selasar-loader

Perempuan dalam Diskusi

LINE it!
Supriyadi
Supriyadi
Freelancer
Journal Apr 18, 2018

1vrOW8B4HHWMOwe52oBwRGoCYmL_oPUf.jpg

Rachael Abigail (tengah) bersama perempuan Kota Palu, pada Rabu, 14 Maret 2018 setelah diskusi peran perempuan bersama Sikolah Mombine Sulawesi Tengah. Mereka saya abadikan sebagai dokumen, selama di Kota Palu Sulteng, sejak 15 September 2017 (Supriyadi)

_____________________

Rabu malam, 14 Maret 2018, saya berada di antara perempuan dalam gelaran diskusi di Perpustakaan Nemu Buku Kota Palu. Dua perempuan politisi di negeri ini yang berbicara di depan kami, peserta yang hadir.

Satu, meski politisi lokal di Kota Palu, dalam perhatian saya, sudah cukup berpengalaman. Itu saya tangkap dari kalimat yang dia ucapkan di depan audiens, penuh diksi-diksi yang kerap saya dengar di kalangan aktivis.

Sekena lain, kabar yang pernah saya dengar, Neng Korona, begitu nama ngepop-nya. Mantan calon wakil Bupati  Donggala pada pilkada 2008 dari independen. Ia berpasangan dengan Aristan sebagai calon bupati, yang tentu saja seorang aktivis. Tahun 2014, Neng merupakan calon legilatif dari Partai Golkar, dapil Kota Palu. Mendatang, kabar semilir untuk tahun 2019, ia kembali nyaleg lewat Partai NasDem, juga dari Dapil Kota Palu.

Neng, intinya selalu gagal dalam perebutan positioning kekuasaan di Sulawesi Tengah. Semoga nanti 2019, Neng bisa duduk sebagai anggota legislatif. Ini sangat bertolak dengan  kiprah yang dia jalani, bisa dibilang, yang sudah meliuk-liuk di atas panggung politik.

Tentu saja, berdasar pengalamannya sebagai aktivis perempuan, beberapa NGO ia cetuskan, cukup mewarnai Sulawesi Tengah, mulai dari Direktur Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA). Kemudian dikabarkan pecah, Neng mendirikan Sikolah Mombine Sulawesi Tengah, sekolah khusus politik perempuan, yang pernah berkantor di Jalan Vetaran, baru bebarapa hari lalu pindah ke Jalan Jeruk Kota Palu.  

Menyebut nama Neng, sudah tak asing lagi di kalangan warga Sulawesi Tengah. Sepanjang perjalanan saya di Kota Palu, mencermati perempuan penyandang nama asli Mutmainah Korona. Sosoknya sudah cukup menyerap di kalangan grassroot.

Ini saya buktikan, saat saya bertemu perempuan tua, Masripah namanya. Kesehariannya sebagai pemecah batu di Watusampu Kota Palu. Tidak saya tanya, tiba-tiba ia menyebut nama Neng, saat itu saya belum mengenal nama itu.

n9RUgsE0NoVMGLgujJ-BKfrSg6QrxnPy.jpg

Saya bersama mereka, perempuan duduk berjajar di depan, salah satu cara kita menghormati dan memuliakan perempuan (Supriyadi)

Dua, Geby. Begitu ia menyebutkan namanya, lima jam sebelum acara diskusi berlangsung, saat ia cek lokasi di Nemu Buku itu berkenalan dengan saya. Ia pengurus partai pendatang baru di kancah pemilu 2019 mendatang. Tidak detil saya ketahui dan memang sengaja saya tidak menanyakan, di posisi apa dalam kepengurusan PSI itu.

Selanjutnya ia menulis sebuah quote di Papu: papan puisi (istilah yang diberikan Pustakawan Nemu Buku, Awir), saat masih pukul 15.00 WITA itu. Saat saya mengetik catatan ini, quote itu belum terhapus. Begini bunyi quote menurut saya bernada pesan  itu: "Tidak ada negara yang bisa berkembang jika tidak memperhatikan kaum perempuan -G 14/3 '18, ".

Geby entah Gebi, kalau menulis sapanya yang kemudian saya ketahui bernama Rachail Abigail. Saya ikuti dalam diskusi yang dimulai pukul 19.00 WITA itu. Ia mendaku pernah menjadi staf ahli Basuki Tjahadja Purnama alias Ahok, ketika menjadi gubernur DKI Jakarta. Meski samar saya dengar dari dalam ruangan lain di Nemu Buku, sebelum saya beranjak bergabung di antara Geby dan mereka. Mengawali bicara, suara Geby sedikit bergetar, ada rasa nervous bicara di depan publik.

Menurut saya itu wajar terjadi dan kita harus memaklumi, ia belum matang, masih muda, usia 23 tahun. Ia tak pernah terlatih menghadapi tekanan sebuah rezim yang fasis sekali pun sehingga suaranya tak ada beda dengan suara perempuan lain yang baru bergabung di komunitas. Ia dalam curhatannya, adalah anak kuliahan saja, -tak mengenal gerakan kampus, yang dibesarkan oleh semangat orangtua single parent, ibu.

