selasar-loader

Strategi China Menjadi Kekuatan Utama Ekonomi Digital Global

LINE it!
Muhammad Alman Yasrid
Muhammad Alman Yasrid
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya Angkatan 9
Journal Aug 30, 2018

Istilah ‘ekonomi  digital’ pertama kali dicetuskan oleh Don Tapscott, dalam bukunya yang berjudul The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence pada tahun 1995, yang merupakan salah satu buku pertama yang menunjukkan bagaimana internet akan mengubah cara kita melakukan bisnis (Gada, 2016). Pada dasarnya definisi istilah ekonomi digital merujuk pada berbagai kegiatan ekonomi yang menggunakan informasi dan pengetahuan digital sebagai faktor utama produksi. Internet, komputasi awan (cloud computing), big data, fintech (financial technology), dan teknologi digital baru lainnya yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan berbagi informasi secara digital dan mengubah interaksi sosial yang ada saat ini. Digitalisasi ekonomi dianggap menciptakan banyak manfaat dan mendorong efisiensi, inovasi peluang kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ekonomi digital juga menembus semua aspek masyarakat, mempengaruhi cara orang berinteraksi dan membawa perubahan sosiologis yang luas dalam masyarakat.

Ekonomi digital Cina tidak hanya meningkat, tetapi juga menantang thesis "platform imperialism", yang berpendapat bahwa imperium platform digital berbasis-Barat (seperti Facebook, Google, dan Amazon) akan terus mendominasi pasar platform digital global, meskipun persaingan yang meningkat dari perusahaan-perusahaan berkembang dan aliran kontra-budaya dari negara-negara non-Barat di abad dua puluh satu.

Berdasarkan data McKinsey (Woetzel et al. 2017, 1-2) saat ini China dapat dikatakan sudah menjadi kekuatan utama dalam ekonomi digital global. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi digital China selama satu dekade belakangan ini, dalam tingkat e-commerce dan pembayaran digital, serta China merupakan negara asal bagi sepertiga dari unicorn dunia. Unicorn yaitu perusahaan perintis (startup) yang memiliki nilai lebih US$ 1 miliar. Pada 2005, nilai transaksi e-commerce Tiongkok di bawah 1% dari total nilai transaksi e-commerce dunia senilai US$ 495 miliar. Sedangkan transaksi e-commerce di Amerika Serikat mencapai 35%. Tetapi, pada tahun 2016 lalu, kedudukannya sudah berbalik. Porsi transaksi e-commerce di China meroket menjadi 42,4% dari total transaksi e-commerce dunia sebesar US$ 1,91 triliun menggeser nilai transaksi e-commerce AS yang turun menjadi 24,1% (Woetzel et al. 2017, 1-2). Sedangkan nilai pembayaran melalui mobile payment di China pada 2016 sebesar US$ 790 miliar. Angka tersebut 11 kali lebih besar dibandingkan AS  yang hanya bernilai US$ 74 miliar(Woetzel et al. 2017, 1-2). China juga memiliki 34% dari 262 unicorn di seluruh dunia pada Juni 2016. Jumlah tersebut memiliki nilai valuasi sebesar 43% dari total US$ 883 miliar untuk seluruh unicorn di dunia (Woetzel et al. 2017, 1-2) . Ilustrasi pertumbuhan dan perbandingan aspek ekonomi digital ini dapat dilihat pada bagan 1.0 di bawah.

                           2qFd5WP3Tw6O_EF4GsuBKQdSDFMlKtCs.png

(Bagan 1.0, sumber: McKinsey Global Institute analysis, 2017)

Selain itu, China saat ini merupakan pemilik salah satu investasi digital dan ekosistem startup paling aktif di dunia. Pertumbuhan industri modal ventura China pun semakin fokus pada sektor digital.  Secara keseluruhan, sektor modal ventura China telah berkembang pesat, dari hanya $ 12 miliar pada 2011-13, atau 6 persen dari total global, menjadi $ 77 miliar pada 2014–16, atau 19 persen dari total di seluruh dunia. .Sebagian besar dari investasi modal ventura dalam teknologi digital seperti data besar, kecerdasan buatan (AI), dan perusahaan teknologi keuangan (fintech) (Woetzel et al. 2017, 2). China berada top tiga investasi modal ventura dalam berbagai jenis teknologi digital,  termasuk virtual reality, kendaraan otonom, 3D printing, robotika, drone, dan AI. (Bagan 2.0)

jW1aLYm6Rh6T-I-xfa_IBOteNeuZGztl.png

(Bagan 2.0, sumber: McKinsey Global Institute analysis, 2017)

Menurut data McKinsey (Woetzel et al. 2017, 1-2), setidaknya ada tiga faktor strategi yang mendorong kesuksesan China sebagai kekuatan utama ekonomi digital dunia. Faktor pertama adalah pasar China yang besar dan muda memungkinkan komersialisasi yang cepat model bisnis digital dalam skala besar (Woetzel et al. 2017, 3),. Skala pengguna internet China yang sangat besar mendorong eksperimen terus menerus dan memungkinkan pemain digital untuk mencapai skala ekonomis dengan cepat. Namun, kekuatan konsumen digital China melampaui keuntungan skala — pasar ini juga mencerminkan fakta bahwa konsumen China merangkul teknologi digital dengan penuh semangat. Mereka antusias mendukung pertumbuhan di pasar sekarang dan akan melakukannya di masa depan, memfasilitasi adopsi inovasi yang cepat, dan membuat pemain digital Cina dan model bisnis mereka kompetitif. Pada tahun 2016, China memiliki 731 juta pengguna internet, lebih dari Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat digabungkan. China juga memiliki 695 juta pengguna ponsel (95 persen dari total pengguna internet), dibandingkan dengan 343 juta di UE (79 persen), dan 262 juta di Amerika Serikat (91 persen) (Woetzel et al. 2017, 4). Basis pengguna seluler muda dan besar di China orang-orang memungkinkan pengadopsian digita lebih cepat

