selasar-loader

1.616.919 Sudah Mencium Bau Danur

LINE it!
Achmad Humaidy
Achmad Humaidy
Freelance Writer; Membaca, Menulis, dan Menjelajah Dunia Maya; My IG:@me_eksis
Journal Apr 9, 2018

pjkvXOkCP5Nhj-0kNvYFngikcjIuSPGb.jpg

Mereka bisa memilih ingin menampakkan diri atau tidak*

Risa Saraswati (Prilly Latuconsina) diceritakan sebagai anak Indigo yang kesepian. Dalam sepi, ia sering berdoa agar diberikan teman-teman baru. Risa pun bersahabat dengan lima hantu anak Belanda bernama Peter (Gamaharitz), William (Alexander Bain), Jhansen (Kevin Bzezovski, Hans (Justin Rossi), dan Hendrick (Matt White). Namun, adiknya yang bernama Riri (Sandrinna Michelle Skornicki) tidak pernah tahu bahwa kakaknya memiliki sahabat dari dunia lain.

Risa memang belum siap menerima kenyataan tersebut. Begitu juga Riri yang sering malu di hadapan teman-temannya karena kebiasaan Risa yang suka bicara sendiri bahkan histeris saat mengantarnya latihan balet.

Suatu saat, Risa harus menolong kerabatnya sendiri agar terlepas dari jeratan makhluk halus. Ada teror yang terjadi saat Om Ahmad (Bucek Depp), Tante Tina (Sophia Latjuba), dan anaknya yang bernama Angki (Shawn Adrian) baru saja pindah ke salah satu rumah mewah di Bandung.

Kisah awal diceritakan Risa melihat Om Ahmad pergi bersama seorang wanita. Om Ahmad selingkuh pikirnya. Risa hampir tidak percaya dan tidak berani mengatakan hal tersebut kepada tantenya. Risa berupaya menyelidiki sendiri. Meski sahabat hantu ciliknya (Peter, dkk) memperingatkan Risa untuk tidak menginap di rumah itu karena ada roh jahat yang sangat berbahaya. Panggil saja dengan nama Elizabeth. Tidak hanya ingin merusak keluarga Om Ahmad, tetapi ia punya niat membunuh Om Ahmad.

Apakah Om Ahmad terbukti selingkuh? Adakah perselingkuhan itu terjadi dengan sosok hantu perempuan yang mengganggu di dalam rumah itu? Mungkinkah Om Ahmad dikendalikan sejak awal cerita?

iZ4pnkHbdGZDmEBBExgRXi48S1fl1LCF.jpg

Awi Suryadi masih dipercaya sebagai sutradara dalam film Danur 2: Maddah setelah memegang prekuelnya dan film Badoet di tahun 2015. Sensitivitas pengadeganan masih tampak mengganggu unsur sinematik. Jejak langkah teror tidak terhubung dalam relevansi yang jelas.

Ada adegan mimpi berulang kali dialami oleh Risa. Seharusnya adegan ini bisa membangun konstruksi menakutkan sebelum hantu itu muncul. Nyatanya atmosfer tersebut justru mengusik rasa nyaman penonton.

Dari segi pencahayaan, penata cahaya membuat nuansa Madah lebih gelap dibanding prekuelnya. Lampu kelap-kelip menjadi pilihan untuk mengangkat nuansa horor. Hanya di beberapa bagian justru terlihat mencekam yang berlebihan sehingga penonton sudah kebal melihat latar yang sudah di set sedemikian rupa.

Sebagai contoh rumah sakit diterangi dengan lampu yang tampak korslet dan nuansa lorong yang begitu sepi. Bisa jadi itu semacam kontrakan yang disewa untuk syuting film. Hal ini sangat mengganggu dan mengacaukan visual.

Musik keras juga tergolong rumusan basi dalam meracik film horor yang mengharapkan ketakutan dari penonton. Musik yang dihadirkan dalam Maddah identik dengan natural sound dan berupaya mendekati penonton untuk merasakan ada di set. Sayang musik yang berasal dari biola rusak dan piano tak punya daya untuk menghentak kuat. Iringan musik tak peka membentuk adegan menjadi lebih seram.

Padahal lagu 'Boneka Abdi' cukup misterius. Apalagi saat dimainkan melalui irama pada piano yang ditekan. Konon lagu ini dikenal dengan judul Story Of Peter yang bercerita tentang sahabat hantu pada masanya yang memang digemari oleh anak-anak Belanda yang dulu pernah tinggal di Hindia Belanda atau sekarang disebut Indonesia. Lagu ini seolah menjadi mantra  untuk memanggil makhluk halus itu datang.

Untuk segi akting Prilly Latuconsina dengan performa matang justru hanya terasa dimanfaatkan. Naskah menghalanginya untuk aktualisasi diri lebih berkembang. Kegundahan hati Risa tak mampu memberi simpati kepada penonton film ini. Prilly tidak bisa berimprovisasi lebih dalam. Meski saat adegan kesurupan, Ia bisa mendapat pujian.

