selasar-loader

Review #1: Dilema Psikolog Muslim oleh Dr. Malik B. Badri

LINE it!
Btari Aktrisa Yara Sukmaraja
Btari Aktrisa Yara Sukmaraja
Mahasiswi Psikologi Universitas Gadjah Mada
Journal May 4, 2018

SIg1QoZXOYDOUHZdrKU5HTrNuRNh9aam.png

Apakah orang-orang Islam betul-betul memerlukan psikologi modern?
Apakah psikologi modern sepenuhnya Barat?
Adakah titik-titik temunya dengan Islam?

Malik Badri, seorang Muslim dari Sudan, Ph.D dari Universitas Ledds dan guru besar psikolog, menyoroti masalah ini dan menyarankan jalan keluar yang beliau uraikan dalam buku “The Dilemma of Muslim Psychologists”, yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Dilema Psikolog Muslim” dan diterbitkan tahun 2005 oleh Pustaka Firdaus. Saya, mahasiswi psikologi tingkat akhir yang sedang mencari “jiwa psikologi” saya mengarah kemana, mulai tercerahkan setelah membaca pemikiran beliau tentang Psikolog Muslim. Saya akan berbagi alias mereview apa yang telah beliau tulis dalam bukunya tersebut.

Awal mula buku ini terinspirasi dari sebuah makalah yang berjudul Psikolog Muslim dalam Liang Biawak pada tahun 1975. Liang Biawak berasal dari Hadis terkenal Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi “…bahkan jika mereka masuk dalam liang biawakpun, orang Islam tanpa pikir panjang akan mengikutinya.” (Sahih Muslim, hadis no 2002). Hal ini telah banyak buktinya, seperti teori-teori dan praktik-praktik psikologi yang hampir semuanya produk peradaban Yahudi dan Kristen barat yang saat ini telah mendominasi ilmu-ilmu sosial di universitas-universitas negara Islam. Para psikolog barat mengemukakan teori-teori tentang kepribadian, motivasi, dan tingkah laku manusia yang dalam banyak hal bertentangan dengan Islam. Pengulangan tanpa pemikiran kembali terhadap teori-teori dari barat dan praktik dalam disiplin Psikologi menjadi salah satu ancaman paling serius terhadap status ideologi Islam diantara sarjana Muslim dan orang awam kita.

Sebagai orang Pakistan yang belajar ilmu bedah di Inggris, dimana ia hampir tidak membutuhkan adaptasi ketika melakukan pembedahan di negaranya sendiri. Ahli bedah ini akan melihat jenis saluran pencernaan yang sama, jantung dan ginjal yang sama, dan dengan ilmunya ini ia akan mengabaikan tipe makanan, cara pembinaan keluarga, atau inflasi ekonomi yang mungkin sangat berbeda dengan negara tempat ia belajar ilmu bedah. Sedangkan psikologi massa secara nyata dipengaruhi oleh perbedaan kultural. Pada umumnya, para psikolog penganut aliran tingkah laku barat dan mereka yang berorientasi pada eksperimen menyadari akan adanya pengaruh faktor kebudayaan dalam pembentukan tingkah laku subjek yang mereka pelajari. Namun, amat sedikit dari mereka yang menyadari peran komponen ideologi dan sikap yang datang dari kebudayaan mereka, dan kemudian memberi warna pada pemahaman dan pengamatan mereka terhadap subyek penelitian mereka ini. Pada kenyataannya, psikologi akademis banyak mengambil keuntungan dari sikapnya yang subyektif yaitu penggunaan kerangka acuan dan asumsi tentang manusia yang belum terbukti kebenarannya. Banyak penganut aliran tingkah laku Barat yang mungkin benar-benar tidak menyadari pengaruh konsep mereka tentang manusia yang mampu mewarnai observasi dan hipotesis.

Psikolog Barat yang berorientasi laboratorium dalam usahanya menunjukkan sikap ilmiah akan menyangkal adanya dogma atau kepercayaan yang memengaruhi konsep mereka tentang manusia. Di sisi lain, mereka berusaha menunjukkan sikap netral yang disertai dengan penghargaan terhadap keberadaan Tuhan dan agama, dan menganjurkan pendekatan ilmiah yang obyektif terhadap gejala spiritual. Walaupun, sesungguhnya mereka memperlakukan manusia sebagai hewan yang memiliki motivasi tunggal yaitu menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisik dan sosialnya untuk masa sekarang yang merupakan sudut pandang ateis. Sebuah psikologi tanpa jiwa yang memepelajari manusia yang juga tak berjiwa.

Skinner, salah seorang psikolog yang paling berpengaruh yang dianggap sebagai bapak psikologi behaviorisme atau tingkah laku, menyimpulkan bahwa tingkah laku yang kita sebut “benar” atau “salah” tidak disebabkan oleh kebaikan atau keburukan yang nyata-nyata ada dalam suatu situasi, dan tidak pula disebabkan oleh pengetahuan bawaan tentang benar atau salah –halal atau haram; tetapi hanya disebabkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan berbagai macam penguat atau reinforcers positif dan negatif; ganjaran dan hukuman. Pengondisian operan Skinner, sebenarnya telah digunakan orang Arab kuno untuk melatih anjing dan burung elang berburu. Hal ini pun diperjelas dalam Alquran,

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Yang dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka, makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Maidah, ayat 4)

Meskipun konsep psikologi Barat tentang tingkah laku manusia secara keseluruhan terlalu sempit untuk memahami aspek kejiwaan manusia, banyak psikolog barat yang juga percaya bahwa psikologi aliran tingkah laku stimulus-respon terlalu terbatas bagi usahanya menerangkan tingkah laku manusia pada umumnya. Oleh karenanya, sewaktu mempelajari psikolog akademis barat, psikolog Muslim harus berusaha mengkaji latar belakang sejarah dan falsafah dari aliran tingkah laku. Selain itu, juga harus waspada dan tidak menerima begitu saja teori dan praktik-praktik psikologi tingkah laku manusia pada umumnya berdasarkan eksperimen orang lain. Kemudian, harus kritis mempelajari kepercayaan-kepercayaan tersamar dan asumsi-asumsi yang dipengaruhi faktor budaya di balik formula yang mereka kemukakan. Hingga pada akhirnya, para psikolog Muslim yang diorganisir dengan baik akan bisa memberikan nafas spiritual terhadap aliran tingkah laku yang materialistis, dan juga terhadap psikologi barat pada umumnya.
 

 

Btari Aktrisa Yara Sukmaraja

(Mahasiswa Tingkat Akhir Psikologi, Peserta Tingkat Akhir Rumah Kepemimpinan)

 

85 Views