Faktor kedua, yaitu hadirnya raksasa digital berkapitalisasi tinggi yang mampu membangun ekosistem digital secara baik. Raksasa digital tersebut adalah Baidu, Alibaba, dan Tencent (BAT) yang mampu menyumbang 42% investasi modal ventura (Woetzel et al. 2017, 6). Masalah pelanggan adalah peluang bagi para inovator. Skala dan intensitas pelanggan membuat China menjadi ajang pembuktian untuk kemampuan mutakhir. Baidu, Alibaba, dan Tencent telah membangun posisi dominan di dunia digital dengan mengambil pasar konvensional (offline) yang tidak efisien, terfragmentasi, dan berkualitas rendah, sambil mendorong kinerja teknis untuk menetapkan yang standar baru kelas dunia. Dalam prosesnya, mereka telah mengembangkan kemampuan baru yang kuat, dan ekosistem digital yang kaya pada awalnya berpusat pada tiga raksasa ini yaitu BAT kini menyebar. Sehingga unicorn dan startup lain turut tumbuh dan berkembang. Perusahaan-perusahaan tradisional memperluas jangkauan mereka melalui platform ini, dan kekuatan China di bidang manufaktur memungkinkan kombinasi yang unik dan cepat dalam inovasi fisik dan virtual.

Faktor terakhir, yaitu pemerintah memberi ruang bagi para pemain digital untuk bereksperimen sebelum memberlakukan atau menintervensi dengan peraturan atau regulasi resmi, kemudian sekarang menjadi pendukung aktif dalam membangun infrastruktur kelas dunia untuk mendukung digitalisasi, bukan hanya pembuat kebijakan tetapi juga investor, inovator, dan konsumen dalam upaya mendukung digitalisasi modal ventura (Woetzel et al. 2017, 13).  Pemerintah Cina telah mengajukan sejumlah kebijakan yang dirancang untuk memperkuat ekonomi digital sebagai mesin baru untuk pertumbuhan ekonomi. Pada 2015, pemerintah meluncurkan konsep "Internet Plus" dan ditindaklanjuti dengan rencana aksi terperinci mengintegrasikan internet, komputasi awan, data besar, dan internet hal-hal dengan tradisional industri manufaktur dan konsumen. Selama dua tahun terakhir, pemerintah telah memimpin implementasi Internet Plus dalam berbagai sektor termasuk logistik, jaminan sosial, dan manufaktur. Pada Juni 2017, Shanghai meluncurkan pelabuhan pengiriman internet pertama, yang terintegrasi perusahaan e-commerce dalam pengiriman logistik, analitik data, keuangan dan hukum terkait pelayanan dan ruang kantor di satu tempat. Provinsi Zhejiang menjalankan program percontohan untuk jelajahi pengembangan aplikasi online untuk kartu jaminan sosial yang akan diaktifkan warga negara untuk membayar asuransi kesehatan melalui internet dan telepon seluler. Idenya adalah untuk mengintegrasikan berbagai layanan, termasuk aplikasi untuk identifikasi resmi dan pengarsipan dokumen pemerintah, ke dalam satu portal yang memiliki aplikasi media sosial seperti WeChat. Shenzhen telah menggunakan Internet Plus dalam layanan pemerintah sejak tahun 2014, menyelamatkan warganya banyak waktu pada pengajuan properti, pekerjaan, dan pintu masuk sekolah sertifikat.

Pemerintah juga secara aktif memfasilitasi investasi dalam digital. Sejak 2016, National Development and Reform Commission of China, agensi perencanaan ekonomi pemerintah telah mengumumkan Three Year Action Plan of Internet Plus Artificial Intelligence” yang bertujuan untuk membangun pasar aplikasi AI senilai lebih dari US$ 15 miliar dengan mengembangkan sembilan ekosistem AI utama, termasuk peralatan rumah pintar, intelligent automotive, wearable device dan terminal cerdas. Rencana tersebut menetapkan bahwa berbagai lembaga pemerintah dapat menyediakan dana untuk proyek-proyek tertentu dari anggaran yang dikendalikan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Ekonomi digital menembus semua aspek masyarakat, termasuk cara orang berinteraksi, lanskap ekonomi, keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, dan bahkan pengambilan keputusan politik. Ditengah arus perubahan ini tidak semua negara mampu mengambil peluang dan kesempatan ini untuk membangun  inisiatif dan beradaptasi dalam perkembangan perekonomian digital yang sangat cepat dan pesat. Namun, China dapat dikatakan  sudah menjadi kekuatan utama dalam ekonomi digital global saat ini. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi digital China selama satu dekade belakangan ini, dalam tingkat e-commerce dan pembayaran digital, serta China merupakan negara asal bagi sepertiga dari unicorn dunia. Hal ini setidaknya di sebabkan oleh tiga faktor startegi yang diterapkan oleh China. Faktor pertama adalah pasar China yang besar dan muda memungkinkan komersialisasi yang cepat model bisnis digital dalam skala besar. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

221 Views
Sponsored

Author Overview


Muhammad Alman Yasrid
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabaya Angkatan 9

Top Answers


Kontribusi apa yang bisa kamu berikan kepada Bangsa dan Negara ini? (sekarang dan yang akan datang)
8 months ago