selasar-loader

Oleh-Oleh dari Pondok Pesantren Waria!

LINE it!
Novia Nurist Naini
Novia Nurist Naini
Creative Writer. UGM. Turns scientific research into popular feature
Journal Mar 2, 2018

15731774_1685409378266334_83407212503432

Salah satu mata kuliah kontroversial di tempat saya belajar adalah Evaluasi Program Pembangunan (EPP) setelah Praktikum 1 kuantitatif. Kuliahan ini menginginkan muridnya bisa menilai program pembangunan, secara teori dan praktik. Kontroversial karena sangat menguras pikiran, waktu, biaya, tenaga, dan mengorbankan mata kuliah lain.

Matkul ini tidak bisa dilakukan sendiri alias kelompok, kelompok selama enam bulan. Jadi sangat menguji kekompakan dan solidaritas tim, bahkan angkatan. Sekali nggak kompak, drama akan banyak terjadi, mulai left group, menghilang entah ke mana, sampai cekcok adu mulut.  

Desar Desir di Ponpes Waria

Akhirnya, setelah baca skripsi dari mahasiswi Universitas Negeri Semarang (UNNES) tentang pendidikan non/in formal di Ponpes Waria, saya sendiri memutuskan pergi kesana, daerah Kotagede, naik Gojek.

Saya cukup bertanya-tanya, di daerah Kotagede yang notabene dulu pusat kerajaan Mataram Islam dan lumayan Muhammadiyah-is, ternyata ada berdiri Pondok Pesantren Waria Al Fatah ini. Pertanyaan terus muncul, apa tanggapan masyarakat? Apa tanggapan kiai sekitar misalnya?

Jam 17.15 an saya berkunjung ke ponpes. Sendirian. Lokasinya nyusup di perkampungan yang bangunan-bangunannya artistik cagar budaya. Bangunan-bangunan Belanda yang khas, tinggi, dicampur rumah-rumah joglo Jawa. Pohon-pohonnya dililit kain batik dan beraksara Jawa. Kampung ini instagram-able lah pokoknya. Untuk mengakses ponpes ini, harus lewat perkampungan ini dulu lalu menyusuri gang kecil, lalu lorong-lorong kecil yang bisa dilewati satu motor atau satu badan manusia saja.

Pesantren Waria ini beda dari pesantren biasanya. Tidak ada plang sama sekali yang memberitahukan kalau “this is pesantren”. Bangunan utama pesantren adalah rumah Joglo Jawa khas. Adapun pengasuh ponpes, Bu Sherina namanya (disamarkan). Bangunan ini warna-warni, pelangi. Saya menyimpulkan ini salah satu bentuk kampanye warna oleh teman-teman waria. Rumahnya diliputi jati-jati tua yang khas, lantainya terbuat dari plester, ruangan tamu dilengkapi barang-barang yang nuansa keraton; riasan kembang melati alami, patung wewayangan Jawa, lukisan Jawa, menandakan betapa bernilainya bangunan ini secara historis, saya tebak.

Bu Sherina sebagai pemilik mengonfimasi bahwa rumahnya ini adalah peninggalan nenek moyang sejak abad 18. Asli. Bangunan utama Ponpes alias rumah Bu Sherina ini, dipagar oleh bangunan-bangunan kecil yang mirip kos-kosan. Iya, bilik-bilik ini adalah tempat beberapa santri menginap.

Sungguh, pertama kali saya sendirian ke Ponpes Waria di awal November 2016, semriwing. Mental separuh yang berusaha di-full-kan. Semriwing ini sebenarnya lebih kearah, “aku bakal diterima nggak ya di sana”. Gitu.

Pertemuan

Akhirnya seorang berusia 45 tahunan menemui saya, menggunakan daster yang lebih mirip ibu rumah tangga. Saya taksir berat badannya 70-80 kg. Kulit sawo matang, tetapi di bagian leher terlihat belang, sepertinya ia pekerja lapangan yang selimut kulitnya habis terbakar matahari. Batasan belangnya terlihat jelas, menandakan ia seringkali memakai baju yang fit-to-neck. Bibirnya dipaksa merah gincu, bukan matte, warna bibirnya menunjukkan ia perokok berat. Tulang pipinya sedikit menonjol. Sapuan make-up nya sederhana. Alisnya digambar, lebih mirip penyanyi genre dangdut. Dua anting menjuntai di telinga kanan-kiri. Rambutnya hitam ikal badai, menunjukkan kalau ia merawatnya dengan rutin dan sangat baik. Saya berasumsi beliau telah pulang dari suatu tempat di luar rumah, lalu baru saja berganti baju.

“Ada perlu apa mbak?”

Kikuk. Saya tuturkan maksud untuk bertemu pengasuh ponpes, hendak bikin penelitian di sini.

