selasar-loader

Hak Asasi (Celaka) Perempuan?

LINE it!
Sa'adia Meilani
Sa'adia Meilani
Bidang Perempuan KAMMI Daerah Malang | student | tukang foto
Journal Mar 12, 2018

p0wzrVFz-xjOQWBZTdrWOt8Pj7gpHqla.jpg

Selamat memaknai Hari Perempuan Internaaional, bagi perempuan-perempuan yang sedang berusaha memaknai dengan sebaik-baiknya. Saya pribadi patut bersyukur akan adanya momentum ini. Momentum yang menuntut saya untuk membaca sedikit sejarah perempuan masa itu.

Masa sebelum Perang Dunia pertama meledak, pada bulan Maret tahun 1857 sekelompok perempuan buruh di New York (Amerika Serikat) memperjuangkan hak atas diri mereka. Hak untuk perbaikan nasib, hak untuk memilih dan dipilih, dan penolakan menggunakan tenaga kerja anak-anak.

Mereka, kaum perempuan itu bersuara dan muncul kembali ke permukaan pada akhir Februari 1909 dengan suara puluhan ribu perempuan buruh yang tidak mendapatkan hak yang sepadan dari apa yang telah mereka lakukan. Sejak saat itu hingga tahun 1916 mereka melakukan aksi yang sama pada akhir Februari hingga awal Maret. Mulai saat itu mereka menyebutkan bahwa momentum itu diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional.

Hingga pada akhirnya sekelompok perempuan di Rusia mendengar tentang isu feminisme tersebut dan membuat mereka berdiri tegak dan lantang menyuarakan penolakan mereka terhadap Perang Dunia 1 (PD-1). Pada tanggal 8 Maret 1917 perempuan-perempuan tersebut melakukan demonstrasi untuk penolakan PD-1. Hingga kemudian momentum itulah yang membuat perempuan di seluruh dunia pada tanggal 8 Maret memperingati Hari Perempuan Internasional.

Lalu bagaimana dengan Indonesia pada saat itu? Pada rentang tahun 1900-1930 itu pula, Indonesia mulai muncul heroisme perempuan dalam hal menuntut dikembalikannya hak-hak mereka di samping aktviitas kemerdekaan yang sedang diperjuangkan. Dewi Sartika yang membuat Sekolah Perempuan pertama di Indonesia pada tahun 1904 dan RA. Kartini yang memperjuangkan hak perempuan untuk menjadi makhluk yang berpendidikan melalui catatan-catatan yang kemudian dibukukan di tahun 1911. Hingga pada Desember 1928 dibuatlah Kongres Perempuan Indonesia untuk pertama kalinya.

Sudah 40 tahun berselang, sejak PBB mengesahkan tanggal 8 Maret 1978 sebagai Hari Perempuan International. Pada setiap tahun, idealnya seluruh perempuan di dunia tidak akan berhenti untuk mengampanyekan sebuah nilai yang muncul dari proses historisnya terdahulu. Nilai tersebut adalah pengembalian hak-hak fundamental perempuan sesuai fitrah fisik dan realitas yang terbentuk olehnya.

Hal tersebut yang membentuk perbedaan posisi antara perempuan dan laki-laki. Dalam hal fitrah fisik contohnya, buruh perempuan yang hamil layak mendapatkan cuti sebelum dan setelah persalinan, pekerja perempuan yang sedang menstruasi dan mengeluhkan rasa sakit sebab menstruasinya maka ia layak diberi waktu istirahat dengan tanpa adanya pemotongan gaji/upah, kemudian daya tahan perempuan secara fisik yang meski menunjukan peningkatan setiap masanya, tetapi tidak akan pernah bisa menandingi laki-laki sehingga ia tidak layak diberi bagian pekerjaan fisik yang cukup berat.

Hal-hal tersebut adalah situasi fisik yang hanya ada dan terjadi di perempuan, tidak dengan laki-laki yang nihil dengan aktivitas metabolik tersebut. Sementara hak-hak yang sesuai realitas adalah situasi perempuan yang juga merupakan entitas dari masyarakat dengan komposisi feminitas yang lebih tinggi daripada laki-laki membuatnya memiliki karakteristik yang tentu berbeda dari laki-laki.

