selasar-loader

Luka Indonesiaku

LINE it!
Gamal Albinsaid
Gamal Albinsaid
CEO Indonesia Medika, Wirausaha Sosial, Inovator Kesehatan,
Journal Apr 17, 2018

KgODxay1c0WwFFTIGSDYh3N63L6Y-5cw.jpg

Pada tahun 2015, ketika ada World Economic Forum, kami, aktivis wirausaha sosial internasional bersama Oxfam menge-launch World Equality Forum. Kenapa? Karena pada saat itu kekayaan 85 orang terkaya di dunia sama dengan kekayaan separuh populasi dunia.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2017, kondisinya semakin mengejutkan, di mana kekayaan 8 orang terkaya di dunia sama dengan kekayaan 3,5 milyar penduduk dunia.

LNImasIt-lc9EfYe6-0kX-TqtqsVweBd.jpg

Gambar 1 Perkembangan kesenjangan di dunia

T69ts3_xm6-DJA2A0LyQju1-H9T9QN0x.jpg

Gambar 2 Perkembangan kesenjangan di Indonesia dari tahun ke tahun

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Agaknya tidak jauh berbeda. Pada tahun 2008, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kakayaan 30 juta penduduk Indonesia.

Setahun kemudian, di tahun 2009, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 42 juta penduduk Indonesia. Tahun 2010 meningkat lagi, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 60 juta penduduk Indonesia.

Hingga tahun 2011 kian menyakitkan, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 77 juta penduduk Indonesia. Tidak cukup sampai disitu, Bulan Februari 2017, hati kita semakin tersayat, bayangkan kekayaan 4 orang, bukan lagi 40 orang, saya ulangi kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia.

Ya kawan, kita terus berjalan ke arah kesenjangan yang akan memicu ledakan sosial. Menyakitkan mengetahui bahwa di negeri yang kita cintai ini, so few have so much, so many have so little.

t3l4qsB2yEOGsvpGRu_hHEn-U6yquVdC.jpg

Gambar 3 perkembangan koefisien gini Indonesia dari tahun 2000 hingga tahun 2016

Luka itu semakin menganga, tatkala kita mengetahui bahwa koefisien gini kita naik pesat dari 0,3 di tahun 2000 menjadi 0,393 di tahun 2017 yang menjadikan kita mencapai puncak kesenjangan dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Yang lebih menyesakkan dada lagi, pada tahun 2017 Credit Suisse mengatakan bahwa Indonesia kita menjadi negara dengan peringkat ke-4 yang memiliki kesenjangan ekonomi yang timpang setelah Rusia, India, dan Thailand. Bagaimana tidak, bayangkan, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3% aset di Indonesia.

KBdCb2hzJFu-07tYBX-KMxsnwE0fILdO.jpg

Gambar 4 Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dinikmati oleh 20% masyarakat

Bank Dunia juga angkat bicara, pertumbuhan ekonomi selama 1 dasawarsa terakhir hingga 2017 hanya menguntungkan 20% orang terkaya, sementara 80% sisanya tertinggal di belakang.

Apa akibatnya? 61% masyarakat kita memilih menerima pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah asalkan ketimpangan juga berkurang. Lalu saya bertanya, di mana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu?

e0lNTcsgBWj6h8fQtyq4z3Ih_RVxfFXl.jpg

Gambar 5 Perkembangan kesenjangan ekonomi di beberapa negara dunia

Kesenjangan yang ada di negeri kita tidak boleh dilihat hanya soal angka, tetapi ini soal luka. Luka yang harus kita ingat dan rasakan bersama. Pemerintah boleh berbangga dengan mengatakan bahwa angka kemiskinan kita turun menjadi 10,9% masyarakat miskin atau sekitar 28 juta penduduk pada tahun 2017.

Namun jika garis kemiskinan kita hanya Rp354.386, saya yakin bahwa banyak orang-orang miskin yang tidak diakui miskin. Secara pribadi saya berpendapat, kita harus mereformasi cara kita menentukan garis kemiskinan.

Bagi saya, garis kemiskinan di tahun 2017 itu tidak manusiawi, bayangkan mereka yang setiap hari berpenghasilan Rp12.000 sudah tidak dikatakan miskin.

Oleh karena itu, saya yakin wirausaha saja tidak cukup untuk menyelesaikan berbagi masalah di negeri kita. Kita butuh wirausaha sosial, orang-orang yang bukan hanya berpikir tentang uang di tangan, tetapi juga berpikir tentang kebaikan, kebermanfaatan, dan kepedulian. Kita butuh orang-orang yang bukan hanya berpikir “How to make money”, tetapi mereka juga berpikir “How to solve social problems”.

Sejak tahun 2014 saya berkeliling Indonesia untuk memperkenalkan tentang konsep wirausaha sosial dan mengajak sebanyak mungkin pemuda-pemudi Indonesia menjadi wirausaha sosial. Saya yakin, tanpa wirausaha sosial pertumbuhan ekonomi kita tidak akan berkorelasi dengan perbaikan kesejahteraan bangsa kita.

Kawan, keluarlah dari kantor dan rumah kita, singgahlah sejenak di kampung-kampung yang sempit sesak dan penuh dengan kemiskinan. Rasakan cobaan dan penderitaan mereka, cobalah sedikit berempati.

The great gift of human beings is that we have the power of empathy.

Tapi marilah kita tatap masa depan bangsa ini dengan penuh optimisme. Sudahlah, mari kita selesaikan dan tutup rapat-rapat soal perbedaan dan perselisihan. Mari kita bangun persatuan Indonesia untuk mencapai keadilan sosial.

Saya yakin, hari ini Indonesia sedang memasuki era baru di mana nilai-nilai penghormatan bukan lagi diberikan kepada mereka yang punya kesejahteraan finansial, tetapi kepada mereka yang punya ide, gagasan, dan kepedulian.

Jadilah wirausaha negarawan yang bekerja untuk menyelesaikan berbagai masalah bangsa dengan dompetnya sendiri.

Saya melihat dan meyakini bahwa wirausaha sosial sebagai sebuah integrasi dari entrepreneurship value dan social value tentunya memberikan peluang optimalisasi perkembangan ekonomi yang berimplikasi pada perkembangan kesejahteraan.

Oleh karena itu, saya berharap kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus mampu mengubah konsep dari melahirkan wirausaha menjadi melahirkan wirausaha sosial.

Jangan ada lagi seseorang ayah yang pulang ke rumahnya dengan penuh rasa bersalah karena tak mampu membawa makan untuk anak-anaknya…

Jangan ada lagi seorang Ibu yang harus memohon belas kasih di rumah sakit agar sang anak bisa mendapatkan pengobatan…

Jangan ada lagi seorang anak yang tak mampu mengangkat kepala dan dadanya di kelas karena tak mampu membayar biaya sekolah…

 

1969 Views
Sponsored

Author Overview


Gamal Albinsaid
CEO Indonesia Medika, Wirausaha Sosial, Inovator Kesehatan,