“Saya manggilnya gimana nih, mas (manggil sambil takut-takut berani)?”

“Terserah, manggilnya mau mbak, mau ibu, mau tante juga gapapa” (gaya khas Syahrini. Centil, mendesah)

“Ibu deh kalo gitu”

“Jangan, itu ketuaan. Mbak aja ya, Mbak Nur namaku”

Lel. It was my name. Nur. Nurist. Makanya jadi males kalo dipanggil Nur.  Haha.

Lalu seorang waria paruh baya, usianya saya tebak 50-an tahun jangkung, memakai jilbab bergo dan gamis berwarna merah, ditambah gincu dan bulu mata, shading pipi kemerah-merahan ayu datang. Ia sangat anggun, melebihi saya sendiri haha. Hidungnya besar, mancung bukan kepalang. Lebih besar dari Mycroft Holmes. Bentuk hidung di bagian tengahnya runcing ke bawah seperti hidung Pasha Ungu (google it lel). Saya berasumsi bahwa beliau telah melakukan upaya untuk membuat hidungnya established dan menonjol. Ini bukan hidung Jawa. Saya juga tidak mendapat sinyal bahwa ia memiliki darah selain Indonesia. Kuku tangan dan kakinya berwarna senada, merah nyala, mengkilap. Warna khas pewarna kuku nail polished yang beralkohol. Mungkin ia sedang berhalangan sembahyang, karena warna kuteknya masih menyilaukan. Ah gimana caranya sembahyang? Pakai mukenah atau sarung?

Di jari manis kirinya melingkar cincin anggun. Lebih mirip cincin perkawinan. Sepertinya ia memiliki pasangan hidup, karena saya masih ragu menyebutnya sebagai suami ataukah istri. Bagaimana caranya berpasangan? Duduknya seperti duduk takhiyat akhir. Saya sendiri bersila. Di tangan kirinya terkepal boks rokok yang baru saja disulut. Marlboro. Seleranya kelas juga, Rp21,000 tiap box rokok. Harga rokok menunjukkan kemampuan sisi konsumtif. Rokok ini tidak mungkin dibeli oleh pegawai produksi. Hampir pasti. Rokok ini menunjukkan setidaknya yang saya temui memiliki something more. Kalau tidak pengasuh, barangkali jajaran setingkatnya.

“Gimana mbak? Apa yang bisa kami bantu?”

Suaranya anggun. Tekanannya rendah. Santai. Datar. Berbeda nuansa dengan Mbak Nur di atas. Suaranya lebih mirip Mbak Emmy. Elegan. High attitude. Menunjukkan ia memiliki pemaknaan lebih terhadap hidup yang telah ia lewati.

Saya menyampaikan maksud untuk melakukan penelitian bersama teman-teman sekolompok LAPIS LEGIT dengan berusaha down to earth sekali.

“Sudah jelas konsep penelitiannya? Kalau sudah, saya tunggu ya, di sini. Kapanpun kalian datang. Saya minta proposalnya dulu, interview guide-nya, teori dan konsepnya biar kami pelajari. Biaya retribusi awalnya 200.000. Nah kalau misalnya teman-teman mau menggali lebih dalam, kami mematok 50.000 per-informan”

Sejenak terkejut. Bahasa yang digunakan akademis. Sosok di depan saya ini pasti mengecap pendidikan kuliah. Atau kemungkinan kedua, ia telah lihai membaca sekian buku atau proposal penelitian yang telah diajukan peneliti-peneliti sebelumnya. Saya temukan di mesin pencarian, bahwasannya terdapat 16 peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang pernah menggunakan pondok pesantren ini sebagai objek risetnya, dari sudut pandang apapun.     

“Konsep besarnya evaluasi program, Bu. (saya mulai bisa mengerti dengan kata apa saya harus memanggil). Proposalnya insya allah minggu depan, sambil saya ajak main teman-teman saya sekelompok ke sini”

Bu Sherina namanya, ia memperkenalkan sebagai pengasuh pondok pesantren. Deal sudah ada. Saya memperkenalkan diri lebih jauh, tentang di mana saya tinggal, semester berapa jurusan apa, latar belakang keluarga saya, lalu apa yang saya lakukan dulu dan sekarang. Mengenai keluarga, ini penting saya jelaskan karena di pondok pesantren ini, Mbak Nur yang belakangan mengaku menjadi santri, curcol mengenai apa yang sebenarnya terjadi di antara keluarga kandungnya tersebut.

Bagian perkenalan deep intro, hal yang sangat intim ini menurut saya juga perlu untuk membentuk trust teman-teman waria ini kepada saya sebagai peneliti, untuk saya sendiri hal ini mengenyahkan rasa kikuk dan salah tingkah. Suasana menjadi lebih cair. Setelah dirasa cukup, saya pamit.

