selasar-loader

Siapa Kita, Indonesia?

LINE it!
Ghufron Mustaqim
Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia
Journal Jul 24, 2014

Di tengah arus modernisme kebudayaan yang tengah berlangsung, hiruk pikuk memajukan demokrasi, dan penguatan pondasi ekonomi dalam menyongsong integrasi ekonomi global, tampaknya kita perlu sejenak rehat untuk mengkaji secara serius jati diri sesungguhnya bangsa Indonesia. Apakah telah benar demokrasi yang kita pilih? Apakah telah benar bangunan sistem ekonomi yang sedang kita perkokoh? Dan apakah sehat dan menyehatkan kebudayaan luar yang berusaha kita serap saat ini? Ini adalah enigma mendasar yang perlu kita temukan jawabannya. Bukan untuk menghentikan laju kemajuan, tetapi untuk menemukan keseimbangan. Jangan-jangan pendulumnya terlalu ke kanan, jangan-jangan terlalu ke kiri, atau malah bisa saja kita salah menalikan untaian tali pendulumnya. 

Refleksi ini penting untuk mengetahui Indonesia ini sebenarnya burung garuda atau merpati, ayam atau bebek, harimau atau kerbau. Cara garuda menghebatkan dirinya berbeda dengan cara merpati, begitu juga antara ayam dengan bebek dan harimau dengan kerbau. Saya khawatir, apabila kita tidak menyediakan waktu untuk sejenak menginsyafi kesejatian kita sebenarnya, kita hanya akan menjadi negara tanpa jati diri, tanpa konsepsi. Kita hanya ikut-ikutan belaka. Tanpa sadar bahwa yang sedang kita ikuti terbang, sementara kita berenang; tanpa mengerti bahwa mereka menuju gunung, padahal kita seharusnya ke samudra. Tulisan ini tidak berusaha untuk menjawab, ia hanya ingin memancing kegairahan berpikir. Karena usaha menemukan jati diri ini seyogyanya kita lakukan secara berjamaah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat ayat 13 disebutkan: “Wahai manusia! Sungguh, Kami (Allah) telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” Dalil naqli (tekstual-red) ini mengantarkan saya pada keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, ada yang beriris mata biru dan ada yang coklat; ada yang tinggal di lembah dan ada yang tinggal di pegunungan; ada yang hidup di cuaca kutub dan ada pula yang hidup di cuaca gurun. Di dunia ini terdapat beragam etnis, ras, suku, dan kelompok masyarakat dengan setting yang berbeda-beda. Saya yakin mereka memiliki keunikan yang tidak ada duanya, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Tidak ada yang paling hebat ataupun yang paling lemah, hanya saja mereka perlu mengerti sebaik mungkin kekhasan dan potensi terbaik mereka, sehingga mereka bisa mengeksplorasi dan mengaktualisasikan kemungkinan terbaik.

Begitu pula dengan bangsa Indonesia, pasti ia juga memiliki keunikan tersendiri. Kita tidak sama dengan Amerika, Swiss, Arab Saudi, Tiongkok, Somalia, Kuba, maupun negara-negara lain di dunia ini. Saya sangat positif apabila ada segolongan ilmuwan  yang melakukan kajian etnotalentologi di Indonesia, berikut juga kepada setiap etnis dan suku yang tinggal di negara ini. Etnotalentologi adalah suatu ilmu atau cara pandang mengenai kemampuan (talenta) yang berdasarkan pada etnis kedaerahan. Saya mengenal istilah itu dari Emha Ainun Nadjib. Saya belum mumpuni dalam melakukan riset ini, jadi silahkan bagi yang lebih mampu untuk melakukannya dan kemudian membagikannya kepada khalayak.

Dari kajian tersebut, saya berhipotesis, kita akan menemukan bahwa telenta masyarakat suku Alor di NTT berbeda dengan talenta suku Anak Dalam di Jambi. Kita akan belajar bahwa kearifan lokal suku Badui di Banten berbeda dengan suku Bentong di Sulawesi Selatan. Kita juga akan memperluas horizon pengetahuan dengan menyadari bahwa nilai keunggulan suku Asmat di Papua berbeda dengan nilai keunggulan masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Dan tentunya, dengan mengambil benang merah secara cendikia dari kebijaksanaan ratusan etnis, ras, suku, dan kelompok masyarakat di tanah ini, kita akan memahami partikularitas kehebatan manusia Indonesia dan mengapa ia berbeda dengan partikularitas kehebatan manusia negara-negara lain di dunia. Manusia Indonesia, saya yakin, memiliki keistimewaan yang berbeda dengan keistimewaan manusia negara-negara lain di atas hamparan mayapada ini.