Proses melahirkan pada perempuan memunculkan sisi “pemelihara” yang tumbuh secara adaptif berpangkal dari aktivitas tersebut. Sementara menurut Koderi (1999) ia mengatakan bahwa laki-laki, secara filsafati dunianya banyak bersifat: kerja, ekspansi, menaklukkan, dan agresivitas.

Hubungan yang muncul akibat adanya aktivitas laki-laki dan perempuan dalam keseharian inilah yang menyebabkan sudut pandang kesetaraan ini tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, contohnya dari perempuan ataupun laki-lakinya saja. Perihal ini dilihat secara sistemik bahkan, yang terdiri dari eksistensi dua subjek ini bersama dengan aturan birokrasi, adat istiadat, norma, dan agama.

Saat membicarakan perempuan di hari ini, di zaman modern ini tidak bisa hanya dilihat dari bagaimana kausalitas yang membentuk perempuan hari ini. Laki-laki yang juga hadir sebagai partner atau saya katakan kaum lain selain kaum perempuan itu sendiri, sedikit banyak tentu mempengaruhi perempuan secara eksistensinya meskipun tidak akan merubahnya dalam hal esensi.

Namun, meski peringatan ini telah lama diperingati masih banyak pula hak-hak perempuan yang belum terpenuhi di belahan bumi lainnya. Malala Yousafzai, seorang duta Anak di PBB asal Pakistan menyebutkan bahwa masih terdapat perbedaan hak pendidikan antara laki-laki dan perempuan di negara asalnya tersebut. Amerika dengan situasi masih memberikan gaji kepada perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Worden of Human Rights Watch juga menyebutkan bahwa Iran masih terdapat kesenjangan gender dalam bidang politik dan ekonomi. Tentu saja di Indonesia banyak sekali isu yang diangkat bertepatan dengan adanya momentum ini. Mulai dari isu pelecehan seksual, keamanan buruh migran, kekerasan dalam rumah tangga, kebebasan memperoleh hak pendidikan, kebebasan dalam berpakaian, dan lain sebagainya.

Pada intinya proses kesetaraan gender yang dituntut oleh perempuan-perempuan dalam momentum ini saat ini cenderung mengalami sedikit perubahan dari esensinya terdahulu. Hal tersebut saya titik beratkan pada poin ‘kebebasan’ yang dibawa, yang mana hal itu disebabkan oleh realitas dan fakta yang linear terjadi disebabkan oleh kualitas perempuan itu sendiri.

Beberapa pekan terakhir banyak isme-isme muncul di Indonesia untuk menyuarakan berbagai isu terkait perempuan di momentum Hari Perempuan Internasional ini. Ada isme yang berasal dari realitas masalah yang terjadi, ada pula isme yang ditambahi dengan perihal ‘linglung’ kebebasan yang muncul dari ketuhanan atas logika mereka.

Beberapa isu yang diangkat tentu saya sepakati, seperti isu mengenai pengembalian hak buruh perempuan, perlindungan terhadap tenaga kerja migran, dan kekerasan dalam rumah tangga yang mana kita fahami bersama bahwa sebagian besar korbannya adalah perempuan yang disebabkan oleh ketidakfahaman laki-laki terhadap esensi dan ekisistensi dirinya dalam keluarga.

Namun, di sisi lain ada isu yang diangkat dengan napas liberalisme yang disisipkan kedalam isu fundamental women rights yang netral tersebut menjadi hal yang patut untuk dibaca dan didiskusikan bersama. Contohnya, ada yang menyuarakan bahwa kebebasan berekspresi bagi perempuan salah satunya adalah kebebasan kita dalam mengatur cara perempuan berpakaian.

Berpakaian tertutup rapat dengan cadar, berpakaian dengan mengenakan celana ketat dan kaos oblong, model berpakaian bikini, atau bahkan tidak berpakaian sama sekali merupakan kebebasan perempuan. Tentu ini perihal yang tidak sepele untuk diperhatikan dan dibaca bersama.

Menurut saya justru kebebasan yang tidak terukur atau tidak ada batasan tersebut akan semakin menenggelamkan perempuan kedalam lautan resiko kriminalitas yang lebih tinggi. Bahkan bukan untuk dirinya sendiri namun juga untuk perempuan-perempuan lain di sekitar mereka.

Mereka beranggapan bahwa berpakaian ‘terbuka’ bukanlah merupakan trigger utama yang menjadi faktor terjadinya pelecehan seksual.  Sebab mereka juga menemukan bahwa terdapat perempuan yang sudah menutup tubuhnya dengan pakaian yang tertutup, juga tidak menghindarkan mereka dari perilaku pelecehan seksual.