Hanya saja penampilan Prilly tidak didukung kostum piyama yang dikenakan saat mau tidur. Kostum tersebut tampak tidak sesuai realita dalam kehidupan nyata. Seolah gaun putih panjang yang tampak bagai kostum kuntilanak itu sudah dipersiapkan oleh Angelia Florensia.

Untung saja deretan hantu yang menjelma sebagai penunggu rumah tidak demikian. Mereka mampu mengambil peran dan terbantu oleh tata rias dari hasil riasan Maria Margaretha Earlene. Wajah pucat dengan elemen horor yang khas memberi ketakutan tersendiri. Penonton pun enggan menatap mereka lebih lama.

Kegagalan terbesar yang dialami film Danur sudah terasa sejak prekuel sampai sekuel ini tayang. Film gagal menerjemahkan judul ke dalam bahasa audio visual. Danur yang berarti bau mayat tidak pernah terjelaskan secara rinci menghiasi adegan demi adegan sepanjang durasi. Hanya ada adegan yang menempel saat Risa nyasar di rumah sakit dan menemukan kamar jenazah.

Seorang perias mayat berkata ”ini bau Danur, tapi sepertinya kamu sudah tidak asing lagi…”. Adegan pun terlepas pada unsur cerita utama, penonton hanya dijelaskan sekilas tentang bau yang dikenal sebagai cairan yang keluar dari mayat membusuk. Seharusnya judul bisa representasi fokus cerita, namun aroma-aroma kekecewaan pun tercium dari para pencinta film Indonesia setelah menonton film ini.

Cerita dituding sebagai kisah nyata. Diangkat dari novel berjudul sama yang terbit di tahun 2012 dengan kisah pengalaman hidup seorang novelis bernama Risa Saraswati. Konon Maddah artinya “dibaca panjang” merupakan kata yang disadur dalam bahasa Arab. Karya novel pun tampak lebih bagus dibanding filmnya karena bahasa sinematik tak mampu membuat cerita semakin evokatif. Meski dalam sekuel ini, Risa sebagai penulis skenario dibantu oleh Lele Laila.

Maddah tidak memiliki konflik yang begitu terasa menakutkan. Saat konflik keluarga tampil, hanya Angki yang terlihat khawatir akan keutuhan keluarga. Padahal banyak peluang dari sisi naskah untuk lebih eksploitasi drama demi membangkitkan emosi penonton agar merasakan aura mistisnya.

Di awal film, tempo terasa lambat sehingga pergantian waktu tidak terasa jelas hingga akhir cerita. Babak awal tidak dimanfaatkan untuk preambul karakter kepada penonton untuk masuk ke dalam cerita. Hubungan Risa dengan kawan-kawan hantu tidak pernah diungkap secara mendalam. Tidak ada kontribusi cerita yang senada sehingga penonton sulit mengenal ikatan diantara mereka. Karakterisasi dalam film pun terasa tidak memiliki pembentukan yang layak.

Akhir cerita dibuat kaku karena makhlus halus hanya kalah sebagai akibat dari sobekan buku diary (catatan harian) hantu tersebut. Sungguh penyelesaian yang tidak ada tantangan sehingga membuat film semakin tidak elegan apalagi diklaim based on true story.

Trik menakut-nakuti (jump scare) juga terbilang tidak mulus sehingga hanya berupaya mengagetkan siapa saja saat berada di bangku penonton. Ada unsur pintu dan hal-hal sederhana seperti api kompor menyala yang mampu memberi efek ketegangan. Namun, semua itu tidak mampu terakumulasi ke dalam plot yang berisi. Penonton hanya diberi narasi yang mungkin tidak akan terngiang dalam ingatan setelah menonton film ini.

Seharusnya saat mengungkap kisah horor, penulis skenario harus memperhatikan jalan cerita penuh teror. Hal ini harus dilakukan karena ada beberapa penonton yang memang tidak percaya dengan makhluk gaib atau hal-hal yang bersifat takhayul. Apalagi film ini tidak ada kemajuan untuk membuat penonton peduli terhadap karakter-karakter yang ada. Jangan biarkan rasa takut terlihat receh dan berakhir menggelikan sehingga penonton tidak mendapat kadar misteri yang seram bagai Film Pengabdi Setan.

Menakut-nakuti penonton pun masih menjadi formula horor sang sutradara dalam menggarap versi sekuel yang masih berada di bawah naungan rumah produksi MD Pictures dan Pichouse Films. Sampai akhirnya, ketika penulis keluar dari bioskop, aku pun berkata kepada teman-teman “Masa sih ini bukan cerita fiksi?

WBEtdhN9eS7IYH6ayYXVaamaF2k0o_vi.jpg

645 Views