selasar-loader

Baby Blues Syndrome vs Depresi Pascamelahirkan: Mitos atau Fakta?

LINE it!
dr. Isa  Multazam Noor, MSc, SpKJ(K)
dr. Isa Multazam Noor, MSc, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan Grogol, Jakarta Barat
Journal Apr 24, 2018

bgF8FfDBd5LBcecZNHd6dJTyidNjM-nZ.jpg

Saat tugas pagi kemarin di operating room untuk tindakan ECT (Terapi Kejang Listrik), perawat anestesi mengatakan bahwa rencana akan ada pasien rujukan permintaan ECT dengan “Baby Blues Syndrome”.

Selang sejam kemudian, handphone pun berdering, “Dok, ini suami pasien X… apakah bisa dijadwalkan ECT untuk istri saya… sebulan setelah melahirkan mulai depresi kayak dulu lagi nih… tidak mau makan dan mulai ada perilaku menyakiti diri (self harm) seperti mencakar-cakar kedua tangannya… kayaknya istri saya alami post partum depression deh.”

Sepintas pikiran ini kembali teringat dengan tulisan saya di blog pribadi “Mentah Health in Indonesia”. Tulisan lama yang saya buat pertama kali setelah lulus sebagai psikiater. Sebuah resensi dari buku yang dibuat oleh Brooke Shields. Mantan aktris kenamaan Hollywood yang dalam pengalaman hidupnya pernah jatuh kepada kondisi yang dinamakan “post partum depression”. Sebagai gambaran, salah satu film yang terkenal dari Brooke Shields ini adalah “Blue Lagoon”.  

Buku best seller di Amerika Serikat tersebut cukup menginspirasi banyak orang untuk men-support dan empowering orang dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK), tentunya selain memberikan kekuatan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) untuk dapat fight terhadap stres dalam kehidupan, khususnya yang terkait dengan post partum depression

Satu lagi artikel menarik saya tahun 2009 dan tentu esensinya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, khususnya depresi pascapersalinan. Artikel ringan ini menyajikan ilustrasi kasus singkat mengenai keadaan mood (susana perasaan) yang dapat dijumpai pada individu wanita pada beberapa waktu setelah proses kelahiran bayinya.       

Mohon izin untuk mem-posting kembali (copy paste) dari resensi buku yang saya tulis tersebut tahun 2008 dan artikel saya terkait isu depresi pascapersalinan tahun 2009:

1. Buku: My Journey through Postpartum Depression – Bukan Sekedar Baby Blues Semata?

xE0iekRxHmJZLqMfT8OFdykBapL4zAJk.jpg

Sebuah buku yang ditulis dengan penuturan lugas dan jujur dalam bahasa awam oleh seorang Aktris Hollywood bernama Brooke Shields. Buku ini menceritakan tentang perjuangan dirinya ketika dihinggapi oleh gangguan kejiwaan yang disebut dengan depresi pascapersalinan. Pergulatan dirinya ketika melawan deraan depresi yang parah dan bukan sekedar kondisi baby blues semata.

Dalam penuturannya: ketika jatuh pada kondisi tersebut, Brooke seperti tidak dapat mencintai putri kecil yang baru dilahirkan olehnya itu. Padahal dalam bayangan sebelumnya, dia justru sangat menmimpikan dan mengharapkan kehadiran bayi perempuannya itu. Namun yang terjadi setelah proses kelahiran bayinya, justru adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang.

Dalam buku ini juga dipaparkan sekelumit perjuangn Brooke Shields dalam upaya bertahap hidup menghadapi serangan depresi yang cukup berat dan hampir saja menghancurkan dirinya. Ulasan kisah nyata dengan bahasa awam dari sang bintang dalam melawan depresi pascamelahirkan ini seakan menghadirkan sebuah pelajaran berharga. Bahwasannya dukungan sosial dari keluarga terdekat sangat berperan besar bagi kesembuhan kondisi postpartum depression disorder.

Dalam  buku ini, Brooke shields berhasil membagi pengalamannya terhadap penanganan kasus yang sering terabaikan dan tersembunyi. Dalam istilah populer, masalah kesehatan jiwa yang diderita oleh Brooke dapat dianalogikan ke dalam depresi terselubung atau masked depression.

Pengalaman ini tentunya dapat menjadi suatu pelajaran yang berharga sekali bagi para ibu muda, wanita yang baru pertama kali melahirkan atau memiliki bayi dalam menghadapi permasalahan psikis setelah melahrkan bayi.

Dalam buku tersebut juga disajikan sedikit pembahasan mengenai depresi pascamelahirkan oleh seorang guru besar di bidang psikologi.             

2. Kata dokter: Depresi Pascapersalinan, Bukan Baby Blues Semata

5PvPtjX8ipJBA_Q6cYpttan5k6TQcCWA.jpg

Ilustrasi kasus:

Ny. A, 27 tahun, seorang perempuan yang dikonsultasikan kepada bagian psikiatri rumah sakit dari ruang perawatan bagian obsgyn karena mengalami gangguan perasaan berupa sering tiba-tiba menangis, murung, tidak mau makan minum, dan menolak kehadiran bayi yang baru dilahirkannya kurang lebih satu minggu yang lalu.