Wahai perempuan-perempuan berbudi luhur yang katanya kau peduli dengan perempuan-perempuan lain di seluruh, apakah kalian tidak melihat bahwa ini adalah efek domino yang disebabkan dari hal-hal kecil dalam dirimu sehingga mengakibatkan hal-hal tak terduga terjadi pada orang lain.

Saya akan berikan contoh analoginya. Apakah kalian pernah berpikir, laki-laki yang kemudian menjadi ber-'nafsu' setelah melihatmu berpakaian ‘terbuka’ itu lantas bisa selalu menahan hasrat mereka? Bagaimana jika mereka bukanlah orang yang sudah beristri? Sehingga ia tidak bisa menyalurkan hasrat biologisnya tersebut kepada perempuan yang halal/legal secara hukum baginya.

Jika ia adalah orang yang belum menikah, lantas laki-laki  tersebut tidak memungkinkan untuk menyalurkan birahi mereka kepadamu, maka tentu mereka akan mencari objek lain untuk dapat menyalurkan birahi mereka. Bagaimana jika di perjalanan ia menemukan anak sekolah yang berjalan sendiri disebuah jalan yang sepi? Tentu laki-laki ini memiliki kesempatan yang besar untuk dapat menggunakan si anak sekolah ini untuk dijadikan objek pelampiasannya.

Kita banyak mengetahui di berita televisi maupun koran, akan banyaknya korban perkosaan bukanlah disebabkan oleh minimnya pakaian yang dikenakan korban. Namun sadarkah jika ternyata, bisa jadi perilaku tersebut bermula dari dirimu yang menggunakan pakaian ‘terbuka’ itu sehingga merangsang hasrat seksual laki-laki yang melihatnya.

Tentu saja kau tidak bisa menyalahkan laki-laki yang juga diberi fitrah/kodrat pada penciptaan tubuh mereka. Sama seperti kau tidak bisa disalahkan orang lain atas rasa sakit yang kau derita karena menstruasi yang kau dapat, yang terkadang secara otomatis membuat kita lebih sensitif dan mudah marah jika ada sedikit perihal yang memancing kekesalan kita sehingga menyalahkan hal yang bersifat biologis merupakan logika yang buntu akan sebuah upaya pemberian solusi masalah seperti ini.

Mari kita lihat sudut pandang yang lain. Tentu saya sepakat dengan isu pelecehan seksual yang diangkat mengenai blamming victim. Seperti dalam film Marlina: Si pembunuh dalam Empat Babak, menceritakan bagaimana realitas sistem di Indonesia dalam memperlakukan perempuan.

Seringkali korban perkosaan diintimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru seakan-akan itu menyudutkan dan menyalahkan si perempuan. Sebab memang tak selalu kasus pelecehan seksual bermula dari pakaian yang perempuan tersebut kenakan. Dalam film tersebut Marlina diperkosa oleh rentenir yang meminjami uang kepada suaminya.

Nahas bagi Marlina, sebelum utang itu sempat dibayar, suaminya sakit dan meninggal. Sementara untuk melunasi utang tersebut, si rentenir bersama enam orang kawannya akan mengambil semua hewan ternak yang ia punya serta menyalurkan hasrat seksualnya kepada Marlina. Karena Marlina mengerti maksud rentenir tersebut, Marlina memenggal salah satu kepala pelaku untuk melindungi dirinya sendiri dari kekerasan seksual pada dirinya.

Selanjutnya Marlina membawa penggalan kepala rentenir tersebut ke kantor polisi dengan maksud untuk melaporkan kejahatan yang menimpa dirinya. Namun polisi justru meminta Marlina untuk menunggu beberapa bulan karena proses hukum yang akan memakan waktu lama. Ia pun ditanya apakah ia menggoda laki-laki dengan pakaian yang ‘terbuka’ atau tidak. Bahkan Marlina diminta visum apakah benar ia telah diperkosa atau karena suka sama suka.

Beginilah kondisi Indonesia yang secara sistemik ini telah diatur dan mengatur posisi perempuannya. Namun sekali lagi sistem ini berjalan dengan dipengaruhi oleh makhluk bernama laki-laki dan perempuan. Dari seluruh jenis ketidakadilan terhadap perempuan, tidak seluruhnya pula ia dilakukan oleh lawan jenisnya.

