selasar-loader

Fiksi dan Argumentasi Politis Gerung

LINE it!
Zaenal Arsyad Alimin
Zaenal Arsyad Alimin
Sekretaris Umum PC. PMII Kota Serang
Journal Apr 16, 2018

Sbo89EHQBaJ4U442eSERwOhMZgCkjgUA.jpg

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 April 2018, Indonesia digemparkan kembali dengan statement seorang Sarjana Sastra Alumni UI yang pernah menjabat sebagai dosen tidak tetap di UI. Dia adalah Rocky Gerung. Dalam sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta, Rocky Gerung menyatakan bahwa kitab suci itu adalah fiksi dengan mengacu kepada fungsi fiksi yang mengaktifkan imajinasi.

Tentu ini merupakan pernyataan kontroversial yang akan menyinggung keyakinan fundamental umat beragama karena 'kitab suci' adalah kalimat yang universal dan tidak bermakna tunggal. Tidak perlu menunggu hari, dalam hitungan jam sontak masyarakat pun ramai berbondong-bondong dalam merespons statement Sang Rocky.

Namun, ada hal yang berbeda dan aneh dalam kasus Rocky ini. Kelompok yang biasanya melaporkan perkara yang diduga menista agama (Kelompok Bela Islam) dalam kasus ini memilih diam dan santai, tidak seperti biasanya; beringas dan tanpa ampun.

Kembali kepada kasus Rocky yang menyebut bahwa Kitab Suci adalah fiksi dalam perspektif logikanya, sebenarnya Rocky hanya memainkan nalar logika dan permainan kata-kata saja, karena secara jelas merujuk kepada pengertian fiksi menurut KBBI adalah cerita rekaan (roman, novel, dsb), rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan, pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Beberapa ahli menerjemahan kata fiksi sebagai berikut:

  1. Krismarsanti; Fiksi adalah karang yang berisi kisah atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan dan imajinasi pengarang.
  2. Thani Ahmad; Fiksi adalah cerita naratif yang timbul dari imajinasi pengarang dan tidak memperdulikan fakta sejarah.
  3. Semi; Fiksi adalah narasi literler dan berupa cerita rekaan pengarang tanpa mempedulikan realitasnya.
  4. Henry Guntur Tarigan; Fiksi adalah suatu karya sastra yang berasal dari hasil imajinasi penulis.

(lihat: https://www.maxmanroe.com/vid/edu/pengertian-fiksi.html)

Dari beberapa pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa fiksi adalah karya yang diciptakan oleh pengarang tanpa memperhatikan realitas. Bahwa yang kita yakini ialah bahwa kitab suci tidak dikarang oleh manusia, melainkan oleh tuhan yang menciptakan segala macam realitas terbebas dari sifat-sifat kefanaan makhluk.

Andai kita meyakini bahwa apa yang telah diciptakan oleh tuhan itu sama halnya dengan karya yang diciptakan oleh manusia, dalam ajaran agama manapun, kita telah terjebak dalam jurang kemusyrikan dan kemurtadan.

Dalam kasus ini, Rocky hanya memahami spektrum terminologi fiksi untuk disematkan terhadap Kitab Suci dari sudut pandang yang sempit. Saya meyakini bahwa fiksi merupakan satu hal yang tidak memiliki entitas dan hanya ruang hampa perandaian semata, sedangkan kitab suci (khususnya Al Quran karena saya seorang muslim) tidak demikian adanya.

Dengan argumentasi bahwa kitab suci adalah fiksi, Rocky sudah mereduksi pemahaman umat beragama tentang kitab suci secara universal. Padahal dalam teks-teks kitab suci (khususnya Al Quran) hampir seluruhnya adalah berbasis realitas kehidupan manusia. Hanya pada beberapa teks saja dalam Al Quran yang memang kita temukan beberapa ayat yang tidak bisa dijangkau dengan nalar seperti eskatologi, mungkin hal ini yang dimaksud Rocky sebagai hal yang fiksi mengacu kepada pengertian fiksi menurutnya.

Namun ini juga bisa dibantah andai kita melihat pengertian kata fiksi dalam KBBI dan para ahli seperti yang sudah saya kutip. Argumentasi Rocky yang menganggap kitab suci sebagai sebuah fiksi terkhusus dalam persoalan eskatologi hanya berbasis perjalanan pribadi, tanpa memperhatikan keterangan dan perjalanan yang pernah dirasakan oleh orang lain.

Karena pada dasarnya, eskatologi yang dijelaskan dalam kitab suci tetap akan menjadi sebuah realitas yang pasti akan terjadi dalam keyakinan umat beragama dan itu memiliki entitas yang jelas sebagaimana contoh yang digambarkan dalam Al Quran tentang surga, neraka, jin, dan bagaimana perhitungan hari akhir. Begitupun saya meyakini bahwa dalam agama lain juga sama.