Ibu muda yang baru pertama kali melahirkan tersebut menolak untuk menyusui dan tidak mau bertemu dengan bayinya, bahkan sampai menolak untuk menyentuhnya.

Kondisi yang dialami oleh Ny. A pada ilustrasi kasus di atas dikenal dalam ilmu psikiatri (kedokteran jiwa) sebagai suatu gangguan mood afektif yang dikenal dengan sebutan “Depresi Pascapersalinan.”

Pada umumnya hampir setiap orang di suatu saat dalam hidupnya pasti pernah mengalami depresi. Sebagian wanita ada yang dapat mengalami gangguan suasana perasaan pascapersalinan.

Namun terkadang, bentuk depresi ini tidak disadari oleh keluarga ataupun wanita itu sendiri. Hal ini disebabkan karena gejalanya mirip dengan “baby blues syndrome,” yaitu berupa kelelahan, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, bahkan sampai pada penurunan libido pascamelahirkan.

Depresi pascapersalinan bukanlah sebuah maternal blues (baby blues) semata karena derajatnya dikategorikan lebih berat daripada baby blues syndrome yang mana gradasinya bisa mulai dari ringan sampai sedang.

Baby blues syndrome biasanya muncul pada masa-masa wanita tersebut mengandung (pregnancy) atau menjelang waktu kelahiran bayi sampai satu minggu pascapersalinan. Sedangkan depresi pascapersalinan muncul pada periode mulai 2 sampai 4 minggu setelah wanita tersebut menjalani proses kelahiran bayinya.

Pada baby blues syndrome dijumpai gejala campuran cemas dan depresi. Sedangkan pada depresi pascapersalinan, gejala kecemasannya lebih parah dengan disertai serangan panik yang mendadak dan kekhawatiran yang berlebihan bahwa dirinya tidak akan bisa mengurus bayi.

Bahkan pada beberapa laporan kasus dijumpai perasaan was-was apabila dirinya dapat tiba-tiba menyakiti bahkan membunuh bayi yang dilahirkannya itu. Tidak hanya itu, dijumpai juga perasaan was-was apabila dirinya dapat secara tiba-tiba menyakiti bahkan membunuh bayi yang dilahirkannya itu.

Penelitian di beberapa negara di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika melaporkan bahwa angka kejadian depresi pascapersalinan adalah sebesar 13%. Wanita yang berusia 20 sampai 40 tahun dan ditambah dengan adanya riwayat depresi pada pohon keluarga merupakan kelompok yang paling rentan untuk alami depresi pascapersalinan. Faktor risiko ini meningkat pada periode post partum (pascamelahirkan bayi) dari waktu 2 minggu sampai 6 bulan.

Dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) di Indonesia, depresi pascapersalinan dimasukkan ke dalam kriteria gangguan jiwa terkait emosi dan perilaku yang berhubungan dengan masa nifas, yang dapat muncul selama periode enam minggu setelah melahirkan.

Pada seorang wanita yang alami depresi akan ditemukan suatu situasi yang “down”. Gejala depresi yang tampil pascamelahirkan biasanya berupa mood terdepresi (sedih), perasaan tidak berguna, rasa bersalah yang berlebihan, sering menangis, sulit konsentrasi, sulit tidur, kehilangan minat terhadap hobi yang dulu disenangi, mudah lelah, serta penurunan berat badan, dan libido.

Kondisi ini apabila tidak terdeteksi secara awal dan ditangani dengan baik, dapat berkembang kepada tindakan melukai diri sendiri (self harm) dan bunuh diri atau bahkan sampai membunuh anak kandungnya (infanticide).

Dasar etiologi dari terjadinya depresi pascapersalinan adalah faktor biologis dan psikososial. Penyebab biologisnya ditenggarai oleh karena ketidakseimbangan dari neurotransmitter (hormone saraf) di otak, seperti: norepinefrin (nor-adrenalin), dopamine, serotonin, penurunan konsentrasi corticothropine-releasing hormone (CRH), dan fluktuasi hormone seks (estrogen, progesteron), serta hormone kortosol dan tiroid.

Sedangkan faktor risiko psikososial yang terkait adalah usia punya anak, stressor dalam merawat bayi, gangguan cemas dan depresi prenatal atau antenatal, adanya riwayat depresi sebelumnya, ibu muda atau pertama kali memiliki bayi, ketiadaan dukungan sosial atau kehadiran dari keluarga dekat, peristiwa kehidupan yang stressful, kehamilan yang tidak dikehendali (un wanted child), dan mengalami kegagalan KB.

Pada negara berkembang, faktor gender juga memiliki peranan, yaitu adanya keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki serta adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Penanganan depresi persalinan dapat dilakukan melalui penggunaan terapi hormonal dengan steroid seks, obat dual fungsi antidepresan dan anti cemas (golongan SNRI atau serotonin nor epinephrine re-uptake inhibitor, misalnya venlavaxine), maupun obat anti psikotik (apabila terdapat psychosis post partum, seperti gejala halusinasi pendengaran *mendengar bisikan ghaib atau keyakinan aneh berupa delusi/waham).

