selasar-loader

Handry Satriago tentang Kepemimpinan Perempuan

LINE it!
Handry Satriago
Handry Satriago
CEO GE Indonesia
Journal Feb 12, 2016

IcfTsXDRaumYiO8qjt7ROS5jNZLbhxwb.jpg

Sejak dulu, "ranah" pembicaraan leadership lebih cenderung merupakan wilayah "maskulin" daripada "feminin". Bahkan kalau kita ingat lagi, teori tertua tentang leadership, yaitu leaders is born, disebut sebagai "The Great Man Theory" bukan "The Great Woman Theory".

Dari sini terkesan yg "born" sebagai pemimpin itu selalu "man" bukan "woman", traits leadership hanya dimiliki oleh para laki-laki. Padahal dalam sejarahnya selalu saja ada perempuan  hebat yang memimpin perubahan, baik di sejarah Eropa, Asia, bahkan Timur Tengah!

"Padahal dalam sejarahnya selalu saja ada perempuan  hebat yang memimpin perubahan, baik di sejarah Eropa, Asia, bahkan Timur Tengah!"

Atau mungkin karena konteks pembelajaran "leadership" yang kita kenal sekarang ini adalah produk Amerika, yang melahirkan "leadership industry"? Amerika Serikat, yang baru memberikan hak pilih pada para perempuannya pada tahun 1920.

Dalam dunia bisnis, kita juga pernah punya persoalan dengan kepemimpinan perempuan. Sampai dengan data tahun 2007 (Barbarra Kellerman, Woman & Leadership), tidak lebih dari 5% CEO perempuan di perusahaan Fortune 500. Dan tidak lebih dari 10% perempuan yang duduk di jajaran direksi dan top executive di perusahaan-perusahaan tersebut. Meskipun dalam kurun 4 tahun ini data tersebut sekarang sudah jauh berbeda. Sudah lebih banyak perempuan yang menjadi pemimpin.

Salah satu driver-nya, saat ini semakin banyak studi yang menelaah tentang perbedaan gender dalam leadership: style, impact, skill differences dan faktor lain yang membentuk gaya kepemimpinan seseorang dan membuat kita sadar akan beberapa fakta. Seringkali terlupa bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses yang salah satunya dibentuk oleh adanya followership.

Dengan bertambah "kuatnya" followers, perlunya kedekatan dengan followers, sekarang ini muncul istilah "Leading with The Heart", memimpin dengan hati.  Lebih jauh lagi, beberapa ahli bahkan berargumen bahwa di era sekarang ini, dibutuhkan sentuhan "keibuan" yang tinggi untuk dapat sukses sebagai seorang pemimpin.

Sebuah survei yang dilakukan oleh R. Sharpe (2000) menunjukkan bahwa proses transformasi tersebut terjadi di beberapa perusahaan multinasional. Menurut survei itu, "Women tend to adopt a more democratic or participative style". Perempuan ternyata lebih demokratis dalam memimpin, mengedepankan semangat partisipasi. Pendapatnya didukung oleh banyak ahli lain. Tentunya yang tidak setuju juga banyak. Menurut mereka, "it is not about gender, but about what style" yang dipilih oleh seorang pemimpin untuk diterapkan.

Bagaimanapun, mari kita lihat hasil studi lain yang juga relevan.

Hagberg Consulting membuat survei, membandingkan efektivitas pemimpin berdasarkan gender dalam beberapa skill yang diperlukan untuk menjadi pemimpin saat ini. Hasil survei tersebut menarik, dalam beberapa skill seperti mendengarkan, berkomunikasi dan memotivasi, pemimpin perempuan mendapatkan skor yang lebih tinggi.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa pemimpin bergender laki-laki unggul dalam hal analisis dan strategic planning. Secara umum, ternyata responden surveI tersebut lebih mengharapkan skill yang lebih banyak dimiliki oleh pemimpin perempuan.

Banyak perdebatan Pro/Kontra terjadi sesudah itu. Tapi saya melihat studi-studi di atas dari perspektif yang berbeda. Saya akan bagikan.

Kepemimpinan adalah tiga serangkai: Leaders, Followers, dan Situation. Ketika situasi dan pengikutnya berubah, maka seorang pemimpin juga harus berubah. Contohnya saat ini, pemimpin makin harus lebih dekat dengan followers. Gone the concept of "Leading By Creating Fear". Aspek "heart" makin diperlukan.

"Kepemimpinan adalah tiga serangkai: Leaders, Followers, dan Situation"

Dan pada akhirnya dalam konteks ini, bukan gender yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin, tetapi praktik-praktik yang diterapkan oleh yang bersangkutan. Tanpa melihat gendernya, seorang pemimpin harus tegas misalnya. Ingat M. Streep sebagai Thatcher di Iron Lady kala memutuskan perang?  Tapi memang betul, banyak hal yang bisa dipelajari dalam kepemimpinan saat ini terkait dengan gender. Saya belajar "leading with the heart" banyak dari pemimpin perempuan.

Ada juga persepsi bahwa untuk berhasil, pemimpin perempuan harus tegas, galak, kuat. Wah saya kenal banyak pemimpin perempuan yang tidak seperti itu tapi tetap hebat dan sukses. Dalam konteks ilmu manajemen, diversity diperlukan untuk suksesnya sebuah organisasi. “Kepemimpinan adalah area lelaki” jelas sudah lewat masanya. Konsep itu sama lamanya dengan "orang yg tulisannya bagus, jadi notulen rapat" atau "perempuan, jadi sekretaris kerjanya".

Saya akan menutup ulasan ini dengan membagikan pandangan saya tentang perjuangan Kartini sebagai sebuah studi kasus. Saya melihat surat-surat Kartini tidak hanya sebagai sebuah "emansipasi" saja, tapi sebuah perbaikan dari proses kepemimpinan. Saya yang laki-laki juga merasa "terwakili" oleh pemikiran Kartini, yang menurut saya adalah orang yang berani berpikir "out of the box" di zamannya.

"Sekarang ini aku belum apa-apa, memang benar begitu, tapi aku sudah boleh menjadi apa-apa" (Kartini, 1 November 1900). What a vision! 

916 Views