selasar-loader

Kereta Shinkansen dari Madiun

LINE it!
Ray Fikry
Ray Fikry
Seorang generalis yang mengamati Jakarta dan Indonesia
Journal Apr 20, 2018

URRvrGJVDWrT2XgjAjmAgNwKCFr-pnuS.jpeg

Anda sudah bosan melihat Indonesia dari sudut pandang berita-berita buruk maupun twitwar-twitwar yang unfaedah? Sebaiknya, alihkan saja perhatian Anda pada berita-berita yang menunjukkan kemajuan Bumi Pertiwi. Nah, berhubung Pakdhe lagi senang membangun infrastruktur transportasi semacam jalan tol dan kereta, keduanya jadi berita yang autofaedah buat saya.

Siapa yang sudah pernah mencoba kereta api bandara? Layanan ini memang benar-benar asyik untuk orang yang ingin mencoba pengalaman baru dalam berkendara menuju bandar udara internasional kita, Soekarno-Hatta International Airport. Murah-tidaknya bergantung pada sudut pandang Anda dalam mempertimbangkannya. Namun kalau bicara pengalaman, tidak ada yang tidak senang sepertinya. Terakhir saya menaiki moda transportasi ini, masih ada saja orang-orang yang menaiki kereta sambil menyalakan ponselnya, mungkin merekam dalam bentuk Instagram Story.

Sepak terjang pemberitaan dunia perkeretaapian kita tidak berhenti sampai di situ. Kalau kereta api bandara itu “mainannya” Railink, PT. KAI seperti tidak mau kalah. Perseroan milik kita ini terus berinovasi demi mengembangkan industri perkeretaapian lokal menjadi lebih maju dan modern. Tidak ada kata-kata yang lebih indah terdengar di telinga saya selain kata “inovasi”, “maju”, dan “modern”. Sensasinya sangat superior. Lantas, apa “mainan” baru PT.KAI saat ini?

Bentuk dan kecepatan. Kedua hal itulah yang sedang diutak-atik PT. KAI. Mereka ingin mengubah wajah kereta api lokal menjadi lebih aerodinamis sekaligus meningkatkan kualitas layanannya. Untuk mewujudkan hal ini, mereka melayangkan permintaan pada PT. INKA. Perusahaan asal Madiun itu pun diminta untuk membuat kereta yang seperti Shinkansen di bagian depannya. Shinkansen dari Madiun. Begitulah, kira-kira.

Apa saja hal-hal yang perlu diketahui?

Aerodinamika Shinkansen Madiun

Bentuk kereta kita selama ini cukup kaku. Dibilang klasik, tidak, dikatakan futuristik apalagi. Jauh dari kesan itu. Karena itulah saat ini KAI sedang mengupayakan kereta dengan tampilan yang lebih aerodinamis. 

Tentu bukan budaya “jepret-lalu-update” yang jadi alasannya, karena PT. KAI didirikan sebagai perusahaan kereta sebagai salah satu moda transportasi darat, bukan perusahaan cosplay nasional. Karena itu, perubahan desain lokomotif memiliki alasan sekaligus tujuan yang sifatnya fungsional.

Untuk mewujudkannya, PT. KAI sangat serius. Dirut mereka, Edi Sukmoro, menyatakan bahwa pihaknya telah meminta PT. INKA untuk berkolaborasi dengan PT.DI yang biasa mengerjakan pesanan-pesanan pesawat dari pabrikan luar negeri maupun dalam negeri. Apa peran PT. DI dalam collab kali ini? Membuat hidung lokomotif Shinkansen dari Madiun.

BNHfZmw11t311fjTxu6m1cqYnXwodTO3.jpg Begini mungkin perkiraan hidungnya (via PTDI)

"Saya telepon ke PTDI, tolong bantu INKA tolong buat idungnya kereta api seperti pesawat terbang. Jadi itu nanti buatan dalam negeri," katanya, dikutip dari Detik.

