selasar-loader

Akhlaqul Medsosiyah: Cerdas Bermediasosial di Tahun Politik

LINE it!
Abdul Rasyid
Abdul Rasyid
Resources and Environmental Economics Student | IPB | Anak Muda Muhammadiyah
Journal Apr 20, 2018

ZIHSmvHkpIXsjsoMkn6IbzTpVz4DLDZN.jpg

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.  Dari laporan berjudul "Essential Insights Into internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World" yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta dengan penetrasi 49 persen.

Berdasarkan aplikasi yang paling banyak diunduh, perusahaan media sosial di bawah Mark Zuckerberg mendominasi di tiga teratas. Secara berurutan dari posisi pertama adalah WhatsApp, Facebook, Instagram, dan diikuti Line. Berdasarkan rata-rata trafik situs per bulan, Facebook menjadi media sosial paling banyak dikunjungi dengan capaian lebih dari 1 miliar juta pengunjung perbulan. Rata-rata pengunjung Facebook menghabiskan waktu 12 menit 27 detik untuk mengakses jejaring sosial tersebut. Sebesar 92 persen mengakses Facebook via mobile dengan perbandingan persentase berdasar gender sebanyak 44 persen untuk wanita dan 56 persen adalah pengguna pria. Pengguna Facebook didominasi golongan usia 18-24 tahun dengan presentase 20,4 persennya adalah wanita dan 24,2 persennya adalah pria. Sementara total pengguna aktif Instagram bulanan di Indonesia mencapai 53 juta dengan presentase 49 persen wanita dan 51 persen adalah pria.

Sangat fantastis jumlah pemakai media sosial di Indonesia. Apabila setiap orang tiap hari sharing informasi apapun itu isinya ke media sosial yang dimilikinya, sudah menjadi barang tentu publik akan mengetahuinya, apalagi dengan jumlah pengikut yanmg sangat banyak. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bukan seberapa banyak yang mendapatkan informasi yang kita share, akan tetapi apakah konten dari informasi yang kita sebar luaskan, apakah informasi tersebut benar?. Kita hidup di zaman dimana tidak ada lagi sekat yang membatasi, semuanya dapat kita akses dengan mudah. Memastikan informasi yang kita terima hari ini benar atau tidak juga sangatlah bias, banyak sekali bahkan seringkali kita kebingungan mana informasi yang benar-benar valid untuk dikonsumsi.

Bayangkan apabila setiap pengguna media sosial tiap hari menyebarkan berita atau informasi hoax ke semua media sosial yang dia miliki. Berapa ratus juta orang yang menerima berita tersebut, berapa ratus juta orang yang terpengaruh dari berita hoax tersebut?. Jelas ini sangatlah membahayakan. Media sosial yang semestinya digunakan sebagai sarana untuk silaturrahim ataupun silatulfikr dengan kerabat atau teman yang jauh dari jangkauan kita justru menjadi wadah untuk saling menghujat satu sama lain dan menebarkan fitnah untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

Hari ini kita berada pada tahun politik, berbagai macam berita bertebaran darimana saja. Arus berita hoax menyerang begitu cepat pada publik. Hampir tiap hari berbagai macam sajian berita hoax ada di sekitar kita yang memberitakan bahwa calon x latar belakangnya seperti ini dan seperti itu, kemudian muncul lagi kabar yang memberitakan bahwa calon y ternyata memiliki sisi negatif ini dan itu. Baik itu benar atau tidak tetap saja berita yang disampaikan bermaksud untuk menyampaikan kejelekan lawan politik di muka umum, cara ini tentu tidak dibenarkan juga.

Apalagi apabila deklarasi pencalonan sudah dimulai, nampaknya dunia media sosial akan semakin panas. Pendukung x mati-matian mendukung, membela x dan melawan y, begitupun dengan pendukung y. Sama saja dan hampir tidak ada bedanya. Inilah yang memunculkan kebingungan dan kegaduhan di masyarakat kita. Harus bagaimana masyarakat menyikap hal ini, sedangkan informasi dan berita yang tersaji penuh dengan ujaran kebencian dan menyudutkan salah satu pihak demi kepentingannya tanpa memerhatikan dampak negatifnya bagi publik.

Rasanya sangat tidak mungkin meninggalkan dunia media sosial di zaman sekarang ini. Sebab melalui media sosial kita dapat mendapatkan informasi yang sangat luas sesuai dengan kita. Kadang kita tidak mencari informasi saja, informasi tersebut datang sendiri ke kita. Hal yang paling mungkin untuk dilakukan oleh semua pengguna media sosial adalah bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai apa yang kita sebar luaskan melalui media sosial menimbulkan kekacauan atau kegaduhan di masyarakat.

Sebagai pengguna media sosial, baik politisi, pejabat pemerintah, masyarakat biasa dan siapapun orangnya hendaknya di dasarkan pada tujuan kebaikan dan kemaslahatan untuk orang banyak. Bagi orang Islam menggunakan media sosial harus didasarkan pada akhlaqul karimah sesuai dengan tuntunan  Alquran dan hadits. Menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar dengan hikmah dan mauizhah hasanah.

Pengguna media sosial hendaknya tidak melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan menyebarkan permusuhan; (2) melakukan ujaran kebencian (hate speech), bullying, dan permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antar golongan; (3) menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan dan segala yang terlarang secara syar’I; (4) menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik; (5) menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai dengan tempat atau waktunya.

Hendaknya media sosial digunakan sebagai media untuk bersilaturrahim, bermuamalah untuk saling bertukar informasi dan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar secara kolektif. Konten yang disampaikan bersifat mencerahkan dan menceradaskan umat, tidak bertentangan dengan norma sosial, agama, dan sesuai dengan etika keindonesiaan serta tidak melanggar hak orang lain. Media sosial juga bisa digunakan sebagai media untuk saling mengingatkan, menasehati kebaikan dengan etika yang tinggi sesuai dengan ajaran Islam, sanggup mengoreksi dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Kita kemas media sosial ini dengan semangat keberagaman yang menyatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Kita hadapi tahun politik dengan semangat kesatuan dan persatuan bukan perpecahan, jangan sampai kita terpecah belah karena perbedaan pandangan politik atau pilihan calon pemimpin yang kita inginkan.

 

Referensi: kominfo.go.id, tekno.kompas.com, kode etik Netizmu MPI PP Muhammadiyah

Gambar: nu.or.id

2708 Views