selasar-loader

Ekonomi Menunda-nunda, Masalah Klasik yang Dialami Oleh Masyarakat Kekinian

LINE it!
Ahmad  Rodli Putra
Ahmad Rodli Putra
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Focused on Islamic Economic.
Journal Aug 17, 2018

1*XMpe9a4AHfSmbPvP-qhcQg.jpeg

Pernah merasa, “Ah nanti saja deh ngerjain tugasnya, masih ada waktu kosong kok besok,” atau “Duh males banget lari pagi hari ini. Nanti saja deh diganti sama sore,” dan berbagai alasan yang membuat kita malas melakukan sesuatu. Mungkin tulisan ini bisa menjelaskan sedikit mengapa kita berbuat demikian dan cenderung entar-entaran atas apa yang mau kita lakukan nanti.

Ekonom menjelaskan, terutama ekonom yang bermazhab behavioral,  fenomena ini disebut economic of procrastination atau dalam bahasa indonesianya bisa kita sebut Ekonomi menunda-nunda atau semisalnya. Sering kita hadapi kondisi ini, terutama kalau lagi males atau semacamnya. Kondisi tersebut biasanya dirasakan individu yang cenderung menempatkan perasaan senang pada saat ini dibanding masa depan.

Istilah ini cukup populer karena memasuki era teknologi, orang-orang sangat dimanjakan dengan keadaan yang serba mudah dan cepat. Perubahan pada kondisi ini tentu mengubah kebiasaan orang-orang menjadi mudah meremehkan banyak hal.

Ada 2 hal penting yang menjadi faktor utama lemahnya kontrol diri tersebut yaitu kecenderungan seseorang untuk menunda-nunda dan memanjakan diri. Kalau dalam bahasa kerennya adalah kita terlalu menaruh ‘bobot’ lebih besar pada masa kini dibanding masa depan. Kecenderungan tersebut menyebabkan kita lebih suka merasa senang saat ini dan bersusah-susah kemudian. Padahal ada pepatah yang berkata, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Apa pepatah tersebut sudah tidak berlaku lagi? No., i doubt for somepeople.  Sebutan lebih keren dari kejadian tersebut adalah time-inconsistent preferences.

Bila dilihat dari penyebab tersebut, ada ‘penyakit’ yang seharusnya dapat diobati oleh orang yang suka entar-entaran. Behavioral economist menyebutkan bahwa pandangan akan masa depan harus diberikan bobot lebih besar dibanding masa kini. Bagaimana caranya? Dengan membawa pandangan manfaat di masa depan dekat dengan masa kini atau mengubah pandangan masa kini lebih memberikan biaya yang besar dibanding masa depan.

Salah satu caranya adalah dengan memvisualisasikan rasa lega, senang, dan bahagia kita ke masa kini. Misalnya, kita memiliki tugas yang menumpuk tetapi ada perasaan untuk menunda pekerjaan tersebut. Lalu, kita bayangkan apabila tugas tersebut dapat kita selesaikan dengan cepat dan akhirnya kita bisa bersenang-senang lebih awal karena seluruh tugas itu telah selesai. Mudah? Bagi sebagian orang, terutama yang konsisten, itu mudah tetapi sebagian yang lain tentu sulit. Cara tersebut menjadi tantangan karena dibutuhkan kontrol yang kuat dari diri untuk menahan perasaan menunda-nunda tersebut. Apabila kamu orang yang sulit menahannya, maka tidak apa tetap sedikit menunda namun perhatikan waktu penundaannya. Misal, kamu sedang mengerjakan tugas kuliah, kamu alokasikan waktu sekitar 1 jam untuk membaca literatur dan menulis kerangka, 15 menit kemudian kamu istirahat dengan caramu sendiri, selanjutnya lakukan terus berulang-ulang dan pasti tugas tersebut selesai.

Sekali lagi, seperti dalam paragraf awal, keinginan menunda-nunda ini akan muncul dari diri seseorang. Masalah untuk mengontrolnya adalah tantangan yang harus diselesaikan orang bersangkutan, dan tentu konsistensi diri untuk ke luar dari masalah tersebut. Andaikan setiap orang mau mencoba mengontrol perasaan procrastination ini, maka apakah Indonesia bisa jadi negara maju nantinya?

301 Views
Sponsored

Author Overview


Ahmad Rodli Putra
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Focused on Islamic Economic.

Top Answers


Apa yang dimaksud dengan istilah ceteris paribus?
5 months ago