selasar-loader

Jurnalisme: Sebuah Bisnis Model Baru

LINE it!
Fauzan Al Rasyid
Fauzan Al Rasyid
Enthusiastic writer offering a solid background in journalism
Journal Feb 10, 2016

KrQjSCYAZHd84OtyqmXp4na8Q7OrQM9F.png

Kegiatan jurnalisme di era modern atau era tekonologi digital bergerak dan berkembang ke suatu bentuk jurnalisme baru yang ditunjang dengan media baru, yaitu internet. Bentuk jurnalisme ini dikenal dengan jurnalisme 2.0. Salah satu alasan Jurnalisme 2.0 hadir adalah karena para jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai saluran.

Pada mulanya perkembangan media online sempat membuat berbagai media cetak khawatir. Media-media cetak sempat mengkhawatirkan bahwa media online akan “menghabisi” media cetak karena melihat kecenderungan konsumsi media online masyarakat sekarang ini. Namun, ternyata yang terjadi adalah kebalikan dari kekhawatiran tersebut.

Media cetak kini saling berlomba membuat situs medianya. Hampir seluruh media cetak kini memiliki website atau versi online dari versi media cetaknya. Salah satu dampak positif dari dibuatnya versi online suatu media cetak tentu terbukanya lapangan kerja baru bagi masyarakat akibat adanya pembagian kerja dan deskripsi kerja (job description) yang berbeda antara kedua versi media tersebut.

Dampak positif lainnya adalah distribusi pesan atau berita yang semakin cepat. Suatu peristiwa atau kejadian bisa saja dilaporkan atau di-update langsung saat peristiwa tersebut terjadi karena semakin canggihnya teknologi saat ini. 

Selain itu, perkembangan jurnalisme online tidak hanya berhenti sampai situ. Kini media-media cetak pun tidak kalah bersaing dalam membuat serta meng-update secara cepat dan berkala akun-akun resmi jejaring sosialnya, seperti Facebook dan Twitter. Berita yang di-update melalui situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, terbukti mampu “menyerap” perhatian publik dalam waktu singkat. Bahkan tidak jarang pula, media-media, baik cetak maupun online, mendapatkan berita dari berbagai pembicaraan publik atau akibat reaksi publik yang terjadi di dunia maya.

Dalam perkembangan situs jejaring sosial, situs microblogging seperti Twitter adalah suatu situs yang sangat diminati oleh berbagai media. Berbeda dengan Facebook yang didesain untuk menjaring pertemanan, Twitter didesain untuk menyebarkan dan meng-update pesan-pesan singkat.

Fenomena Jurnalisme Twitter

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, potensi munculnya bad journalism (jurnalisme “nakal”) pun semakin besar. Walaupun situs microblogging, seperti Twitter memberi banyak dampak positif bagi perkembangan jurnalisme, khususnya di Indonesia, berbagai dampak negatif pun tetap tidak dapat terhindarkan. Bentuk jurnalisme baru pun kini mulai hadir. Suatu fenomena baru dalam dunia jurnalisme kini hadir dengan bentuk “Jurnalisme Twitter”.

Jurnalisme ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan jurnalisme online, hanya saja para jurnalis yang dikenal dengan Jurnalisme Twitter adalah para jurnalis yang sering kali memanfaatkan Twitter sebagai sumber berita. Lantas, bagaimana dengan keakurasian data atau berita tersebut? Walaupun berita ter-update dengan sangat cepat, keakuratan berita tetap harus menjadi yang paling penting karena menyangkut kredibilitas jurnalisme dan tentunya perusahaan media tersebut.

Bentuk negatif lainnya dari fenomena Jurnalisme Twitter ini juga hadirnya berbagai judul-judul berita yang menggantung, tidak jelas, dan sensasional. Hal-hal seperti ini pun tidak jarang terjadi pada media-media cetak yang sudah mempunyai nama besar di Indonesia. Tentunya fenomena ini menjadi semakin menarik untuk dikaji karena prinsip-prinsip dan etika-etika jurnalisme yang dahulu dipegang teguh oleh para jurnalis semakin lama semakin “luntur” akibat perkembangan teknologi yang di satu sisi memang memudahkan pendapatan sumber informasi, tapi di satu sisi juga dapat mengaburkan pemberitaan informasi.

Kecepatan dan Keakuratan Berita

Selasa, 18 Mei 2010, Indonesia sempat dikejutkan dengan berita meninggalnya pencipta lagu Bengawan Solo, Gesang. Berita ini bermula dari kicauan akun salah satu stasiun televisi yang kemudian dengan cepat menyebar di linimasa Twitter. Berita meninggalnya Gesang tentu saja sangat mengagetkan khalayak luas. Dampak pemberitaan itu pun benar-benar sangat luas. Pihak keluarga pun harus mengeluarkan pernyataan bahwa Gesang belum wafat, tapi masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah karena menderita gangguan lemah jantung dan saluran kemih.

Dari sana pun akhirnya mulai muncul berbagai komentar publik mengenai Jurnalisme Twitter. Komentar-komentar tersebut tentu saja bukanlah untuk memuji kepiawaian para jurnalis stasiun televisi berita tersebut melainkan menyindir dengan sangat keras. Pemberitaan yang tidak akurat yang diturunkan stasiun televisi berita itu sangat menyesatkan publik dan berdampak sangat luas. Hal ini harusnya bisa dihindari karena seharusnya seorang jurnalis tidak akan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sesuatu yang belum pasti dan tidak sesuai fakta di lapangan.