Pendapat saya, itu yang membuat dia bergeliat, ingin mengubah nasibnya dan perempuan pada umumnya. Mungkin saja juga didasari saat berkiprah di Youth Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI), yang baru di-launching tahun 2013 silam, -sebuah lembaga yang memperkuat kepemimpinan di Asia Tenggara.

Meski di dunia politik ia dikategorikan politisi baru, sejujurnya saya mengakui, ia seorang politisi nasional, yang duduk langsung sebagai pengurus pusat partai di tingkat pusat,- yang konon dibiayai patungan rakyat untuk berkompetisi dalam pemilu 2019 mendatang.

Geby yang jelas, tidak melalui proses pengkaderan partai politik. Ia, belum bisa dikatakan, sudah menyuarakan hak perempuan sepenuhnya. Hanya tagline-tagline atau masih berupa pamflet-pamflet sebagai gelora merebut suara, utamanya suara kalangan yang baru melek politik, yang menjadi platform PSI dan suara perempuan untuk Geby.

Xnq_fNRx3Ky-MIF21zpD00Yo8Sk3Oe60.jpg

Quote Geby yang ditulisnya di Papan Puisi Nemu Buku, lima jam sebelum acara diskusi berlangsung, Rabu sore, 14 Maret 2018 pukul 15. WITA (Supriyadi)

Hal itulah yang saya tangkap, selain Geby sendiri juga menyampaikan politik anggaran, yang perlu dianggarkan untuk kepentingan perempuan, jika keterpenuhan suara perempuan ada di kekuasaan. Meski kemudian dalam diskusi itu ia meralat untuk kepentingan bersama, -bukan hanya perempuan.

Diskusi yang rupanya semakin malam semakin seru, yang selanjutnya ada sesi sharing. Dimulai dari, seorang laki-laki, saya tidak mengenal namanya. Selanjutnya Ketua KPW PRD Sulteng Anton Aprianto, Yusuf Lakaseng, yang mempunyai perjalanan politik panjang di Sulteng dari PRD, Perindo hingga PSI. Kemudian dilanjut Neny Setyowati dari LMND Sulteng.

Kesempatan penanya lain, seorang laki-laki, tetap saya belum mengenalnya. Saya menangkap seperti penanya sebelumnya, yaitu sebuah kegelisahan, bagaimana sejatinya perempuan itu berperan.  Baru kemudian saya ikut nimbrung, Neng memberi kesempatan dulu kepada saya, yang kebetulan bersamaan mengacungkan tangan dengan Ketua LMND Sulteng, Azman Asgar.

Saya memulai berbicara di forum itu, yang tanpa salam itu mengatakan, sebenarnya saya nervous jika bicara di depan perempuan. Karena yang tertanam di pikiran dan diri saya, yang sudah mengideolog perempuan adalah subyek. Saya menolak jika perempuan disebut obyek dalam kehidupan ini. Setelah anak-anak, kita harus menghormati dan menghargai perempuan.

Bayangkan, kedatangan saya di Kota Palu sebagai perutusan kawan-kawan di Surabaya mendapat sorakan yang dibarengi celotehan kawan-kawan Kota Palu, yang saya tak bisa menangkapnya, menjadikan suasana diskusi semakin hidup. Karena lama tidak pernah bicara di depan forum, benar saya akui grogi. Namun saya tetap melanjutkan bicara, karena dua insan ini, -anak-anak dan perempuan, pelembut kehidupan ketika kehidupan ini dipenuhi kekerasan.

Masih dalam suasana grogi di tengah gelak tawa mereka. Saya melanjutkan bicara, sepanjang sejarah sebenarnya perempuan tidak pernah terabaikan. Kita lihat dan baca perjalanan sejarah beberapa abad silam, perempuan selalu ada, dan tak sedikit juga menjadi pemimpin.

Hanya saja saya tidak mencontohkan malam itu, perempuan siapa yang pernah berkiprah. Hingga pungkasan saya bicara tentang pengalaman pasca-Reformasi 1998, yang selalu mengikuti tema-tema afirmasi action perempuan. Diskusi bertemakan itu, kerap digelar komunitas perempuan di Surabaya untuk menghadapi pemilu 1999 sehingga terjadi dalam undang-undang pemilu, melibatkan perempuan 30 persen suara di parlemen bagi partai politik.

“Namun apa kenyataan, sangat mengecewakan, perempuan tak ubahnya dengan laki-laki begitu duduk di kekuasaan, ternyata juga bisa korup, bahkan cukup korupstif dibanding laki-laki. Bahkan tak sedikit skandal jika perempuan melibatkan dalam politik praktis. Ini sebenarnya yang perlu dijadikan perhatian, bukan sekadar menjadi anggota DPR saja,"

Itulah yang terjadi malam itu, disikusi yang  tak banyak dihadiri perempuan. Juga lewat catatan ini, ada pernyataan saya yang tertinggal, bahwa perempuan itu juga ada hak tak kenal cinta absolut.     

1726 Views
Sponsored