selasar-loader

Microbial Fuel Cell (MFC) : Solusi Energi Listrik Futuristik

LINE it!
Ermas IL
Ermas IL
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor
Journal Apr 20, 2018

2utYY8rDe1puT9z1F7O5SkjrB-lKKvXx.jpeg

Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Secara geografis terletak dua benua, yakni Benua Asia dan Benua Australia juga diantara 2 samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai mencapai 99.093 kilometer dan memiliki 13.466 pulau yang bernama dan berkoordinat. Kondisi ini memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya tentu sangatlah banyak, seperti kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, keragaman budaya, dan potensi pengembangan ekonomi. Di sisi lain, salah satu dampak negatifnya adalah menjadikan sulitnya akses distribusi dan pembangunan infrastruktur yang merata serta menyeluruh ke seluruh kawasan di Indonesia, utamanya instalasi listrik. Kesulitan ini tentu disebabkan dengan begitu luasnya wilayah Indonesia dan butuh biaya yang sangat besar terutama untuk mencapai pulau 3T (terluar, tertinggal, terdepan). Pembangunan infrastruktur berupa instalasi listrik belun merata di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Mulai dari kebijakan pembangunan yang masih tersentralisasi, pemerintah yang masih terkesan tak acuh atas warganya, dan ketersediaan modal untuk pembangunan. Selain itu, listrik yang sampai saat ini digunakan masih menggunakan sumber energi konvensional, yang mana kadang di beberapa pulau sangat sulit untuk diterapkan dan tak ramah terhadap lingkungan. Padahal, energi listrik kita bisa dapatkan dari sumberdaya yang ada dan pasti tersedia di seluruh wilayah Indonesia.

Microbial Fuel Cell (MFC) merupakan sebuah terobosan yang sangat solutif untuk memecahkan berbagai masalah di perlistrikan Indonesia, utamanya di pulau 3T. MFC adalah energy listrik yang dihasilkan dari metabolism mikroba yang ada pada sistem perakaran tumbuhan. Selain tidak membutuhkan peralatan yang sangat rumit, MFC juga sangat ramah lingkungan karena hanya memanen energi dari metabolisme tumbuhan dan tak menganggu ekosistem yang lain. MFC ini sangat fleksibel dan bisa diaplikasikan dimana saja. Menurut Chen (2012), metabolisme mikroba di tanah berlumpur dapat menghasilkan electron dengan beda potensial sebesar 0,6–1,2 Volt dengan kuat arus sekitar 60 mA. Jika elektron ini bisa kita tangkap dengan komponen elektroda seperti tembaga, seng, karbon, atau lainnya. maka akan kita dapatkan sumber energi listrik terbarukan. Beda potensial yang dihasilkan memang kecil, namun jika kita tambahkan rangkaian penguat tegangan seperti rangkaian Joule Thief . akan bisa menaikan tegangan antara 5–6 kali lipat dari tegangan awal. Dengan demikian akan sangat memudahkan masyarakat di pulau 3T untuk mendapatkan sumber listrik non-PLN selama di daerah tersebut terdapat tumbuhan dan adanya aktivitas mikroba di bawah tanah yang bisa ditangkap oleh komponen elektroda.

Pada dasarnya, kini listrik menjadi salah satu kebutuhan primer manusia. Penggunaan listrik untuk menjalankan suatu alat atau mesin yang tujuannya sendiri untuk memudahkan pekerjaan. Hal ini harus segera menjadi prioritas pemerintah untuk dilaksanakan pemerataan pembangungannya. Indonesia harus mulai serius mempersiapkan diri dengan mencari solusi berupa energi terbarukan untuk menghadapi krisis energi konvensional yang masih bersumber dari minyak bumi dan batu bara. Untuk mengembangkan teknologi MFC ini, masih dibutuhkan riset mendalam untuk melihat kekurangan dan kelebihan dari MFC dan kesesuaiannya dengan kondisi di pulau 3T.

 

Daftar Pustaka

Chen, T., S.C. Barton, G. Binyamin, Z Gao, Y. Zhang, H.-H. Kim & A. Heller, A Miniature Biofuel Cell, J. Am. Chem. Soc. Vol. 123, No. 35, 2001, 8630-8631.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/10/terbaru-panjang-garis-pantai-indonesia-capai-99000-kilometer. Diakses pada tanggal 20 Maret 2017

436 Views