Selain itu, dalam beberapa kasus, kita kerapkali menemukan manusia yang mati suri dan kembali hidup untuk menceritakan perjalanannya selama mati surinya di alam yang eskaton. Selain itu, kitab suci terikat dengan sebuah keyakinan seseorang beragama, kecuali mereka yang menisbatkan diri sebagai seorang yang tidak beragama (Atheis) atau bahkan tak bertuhan (Anti-Theis).

Manusia yang beriman telah menjadikan kitab suci sebagai sebuah keniscayaan dan sebuah realitas bukan fiksi. Fiksi itu tidak terikat dengan ruang dan waktu karena pengarang tidak memperhatikan aspek realitas dan sejarahnya yang berarti bebas, sedangkan teks kitab suci terikat oleh ruang dan waktu serta tidak bebas karena ada panduan-panduan yang harus dilalui yang merupakan kalam ilahi yang sama sekali tidak bisa diperumpamakan dengan karya manusia.

Andai Rocky menyamakan kitab suci dengan karya sastra lain, ini merupakan pemikiran yang destruktif terhadap keyakinan umat beragama karena mempersamakan karya tuhan dengan karya manusia.

Ll8BIj6Vg8duaa3O5clOncozm73WKK1I.jpg

Kemudian fiktif, mengacu dalam pengertian KBBI bahwa fiktif adalah bersifat fiksi. Fiktif merupakan hasil daripada buah pikir fiksi. dalam struktur bahsa fiksi adalah nomina dan fiktif adalah adjektif atau sifatnya. Dengan menyebut bahwa fiksi berbeda dari fiktif dalam konotasinya, Rocky sudah terjebak dalam struktur bahasa sekarep dewek.

Fiktif itu bisa bersifat baik atau buruk tergantung karya yang disuguhkannya yang berupa fiksi. Jadi semua karya fiksi sudah pasti fiktif sifatnya dan andaikan Rocky mengasumsikan bahwa fiktif adalah hal yang buruk, dia juga telah membantah logikanya mengenai terminologi fiksi.

Mungkin ini tidak akan menjadi persoalan saat hal tersebut merupakan keyakinan Rocky secara pribadi dan tidak disampaikan secara terbuka dalam forum yang ditonton oleh ribuan pasang mata. Setidaknya ada tiga hal yang ini menjadi persoalan dalam argumentasi Rocky tersebut.

Pertama, sebagai seorang yang beragama dia telah meniadakan the power of god yang saya percaya itu diyakini oleh semua umat beragama saat dia menganggap kitab suci sebagai sebuah fiksi. Secara subtansi, dia telah menyamakan karya manusia dan tuhan.

Kedua argumentasi ini disampaikan dalam forum terbuka yang ditonton oleh ribuan bahkan jutaan orang. Kemudian sebagai seorang akademisi dia juga tidak memperhatikan kondisi keberagaman Indonesia yang hari demi hari kian memprihatinkan karena masalah-masalah yang sama persis dengan argumentasi yang dia sampaikan.

Ketiga, bahwa pembicaraan Rocky mengenai kitab suci fiksi adalah bumbu argumentasi dia yang sarat akan nilai politis. Karena dalam forum tersebut adalah forum politis yang mempertemukan kubu presiden Jokowi dan Prabowo.

Pertanyaannya adalah di manakah posisi Rocky berpihak? Tanpa saya jawab, para pembaca sudah tahu siapa Rocky Gerung dan ke mana arah afiliasi politiknya.

Secara disadarai atau tidak dalam argumentasinya yang menyeret kitab suci, Rocky tengah memperjuangkan salah satu identitas politik dalam forum ini. Jelas dengan dia menyebut bahwa Presiden Jokowi mengalami gangguan psikis saat berpidato dan membantah argumentasi Prabowo yang menyebutkan bahwa Indonesia akan bubar tahun 2030 yang sumbernya adalah salah satu novel fiksi yang berjudul Ghost Fleet: A Novel of the Next World War ditulis oleh PW Singer and August Cole.

Selain itu, kita tahu ke mana arah Rocky saat dia berapi-api dalam menyampaikan argumentasinya tentang fiksinya kitab suci dan saat menyebut Presiden Jokowi mengalami gangguan psikis dibarengi dengan tawa sang Fadli Zon.

Saya tidak berniat untuk melaporkan Rocky kepada pihak kepolisian dan menyeret kemeja hijau. Saya hanya membantah argumentasi dan logika Rocky yang dirasa akan mendestruksi keyakinan beragama untuk generasi kita.

Tabik!!!

657 Views
Sponsored

Author Overview


Zaenal Arsyad Alimin
Sekretaris Umum PC. PMII Kota Serang