Yang Mahadosen

Barangkali kalimat ini terlalu berlebihan. Namun itu yang terjadi setelah observasi dan kami berusaha membuat interview guide. Konsultasi lima kali dan baru acc di hari kelima. Saya sendiri memutuskan, bagaimanapun keputusan dosen, terobos. Kampung Ramah Anak yang dulu kami ajukan ditolak maka argumentasi atas Pondok Pesantren Waria ini harus menang.

“Memang ada ponpes waria?”

“Iya Pak, di Bantul, perbatasan Kotagede. Lebih dekat ke Kotagede Pak”

“Apa yang unik selain ponpes ini seluruh santrinya waria? Ada data lain?”

“Ini satu-satunya Pondok Pesantren Waria di seluruh dunia, Pak. Data yang kami temukan dari studi literatur, mengatakan selalu ada kres antara waria atau kaum LGBT dan relijiusitas. Ini terjadi di belahan dunia manapun. Nah, ponpes yang di Jogja ini, menjadi unik karena ia menyatukan sisi gender dan agama. Ini pula yang mengantarkan beberapa peneliti dari George Washington University misalnya, datang ke Indonesia. Dan juga, kami menemukan kurang lebih lima penelitian tentang tafsir dan hukum syariah yang dilakukan mahasiswa pascasarjana UIN tentang fenomena ponpes ini. Kami tertarik menyelami lebih jauh,”

“Ok, go for it”

Rasa membuncah dirasakan teman-teman sekelompok. Karena setelah menyelami masyarakat ancient Tenganan-Pegringsingan Bali yang satu dua ibu-ibu yang usia 60-an tidak mengenakan pakaian bagian atas, usia muda kami yang penuh rasa penasaran akan lengkap menelusuri fenomena waria dan pondok pesantrennya di Jogja ini. This is the real traveling, dude!

Penelitian kami pada akhirnya berjudul, “Evaluasi Program Kajian di Pondok Pesantren Waria Al Fatah”, evaluasi model Context-Input-Process-Program metode fenomenologis. Kami mewawancara 1 ustadz, 1 ketua ponpes (pengasuh), dan 3 waria. Sedikit? Iya, duit kami mampunya segitu hehe.

The World of Waria

Di dunia internasional, kelompok LGBTI sempat digolongkan ke kelompok penyandang cacat mental, hingga tahun 1973 mereka telah keluar dari kategori tersebut. Asosiasi Psikiater Amerika memberi  teori baru bahwasannya perlu ada pendekatan lain dalam penelitian psikologi mengenai LGBTI, yaitu dengan menghapuskan homoseksualitas dari daftar resmi kekacauan jiwa dan emosional.

Konferensi internasional mengenai hak-hak LGBTI didengungkan di Yogyakarta setelah Montreal, notabene di negara yang berpopulasi muslim terbesar di seluruh dunia. Para ahli hukum HAM internasional berkumpul disini dari puluhan negara di dunia untuk membahas. Outputnya yaitu Yogyakarta Principles yang berisi 29 pasal mengenai hak pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Dokumen ini lalu disorot oleh dunia internasional sebagai kemajuan signifikan terhadap pembelaan hak-hak LGBTI pasca-konvensi Montreal. Pemerintah Indonesia sendiri tidak mengakui adanya Yogyakarta Principles. Yogyakarta Principles bersama dengan Deklarasi Montreal dijadikan sampel oleh PBB untuk selanjutnya mendengarkan maksud kaum LGBTI ini di seluruh dunia. Keduanya menjadi rujukan pula oleh beberapa negara yang meratifikasi dua konvensi ini.

Di Indonesia, perkembangan pembelaan hak-hal LGBT semakin hari semakin progresif dengan bercukulnya himpunan yang mewadahi. Organisasi atau komunitas yang menghimpun kalangan LGBT di Indonesia hingga saat ini berjumlah 119 (UNDP, 2008). Pergerakannya menjadi sangat masif sejak tahun 1960-an, tahun dimana studi gender atau feminisme lebih focus digemborkan di dunia internasional.

Gerakan membela hak-hak LGBT makin berkibar pula dengan adanya himpunan “gayA Nusantara”, LSM yang berdiri di Yogyakarta pada 1980-an yang menerbitkan buku serta majalah “Jaka”. Media-media di Indonesia juga semakin memblow-up mengenai homoseksualitas dan lesbian di era 80-an, melalui film serta pemberitaan.

Pesantren Waria Al Fatah, memiliki program rutin untuk 42 santrinya yang seluruhnya waria. Program-program tersebut diasuh oleh jajaran ustadz dan difasilitasi oleh LSM  feminis seperti PKBI. Diantaranya programnya ialah program kajian, yang detilnya yaitu latihan membaca Al-Quran serta sharing sebagai penguatan emosional dan capacity building.

