selasar-loader

Postnatal Depression: Sindrom Depresi Baru pada Pria Pascakelahiran Bayinya

LINE it!
dr. Isa  Multazam Noor, MSc, SpKJ(K)
dr. Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan Grogol, Jakarta Barat
Journal Apr 24, 2018

QOiS1i0clh3n8nP4ttGLwHJFdesqoFgX.jpg

Kelahiran bayi merupakan saat yang paling dinanti oleh setiap pasangan suami istri. Mereka berdua akan saling bahu-membahu dalam menyiapkan segala kebutuhan demi menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarganya itu. Momentum ini tentu merupakan masa yang paling diharapkan dalam sebuah kehidupan berumah tangga.

Setelah istri melahirkan, tentu setiap pria akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena telah berhasil menjalankan salah satu tugas utama dalam perkawinan, yaitu prokreasi atau menghasilkan keturunan. 

Dalam sebulan atau dua bulan pertama kelahiran bayi, pria akan tampak antusias dalam mengurus bayinya itu. Tentu ditambah dengan mendampingi istri ketika menjalani masa pemulihan pascaproses melahirkan.

Peran suami dalam tiga bulan pertama pasca-istri melahirkan merupakan periode krusial. Suami sangat dibutuhkan keberadaannya dalam memberikan support baik fisik maupun psikologis terhadap istri dalam menghadapi perubahan dan fluktuasi hormonal setelah dirinya melahirkan bayi. Dalam situasi ini, istri berpeluang untuk jatuh kepada kondisi yang dinamakan sebagai post partum depression.

Post partum depression adalah gangguan mood (suasana perasaan) berupa rasa tertekan (depresif) yang dapat mendera wanita yang baru saja melahirkan. Apalagi bila wanita tersebut memiliki beberapa faktor risiko untuk alami depresi, seperti: riwayat depresi atau percobaan bunuh diri sebelumnya, memiliki orangtua atau saudara kandung dengan gangguan bipolar I (manik depresi), terdapat laporan pernah alami “baby blues syndrome”, usia risiko tinggi melahirkan (di atas 40 tahun) serta wanita yang baru pertama kali melahirkan.

Baby blues syndrome dan post partum depression memang sama-sama menampilkan gambaran depresi dalam bentuk gejalanya. Keduanya punya gejala sama, yaitu “trias depresi” atau tiga gambaran gejala utama depresi berupa: mood terdepresif (sedih), kehilangan minat, dan ketiadaan energi dalam beraktivitas.

Namun sebenarnya terdapat perbedaan jelas di antara keduanya, yaitu terkait dengan periode kemunculan gejala trias depresinya.

Gambaran depresi pada post partum depression biasanya dapat mulai dikenali dalam periode empat minggu setelah melahirkan. Post partum depression dapat disertai dengan kekhawatiran yang sungguh berat dengan serangan panik akan ketidakmampuan mengurus bayinya.

Bahkan sebuah laporan kasus menunjukkan bahwa pada beberapa wanita, depresi pascamelahirkan dapat disertai dengan gejala psikotik seperti: suara bisikan (halusinasi pendengaran) yang berisi suruhan untuk membunuh bayinya atau keyakinan aneh (waham) bahwa bayinya seperti kerasukan. Wanita tersebut dapat sampai menolak akan kehadiran bayinya itu.

Apabila gejala psikotik tampak mendominasi dan mengawali gangguan mood-nya, dapat dikatakan wanita tersebut alami kondisi yang jauh lebih parah, yaitu “psychosis post partum” atau gangguan psikotik pascamelahirkan.

Di satu sisi, gambaran mood depresi pada baby blues syndrome biasanya tampak selama masa kehamilan dan disertai gejala kecemasan. Kondisi di atas tentu memerlukan perhatian ekstra dari suami sebagai kepala rumah tangga.

Beberapa negara di dunia bahkan menyediakan waktu cuti khusus tidak kerja selama kurang lebih satu bulan bagi pria yang istrinya baru saja melahirkan.   

Pembahasan mengenai psychosis post partum, post partum depression, dan baby blues syndrome akan saya kaji secara lebih lengkap dalam sajian seri tulisan lain.

Tulisan kali ini, saya hanya akan memfokuskan diri pada bahasan gangguan mood depresi yang justru terjadi pada pria yang menjadi suami dari individu wanita yang baru saja melahirkan bayi.