Sejujurnya, langkah ini sangat mengejutkan mengingat biasanya kita impor dari Jepang untuk apapun yang berkaitan dengan kereta. Tidak perlu pergi ke Jepang untuk menilai kecocokannya, apalagi jika memang tak ada keperluan di sana. Lihat saja film-film Jepang yang memiliki scene di dalam gerbong kereta api, lalu sandingkan dengan ingatan Anda akan suasana di dalam gerbong KRL kala sepi. Gantungan tangannya, konfigurasi tempat duduknya, hingga lubang-lubang di bawah tempat duduk yang aslinya berfungsi sebagai penghangat kala musim dingin menerpa. Mirip, bukan?

Jadi, niat baik PT. KAI untuk mengawinkan PT. INKA dan PT. DI patut diapresiasi!

Kecepatan Shinkansen dari Madiun

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bentuk aerodinamika lokomotif yang seperti pesawat ini punya tujuan dan tujuan itu tentunya bukan cosplay semata. Edi Sukmoro mengatakan bahwa kecepatan maksimal kereta aerodinamis itu mencapai 150-160 km/jam, lebih cepat dari kereta konvensional yang hanya 90-120 km/jam. 

Pak Dirut mengatakan bahwa dengan kecepatan itu, rute Jakarta ke Semarang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam, bahkan Jakarta-Surabaya hanya 5 jam atau lebih cepat dari kereta eksekutif saat ini mencapai sekitar 12 jam.

Bagian ini yang menurut saya perlu kita kritisi. Untuk membuat Shinkansen dari Semarang ini benar-benar berlaku seperti kereta peluru, kita perlu pertanyakan kekuatan relnya. Setahu saya, banyak rel yang masih dibuat oleh Krupp pada awal abad-20. Selain itu, perlu diperhatikan juga keselamatan orang-orang yang berada di peron, terutama mereka yang lengah atau abai dengan kedatangan kereta.

Edi Sukmoro juga menyatakan bahwa pihaknya telah memesan kereta tersebut kepada PT INKA. Saat ini, perseroan telah memesan 10 rangkaian kereta. "Aerodinamis saya sudah pesan 10 trainset. Itu saya coba. Untuk jarak sedang, Jakarta-Bandung, Jakarta-Cirebon, Jakarta-Solo, itu sudah saya pesan 10 trainset dari INKA," jelasnya.

Kereta ini nantinya tidak akan sepanjang Shinkansen versi Jepang, setengahnya saja. Ini juga patut menjadi perhatian. Saya pikir, lebih panjang kereta, lebih banyak penumpang yang bisa ia angkut sehingga pendapatan untuk PT. KAI pun akan lebih menggiurkan. 

Tapi mungkin PT. KAI punya pertimbangan lain; semakin panjang kereta, semakin besar daya yang dibutuhkan untuk mendapatkan kecepatan sesuai permintaan. Mencapai kecepatan dengan lebih banyak penumpang inilah yang mungkin belum mampu dicapai oleh teknologi kita…atau mungkin bisa dicapai, namun ada kekhawatiran pada sistem yang belum established untuk kereta cepat. Membuat orang Indonesia disiplin untuk cepat minggir manakala ada kereta api itu susah, lho! Kereta api kita yang pelan saja masih merenggut banyak nyawa.

Inovasi di Indonesia selalu patut untuk disyukuri, sekecil apapun itu. Bila melihat lagi dunia perkeretaapian kita 10 tahun ke belakang, tentu kita bisa simpulkan bahwa inovasi yang dihasilkan jauh dari kata kecil. 

Bagi saya, ini seakan memberi pesan bahwa sedalam apapun rasa putus asa terhadap Indonesia, kita masih tetap mendambakan kemajuan di negeri ini. Sebuah pesan bagi mereka yang skeptis dengan kemungkinan negara ini jadi negara yang maju.

 

Ilustrasi via CNBC Indonesia

2475 Views