Lalu, pelatihan salat lima waktu dan salat sunnah, lalu mujahadah yaitu zikir meliputi zikir ekonomi, zikir keluarga, dan zikir kesehatan. Pengajian umum dan pengajian keliling, serta wisata religi.

Pandangan penyebar agama di pesantren ini memiliki tafsir yang pada intinya “ramah kepada mereka yang menyandang LGBT”. Tak pelak, fenomena pesantren waria ini kontroversial di tengah masyarakat. Timbul pro dan kontra baik dari sudut pandang sosial, ekonomi, lebih lagi reliji. Tidak jarang keberadaan pesantren ini digerebek masyarakat karena dianggap sebagai sarang penyesatan agama.

Sejarah Waria

Dalam sejarah kehidupan manusia tidak ada arsip yang mencatat pada abad atau tahun berapakah waria ini muncul. Namun, dalam Suyana, sejarah bangsa Yunani tercatat adanya kaum waria pada abad ke XVII yaitu munculnya beberapa waria kelas elite seperti Raja Henry III dari Prancis, Abbe de Choicy Duta Besar Prancis di Siam, serta Gubernur New York tahun 1702, Lord Cornbury. Pada waktu itu para dukun pria di Turco-Mongol di Gurun Siberia kebanyakan memakai pakaian wanita.

Jika dilihat kembali dukun-dukun seperti itu dapat dijumpai di negara Malaysia, kepulauan Sulawesi, Patagona, kepulauan Aleut dan beberapa suku Indian di Amerika Serikat. Oman terkenal dengan xanith. Konon, xanith diperbolehkan untuk melindungi kaum perempuan dari berbagai bahaya dan pekerjaan sehari- hari.

“Menurut sejarah, di Oman pelacuran perempuan sangat jarang dan seandainya ada harganya sangat mahal, xanith kemudian beralih fungsi sebagai pelacur dengan harga yang terjangkau oleh kelas ekonomi bawah sekalipun. Busana yang dipakai xanith mengandung dua fungsi yaitu sebagai budaya dan sebagai daya tarik seksual ketika mereka berfungsi sebagai pelacur. Berbagai catatan tersebut, tidak jelas apakah mereka benar- benar kaum waria yang fenomena psikologisnya sebagai gejala transsexual atau sekedar gejala transvestet.” (Suyana, 2013: 40).

Di Indonesia, budaya waria memang tidak secara khusus seperti di Oman, Turco-Mongol, atau tempat- tempat lain (Nadia, 2005:53). Namun, bukan berarti kita tidak dapat menemukan fenomena kemunculan waria. Kita dapat melihat bagaimana makna kesenian warok yang ada di Ponorogo di Jawa Timur. Nah, para warok ini memiliki kesaktian yang luar biasa dan sangat kebal serta kuat. Dalam setiap warok dapat dipastikan memiliki gemblakan, gemblakan ialah laki-laki yang berumur 9-17 yang bertugas seperti pembantu rumah tangga pada era sekarang.

Namun, selain membantu membereskan keperluan rumah gemblakan ini juga bertugas membantu para warok dalam memenuhi kebutuhan seksual para warok. Ini dilakukan karena dalam mencapai ilmu yang tertinggi para warok dilarang untuk berhubungan intim dengan wanita, jadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan seksual para warok, pria lah yang digunakan dalam memuaskan hasrat nafsu para warok. Hal inilah yang menjadikan cikal bakal berkembangnya waria, karena para gemblakan yang di pelihara oleh para warok ini diperlakukan seperti wanita dan mendandani mereka seperti wanita pula.

Menurut Suyana (2013: 41) Di Kalimantan, Suku Dayak Ngaju mengenal pendeta perantara (medium-priest) yang mengenakan pakaian lawan jenis. Basir adalah seorang laki-laki, namun dalam segala hal dia berperilaku sebagai perempuan. Di Sulawesi suku Makasar juga terdapat fenomena serupa yaitu Bisu (laki-laki yang diberi tugas menjaga pusaka), dan seorang Bissu diharamkan mengenakan pakaian perempuan, dilarang berkomunikasi dan dilarang berhubungan badan dengan perempuan.

Hal ini dilakukan demi sakralitas pusaka-pusaka yang dijaganya, dengan demikian jelas bahwa waria bukanlah sebuah produk modernisasi. Budaya waria barangkali sama panjangnya dengan sejarah dan keberadaan kaum homoseksual. 

Pesantren Waria Al Fatah Jogja

Ponpes Waria lahir tanggal 8 Juli 2008 dan di prakarsai oleh Maryani (salah seorang waria dari Jogjakarta yang juga merupakan ketua IWAYO atau Ikatan Waria Yogyakarta 2010-2012). Berlatarkan pengalaman mengikuti kegiatan pengajian dalam jamaah Kyai H. Hamroli Harun, beliau mencetuskan ide untuk mendirikan Ponpes Waria yang kemudian diberi nama Ponpes Waria “Senin- Kamis Al-Fatah”.

