selasar-loader

Menulis: Bahasa Lisan dan Bahasa Tulisan

LINE it!
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim
Ayah, Suami, Penyair, Penulis, Pengarang, Editor, Satiris, Humoris
Journal Mar 4, 2018

UCi349UdAx8VbwST86u-htVpAkpTEO_P.jpg

(Sumber ilustrasi: www.thoughtco.com)

 

Merupakan takdir sejarah bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar segenap kegiatan bangsa Indonesia dalam segala aspek. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu suku-suku yang beragam diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dan dikukuhkan dengan Pasal 36 UUD 1945 tentang Bahasa Negara.

Untuk menyampaikan isi pikiran digunakan bahasa lisan atau melalui tulisan. Baik bahasa lisan maupun tulisan disampaikan dalam bahasa yang sama, dalam hal ini: bahasa Indonesia. Meskipun menggunakan bahasa yang sama, ada beberapa hal yang membedakan keduanya.

Sebagaimana sifat bahasa manapun juga, terdapat perbedaan dalam bahasa Indonesia lisan yang bertalian dengan perorangan, suku, daerah, lingkungan, dan sebagainya. Karena itu, dipelukan standar bahasa Indonesia yang baku.

Sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia mempunyai standar bahasa. Standar suatu bahasa bertujuan agar bahasa tersebut dianggap baik, terpelihara, sebagai contoh yang dilazimkan ke seluruh negara. Bahasia Indonesia Umum sebagai bahasa resmi digunakan oleh Pemerintah dalam segala bidang kenegaraan dan dipelajari di semua sekolah di seluruh wilayah negara Indonesia. Bahasa Indonesia Umum berpangkal pada bahasa Melayu modern yang dipakai dalam sastra dan jurnalistik dekade 1920 – 1930-an.

Bahasa lisan adalah bahasa pengucapan, dilisankan atau dibunyikan. Bunyi yang kedengaran sambung-menyambung disebut aliran bunyi. Kadang-kadang, aliran bunyi disekat dengan jeda-jeda yang memisahkan keutuhan bunyi yang satu dengan yang lainnya. Dalam aliran bunyi, terdapat pula intonasi (lagu kalimat) berupa panjang pendek suara suku kata, tinggi rendah nada, keras lemah tekanan irama. Bahkan, terkadang dibantu dengan gerak-gerik anggota tubuh, perubahan mimik wajah dan sebagainya. Hal ini untuk memudahkan pendengar memahami akan maksud isi bahasa yang disampaikan pembicara.

Bahasa tulis adalah bahasa yang menggunakan simbol-simbol aksara(huruf) sebagai pengganti bunyi. Keseragaman dalam penulisan sangat penting dalam suatu bahasa, karena perbedaan cara menuliskan kata-kata dapat menimbulkan kesalahpahaman dan mempersulit pembaca.

Cara menulis kata-kata disebut dengan ejaan. Aturan ejaan Bahasa Indonesia telah berkali-kali mengalami perubahan. Aturan tentang ejaan terakhir adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang berlaku sejak 16 Agustus 1972 sampai dengan sekarang.

Meski telah disempurnakan, tetap saja bahasa tulisan mempunyai banyak kekurangan. Walaupun telah dibuat tanda baca seperti titik, koma, tanda seru, tanda tanya dan sebagainya, bahasa tulisan belum dapat menggambarkan intonasi. Terlebih lagi, gerak anggota tubuh dan mimik wajah tidak tampak pada bahasa tulis.

 

Bandung, 4 Maret 2018 

897 Views