Menyadari dan mengetahui bahwa di dunia ini manusia dari setiap bangsa memiliki keutamaan berbeda dengan manusia dari bangsa-bangsa lain seharusnya membawa kita pada pemahaman bahwa di dunia ini tidak ada aturan sosial yang bersifat universal, baik itu yang termanifestasi dalam sistem politik, sistem ekonomi, tatanan hukum, pandangan kemanusiaan dan lain sebagainya. Sesuatu yang diupayakan untuk menjadi universal, terpaksa harus gagal dan tidak relevan pada konteks-konteks tertentu. Globalisasi yang didorong oleh kemajuan kecanggihan teknologi informasi dan transportasi saat ini, sayangnya turut berperan meuniversalkan berbagai aturan sosial ke berbagai penjuru dunia. Eksporter aturan-aturan sosial pada zaman ini mayoritas adalah kelompok negara yang dianggap lebih berperadaban, yakni negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Bangsa atau kelompok bangsa lain seperti Tiongkok, Rusia, Venezuela, Arab dsb juga turut serta berusaha menyuplai dan menjajakkan aturan sosial mereka ke negara-negara lain.

Tentu ada nilai-nilai kebajikan nan luhur yang dapat manusia Indonesia teguk dengan mengimpor aturan-aturan sosial tersebut dari Barat, Timur Tengah, Timur, Utara, Selatan ataupun sumber-sumber luar yang lain. Namun, agar kita tidak keracunan, kita harus benar-benar dapat secara arif memurnikan dan menyaringnya agar kandungannya terjaga. Jangan-jangan manusia Indonesia tidak memiliki sistem kekebalan tubuh yang dapat menetralisir racun tersebut. Dan agar minuman itu menjadi nikmat di lidah manusia Indonesia, kita tentu harus memperkayanya dengan reramuan Indonesia dan menyajikannya dengan cita rasa khas Indonesia. Minuman itu tidak boleh serta merta kita tenggak hanya gara-gara kita merasa kehausan.

Sangat layak kita kemudian bertanya, apakah sistem politik, ekonomi, tatanan hukum, pandangan kemanusian dan berbagai aturan sosial lain yang saat ini Indonesia adopsi bebas dari racun dan sesuai dengan lidah manusia Indonesia? Apakah aturan-aturan sosial tersebut relevan dengan partikularitas keistimewaan dan memafhumi kelemahan manusia Indonesia? Apakah bangunan kebangsaan kita dikuatkan dengan pondasi yang mengakar ke kedalaman lubuk kebudayaan manusia Indonesia atau sebenarnya kita tidak memiliki pondasi, ditopang roda-roda saja, hanya ikut-ikutan tergantung kemiringan bidang?  

Saya berpendapat bahwa Indonesia ini bisa maju dan menghampiri kejayaannya apabila kita mambangun pondasi kebangsaan kita dengan bahan asli peninggalan Indonesia sendiri, alih-alih bahan-bahan impor. Bahan-bahan dari luar memang tetap kita perlukan, tetapi itu bukanlah bahan-bahan yang utama. Kita sudah memiliki bahan utama itu disini, lahir dari kandungan ibu pertiwi sendiri yakni dari kearifan warisan leluhur kita yang sekarang tampaknya sebatas dikaji di atas kertas tanpa minat yang serius untuk menjadikannya sebagai panduan kita dalam kehidupan berbangsa dan membangun masa depan.

Dengan pengkajian yang teliti tentang siapa manusia Indonesia sejatinya, barangkali kita akan mampu memformulasikan sistem politik yang lebih tepat yang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin ideal—individu-individu yang memiliki kemampuan diri dan sejarah untuk melayani masyarakat dan mengabdi kepada nusa bangsa dengan sebenar-benarnya, tidak hanya terpotret di kanvas baliho belaka. Barangkali kita bisa menyusun sistem ekonomi yang lebih layak sehingga kemiskinan terhapuskan, kesenjangan termakamkan, dan kesejahteraan terbangkitkan. Barangkali kita sanggup mencetak tatanan hukum yang lebih adil berdasarkan pekerti lokal. Barangkali kita memiliki pengertian kemanusiaan yang nihil dari kemunafikan. Dan barang kali cita-cita kita mewujudkan negeri Indonesia sebagai negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuurnagari ingkah gemah ripah loh jinawi, sebuah republik yang kejayaannya paripurna, masyarakatnya bahagia dan sentosa, dapat menjadi kenyataan berkat upaya ini.

“Ojo nggumunan, ojo kagetan, jangan mudah terpesona, jangan mudah  kaget.” Demikian yang tertuang dalam filosofi Jawa yang dikenal luas masyarakat. Mungkin prestasi Indonesia yang serba tanggung ini karena kita kurang berani mengungkap siapa sebenarnya manusia Indonesia dan percaya diri atas kebudayaan, sejarah, dan peradaban kita. Kita mudah terpesona dengan hal-hal yang berbau Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Arab misalnya dan kemudian mencontohnya tanpa proses internalisasi yang bijak. Kita mudah kaget dengan modernisme berikut simbol-simbolnya sehingga kita langsung menyambutnya dan meninggalkan kearifan sendiri. Masa depan Indonesia akan menjadi lebih bermakna apabila kita  berupaya menemukan jati diri manusia Indonesia yang unik dan hakiki. 

Dengan mengetahui secara jujur apa keunggulan dan kelemahan kita sebagai manusia Indonesia, kita akan mampu membangun bangunan kebangsaan yang jauh lebih mantap dan kokoh. Mari kita gali siapa sejatinya manusia Indonesia! 

1390 Views

Author Overview


Ghufron Mustaqim
Co-Founder Forum for Indonesia