Pada saat itu dari sekian banyak jamaah hadir, hanya Maryani yang merupakan satu-satunya waria. Namun itu tidak menjadi halangan buat Maryani untuk mencari ilmu di samping juga mayoritas jamaah tidak mempersoalkan ke-wariannya yang selama ini identik dengan dunia cebongan (pelacuran) dan perilaku menyimpang lainnya.

Beberapa saat setelah aktif mengikuti pengajian KH.Hamroemli Harun, Maryani yang kala itu masih tinggal di kampung Surakarsan, berinisiatif menggelar pengajan di rumahnya, dengan harapan dengan adanya pengajian tersebut dapat mengajak teman-teman warianya yang lain untuk ikut serta dalam pengajian itu, dan juga sebagai wujud pembuktian pada masyarakat bahwa waria tidak hanya semata-mata hidup dalam dunia pelacuran dan perilaku yang menyimpang lainya. Iya, profesi teman-teman waria disini adalah PSK, pengamen, pekerja salon, penata rias.

Pengajian waria lalu dibuka oleh Maryani yang dilakukan rutin setiap malam Rabu Pon untuk umum. Jamaah pengajian ini kurang lebih lima puluh orang, dua diantaranya adalah waria (hanya dua). Pengajian ini rutin apik, hingga gempa Jogja 2006 bulan Mei memberhentikan rutinitas ini. Banyak waria meninggal dunia, dan luka-luka.

Pasca-gempa, Bu Maryani kembali mengumpulkan teman-teman waria di rumahnya yang baru di Notoyudan untuk menggelar doa bersama. Acara ini dihadiri oleh waria dari berbagai kota di Jawa, diantaranya Surabaya, Semarang, Solo, Madiun dan Ponorogo dengan jumlah sekitar 30 orang. Gelar doa juga diikuti dengan kunjungan ke waria-waria lain sejumlah 43 orang yang menjadi korban bencana gempa untuk memberikan bantuan baik trauma healing maupun sembako.

Kurikulum Pondok Pesantren

Ponpes ini dahulunya diampu sekitar 34 ustadz yang didatangkan langsung oleh Pondok Pesantren di Yogyakarta. Pembelajarannya dimulai dari membaca Al-Qur’an, mulai iqra’, juz amma pada jam empat sore di hari Minggu. Diselangi salat magrib berjamaah, lalu ada kultum dari ustadz. Setelah itu, salat Isya’ dan wirid bersama. Kegiatan akhir adalah sharing bebas tentang apapun. Mulai dari fikih, akidah, bahkan masalah pribadi teman-teman. Sesi ini terbuka, melingkar. Siapapun bisa mendengar keluh kesah dan cerita yang dibagi. Diselingi canda tawa, lebih informal.

Ustadz dengan sabar menjawab serta menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, dengan menyebutkan ayat Al Quran dan hadits, terkadang ditambahan menurut pendapat ulama’ dalam buku tertentu. Pertanyaan yang diajukan teman-teman cukup filosofis. Sederhana, tetapi kompleks. Selengkapnya ada di detail berikut.

15676577_1685406961599909_54365805423493

Ustadz Alfan (Disamarkan)

Ustad Alfan adalah pemberi materi kajian di Pondok Pesantren Waria. Ustad Alfan berasal dari Medan dengan berlatar belakang sarjana dan melanjutkan kuliah S2 Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin di salah satu Universitas Islam di Yogyakarta. Usianya sekitar 30 tahunan.

Apa yang ia lakukan di pondok pesantren adalah bentuk sukarela yang tidak dihadiahi dengan uang. Tenaga dan waktu yang ia berikan selama ini adalah bentuk kepedulian seorang ustadz Alfan yang turut serta dalam memberdayakan waria. Motif ia melakukan volunteering ini adalah sebagai dedikasinya menjadi intelektual, untuk tidak hanya sekadar mengkritik keberadaan waria namun juga memberi jawaban konkret what’s next pada komunitas waria ini.

Pemikiran ustadz Alfan ini dapat dikatakan unik. Dedikasi beliau untuk Pondok Pesantren Waria Al Fatah secara tersirat merupakan bentuk pengakuan atau rekognisi beliau terhadap adanya gender waria atau priawan atau LGBT ini. Dengan latar belakang keilmuan beliau, beliau memiliki pijakan hadith dan kajian sufi intelektual pembaharuan Islam yang menjadi alasan kuat mengapa beliau berada di posisi yang sekarang.

