selasar-loader

Sumpah Palapa Generasi Muda

LINE it!
Ghufron Mustaqim
Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia
Journal Oct 28, 2015

"Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti Palapa, lamun kalah ring Gurun, ning Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amukti palapa." – Mahapatih Gadjah Mada

Tahun 1336 di Pendapa Bale Manguntur, Gadjah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit. Di sana, Gadjah Mada mengikrarkan “Sumpah Palapa” (naskah terdapat dalam Kitab Pararaton) yang bunyinya seperti kutipan di atas. Artinya: "Jika telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". 

Gadjah Mada bersumpah: “Untuk Mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar. Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha (hidup bersenang-senang) sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat.” (L.K. Hariadi, Gajah Mada: Hamukti Palapa, 2012)

Sumpah ini begitu menggelegar dan menggetarkan hati para tamu yang ada di pendopo dan siapa saja yang mendengarkannya. Ini adalah cita-cita yang sangat besar yang belum pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya. Ini adalah ambisi yang sangat menantang dan sulit direalisasikan.

Namun, pada akhirnya, tiga dekade kemudian, sebuah impian besar itu tercapai: Gadjah Mada berhasil menyatukan Nusantara di bawah pimpinan Majapahit yang sebagian wilayahnya menjadi wilayah Indonesia modern saat ini.

Selain kepercayaan diri untuk bercita-cita besar dan determinasi tinggi yang ada pada diri Gadjah Mada, satu hal lain yang juga penting kita garis bawahi, bahwa selama proses Gadjah Mada berjuang mewujudkan sumpah besarnya tersebut, ia menjalani laku prihatin dengan disiplin dan luar biasa. Menurut saya, inilah keteladanan dari leluhur yang perlu kita teladani sebagai ahli waris yang hidup dan menghirup udara di atas hamparan Nusantara ini.

Pesan yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini terinspirasi dari sebuah percakapan dengan kakek beberapa waktu yang lalu. Saya diberi wejangan oleh kakek (dari pihak ibu) yang kurang lebih berbunyi: “Le, nek sampeyan pingin dadi Raja koyo mbah-mbahmu biyen, lakonono laku prihatin sing temenanan.” Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya: “Nak, kalau kamu pingin menjadi Raja (pemimpin, orang besar atau orang yang memiliki kelebihan) seperti kakek-kakekmu* dulu, lakukanlah laku prihatin yang sungguh-sungguh.” 

 “Nak, kalau kamu pingin menjadi Raja (pemimpin, orang besar atau orang yang memiliki kelebihan) seperti kakek-kakekmu* dulu, lakukanlah laku prihatin yang sungguh-sungguh.”

Saya tertarik untuk mengambil wejangan itu bukan sebagai wejangan untuk diri saya sendiri, tetapi untuk generasi muda secara umum yang sedang berupaya turut memajukan bangsanya. Wejangan tersebut apabila saya parafrase dalam konteks tersebut berbunyi: “Wahai generasi muda Indonesia, apabila kalian ingin mengembalikan kejayaan dan masa keemasan Nusantara yang pernah diperoleh pada masa lalu, lakukanlah laku prihatin dengan sungguh-sungguh.”

Pada masa sekarang, saya kira generasi muda perlu melakukan refleksi tentang bagaimana perjuangan kita dapat mengangkat Indonesia ke tempat yang seharusnya, yakni ke tempat yang lebih mulia. Membantu Indonesia menjadi negara yang tinggi harkat martabatnya, adil, makmur, sejahtera, dihormati, dan dipuja-puja oleh segenap bangsa-bangsa di dunia.

Gap antara harapan cita-cita itu dengan keadaan Indonesia sekarang mungkin memang sangatlah besar –dan mempersempit gap itu bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Namun, saya yakin, dengan laku prihatin yang disiplin, sungguh-sungguh, khusyuk, dan ikhlas yang kita lakukan secara kolektif, harapan besar itu pasti akan menjadi kenyataan. 

Menjalankan tirakat hamukti palapa dan menjauhi hamukti wiwaha seperti yang telah dicontohkan oleh Gadjah Mada menjadi suatu keharusan bagi kita apabila kita ingin melihat Indonesia menjadi Burung Garuda sesungguhnya. Burung Garuda yang terbang tinggi menjadi raja di angkasa raya dengan gagahnya; dihormati, dikagumi, dan dicintai oleh burung-burung lainnya.

Apa itu laku prihatin? Bagaimana kita bisa melakukannya? Dan mengapa ia penting untuk membantu usaha kita memperbaiki Indonesia?

