selasar-loader

Sejarah dan Peran Dokter untuk Indonesia yang Madani

LINE it!
Ridwan Hidayanto
Ridwan Hidayanto
Dokter Gigi Muda | Unair | Rumah Kepemimpinan Angkatan 8 Regional 4 Surabaya
Journal Apr 3, 2018

008965400_1502948786-para_pendiri_Boedi_

Dalam sejarah terbentuknya Republik Indonesia, kita pasti mengakui dan tidak mungkin menutup mata untuk tidak mengenal sosok dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Soetomo, dr. Cipto Mangunkusumo, dan yang lainnya. Mereka adalah dokter-dokter yang sadar akan hak dan kewajiban serta perannya kepada umat manusia dan bangsanya.

Hal di atas merupakan fakta sejarah peran serta dokter pada proses pembentukan fondasi negara Indonesia pada awal abad kedua puluh. Bagaimana keberadaan figur dokter pribumi sebagai pelopor semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa.

Eratnya jalinan benang merah keberadaan dokter dengan lahirnya semangat tersebut, tidak terlepas dari watak yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter. Sejarah pula yang mencatat bahwa kelompok pertama yang menginisiasi semangat nasionalisme adalah dokter.

Sebuah semangat, yang kemudian menjadi embrio kesadaran dan kemandirian berbangsa dan bernegara, sehingga melahirkan gerakan kebangkitan nasional. Sebuah momentum yang akhirnya mendorong proses menuju kemerdekaan bangsa. 

Lebih dari seabad lalu, kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme adalah dokter. Periode 1908, mahasiswa kedokteran yang waktu itu bernama STOVIA menjadi cerminan kekuatan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Melalui organisasi Boedi Oetomo, mahasiswa kedokteran berhasil menunjukkan jati diri sesungguhnya sebagai garda terdepan dan menjadi ujung tombak perjuangan kemerdekaan untuk memperjuangkan Indonesia.

Mereka tidak hanya memikirkan cara agar gelar dokter bisa bertengger di belakang namanya, tetapi mereka menjadi pemantik analisis masalah bangsa, mulai dari masalah sosial, politik, pendidikan hingga masalah kesehatan yang sejatinya merupakan ranah pemikiran mahasiswa kedokteran.

Bukan waktunya lagi untuk mahasiswa kedokteran melawan penjajah sebagaimana ketika mahasiswa kedokteran menjadi motor untuk pergerakan mahasiswa di tanah air tahun 1908 silam. Apatis, egois, eksklusif, individualis, study oriented, mungkin itulah paradigma dari mahasiswa fakultas lain bahkan dari masyarakat terkait kondisi mahasiswa kedokteran saat ini.

Mungkin sudah jarang sekali mahasiswa kedokteran berdiskusi mengenai masalah kebangsaan terutama dalam bidang kesehatan dan hanya berkutat pada diktat teoritis tanpa memperdulikan realitas yang ada dalam masyarakat. Animo yang tinggi untuk segera lulus dan meraih gelar dokter menjadi tujuan utama selama mereka berkuliah.

Menilik antusiasme mahasiswa kedokteran terhadap diskusi terbuka mengenai kajian atau pembahasan yang mendalam mengenai kesehatan di Indonesia dan problematikanya cenderung rendah dan sedikit. Kajian-kajian mengenai permasalahan kesehatan masyarakat saat ini telah berubah menjadi kegiatan-kegiatan insidental yang menjadikan organisasi mahasiswa hanya sebatas event organizer tanpa mengetahui manfaat dan dampak yang bisa diberikan kepada masyarakat luas.

Bukan saatnya lagi bagi mahasiswa kedokteran terjebak hanya pada rutinitas sempit yang hanya mempelajari segala sesuatu tentang penyakit sehingga akibatnya kewajiban untuk menyehatkan rakyat indonesia hanya sekedar menganjurkan minum obat, vitamin, dan sebagainya.

Perlu diperhatikan bahwa selain melakukan intervensi fisik, dokter juga berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah masyarakat. Perlu dicatat bahwa kelak dokter tidak semata-mata hanya berkiprah sebagai sosok profesional yang hanya menjadi agen pengobatan (agent of treatment) semata, tetapi juga sebagai pelaku pengubah (agent of social change) dan pelaku signifikan dalam pembangunan (agent of development).

Maka, mengetahui permasalahan bangsa terutama mengenai kesehatan dan bergerak dalam rangka mewujudkan perubahan ke arah  yang lebih baik merupakan sesuatu yang harus dilakukan mahasiswa kedokteran.

Berbicara tentang sudah sejauh mana peran yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran dalam membantu memperbaiki atau meningkatkan kesehatan di Indonesia, perlu ditanyakan terlebih dahulu sudah sejauh mana mereka (mahasiswa kedokteran) mengerti tentang berbagai permasalahan kesehatan di Indonesia.

Sejauh mana mereka mengenai sistem kesehatan nasional saat ini? Sejauh mana mereka tahu mengapa penyakit infeksi tropis seperti TB, Malaria, dan DBD masih mewabah setiap tahunnya padahal program eradikasi telah diterapkan pada penyakit tersebut? Sejauh mana mereka tahu anggaran yang disediakan oleh pemerintah di dalam APBN untuk masalah kesehatan? Mungkin mayoritas dari mereka tidak mengetahui beberapa permasalahan kesehatan yang tadi telah disebutkan dan menganggap ketidaktahuan itu adalah sesuatu yang biasa.

Padahal masalah kesehatan adalah masalah yang menjadi fokus pemikiran di dalam diri mahasiswa kedokteran. Sudah seharusnya pertanyaan-pertanyaan tersebut berada pada tataran pengkajian di dalam organisasi mahasiswa dan berupaya mencari solusi permasalahan dengan berbagai tindakan yang nyata.

Perlu disadari kembali bahwa sejatinya mahasiswa tanpa ada hak untuk menolak telah dibebani tiga buah peran yakni sebagai agen perubahan (agent of change), penjaga nilai (guardian of value), dan cadangan masa depan (iron stock). Mahasiswa kedokteran adalah pelaku sekaligus cadangan masa depan dalam intervensi menyeluruh terhadap permasalahan kesehatan fisik-mental-sosial bangsa.

Mahasiswa kedokteran perlu untuk membuka mata, hati, dan pikiran dalam diri agar lebih mengenal kompetensi inti dan membangun kapasitas dalam berkontribusi serta menjawab kebutuhan masyarakat. Tugas mahasiswa kedokteran tidak hanya berkutat dalam ruang lingkup akademis saja, tetapi ada beban serta tanggungjawab moril yang lebih besar dari itu.

Permasalahan kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, ini adalah hal yang harus kita hadapi dan  menjadi fokus utama kita semua secara bersama, terpadu dan terarah secara kolektif yang mengatasnamakan bangsa Indonesia.

Sudah saatnya kini mahasiswa kedokteran aktif berdiskusi mengenai kepentingan rakyat yang mungkin digerus oleh kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan. Sudah saatnya kita mengembalikan peran lembaga mahasiswa kedokteran yang hanya sebagai event organizer menjadi basis pembentukan karakter mahasiswa ideal. Sudah saatnya pula kita menghilangkan stigma masyarakat tentang citra buruk mahasiswa kedokteran yang terlihat apatis, individualis, pragmatis, dan oportunis.

Dengan kesadaran, semangat, serta kesungguhan dari dalam diri, diharapkan kelak para dokter Indonesia akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sehat seutuhnya, menjadi bangsa yang sehat baik dari segi fisik, mental, maupun sosial untuk Indonesia yang madani dan lebih sehat.

170 Views