Waria, adalah bentuk terjemah dari salah satu aktor yang didapat dari tafsir Al Quran surat An Nur ayat 31. Tafsir ini, menurut beliau adalah ayat terkuat mengapa waria itu berhak hidup. Beliau juga menyangkal konstruksi yang selama ini dipergunakan sebagai senjata ulama’ kepada masyarakat bahwa waria adalah pembelot nabi Luth.

“Ayat-ayat Al Quran itu bukan bahasa biasa. Ada makna yang terungkap, dan tidak semua yang tersurat disana itu memiliki arti yang sebenarnya. Bisa jadi, arti dalam Al Quran adalah pemaknaan yang lain, yaitu pemaknaan yang sifatnya filosofis.”

Kami juga menelisik bagaimana pemikiran Ustadz Arif tentang jilbab.

“Jilbab itu fashion saja. Anda harus tau sejarah atau asbabun nuzul mengapa perempuan menggunakan jilbab. Jilbab terdahulu sebenarnya dipakai oleh wanita Yahudi, utamanya jilbab panjang. Lalu sekarang disimbolkan di masyarakat bahwa wanita yang taat agama adalah mereka yang memakai jilbab atau yang menggunakan jilbab yang sangat panjang. Makna jilbab kan identitas jaman dulu. Dulu perempuan Arab rentan keamanan makanya menggunakan jilbab. Sekarang, di Indonesia perempuan boleh saja bebas tidak mengenak jilbab, karena keamanan perempuan juga terjaga. Yang harus menundukkan kepala dan menjaga pandangan itu tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki.”

Ustadz ini mengatakan pada saya dan Thia, “Mbak-mbak ini kan pake jilbab karena fesyen kan?”

That time. That time. That, time.

Saya dan Thia diem aja. Membiarkan beliau memaparkan lebih jauh. Kalimat-kalimat yang beliau ucapkan membuat saya ingin cepat pulang dan membaca kajian tafsir ilmiah tentang persoalan ini. Tafsir mufassir yang berbeda-beda. Traveling ke Ponpes waria membuat saya menulis to-do banyak. Ilmu yang cetek ini harus banyak sekali di-upgrade. Sadar diri umur dua puluh itu harusnya ilmunya udah 20.0. 

“Islam itu sederhana. Islam itu menjembatani semua kalangan, termasuk sinkretisme budaya. Islam itu inklusif untuk siapa saja. Namun sayangnya pemikiran ini dijauhi kalangan Islam fundamentalis. Kalangan mereka hanya mengkritik tapi tidak memberi solusi konkret. Ada sesungguhnya kalangan Islam yang lebih dekat dengan budaya.”

Bu Sherina, The Intellectual One

Bu Sherina selaku Ketua Pondok Pesantren Al-Fatah ialah alumnus Fakultas Biologi UGM tahun 80-an. Bu Sherina ketika merasakan ada keganjalan dalam dirinya dimulai dari ia kelas 5 SD, pada saat itu ia sudah bermain dengan anak perempuan ketimbang anak laki-laki dan dalam kehidupan sehari-hari, Bu Sherina lebih menyukai memakai rok daripada celana. Lalu sejak ia SMP perasaan untuk berpindah menjadi perempuan semakin membesar bu Sherina mulai memakai lipGloss di bibirnya dan selalu berkelompokkan dengan anak perempuan.

“Dulu waktu SMP ibu udah mulai pake LipGloss kalo ke sekolah, terus kalo ada kelompokkan olahraga ibu udah dikelompokkin ke kelompok anak perempuan sama guru”

Di kehidupan sehari-hari ibu Sherina yang memiliki nama asli Tri Santoso pernah memiliki suami yang bertahan sampai 15 tahun lamanya. Suami dari bu Sherina ini telah menikah lagi dengan perempuan tulen. Menurut bu Sherina pernikahan waria itu sama halnya dengan pernikahan orang biasa tetapi tidak di catat KUA atau dengan kata lain menikah siri. Waria yang menikah tetap merayakannya, tetapi hanya memanggil tetangga dan keluarga terdekat.

“Waria itu ada dua macam, ada yang suka berumah tangga ada juga yang suka menyendiri mbak, kalo saya dulu pernah menikah dengan seorang lelaki tapi sekarang udah berpisah, tapi kami masih berhubungan baik kok”

Pengetahuan beliau tentang dunia waria dan studi gender juga luas. Ia bisa bicara Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre. Di FISIPOL, untuk belajar ini setidaknya kalau mau formil dikaji 3 sks. Lihai bicara mengenai corssdress, queery, dan definisi serta peran tokoh-tokoh nasional dan internasional dalam percaturan dunia LGBT.

Mbak YS yang Penuh Rasa Penasaran

Yuni Shara, nama bekennya ialah Mbak YS. Seorang waria yang berasal dari Bekasi dan bertempat tinggal di Gamping Yogyakarta. Waria ini berumur 29 tahun. Dia selalu menggunakan pakaian feminim. Dia secara fisik ada yang di rubah dengan menambahkan payudara. Dia sehari-hari bekerja di lsm-lsm yang tidak mau disebutkan olehnya. Dia sudah menjadi santri 2010.