Definisi laku prihatin yang menurut saya jelas dan lengkap terpapar pada laman Sabda Langit: laku adalah  bahasa Jawa dari “menjalani” sedangkan prihatin adalah rasa perih ing sajroning batin (rasa pedih di dalam batin). Pedih karena kita tidak lagi bergumul dengan kenikmatan jasad mengumbar dan menuruti nafsu-nafsu ragawi, sehingga karena pengendalian hawa nafsu tersebut kita merasa terkekang.

Namun, sebenarnya itu adalah sesuatu yang baik karena pengendalian atas nafsu merupakan sikap mengikuti keinginan kesejatian (kareping rahsa). Apabila kita menuruti hawa nafsu, memang kita akan mendapat kesenangan, tapi itu hanyalah kesenangan yang tidak sejati—tampak pada kulitnya saja. Sedangkan apabila kita mengikuti kareping rahsa, dengan mengikuti suara hati, kita akan mendapat kebahagiaan yang luar biasa dan hakiki, walaupun di permukaan kita terlihat bersusah payah.

Kita dapat meper hawa nafsu dengan mengendalikan mata, mulut, tangan, kaki, perut, hati, dan pikiran kita. Kita hanya melakukan apa-apa saja yang benar, diperlukan, seadanya, dan secara proporsional, tidak berlebih-lebihan. 

"Kita dapat meper hawa nafsu dengan mengendalikan mata, mulut, tangan, kaki, perut, hati, dan pikiran kita. Kita hanya melakukan apa-apa saja yang benar, diperlukan, seadanya, dan secara proporsional, tidak berlebih-lebihan"

Ketika kita punya uang untuk beli gadget terbaru, tetapi karena gadget yang lama masih layak dan berfungsi baik sehingga kita menahan nafsu konsumtif tersebut, itu namanya laku.

Ketika di lingkungan kita banyak orang menjajakan makanan-makanan yang enak setiap harinya, lantas kita malah berpuasa—itu namanya laku.

Ketika pukul tiga pagi teman-teman sekosan terlelap dalam tidurnya, kita tegakkan sholat tahajjud, itu namanya laku.

Ketika kita diajak nonton ke bioskop dan jalan-jalan ke mall, kita menolak karena ada kerja paruh waktu dan kita ingin belajar, itu namanya laku.

Ketika kita melihat pedagang kecil di siang-siang yang panas berjalan menjual mainan-mainan anak tradisional, kemudian kita membelikan sebungkus makan siang untuknya atau membeli mainan tersebut untuk melarisi, itu namanya laku.

Ketika kita dihardik, dilecehkan, dan diinjak-injak oleh orang lain tanpa sebab yang jelas, tapi kita tetap bersabar dan memaafkannya, itu namanya laku.

Ketika orang-orang yang lain sibuk memikirkan diri mereka sendiri dan memenuhi ambisi sempit pribadi, sedangkan kita memikirkan tetangga-tetangga dan berupaya memberikan manfaat untuk mereka, itu namanya laku.

Teman-teman saya yang saya nilai berhasil di sekitar saya, dari hasil observasi yang saya lakukan, mereka semua melakukan tirakat (laku prihatin) dengan satu atau lain hal. 

Mereka tidak memamerkan mobil, motor, atau gadget yang sebenarnya dibeli dengan uang orang tua mereka. Mereka memiliki life-style yang bersahaja dan seadanya walaupun mereka sangat memiliki kemampuan untuk bergaya kehidupan mahal.

Mereka melebihkan belajar dan kerja keras di atas rata-rata teman-temannya. Sebagian dari mereka rajin berpuasa sunnah, menegakkan ibadah-ibadah sunnah, dermawan suka berbagi sedekah, dan suka membantu mereka yang susah. 

Sementara teman-teman yang saya nilai kurang berhasil, melakukan kebalikan-kebalikan dari hal-hal di atas. Dengan kata lain tidak menjalankan laku.

Saya kira generasi muda Indonesia harus lebih banyak yang melakukan laku prihatin. Saya khawatir dengan budaya bersenang-senang, foya-foya, dan hedonisme (kesemuanya berakar dari budaya konsumtif) yang tampaknya saat ini begitu dekat dan melekat pada generasi muda kita. 

"Saya kira generasi muda Indonesia harus lebih banyak yang melakukan laku prihatin. Saya khawatir dengan budaya bersenang-senang, foya-foya, dan hedonisme (kesemuanya berakar dari budaya konsumtif) yang tampaknya saat ini begitu dekat dan melekat pada generasi muda kita"

Hal-hal tersebut tentu diperbolehkan apabila pada batas kewajarannya-tidak berlebihan. Penurutan hawa nafsu seperti ini adalah penyebab berbagai permasalah sosial kita: pencurian, korupsi, pemerkosaan, narkoba, pembunuhan dsb. Menuruti hawa nafsu membuat kita tidak eling lan waspada (sadar dan waspada), membuat kita terlena dengan kenikmatan dan kesenangan semu.