Edukasi kepada pasien mengenai depresi yang dialami dan pengobatannya juga perlu diberikan. Di samping itu, pasien dan keluarga perlu waspada terhadap gejala dan tanda awal kekambuhan sehingga perlu segera mencari pertolongan jika gejala depresi kembali muncul.

Beberapa bukti penelitian menunjukkan bahwa psikoterapi interpersonal, terapi kognitif perilaku, dan terapi suportif yang dikombinasikan dengan pemberian obat ternyata memiliki efek positif dalam mencegah dan mengatasi wanita yang alami depresi pascapersalinan.

Konseling kehamilan yang dilakukan pada saat antenatal care pada wanita hamil terbukti efektif pula dalam program preventif pencegahan depresi pascapersalinan di masyarakat perkotaan. Pada wanita dengan postpartum depression yang parah, terapi kejang listrik (ECT) dapat menjadi pertimbangan yang dikatakan cukup aman dan efektif.

Dengan pemberian edukasi yang benar kepada masyarakat, identifikasi ibu dengan faktor risiko masalah kesehatan jiwa tentunya dapat membantu mencegah terjadinya gangguan ini. Dengan demikian deteksi dini dapat berjalan dan pengobatan yang efektif dapat segera diberikan.

Pemberian edukasi yang sederhana dengan bahasa awam perlu digalakkan dalam bentuk penyuluhandeteksi dan intervensi yang sedini mungkin. Pemberdayaan (empowering) dukungan sosial dan emosional melalui bentuk perhatian dan kasih sayang dari suami dan keluarga terdekat merupakan amunisi yang kuat bagi kaum wanita agar terhindar dan dapat melawan depresi pascapersalinan.

Terkait dengan mitos dan fakta mengenai postpartum depression, penelitian terbaru menunjukkan bahwa 1 dari 7 wanita mengalami depresi setelah melahirkan dalam kehidupannya. Sebanyak 50% dari wanita tersebut ternyata tidak terdeteksi secara awal.

Bunuh diri (suicide) menjadi penyebab nomor dua dari mortalitas atau angka kematian dari wanita setelah melahirkan, yaitu sebanyak 20%.

Postpartum depression adalah suatu sindrom (kumpulan gejala) psikiatrik yang serius paska melahirkan, berupa permasalahan emosional yang terkait dengan suasana perasaan (mood) yang bertahan lama (menetap) sehingga mengakibatkan individu wanita tersebut menjadi terganggu dan tidak dapat melakukan fungsinya dalam merawat bayi. Keluhan yang muncul dapat disertai rasa tidak bahagia, sulit tidur, dan kelelahan yang berat.

Sedangkan baby blue syndrome adalah permasalahan suasana perasaan (mood) yang dapat bersifat sementara atau berderajat ringan sampai sedang selama masa kehamilan, menjelang kelahiran bayi atau periode singkat satu minggu setelah melahirkan.

Keluhan yang muncul dapat berupa mudah marah, mood labil, sulit tidur, tidak konsentrasi, rasa cemas dan kelelahan yang dapat muncul dalam bentuk gejala psikosomatis.

Keluhan baby blue syndrome bisanya hilang pada hari ke 10 pascamelahirkan. Apabila masih tetap berlangsung, wanita tersebut dapat berkembang mengalami depresi pascamelahirkan. Angka prevalensi baby blue syndrome lebih tinggi kejadiannya, yaitu 30-85% dibandingkan dengan postpartum depression yang berkisar antara 10-15%.

Penelitian lain menunjukkan wanita yang pernah alami satu episode depresi setelah melahirkan memiliki risiko sebanyak 50% untuk mengalami kembali episode tersebut pada kehamilan berikutnya. Depresi pascamelahirkan dapat berpengaruh pula kepada pasangan (ayah) selama tahun pertama kelahiran bayi, yaitu sebanyak 10%.

Sedikit tambahan faktor risiko lain, seperti  komplikasi saat persalinan, karakteristik kepribadian tertentu (anankastik atau perfeksionis), dan ketidakpuasan dalam kehidupan perkawinan juga dapat berkontribusi terhadap terjadi depresi pascamelahirkan pada individu wanita.     

Sebagai akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan kemudian masyarakat menjadi peduli akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan awal dari depresi pascamelahirkan.

Depresi pascapersalinan sekali lagi bukanlah mitos, tetapi memang fakta yang dapat terjadi dan dialami oleh wanita di dalam suatu siklus kehidupannya.

Depresi bisa saja terjadi pada siapapun, penting bagi kita yang peduli untuk tidak malu membawa anggota keluarga berkonsultasi kepada profesional kesehatan jiwa, yaitu psikiater (dokter ahli kesehatan jiwa) apabila dijumpai gambaran seperti yang tersaji di atas, jangan sungkan dan malu untuk datang ke psikiater karena gangguan yang kami atasi tentunya tidak hanya skizofrenia.

 

235 Views