staff at House of Representative, Republic of Indonesia