Kita tidak bisa menyalahkan bangsa asing yang mengeruk kekayaan dari Indonesia, menggeser budaya-budaya lokal dengan budaya-budaya mereka, dan memenangkan kompetisi di era globalisasi ini ketika kita sendiri tidak eling lan waspada. Dengan tirakat kita akan eling lan waspada, fokus kepada hal-hal yang sejati, ora nggumunan lan kagetan (tidak mudah terpesona dan kaget) dengan sesuatu yang imitasi.

Generasi muda Indonesia harus lebih banyak yang melaksanakan tirakat. Karena hanya dengan melakukan hal inilah kita bisa memikirkan kepentingan dan kebaikan orang lain, tidak hanya sibuk memenuhi kepentingan dan ambisi sempit pribadi. Kita merasa memiliki kepemilikan atas nasib bangsa Indonesia sehingga kita turut memberikan solusi-solusi, berkarya, dan melakukan pengorbanan demi perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik.

Pasca-keluluhlantakan Jepang akibat bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki yang memporak-porandakan perekonomian Jepang, pemimpinnya mengajak rakyatnya prihatin. Pemimpin Jepang berkata: “Mari rakyatku kita bekerja keras memeras keringat-membanting tulang untuk membangun yang telah hancur ini bersama-sama. Sebelum Jepang kembali maju, saya sanggup makan nasi yang hanya dicampur garam sebagai hidangan makan.” 

Ini adalah pesan yang sangat kuat, menggelorakan semangat masyarakat Jepang baik yang masih anak-anak, muda, sampai yang tua, baik laki-laki maupun wanita, untuk bergotong royong dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi tanpa pamrih mengembalikan Jepang kembali berjaya.

Mereka melakukan laku prihatin kolektif. Setelah dua-tiga dekade mereka melakukan laku prihatin kolektif itu, Jepang melesat perekonomiannya. Jepang menjadi salah satu negara paling maju di dunia sampai saat ini dan menjadi Keajaiban Asia.

"Setelah dua-tiga dekade mereka melakukan laku prihatin kolektif itu, Jepang melesat perekonomiannya"

Kemerdekaan Indonesia dari penjajahan selama berabad-abad tidak mungkin bisa tercapai apabila masyarakatnya tidak melakukan laku prihatin. Tokoh-tokoh muda di balik Sumpah Pemuda 1928 pun seperti Sugondo Djojopuspito, Mohammad Yamin, Sarmidi Mangoenkarsoro, dan Sunario  adalah anak-anak muda yang menjalani tirakat: bersedia menghabiskan energi, pikiran, waktu,  dan harta untuk perjuangan mempersatukan Indonesia demi menyongsong kemerdekaan. 

Sudah menjadi postulat yang akurat bahwa apabila kita menghendaki diri kita maju maka kita harus menjalani laku prihatin. Sudah menjadi ketetapan dan sunatullah yang pasti, apabila kita ingin bangsa kita maju maka kita sebagai masyarakat harus menjalani tirakat dengan disiplin dan sungguh-sungguh. Nasib Indonesia ada di tangan kita sebagai ahli warisnya. Kejayaan dan keemasan Indonesia tidak diberikan Tuhan begitu saja, ia harus diperjuangkan dengan segenap daya dan upaya kita semua secara kolektif.

Saya yakin seyakin-yakinnya, apabila kita bersedia memulai laku prihatin ini dari sekarang secara bersama-sama dengan determinasi yang tinggi, Indonesia yang akan anak-cucu kita nikmati adalah Indonesia yang berbeda dengan sekarang:

Indonesia yang tinggi harkat martabatnya, adil, makmur, sejahtera, dihormati, dan dipuja-puja oleh segenap masyarakat internasional—menjadi pemimpin dan pemangku dunia.

*) Maksud “kakek-kakekmu” dalam wejangan tersebut adalah Raja-raja Jawa dan pemuka-pemuka Agama Islam masa lalu yang saya masih memiliki tedhaking andana warih (hubungan tali darah). Dalam catatan silsilah kusuma trahing narendra dari pihak bapak, saya keturunan ke-9 Susuhunan Pakubuwono I (Sultan Mataram ke-6), keturunan ke-13 Kanjeng Panembahan Senopati (Pendiri & Sultan Pertama Mataram), keturunan ke-19 Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), keturunan ke-26 Kertarajasa Jayawardhana (Pendiri & Raja Pertama Majapahit), dan keturunan ke-39 Nabi Muhammad SAW dari pernikahan Ali Bin Abi Thalib & Fathimah.

1025 Views

Author Overview


Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia