selasar-loader

Perkembangan Studi Perdamaian dan Keamanan dari Masa ke Masa

LINE it!
Haniyah Uzlifatuljannah
Haniyah Uzlifatuljannah
memperbaiki diri tanpa henti. Serving you exceed your expectations
Journal May 5, 2018

xRuuiWBAmUme_ymglmCFmCKHo-iFyeRe.png

Hubungan internasional terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Studi Hubungan Internasional tersebut berkembang dengan melingkupi segala aspek termasuk perkembangan studi keamanan internasional. Senada dengan penjelasan Kant (2003) bahwa secara keseluruhan dapat diketahui tentang adanya perubahan fokus dalam keamanan internasional. Pada awalnya, negara-negara mencari cara mempertahankan teritorinya masing-masing melalui perang yang kemudian berubah menjadi menjaga kedaulatan masing-masing negara dengan menciptakan sebuah sistem dan aturan demi terwujudnya suatu perdamaian, khususnya dalam teritori atau wilayah mereka sendiri. Perang Dingin sendiri seringkali dikatakan sebagai momentum terbesar dalam sejarah politik internasional sejak berakhirnya Perang Dunia II dan permulaan dari masa atom (Baldwin, 1995). Perang Dingin yang telah berakhir telah menciptakan fluiditas dan keterbukaan yang luar biasa dalam keseluruhan pola serta kualitas hubungan internasional di dunia. Walaupun mayoritas peristiwa pada tahun 1989 besifat eropa-sentrik, tetapi peristiwa tersebut telah membawa pengaruh yang besar sehingga dapat mengubah sistem internasional secara keseluruhan (Buzan, 1991). Secara khusus, tahun 1989 merupakan penanda berakhirnya periode setelah era peperangan. Perkembangan studi perdamaian dan keamanan semula berpusat pada konsep keamanan nasional dan konsep negara.

 

Terdapat dua transformasi konsep historis yang memengaruhi perkembangan studi keamanan pada konsep negara serta identitasnya (Buzan, 1991). Transformasi yang pertama terletak pada perubahan sistem negara dari abad pertengahan menuju sistem negara modern. Memasuki abad pertengahan, sistem pemerintahan yang ada dikuasai dan didominasi oleh gereja dalam berbagai hal yang meliputi kerajaan dan keagamaan. Hal tersebut berdampak kepada konsep identitas politik sebagai subordinasi hierarkis. Seperti dicontohkan oleh paus, kaisar, dan lain-lain. Konsep keamanan yang berkembang pada era ini merupakan peneraan dari pemahaman Hobbes yang mengemukakan konsep dimana terdapat kontrak yang terjadi antara pemerintah dan rakyat, bahwa rakyat akan diberi perlindungan serta negara akan mendapatkan pengakuan atas otoritas atau rezim yang berdaulat (Buzan, 1991). Transformasi kedua membicarakan tentang lahirnya nasionalisme dengan revolusi Perancis dan Amerika yang menggugah dunia. Kedua revolusi tersebut menjadi simbol konkret kepada kedaulatan populer yang menghilangkan sistem hierarki individu dalam sebuah negara (Buzan, 1991). Nasionalisme kemudian muncul sebagai suatu ideologi modern yang tidak berfokus kepada kesetaraan di dalam negara, tetapi juga communality yang akan menjadikan warga negara terikat dalam kepemilikan bersama terhadap negara. Nasionalisme sendiri memiliki kaitan dengan kedaulatan populer sehingga ide tentang legitimasi oleh negara berdaulat yang tidak berdasarkan hak inheren monarki, tetapi kepada kapabilitas pemerintah dalam memimpin berdasarkan kepentingan, nilai, serta identitas masyarakatnya (Buzan, 1991).

