selasar-loader

Gugatan terhadap Garuda Indonesia: Budaya Baru Kita?

LINE it!
Ray Fikry
Ray Fikry
Seorang generalis yang mengamati Jakarta dan Indonesia
Journal Apr 13, 2018

gR6fqy0TD0HguE6COpB2_jU1uEN3NUkg.jpg

Ada banyak cara untuk menjadi kaya. Yang umum ditemui adalah dengan bekerja keras, jeli melihat peluang usaha, rajin berdoa, rajin menolong, dan pintar mengatur uang. Dengan cara ini, mudah-mudahan ridha Tuhan datang menghampiri sehingga yang bersangkutan jadi kaya raya. Minimal hatinya yang kaya.

Bagi orang-orang yang merasa ridha Tuhan tidak datang secepat gerakan The Flash atau Gundala Putra Petir, ilmu hitam dianggap sebagai alternatif yang menjanjikan. Datangi dukun, jelaskan permasalahannya (ingin cepat kaya), kasih uang, jalani syarat-syaratnya. Katanya sih kalau pakai penglaris, mau usaha apapun cepat untungnya.

Kalau mau yang lebih akademis, orang bisa ambil MBA di kampus-kampus. Ada yang kampus elite, punya komplek, dan punya legacy, ada pula kampus model ruko. Pokoknya yang penting ada gelar MBA-nya, mau S1 bidang apapun.

Anda bosan dengan ketiga cara di atas? Kalau begitu, harus lebih kreatif dalam mencari uang. Salah satu terobosannya adalah dengan menggalakkan budaya lapor-melapor setiap ada masalah.

Sudah baca berita tentang penumpang Garuda yang menggugat maskapai kebanggaan Indonesia itu bermilyar-milyar? 

B.R.A Kosmariam Djatikusomo menggugat Garuda Indonesia sebesar Rp11,25 milyar. Kosmariam adalah seorang penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-264 dengan rute Bandara Soekarno Hatta-Jakarta menuju Bandara Blimbingsari-Banyuwangi. Gugatannya didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada dua hari lalu, 11 April 2018. Garuda digugat karena ada insiden yang menimpa Kosmariam dalam penerbangan GA-264. Penerbangannya sih sudah lama, tanggal 29 Desember 2017. 

Kejadiannya seperti ini. Ada seorang pramugari Garuda sedang memberikan makanan kepada penumpang. Nah, sang pramugari menumpahkan dua gelas air panas ke tubuh Kosmariam sehingga mengakibatkan Kosmariam mengalami cacat tetap. 

"Kami menilai pramugari Garuda lalai, karena para pramugari yang menyediakan makanan sedang ngobrol satu sama lain, sehingga menumpahkan air panas," kata kuasa hukum Kosmariam, David Tobing, dikutip dari Kontan

David mengategorikan cacat tetap yang dialami kliennya mengacu ketentuan Pasal 1 angka 14 Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkutan Udara. Dalam pasal itu, disebutkan bahwa cacat tetap adalah kehilangan atau menyebabkan tidak berfungsinya adalah salah satu anggota badan atau yang mempengaruhi aktivitas secara normal seperti hilangnya tangan, kaki, atau mata, termasuk dalam pengertian cacat tetap adalah cacat mental. 

"Akibat insiden tersebut, kulit klien kami melepuh, dan tidak bisa kembali seperti semula. Sehingga sesuai dengan ketentuan tersebut," lanjutnya. 

David juga menyayangkan tindakan Garuda yang tak kooperatif setelah kejadian, lantaran selama 1,5 bulan setelah insiden, Kosmariam tak pernah lagi dihubungi Garuda. "Ketika kejadian penanganannya juga minim, penggugat hanya diberikan salep, setelah tiba di tujuan memang langsung dibawa ke rumah sakit. Hanya saja selama 1,5 bulan pascakejadian, Garuda tak pernah menghubungi lagi," sambungnya. 

Dalam gugatan, Kosmariam meminta ganti rugi senilai Rp1,25 milyar atas kerugian material, dan senilai Rp10 milyar atas ganti rugi imaterial.

Bagaimana, jumlah yang fantastis, bukan?

Beberapa hari yang lalu, saya juga sempat membaca jurnal di Selasar tentang gugatan terhadap naskah film Benyamin Biang Kerok. Syamsul Fuad (pemegang hak cipta Benyamin Biang Kerok) mengajukan gugatan karena menuding tergugat telah melakukan pelanggaran hak cipta atas cerita film Benyamin Biang Kerok dan cerita film sekuelnya, Biang Kerok Beruntung. Penulis berusia 81 tahun tersebut juga menuntut ganti rugi materil senilai Rp1 milyar. Ganti rugi imaterilnya? Rp10 milyar.

Saya melihat, gugat-menggugat sepertinya sudah menjadi budaya baru kita. Sebaliknya, musyawarah untuk mufakat bukan lagi jadi budaya yang seksi, yang tarafnya sudah jadi legacy bangsa. Tidak. 

Musyawarah untuk mufakat sudah tidak asyik. Tidak mendatangkan duit pula! Duit adalah yang terpenting di dunia ini. Tidak hanya buang air yang butuh uang, tetapi juga parkir motor. Memangnya kalau tidak punya duit, Anda bisa parkir di minimarket meskipun tidak jajan?

Sebaliknya, kalau mau cepat kaya, atau ingin menambah kekayaan sehingga bisa masuk Top 50 Forbes, banyak-banyaklah menggugat. Tidak perlu memiliki hak cipta atas sesuatu sebagaimana Pak Syamsul Fuad. Yang Anda perlukan hanyalah kreativitas dan kejelian melihat “peluang gugatan”. Iya, peluang gugatan, bukan peluang usaha.

Mobil Anda baret oleh pengendara motor berusia lanjut? Minta ganti rugi materil sebesar Rp1 milyar dan ganti rugi imateril (karena baret itu juga melukai perasaan Anda yang rapuh) sebesar Rp10 milyar.

Nenek Anda makan tempe goreng terakhir kesukaan Anda? Gugat saja! Wong itu makanan kesukaan, kok. Sembarangan saja orang tua itu. Semaunya. Gugat Rp1 milyar!

Bos Anda minta meeting pukul 9 pagi tapi baru meeting pukul 9.05? Gugat! Waktu adalah uang. Kehilangan waktu berarti kehilangan uang. Karena itu, harus ada uang pengganti, kalau bisa berlipat-lipat ganda biar tidak perlu bekerja lagi alias bisa pensiun dini.

Anda sudah wudhu lalu tersentuh lawan jenis sehingga batal? Gugat! Bisa pakai alasan penistaan agama, pelecehan fisik, dan sebagainya. Buat nilai kerugian yang fantastis. Voila! Kekayaan di depan mata.

Lihat, kan? Ada begitu banyak hal yang bisa digugat kalau kita mau kreatif. Ini adalah metode untuk mendapatkan dan menambah kekayaan materi. Hanya saja, metode ini juga memiliki efek samping, yaitu mengurangi bahkan menghilangkan kekayaan immateri kita: budaya musyawarah dan memaafkan yang dulu kita pelajari di pelajaran PPKn dan pelajaran Agama di sekolah.

Jadi, pilih yang mana? Budaya gugat atau budaya musyawarah?

Yang pertama?

Tidak apa-apa. Hanya saja, pastikan Anda tidak mati cepat setelah memenangkannya.

 

Ilustrasi via okezone.com

285 Views