Dia juga bercerita bagaimana dia memutuskan untuk menjadi waria, dia pada awalnya sudah merasa aneh dengan dirinya, masa kecil dia merasa berbeda dengan dengan anak laki-laki lainnya. Dia cenderung lebih suka berpakaian wanitai, menggunakan rok, dress, dan cenderung bermain boneka. Pernah juga waktu kecil dia dibelikan mainan truk plastik, dengan tegas di melempar mainan itu dan menangis ingin dibelikan boneka.

Lalu hal ini menjadi-jadi ketika dia memasuki jenjang sekolah menengah pertama. Dia pada awal tetap mengikuti aturan sekolah dengan menggunakan seragam laki-laki. Namun, setelah menginjak kelas 2 SMP, dan setelah itu dia ingin menggunakan seragam wanita, namun pihak sekolah tidak bisa mengizinkan lalu pada akhirnya dia keluar dari sekolah. Namun, dia akui jika dia khitan.  Terkadang dia juga mengamen untuk mencari uang. Lalu sedikit bercerita tentang ponpes, dia bercerita bahwa bulan Januari 2016 kemaren terjadi penggerebekan ponpes oleh FJI (front Jihad Islam).

Salah satu pertanyaan beliau di kajian,

“Ustadz, saya tuh suka mikir. Kan ada jutaan manusia di dunia ini. Apakah malaikat pencabut nyawa jumlahnya juga jutaan? Kan capek kalo malaikatnya cuma satu”.

Lalu,

“Ustadz, saya kemarin salat tahajud terus nangis kan. Air matanya jatuh ke sajadah. Itu boleh nggak? Atau najis?”

Mbak YS juga menuturkan kalau ingin sungguh-sungguh menjadi santri di Pondok Pesantren “beneran”.

“Saya tuh pengeeen banget nyantren yang beneran. Tapi ya emang ada yang mau nerima saya selain Al Fatah ini? Kan saya beda. Saya juga nggak punya banyak duit”.

15675603_1685408714933067_64578081875539

Mbak Ririn dan Suami?

Mbak Ririn (54 tahun), yang sempat berkuliah selama 3 tahun di Teknik Sipil, Fakultas Teknik, IKIP Yogyakarta. Dulunya, ia bersekolah di teknik bangunan STM di Yogyakarta. Ia bertempat tinggal di Badran, Kota Yogyakarta dan merupakan penduduk Kota Yogyakarta sejak lahir.

Mbak Ririn memiliki rambut asli pendek ikal, kulit sawo matang dan leher agak melingkar menandakan kesuburan. Waktu penulis melakukan wawancara, ia memakai wig yang modelnya seperti Dora The Explorer, cepak, lurus rapi, berwarna hitam dengan segelintir cokelat keemasan. Jika pertama kali melihat, acapkali orang menaksirnya berusia 30 hingga 40 tahun. Padahal, sudah lebih dari masa golden year.

Mbak Ririn memilih tidak melanjutkan kuliah, setelah ada kecamuk dalam dirinya untuk berpindah diri menjadi perempuan. Dengan bekal rembugan dengan orangtua, ia yang merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara memutuskan untuk menentukan hidup yang ia pilih sendiri tersebut, dengan pertimbangan yang matang.

Setelah pergulatan “ingin menjadi” tersebut dia alami di kelas 5 SD, maka dengan bulat di usia 20 tahun ia keluar dari bangku kuliah. Keluarganya mengatakan tidak melarang maupun tidak begitu menyetujui keputusan Mbak Ririn tersebut. “Kamu sudah berhak menentukan hidupmu sendiri”. 

Di masa sekolah dasar hingga STM, ia kerapkali menjuarai lomba yang berhubungan dengan kerajinan tangan. Di antaranya lomba memasak tingkat SD se-DIY, lomba membuat kerajinan flannel, lomba menjahit dan aneka handicraft. Beberapa bulan yang lalu, ia menjuarai pula lomba fashion show  waria se-DIY. 

Pascakeluar, ia memilih kursus di tiga keahlian diantaranya kursus tata rambut, tata rias dan menjahit. Dengan passion yang dimiliki, Mbak Ririn mulai mengembangkan diri secara professional dengan membuka salon kecantikan. Namun tidak bertahan lama, usaha tersebut tutup. Kini, Mbak Ririn memilih menjadi tata rias keliling yang on call sesuai kebutuhan pelanggan.

Di kehidupan pribadi, ia beberapa tahun yang lalu menjalin hubungan dengan seorang pria yang ia kenal selama 7 tahun lamanya. Mereka bersahabat baik.