Bagaimana jadinya apabila menjelang akhir bulan ketiga pascaistrinya melahirkan, suami justru malah jatuh ke dalam kondisi depresi? Keadaan ini membuat suami menjadi sulit berkonsentrasi dalam mengurus segala keperluan istri dan bayinya. Gangguan mood depresi pada pria setelah kelahiran bayinya ini sedang menjadi sebuah isu baru di dunia barat.

Sindrom depresi yang terbilang baru ini dinamakan dengan istilah “postnatal depression.”  Keadaan ini hanya dijumpai pada kaum pria yang baru menjalani peran baru sebagai bapak rumah tangga pasca-istri melahirkan.

Sindrom depresi ini biasanya hinggap pada pria yang baru memiliki bayi untuk pertama kalinya. Perasaan bahagia dan antusias melakukan segala hal demi istri dan bayi yang jelas terlihat pada periode tiga bulan pertama kemudian menjadi jatuh pada kondisi depresi.

Postnatal depression memang belum banyak diteliti dan disampaikan pada jurnal ilmiah kesehatan jiwa sehingga faktor risiko terjadinya masih perlu dieksplorasi lebih lanjut.

Namun sepertinya faktor genetik berupa riwayat depresi pada keluarga besar cukup memberikan andil terhadap terjadinya postnatal depression pada pria yang tentunya baru pertama kali memiliki bayi. Kondisi ini dapat berlangsung selama tahun pertama dalam kehidupan bayi. Risiko terjadinya postnatal depression pada pria berkisar dari 3 sampai 6 bulan setelah bayi dilahirkan.

Individu pria tentu akan mengalami suatu penyesuaian terhadap kehadiran anggota baru dalam keluarganya. Dalam hal ini, terdapat peran baru berupa merawat bayi yang sebelumnya tentu belum pernah dilakukannya.

Siklus tidur suami yang awalnya teratur tentu menjadi porak poranda karena adanya tangisan, rengekan, dan harus bangun di tengah malam untuk mengganti popok atau membuat susu karena bayinya kehausan. Hal tersebut tentunya membuat pria menjadi sulit tidur dan tampak menjadi sensitif kepada pasangannya.  

Hal di atas tentu akan sangat membuat pusing atau nyeri kepala disertai rasa senewen bagi suami. Tiga bulan pertama menjadi waktu krisis bagi seorang pria mengurus bayi beserta dengan segala problematikanya. Apabila proses adaptasi itu gagal dan adanya faktor risiko kejiwaan, individu pria tersebut tentunya rentan menderita postnatal depression.

Permasalahan yang ekstrem tentu dapat berujung pada kehilangan nafsu makan dan gairah dalam melakukan hubungan seksual atau cenderung memilih berteman dengan minuman alkohol.

g2DcbdbM4dzdPBueZOmqC67wADTwhU27.jpg

Perubahan emosi seperti rasa kesal, bosan, capek, mudah tersinggung atau marah, dan rasa lelah merupakan gambaran gejala yang dapat dijumpai pada pria dengan postnatal depression. Survei di barat menunjukkan bahwa satu dari 10 pria alami kondisi depresi selama kehamilan istrinya dan setelah bayinya lahir.

Pria yang menderita depresi selama istrinya hamil atau antenatal depression berisiko tinggi untuk kemudian alami postnatal depression. Pria yang pasangannya alami postpartum depression dan berusia muda, tinggal di perkotaan yang padat,  atau berpenghasilan rendah berisiko tinggi untuk jatuh pada kondisi postnatal depression.       

Tulisan ini semoga dapat menggugah masyarakat, khususnya warga yang berada di daerah perkotaan untuk sadar akan potensi postnatal depression pada individu pria yang baru pertama kali memiliki bayi.

Dengan demikian, fokus perhatian tentu tidak hanya pada isu kejiwaan berupa baby blues syndrome dan post partum depression pada individu wanita, tetapi juga postnatal depression pada pria

Bagi kaum pria, apabila memiliki gejala depresi di atas setelah kelahiran bayinya, jangan sungkan untuk berkonsultasi atau mencari bantuan kepada seorang profesional kesehatan jiwa, yaitu psikiater untuk mendapatkan psikoterapi atau pengobatan yang sesuai (misalnya obat antidepresan).  

255 Views