selasar-loader

Bertemu dengan Habib Rizieq (Bag. 1)

LINE it!
Anta Kusuma
Anta Kusuma
Masih Homo Sapiens
Journal Mar 1, 2018

Juc06JlSTnMENlSrfjYY317_X40gxFbX.jpeg

Cerita pendek:

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam dari Jakarta untuk masuk ke Pesantren Agrokultural, tempat Imam Besar FPI berada pada hari Minggu bersama keluarganya. Tentu saja ada dua syarat: tidak macet dan jika dibolehkan memasuki pintu penjagaan pertama.

Cerita panjang:

Hujan sudah turun sejak kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 9:30 pagi, tetapi tidak dengan semangat kami (saya, seorang penulis yang saya bantu untuk melaksanakan tugasnya dan seorang pengemudi mobil) berusaha agar bisa bertemu Habib Muhammad Rizieq Shihab untuk kebutuhan wawancara.

*VIDEO#1- Jalan Jakarta*

Sesampainya di Bogor sekitar pukul 10:30, saya bertanya kepada seorang penduduk yang sedang berdiri di depan toko di sebuah jalan besar tentang arah menuju pesantren yang belum pernah saya kunjungi.

Setelah itu saya benar-benar merasa lapar, karena saya memang belum makan dari pagi. Saya ajak orang di dalam mobil untuk makan di restoran Padang, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sukagalih, melewati vila-vila dan perkebunan.

*VIDEO#2-Jalan Megamendung*

 

Akhirnya kami sampai di pintu penjagaan. Tentu kami ditanya mau apa. Saya bilang mau bertemu Habib Rizieq.

“Sudah janjian?” tanya salah seorang penjaga. Saya bilang ke dia kalau saya disuruh langsung ke sini oleh seseorang (yang tak bisa saya sebutkan namanya yang saya temui beberapa malam sebelumnya sebagai mediator antara saya dengan Habib Rizieq).

Penjaga tersebut kemudian meminta kami meninggalkan tanda pengenal. Seseorang yang berasal dari Amerika bagian timur yang duduk di kursi tengah memberikan kartu namanya. Seorang yang berasal dari Jawa Timur yang duduk di kursi pengemudi memberikan SIM A-nya. Saya yang berasal dari Kalimantan Timur tidak meninggalkan apa-apa selain harapan agar petemuan dengan Habib Rizieq bisa terwujud. Kami kemudian dipersilahkan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan lanjutan sekitar 10 menit ini beralaskan lumpur, hanya cukup dilalui oleh satu mobil, dan kanan kiri adalah hutan. Di video di bawah ini, Anda bisa sedikit melihat perjumpaan kami dengan pengendara sepeda gunung. Saya tak bisa membayangkan jika Anda berjalan atau mengendarai motor malam-malam. Mobilnya Habib Rizieq sepertinya cocok dengan medan seperti ini.

*VIDEO#3-Jalan ke Pesantren*

Setelah melewati perkebunan, akhirnya kami sampai di pesantren. Disambut oleh seorang sukarelawan. Adzan zuhur berkumandang menyusupi kabut-kabut di Megamendung. Kami kemudian diminta menunggu di saung.

*VIDEO#4- Suara Azan Dari Masjid*

Desah pohon terkena angin seakan beriringan dengan doa dan zikir yang dilantunkan setelah zuhur.

Sepertinya Habib Rizieq salat di rumah bersama para tamunya. Saya tidak tahu apa yang beliau makan setelah itu, tetapi seorang sukarelawan berkata kalau apa yang beliau makan sama dengan apa yang santri makan.

Yang pasti, dua orang anak lelaki mengantarkan tiga piring yang atasnya ditutupi plastik, yang di bawahnya adalah nasi, gule kambing, dan sayur asam. Minuman? Tiga air mineral yang di badan botolnya ada kutipan perkataan Habib Rizieq.

*VIDEO#5-Santri Mengantar Makanan*

 

 

Lelah duduk, kami berjalan-jalan di depan masjid. Seorang anak berbaju gamis keluar dari dalam masjid dan mencoba berbicara dengan kami dalam bahasa Inggris. Saya lupa namanya. Namun saya ingat kepercayaan dirinya ketika berbicara sambil memegang alpukat yang ia peroleh dari pohon di dekat masjid.