“Orang bukan aku loh Mbak yang ngajak dia tinggal bareng di rumah. Dia yang awalnya suka sama aku. Kalo aku ke dia seneng”

“Bedanya suka sama seneng itu apa Mbak?”

“Seneng itu ya seneng mbak, seneng semua yang ada pada seseorang. Jadi nggak kayak cinta gitu, yang pakai perasaan. Gitu deh. Nah, jadi dia itu karena suka sama aku, ya aku tantangin buat ketemu bapak sama ibuku di rumah. Akhirnya dia dateng ke rumah. Dia minta aku ke orangtua dan keluargaku baik-baik. Dia mau menafkahiku lahir dan batin. Ya gitulah nggak usah diperjelas lagi apa maknanya semua juga sudah tau. Jadi nggak kayak waria lain. Biasanya waria lainnya itukan kalau seneng sama cowok, cowoknya yang dibawa tingal bareng di rumah. Waria yang nafkahin. Waria yang ngasih rokok. Cowoknya nggak kerja dan meres waria gitu. Nah, aku kan beda. Kan aku yang disukain, aku dinafkahi juga”

“Jadi hidup bareng, Mbak?”

“Iya dong. Kita sekamar berdua. Waktu habis kumpul keluarga, dia langsung tak urusin surat izin tinggal ke Pak RT pake KTP. Biar semuanya jelas, dan nggak ada masalah apa-apa kok buktinya. Terus dia punya istri, punya anak sebenarnya. Tapi nggak tau deh, dia bilang cinta kok sama aku. Sekarang putus, aku sempat patah hati. Dia balikan ama istrinya lagi.”

Mbak Ririn menjadi santri sejak Ponpes Al Fatah pindah dari Notoyudan ke Jagalan. Mbak Ririn merasa Ponpes Al Fatah menjadi lebih nyaman sejak dipindah ke daerah Jagalan, Banguntapan Bantul. Alasan di antaranya adalah sikap masyarakat sekitar yang ramah dan toleran terhadap kehidupan pesantren di Jagalan. Di Jagalan sendiri, sesungguhnya pesantren Waria ini berdiri di rumah Bu Shinta, yang notabene penduduk asli dan bangunannyapun warisan keluarga yang ada sejak tahun 1800-an.

Unbeatable Traveling

Kami sekelompok terhitung lima kali pergi ke Pondok Pesantren ini, rata-rata dari sore hingga malam sehingga kami beberapa kali merasakan ibadah bersama teman-teman waria. Makan snack bersama, lalu ngaji bersama. Tentunya, ketika saya salat, saya memakai mukenah milik teman-teman waria.

Salat di pesantren ini bebas. Ustadz sendiri membebaskan teman-teman mau menggunakan sarung ataukah mukenah. Ustadz sendiri menjadi imam. Iqamah dikumandangkan oleh Martin, peneliti dari FISIPOL UGM, dari Washington yang tengah berkunjung di ponpes kala itu. Lalu diikuti saf teman-teman waria yang menjadikan dirinya laki-laki saat salat, serta ditutup barisan perempuan (saya dkk) serta teman-teman waria yang menjadikan dirinya perempuan.

15626099_1685408488266423_81550569239685

Bacaan Ustadz merdu tartil. Ia memilih surat-surat yang agak panjang seperti potongan Surat Al Baqarah, lalu Surat Ar-Rahman. Hanya beberapa kali saja ada surat pendek. Setelah salat, dilanjutkan wirid jamaah dengan suara yang dilontarkan keras-keras. Saya pernah membaca artikel koran waktu SMA, bahwa di Pondok Pesantren yang mewadahi para napi narkoba di Jawa Barat, terdapat hal serupa (zikir keras-keras), itu dimaksudkan untuk purifikasi diri, bentuk pengakuan kesalahan, penyesalan, dan upaya perbaikan diri. Di ponpes ini demikian pula adanya. 

Sewaktu kami pamit, Bu Sherina sempat mengatakan pada saya,

“Mbak Nurist main-main lah ke sini, ajarin kami ngaji yang bener”

Nurist hanya tersenyum. Saja.

Waktu penelitian ke Ponpes Waria, saya genap dua puluh tahun. Haha. What an age. Di usia ke-dua puluh, ternyata saya telah sujud bersama teman-teman waria. Ketar-ketir sih, saya masih tidak percaya terkadang saya salat di samping laki-laki misalnya? Setelah salaman pasca-salat, saya terburu berdoa lalu pergi. Saya merasa batal wudhu.

Pelajaran lain, Nurist jadi lebih mengerti alur hidup orang. Bagaimana efek anak-anak dan lingkungan, serta bacaan menjadi hal yang lumayan berpengaruh terhadap keputusan seseorang. Hmm. 

720 Views