Tidak selalu kekerasan dalam rumah tangga juga dilakukan oleh laki-laki. Tidak jarang juga di antara kasus kekerasan tersebut dilakukan seorang ibu kepada anak perempuannya sehingga dari isu yang dibawa isme-isme diatas seakan digeneralisir bahwa segala bentuk ketertindasan terhadap perempuan disebabkan oleh laki-laki, dengan tanpa melihat kasus ini secara holistik.

Padahal faktanya perempuan-perempuan juga banyak yang melakukan penindasan dengan perempuan lain atau bahkan secara sistemik ia menindas banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan dengan kekuasaan yang ia pegang.

Saya sangat mengapresiasi tuntutan-tuntutan dari siapapun yang memperjuangkan hak fundamental perempuan, dengan berawal dari kefahaman penuh akan esensi dan eksistensi perempuan itu sendiri. Hal-hal tersebut tentu merupakan hal-hal yang diperjuangkan oleh Bidang Perempuan KAMMI sebagai entitas terkecil dari masyarakat yang turut merasakan luka seperti yang dirasakan oleh korban kesenjangan gender yang mereka rasakan.

Merasakan luka Malala Yousafzai yang ditembak kepalanya sebab memperjuangkan hak perempuan dalam meraih pendidikan yang lebih baik bagi komunitasnya, merasakan sakitnya Marlina yang disudutkan dan justru disalahkan sementara dialah yang menjadi korban pemerkosanaan, merasakan sakitnya buruh migran di Hongkong yang terkena kekerasan verbal maupun fisik dari sang majikan, merasakan belasungkawa yang mendalam kepada adik-adik korban pemerkosaan dan pembunuhan yang masih dibawah umur, merasakan marah sebab perempuan yang dengan dalih memperjuangkan Hak Asasi bagi diri mereka sendiri namun tak disadari ia justru melukai perempuan lain dengan ‘efek domino’ yang bisa saja terjadi, dan lain sebagainya.

Kawan-kawan perempuan, Hari Perempuan Internasional menjadi momentum bagi kita bersama  untuk dapat membaca lagi realitas historis momentum ini dan mereaktualisasi nilai-nilai tersebut kedalam upaya advokasi hak-hak fundamental perempuan dengan melatarbelakangi aktivitasnya yang bersifat ilmiah, holistik, dengan tidak meninggalkan kaidah-kaidah norma/ adat istiadat/ agama.

Tidak hanya karena korbannya perempuan, maka kita meneriakkan dengan lantang bahwa kita tertindas oleh laki-laki. Namun kita juga harus bersikap adil terhadap bentuk-bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri kepada perempuan lain, atau bahkan orang banyak yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu sendiri.

Semoga kita senantiasa dapat memaknai dalam hal esensi dan eksistensi tentang maksud keberadaan kita didunia yang sementara ini. Hari ini hingga tiba lagi Hari Perempuan International nanti, akan menjadi waktu-waktu yang kita isi dengan kesadaran penuh akan banyaknya luka-luka perempuan di sekitar kita. Perempuan-perempuan  yang terjatuh, tersudut, terluka, dan bahkan ingin menghilang.

Bersama dengan perempuan lain di sekitar kita membuka mata, melihat realita sosial yang membuat getar hati kita sebagai manusia lalu memunculkan penghayatan untuk membantu mereka semua. Dengan mendasarkan kebenaran secara universal, yang dapat diterima secara hukum dan norma yang tentu saja tak menyalahi aturan agama.

Saya bukanlah siapa-siapa tanpa kalian semua, seluruh perempuan yang membaca tulisan ini dan mereka yang memiliki keinginan yang sama untuk memperbaiki terpenuhinya hak-hak perempuan di sekitar kita. Mari lebih banyak membaca untuk mengisi logika dan atmosfer intelektual kita bersama, banyak bertemu dan berdialog untuk mengikat ilmu kebaikan yang masih tak tertangkap saat sendiri, juga banyak berdoa untuk kebaikan perempuan-perempuan seluruh dunia. Sebab Dia mengetahui segalanya, sebelum kita mencoba memahami sebagiannya.

650 Views

Author Overview


Sa'adia Meilani
Bidang Perempuan KAMMI Daerah Malang | student | tukang foto

More Journal from Sa'adia Meilani


Demam Fesyen Hijrah
1 year ago