Video di atas adalah video terakhir saya sebelum bertemu Habib Rizieq. Oleh seorang yang dekat dengan Habib Rizieq, kami dipersilakan untuk menuju pelataran yang berada di dekat kediaman Habib Rizieq. Ada toko souvenir di dalamnya. Salah satu yang dijual sepertinya adalah kaos Aksi Bela Islam.

Jika suatu saat Anda datang ke sini, dari pelataran ini, semoga masih bisa terlihat pemandangan alam dan kandang sapi yang saya tidak tahu siapa pemiliknya.

Setelah menunggu beberapa menit, saya bisa melihat Habib Rizieq turun dari kediamannya yang beberapa meter di atas kami dengan menggunakan mobil. Ia temui kami, dua orang yang belum pernah menemui beliau sebelumnya. Ia bilang mengapa tidak janjian dulu.

Saya tentu tidak tahu bagaimana membuat janji dengan beliau selain dengan cara meminta pertolongan dari orang yang dekat dengan beliau dengan cara mengirim Whatsapp bahwa kami jadi ke pesantren pada hari Minggu, itupun setelah sang orang dekat tersebut memberi tahu kami di malam sebelumnya bahwa Habib Rizieq ada di pesantren, kisaran waktunya adalah dari zuhur sampai ashar.

Kepada Habib Rizieq, saya bercanda, bahwa menemui Habib ini lebih sulit daripada menemui presiden. Beliau menjawab, “gak juga”. Sepertinya beliau bisa menerima humor pembukaan yang telah saya persiapkan di malam sebelumnya.

Beliau kemudian memanggil isteri dan juga pengacaranya.

Wawancara pun dimulai. Anda tentu pernah melihat orang bermain catur kan? Posisi duduk kami seperti itu. Saya berada di tengah sebagai penerjemah dari tanya jawab masalah gubernur nonmuslim, pilkada, pancasila, kasus hukum, toleransi, ahmadiyah, hak asasi manusia, sampai pernyataan beliau yang mengaku tidak mempunyai ambisi dalam hal politik, serta keinginan beliau untuk terus menjadi guru. Saya tidak tahu apakah di pikiran beliau sempat terlintas bahwa wawancara ini akhirnya terjadi sekitar 45 menit.

Di akhir wawancara, saya menyampaikan keinginan saya yang suka mengumpulkan video dari berbagai macam orang dan berharap agar beliau berkenan menyanyi atau bershalawat. Sayangnya, beliau berkata, nanti saja.

Setelah itu, sang pewawancara meminta foto bersama. Habib Rizieq mengajak isterinya juga. Saya menjepret saja.

Beliau kemudian seperti terburu-buru. Saya juga buru-buru meminta sekali lagi agar beliau mau bernyanyi. Dan inilah yang terjadi:

*Habib Rizieq Berpamitan*

 

 

Setelah video di atas, beliau membuka kaca mobil dan berpamitan. Agenda seorang presiden Indonesia biasanya akan diberi tahu ke teman-teman wartawan, tetapi saya sungguh tidak tahu apakah hal yang sama juga dilakukan oleh seorang Imam Besar FPI.

Namun, sepertinya beliau turun gunung menuju ibu kota Jakarta. Yang saya tahu, dua hari setelah pertemuan ini, ada aksi massa di depan gedung DPR-RI terkait kasus Ahok.

Terima kasih Umi Fadlun yang telah menawarkan kami minuman di akhir pertemuan, walaupun tidak saya iyakan.

Dan juga terima kasih untuk Habib Rizieq.

Tentang nyanyian, semoga suatu saat bisa terwujud. Dan semoga itu adalah nyanyian yang sangat indah, apalagi jika tercipta dari proses reflektif seorang Imam Besar bersama damainya alam di Megamendung.

Awalnya saya tidak berniat untuk menuliskan hal ini. 

(Bersambung)

807 Views