selasar-loader

Lydia Anggraeni, Perancang Alat Bantu Jalan dengan Penerapan Teori Bioteknik

LINE it!
Muhamad Reza, PhD
Muhamad Reza, PhD
Expert in Energy Technology & Business Development
Journal Apr 5, 2018

The Life of ITB 93 Alumni

Adaptive - Contributive - Passionate

Berikut transkrip video:

"Perkenalkan Saya Lydia Anggraeni Kidarsa, Teknik Fisika 1993"

Sejak kapan mulai membuat produk ini?

"Saya mulai ini tahun 2006 tapi sebenernya inspirasinya udah lama. Dari saya kecil, saya liat ada kesulitan kalau pakai alat bantu yang standar kaya kursi roda yang standar itu, anak-anak tidak bisa mengayuhnya karena terlalu besar dan juga terlalu berat. Jadi saya mau membuat yang lebih mudah dipakai dan lebih sesuai sama kebutuhan mereka."

Apa perbedaan dengan produk yang sudah ada?

"Saya merasakan agak sulit ya menggerakannya kalau yang produk-produk yang ada itu."

Kenapa memilih masuk Teknik Fisika?

"Alasan saya untuk masuk Teknik Fisika, saya pengen anak-anak beraktivitas seperti biasa, bahkan sebenernya untuk masuk Teknik Fisika itu, saya pengennya bikin yang lebih canggih lagi, cuma dengan alat yang ada sekarang juga saya pengen membuat perbedaan antara aktivitas yang mereka bisa sekarang hanya dengan mencari solusi yang paling simple untuk bisa partisipasi dalam masyarakat. Jadi intinya saya ingin mereka punya partisipasi dalam masyarakat."

Apa keunikan alat yang dibuat ini?

"Ya saya mempelajari tubuh manusia juga karena saya mengambil Biomedical Engineering di Surrey, Guilford. Kemudian saya pelajari di mana titik-titik yang nyaman dan harus disupport dan mana titik-titik yang harus dihindari. Jangan sampai kita pasang strap misalnya di sini dan itu nekan pembuluh darah yang ada di sini karena itu akan sangat berbahaya untuk anaknya, jadi selain dipelajari kita bisa kerja sama dengan dokter. Misalnya dokternya pengennya seperti apa kita bisa diskusikan kemudian alatnya dibuat sesuai rekomendasi dan ditanyakan juga ke anaknya.

Tapi setelah selesai Biomedical Engineering itu, saya memang pulang terus kerja sambil saya membuat juga coba satu, tapi ternyata anaknya ga mau soalnya produknya “butut” kurang menarik gitu ya. Sebenernya saya seneng menggambar cuma saya ga punya ilmunya jadi saya ambil lagi Industrial Design Engineering dari Royal College of Art sama dari Imperial College bikin join course yang namanya Industrial Design Engineering, dan setelah belajar dari situ kita belajar bagaimana caranya bikin produk yang simple, tapi yang menarik untuk anak-anak."

Apa yang dipelajari untuk membuat alat ini?

"Yang saya pelajari itu User Center Design, jadi pusat apa yang Kita buat itu adalah user-nya sendiri. Untuk itu kita harus bener-bener interview sama harus bener-bener periksa anaknya. Contohnya saya buat ukuran-ukurannya, kemudian itu saya bisa buat desainnya, kemudian saya buat polanya seperti itu, baru dibuat bentuk besarnya. Prinsipnya saya buat seminimal mungkin, sebenernya jadi kaya naik kelas kalau udah bisa duduk tegak ngapain lagi ditahan di tempat tertentu, tapi kalau misalnya dia belum bisa kita tahan, mungkin sampai kepala bisa kita tahan."

Kenapa alat ini dikhususkan untuk anak-anak?

"Anak-anak itu harus sebanyak mungkin partisipasi dan kalau bisa anak itu harus ada kontribusinya juga."

Bagaimana kondisi ITB sekarang?

"Sekarang ITB juga sudah lebih bagus daripada dulu secara aksesibilitas, dulu yang namanya ramp atau “pudunan” (turunan) itu jarang, jadi banyak yang harus kita langkahin atau harus lompatin, dan juga yang paling terasa banget itu kehadiran lift sekarang karena aksesibilitas itu penting buat kita kuliah. Kalau saya dapet kuliah di GKU baru pasti terlambat kalau ada kuliah sebelumnya, tapi dosennya maklum dan temen-temen sangat baik, tas saya selalu ada yang bawain meskipun saya tidak minta. Jadi dukungan temen-temen teknik fisika itu sangat berperan sehingga saya bisa kuliah sampai selesai."

846 Views