Pada era Perang Dingin, situasi yang terjadi menjadikan keamanan memiliki makna ancaman eksternal serta berfokus pada isu militer dan nuklir. Dapat dikatakan demikian sebab pada era tersebut keamanan internasional didominasi oleh dua negara adidaya berkuasa yang kerap mengadakan gencatan-gencatan militer. Hal ini membuat ancaman internal dianggap tidak terlalu penting karena yang harus diutamakan adalah ancaman eksternal (Buzan, 1991). Perubahan-perubahan yang menonjol dapat terlihat dari studi keamanan saat Perang Dingin ataupun masa setelahnya. Menurut Barry Buzan (1991), studi tentang keamanan terbagi ke dalam lima dimensi utama dalam era ini, yaitu keamanan politik, keamanan militer, keamanan ekonomi, keamanan sosial, dan keamanan lingkungan. Keamanan politik menyangkut stabilitas organisasi negara, sistem pemerintahan, dan ideologi yang memberi mereka legitimasi. Keamanan militer menyangkut interaksi dua level dari kemampuan ofensif dan defensif bersenjata dari negara-negara, serta persepsi akan tujuan dari negara lain. Keamanan ekonomi melingkupi akses terhadap sumber daya, keuangan dan pasar yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan serta kekuasaan dapat negara terima. Keamanan sosial menyangkut kemampuan masyarakat untuk mereproduksi pola tradisional bahasa, budaya, asosiasi, dan identitas. Sedangkan keamanan lingkungan menyangkut pemeliharaan biosfer lokal dan planet sebagai sistem pendukung penting yang bergantung pada semua sumber daya manusia lainnya. Buzan (1991) menjelaskan bahwa kelima sektor tersebut merupakan entitas yang saling terkait dan tidak dapat beroperasi terpisah satu sama lain. Pada dasarnya masing-masing sektor mampu mendefinisikan titik fokus masalah keamanan dan dapat menjadi acuan sebagai penentu prioritas dalam penyelesaian permasalahan.

Selama Perang Dingin, keamanan internasional didominasi oleh adanya konfrontasi ideologis yang bersifat sangat militer dan sangat terpolarisasi antara negara adidaya. Perang Dingin sendiri berhasil membagi dunia kedalam dua bagian, yakni negara core dan negara Dunia Ketiga. Penekanan politik dan militer terjadi dengan negara adidaya mentransfer senjata untuk mengeksploitasi permusuhan yang sudah ada di negara Dunia Ketiga sebagai wahana untuk mengejar persaingan mereka sendiri. Sedangkan pada tahun-tahun awal abad kedua puluh satu, mulai nampak apabila agenda keamanan tidak lagi didominasi oleh masalah-masalah politik atau militer (Buzan, 1991). Hal ini mencapai puncaknya setelah Perang Dingin berakhir, terjadi perubahan fokus, di mana masalah ekonomi, masyarakat dan lingkungan mulai mendorong masuk ke jajaran agenda keamanan internasional. Dapat diambil contoh pada tahun 1997 PBB membentuk UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) guna mengatasi permasalahan-permasalahan kriminal utamanya narkoba dan juga human trafficking, sebab masalah tersebut dinilai telah banyak merugikan negara-negara dan dapat pula mengganggu stabilitas keamanan suatu negara.

Penulis sepakat dengan Barry Buzan yang menyatakan adanya pergeseran fokus dalam menyikapi keamanan internasioanal. Kini, keamanan kian luas konsepnya, dan menyertakan entitas yang beragam untuk tetap terlibat didalamnya. Hal ini membuat konsep keamanan memiliki banyak konsep untuk dianalisa. Bukan hanya berfokus pada konflik dan perang, namun juga adanya ancaman dari actorbahkan fenomena yang bersifat ancaman pada negara.

Dari penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa studi keamanan merupakan studi tentang upaya mempertahankan sebuah bentuk kemanan sehingga perang dapat dihindari. Namun, seiring berkembangnya zaman, studi keamanan dan perdamaian turut mengalami pergeseran fokus. Dari yang awalnya hanya berfokus pada bagaimana negara mempertahankan teritorinya dari berperang dengan Negara lain, kemudian berkembang hingga bagaimana negara menjaga kedaulatannya dengan menciptakan perdamaian. Penulis sendiri beropini bahwa utamanya setelah Perang Dingin, beberapa aspek utama negara yang awalnya fokus pada militer, mulai menyebar ke aspek-aspek lain, seperti kemiskinan parsial domestik, krisis pendidikan, daya saing industri, perdagangan narkoba, kejahatan, migrasi internasional, bahaya lingkungan, kekurangan sumber daya, dan kemiskinan global. Perkembangan tersebut tentunya bukan tanpa alasan, sebab perkebangan zaman membawa hubungan internasional pada tatanan yang semakin kompleks. Sehingga, guna menjaga relevansinya, dalam menghadapi tantangan baru, diperlukan perluasan atau bahkan pergeseran fokus sesuai tuntutan zaman. Jadi, penulis dapat menyipulkan apabila studi keamanan dan perdamaian dalam perkembangannya mampu menguraikan fenomena yang ada dalam perdamaian dan keamanan dunia.

 

 

Referensi:

Baldwin, David A, 1995. “Security Studies and the End of the Cold War” dalam World Politics, Vol. 48, pp 117-141.

Buzan, Barry,1991. “New Patterns of Global Security in The Twenty-First Century” dalam International Affairs, Vol. 67, No. 3, pp 432-451.

Kant, Immanuel. 2003. Perpertual Peace: A Philosophical sketch. Hackett Pubishing. Pp. 107-1143.

 

358 Views