selasar-loader

Kejujuran (memang benar-benar) Mahal Harganya

LINE it!
Pararawendy Indarjo
Pararawendy Indarjo
Karyawan BUMN, saat ini sedang melanjutkan sekolah di Leiden, Belanda
Journal Aug 25, 2018

honesty.jpg?w=640

Ada sebuah ungkapan klasik yang saya yakin kita sudah pasti pernah mendengarnya:

"Kejujuran mahal harganya"

Dulu, masa-masa pertama kali berkenalan dan mengetahui ungkapan ini, saya menilai ungkapan ini bermakna konotatif. Ungkapan ini bermuatan filosofis. Dalam arti, kata 'mahal' disini tidak dapat divaluasi dengan uang, sebagaimana makna harfiahnya. 

Namun, saat ini saya telah mengubah (lebih tepatnya: memperluas) pemaknaan saya atas ungkapan tersebut. Seiring berjalannya waktu, saya menemukan premis-premis yang membuat ungkapan tersebut dapat benar-benar dimaknai secara denotatif/harfiah. Dan karenanya, saya termasuk orang yang berspekulasi bahwa mungkin saja asal mula ungkapan tersebut adalah memang dari kenyataan bahwa kejujuran itu benar-benar mahal secara material.

Premis pertama saya temui sekitar 5 tahun lalu, saat saya masih berstatus mahasiswa S1. Di suatu obrolan lepas, salah seorang teman berkata bahwa kejujuran itu akan mengefisienkan banyak proses (usaha), yang pada ujungnya berdampak pada penurunan biaya penyelenggaran usaha tersebut. Masih bingung?

Ambil contoh sederhana: kantin konvensional vs kantin jujur.

Di antara dua jenis kantin tersebut? Kira-kira mana yang biaya operasionalnya lebih rendah? Dengan asumsi ceteris paribus (semua faktor lain dianggap konstan / sama), tentu jawabannya adalah kantin jujur, sebab kita tidak perlu membayar karyawan untuk menjaga kantin. Sekarang, terlihat kan, bahwa (potensi) ketidakjujuran itu membuat operasional usaha (dalam hal ini kantin) menjadi tidak efisien. Atau dengan kata lain: kejujuran mahal harganya. 

Mari beranjak pada contoh lainnya: jasa auditor perusahaan. Dalam dunia profesional, kegiatan audit eksternal sudah menjadi agenda rutin tahunan, atau bahkan triwulanan. Ada hal yang cukup menarik yang dapat kita amati tentang perusahaan-perusahaan penyedia jasa audit ini. Ambil contoh mainstream: audit laporan keuangan tahunan.

Terdapat banyak sekali perusahaan penyedia jasa audit ini. Hal yang menarik adalah, mereka (perusahaan-perusahaan) tersebut sebenarnya memiliki kemampuan teknis yang relatif sama dalam melaksanakan audit. Apa yang tidak umum tentang pencatatan keuangan? Semua sarjana akuntansi yang lulus dengan baik dari universitas bereputasi tentu sudah hapal mati untuk sekadar merapal metodologi pencatatan keuangan perusahaan.

Lalu apa yang menjadi 'kualitas' dari perusahaan-perusahaan auditor tersebut? Apa yang menjadi pembeda dari perusahaan satu dan lainnya? Kejujuran. Ya, tidak lebih dan tidak kurang. Auditor seperti (afiliasi) PricewaterhouseCoopers (PwC) dapat (dan nyatanya memang) mematok harga jasa audit yang jauh lebih mahal ketimbang kebanyakan auditor lainnya di pasaran. Padahal yang mereka lakukan sama, input data sama, tekniknya sama, outputnya sama. Hal yang 'dijual' oleh PwC adalah kejujuran, literally demikian, menyampaikan laporan keuangan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keadaan keuangan perusahaan yang diaudit. Kejujuran mahal harganya, ya? 

Belum selesai, jika ditarik satu langkah kebelakang. Mengapa audit diperlukan? Mengapa repot-repot harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit (bisa sampai ratusan juta lho) untuk mempekerjakan auditor eksternal? Lagi-lagi, jawabannya bermuara pada kejujuran. Adalah keberadaan potensi 'ketidakjujuran' yang membuat audit itu perlu (dan wajib). Andai saja kejujuran bersifat default, maka niscaya kita tak pernah mengenal adanya profesi auditor.

Masih ada satu contoh lagi yang ingin saya bagi. Kali ini berkenaan dengan proses penyaluran kredit perbankan.

Dalam industri perbankan, terdapat satu prinsip yang selalu dijunjung tinggi: prudent (prinsip kehati-hatian). Dalam hal penyaluran kredit, prinsip ini kemudian dituangkan salah satunya dengan menjadikan default rate (presentasi nilai kredit macet) sebagai salah satu komponen wajib dalam penentuan bunga kredit. 

Seperti yang akan saya coba jelaskan sesaat lagi, hal yang bermuara pada kejujuran ini kalau divaluasi nilainya mahal sekali. Untuk diketahui, sebagai contoh, tingkat default rate dari kredit mikro di Indonesia adalah 9%-12%. Arti kasar dari angka ini adalah, dari 100 juta kredit yang disalurkan oleh bank, maka 9-12 juta akan gagal dikembalikan oleh debitur (peminjam). Tinggi sekali ya? Betul. Itulah mengapa bunga ekonomis dari kredit mikro, setelah ditambah dengan komponen biaya usaha (overhead cost) dan margin adalah sekitar 19%. 

Menelaah lebih dalam, hal yang berkontribusi pada nilai default rate utamanya adalah ketidakjujuran debitur pada saat mengajukan kredit, seperti mengatakan bahwa usahanya sudah menghasilkan laba yang stabil padahal masih merugi, atau mengatakan bahwa riset pasar atas varian produk baru yang akan dijual sudah dilakukan dan hasilnya terdapat permintaan yang menjanjikan, padahal riset tidak pernah dilakukan, dan ketidakjujuran lainnya, yang pada akhirnya mengakibatkan usahanya (yang menjadi sumber pengembalian kredit) gagal dan jadilah kredit macet.

Sekarang kita dapat bayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan karena ketidakjujuran tersebut. Dengan mengambil volume penyaluran kredit mikro Rp 1 triliun saja (nilai ini sangat kecil jika dibandingkan dengan volume kredit industri perbankan) dan dengan asumsi default rate 10%, maka 'ongkos' untuk menanggung ketidakjujuran adalah sebesar Rp 100 milyar. Jumlah yang fantastis.

Belum lagi dengan implementasi  prinsip prudent lainnya seperti pelaksanaan survei lapangan untuk memverifikasi kebenaran data calon debitur. Survei ini tentu saja menjadi beban operasional yang harus ditanggung perbankan. Lagi-lagi kita mengandai, jika seluruh calon debitur menyampaikan data secara jujur, maka survei sama sekali tidak diperlukan dan biaya operasional dapat dipangkas, bukan?

***

Saya rasa, cukup sudah premis di atas untuk dapat menyimpulkan bahwa kejujuran memang benar-benar mahal harganya. Sebagai penutup, pemaknaan yang sama agaknya dapat kita terapkan pada ungkapan senada yang tak kalah popupernya berikut.

"Pengalaman mahal harganya"

198 Views
Sponsored

Author Overview


Pararawendy Indarjo
Karyawan BUMN, saat ini sedang melanjutkan sekolah di Leiden, Belanda

More Journal from Pararawendy Indarjo


Menjadi Minoritas dan Self Re-Inventing: Duta Seperti Apa Kita?
7 months ago