Senin, 7 Maret 2011, akun Twitter Kompas.com mengeluarkan satu tweet yang cukup sensasional. Tweet tersebut yang merupakan judul dari artikel yang dipublikasikan di situs Kompas.com berjudul, “Maradona Hilang Tergulung Ombak di Bali”. Nama “Maradona” tentu dikenal masyarakat sebagai Maradona sang legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. Namun, ternyata di berita tersebut diceritakan mengenai delapan remaja asal Buleleng, Bali yang tergulung ombak saat melukat atau membersihkan diri usai Nyepi di pantai Pangyangan. Tiga dari delapan remaja itu, Komang Maradona, Putu Juli Ardika, dan Agung Gede Krisyudiarta belum ditemukan. Jadi, “Maradona” yang dimaksud adalah salah seorang remaja Bali. Sementara itu, penjelasan mengenai “Maradona” mana yang dimaksud baru disebutkan di paragraf terakhir artikel tersebut.

Bisnis Model Baru Itu Disebut Jurnalisme

Mungkin Anda lelah dengan berbagai pemberitaan di media saat ini. Sama, saya juga sangat lelah. Saya yakin, di luar sana ada sangat banyak orang yang setuju bahwa kita sudah terlalu lelah membaca media-media kita saat ini.

Setiap pagi, saya pasti menemukan judul-judul berita sensasional di media-media online yang saya ikuti. Sering kali judul tidak mencerminkan isi berita. Lantas, mengapa media-media ini tetap “laku” di pasaran sekalipun kalau Anda lihat di komentar-komentar yang dikirimkan dari pembaca juga tidak sedikit yang marah kepada si media dengan isi berita yang: tidak penting, tidak jelas, salah (tidak akurat).

Saya hanya bisa mengatakan bahwa inilah salah satu model bisnis baru yang sangat menjanjikan: jurnalisme. Media sebagai suatu perusahaan tentunya juga bicara soal untung-rugi. Biar bagaimanapun juga, media butuh pemasukan untuk menjalankan perusahaannya. Namun, yang salah adalah ketika masalah untung-rugi inilah yang menjadi dasar  dijalankannya perusahaan. Media yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi, kini rasa-rasanya tidak lagi pantas menyandang status itu.

Mengapa media memublikasikan berita-berita sensasional dan picisan? Tentunya ini karena masyarakat juga menyukai hal-hal yang sensasional dan picisan. Dalam titik tertentu, masyarakat mungkin akan bosan dengan hal-hal semacam ini, tapi karena kita sudah terbiasa mengonsumsi berita “kacangan”, secara tidak sadar kita pun terbiasa mencerna konten-konten berita semacam ini. Bagi media, berita-berita semacam ini, yang menarik perhatian pembaca, akan membuat situs media ini diklik berkali-kali, sehingga traffic situs pun meningkat. Meningkatnya traffic situs berarti satu: akan ada lebih banyak iklan yang bisa dipasang di situs (baca: pemasukan iklan meningkat).

Jujur saja, masyarakat kita sebetulnya kurang suka membaca. Saya justru salut jika Anda masih bertahan membaca tulisan saya hingga paragraf ini. Karena menurut pengamatan saya (karena saya juga bekerja di media dan berhubungan dengan media sosial setiap hari), hampir sebagian besar update yang dipublikasikan di media sosial oleh akun-akun media di tanah air kini mendapatkan banyak komentar di media sosial (bukan di artikelnya) jika: (1) ada gambar berupa tokoh terkenal atau gambar yang mengundang “like”, (2) judul berita yang mengundang “like” atau membuat orang ingin berkomentar (terhadap judulnya), dan (3) kata-kata yang juga tidak kalah sensional yang dipublikasikan bersamaan dengan tautan artikel tersebut.

Kunci agar suatu profesi dapat diterima di masyarakat adalah kredibilitas profesi tersebut. Untuk mendapatkan itu, profesi haruslah mendapat kepercayaan masyarakat. Tentunya masyarakat tidak akan dengan mudah memberikan kepercayaan terhadap suatu profesi begitu saja. Oleh karena itu, diperlukan etika profesi bagi setiap profesi untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka tetap aman jika berhubungan dengan profesi tersebut. Saat menjadi seorang jurnalis di Indonesia maka otomatis jurnalis tersebut berada di bawah kode etik jurnalistik sebagai self-regulation para jurnalis. Etika ini mengatur sikap, tingkah laku, dan cara kerja jurnalis di tiap proses pencarian berita. Kode etik ini mengatur jurnalis saat jurnalis mencari, mengumpulkan, memverifikasi, dan memublikasikan berita.

Namun, pada akhirnya, semua ini kembali pada si jurnalis dan editor. Apakah mereka masih punya “hati” untuk menjejali masyarakat dengan berita-berita “kacangan”? Di mana fungsi pendidikan dari media? Kini rasa-rasanya sudah tidak ada lagi. Bagi masyarakat, saya pikir sudah saatnya kita lebih cerdas dalam memilah-milih informasi. Dulu, kita bisa katakan bahwa ketika kita mendapat informasi dari media, itu adalah informasi yang akurat. Kini, ketika kita berbagai informasi dari berita, kita pasti akan bertanya, “Dari media mana?”

1110 Views

Author Overview


Fauzan Al Rasyid
Enthusiastic writer offering a solid background in journalism