selasar-loader

Sex Education: No Longer about Attitude!

LINE it!
faradiba maharani
faradiba maharani
Koordinator Litbang Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2017
Journal Feb 9, 2018

dSjLxgjwBLhPz5-RwU6RqLN3AcTkzkV2.jpg

Semakin meningkatnya angka remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah setiap tahunnya telah menjadi hal umum yang diketahui bersama. Menurut laporan penelitian Riset Strategi Nasional Kesehatan Remaja yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 2005 menyebutkan 5,3 persen pelajar SMA di Jakarta pernah berhubungan seks. Data lain yang semakin menguatkan bahwa terjadinya peningkatan angka terjadinya seks pranikah berasal dari Survei yang dilakukan BKKBN tahun 2008 menyebut 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pranikah.

Tidak hanya sampai di situ, hasil penelitian terbaru pada tahun 2016 dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan sebanyak 58 persen remaja putri yang hamil di luar nikah berupaya menggugurkan kandungannya alias memilih melakukan aborsi.

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Tentu banyak faktor yang berperan. Di antaranya adalah kemudahan akses informasi dan tekanan lingkungan. Kemudahan akses internet terhadap konten pornografi, baik dalam bentuk video, foto, atau teks ditambah adanya dorongan dari lingkungan sebaya untuk mengakses konten tersebut, atau merealisasikannya.

Salah satu tekanan lingkungan yang sering kita dengar adalah “Masa pacaran gak pernah ngapa-ngapain?” atau pemikiran bahwa perawan adalah hal yang kuno. Menurut pendapat dari dr. Boy Abidin, SpOG dalam Kompas (2010) menyebutkan bahwa mayoritas remaja percaya bahwa melakukan hubungan seks hanya satu kali tidak akan menyebabkan kehamilan, padahal faktanya tidak demikian.

Penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti (2007) tentang pengaruh pendidikan seks terhadap perilaku seks pranikah menunjukkan bahwa pendidikan seks sebaiknya diberikan sedini mungkin. Hal ini disebabkan oleh semakin meningkatnya usia, remaja cenderung memiliki faktor eksternal seperti pacar.

Pacar? Apa perannya dalam hal ini? Beberapa alasan lain terjadinya hubungan seks pranikah adalah sebagai bukti cinta, dijanjikan akan menikah, hingga takut diputuskan oleh pacar. Nahasnya, alasan-alasan yang telah disebutkan di atas tidak dibarengi oleh pengetahuan mereka tentang efek beruntun, efek buruk tentunya, dari seks pranikah.

k3YgRky5zXxTgqHzbsjTX-Sn9iNnXhrH.jpg

Edukasi tentang pendidikan seks di siswi SMP Se-Solo Raya

Efek seks pranikah yang paling sering terjadi adalah kehamilan dan aborsi. Aborsi tentu proses yang sulit untuk ditempuh remaja putri yang mengalami kehamilan diluar nikah, hal ini membahayakan keselamatan jiwa mereka dan tentu berefek pada masalah psikis seperti rasa bersalah yang terus menerus.

Ditambah lagi, mereka belum tentu melakukan aborsi dengan fasilitas yang baik atau dengan tenaga medis kesehatan yang mengetahui langkah prosedur yang aman untuk keselamatan jiwa mereka. Mereka memilih menuju pengobatan tradisional seperti minum jamu, dipijat, dimasukkan benda tertentu ke vagina mereka dengan harapan bayi itu akan gugur dengan sendirinya.

Risiko akan semakin meningkat ketika melakukan aborsi seiring pertambahan usia kehamilan. Aborsi pada trimester pertama tentunya lebih tidak berisiko daripada dilakukan pada trimester berikutnya. Tetapi, banyak remaja putri yang bahkan belum mengetahui tanda-tanda awal kehamilan sehingga melakukan aborsi pada usia kehamilan di atas trimester pertama. Walau belum ada data penelitian yang mendukung pernyataan di atas.

Melakukan aborsi tanpa bantuan tenaga medis juga menyebabkan remaja putri tidak mendapatkan perawatan pascaaborsi seperti yang didapatkan wanita lain yang melakukan aborsi dengan indikasi medis.

Meneruskan kehamilan pun berefek pada kualitas kesehatan ibu dan janin. Usia yang masih muda, mendapat isolasi dari lingkungan, dan amarah orangtua tentu menyebabkan sedikitnya informasi tentang kehamilan yang didapatkan oleh remaja putri.

Kondisi kejiwaan yang belum siap juga menjadikan kehamilan pada usia remaja menjadi kehamilan berisiko. Asupan gizi yang tidak cukup memicu timbulnya anemia pada kehamilan, tidak optimalnya perkembangan otak janin dan bagian tubuh lain,  dan kelahiran bayi dengan berat rendah (BBLR) yaitu di bawah 2.500 gram. Hal ini tentunya berpengaruh pada tumbuh kembang bayi tersebut pascakelahiran.

Efek seks pranikah, utamanya dibawah usia 20 tahun, menyebabkan meningkatnya risiko tertularnya sexual transmitted disease seperti infeksi Human Papilloma Virus (HPV), Human Immunodeficiency Virus (HIV), Sifilis, Gonorhea, dan juga meningkatkan risiko terkena kanker serviks.

Selama ini, pendidikan seks dilakukan di beberapa sekolah tanpa dimasukkan unsur seksualitas untuk membantu mereka memahami risiko dari sikap seksual mereka dan diajarkan untuk mengambil keputusan secara tepat. Memberikan pendidikan seks bukan berarti mengajarkan tentang hubungan seks, namun mengajarkan tentang tahapan perkembangan dan perubahan fungsi organ seksual dengan memasukkan nilai agama dan norma sosial yang berlaku.

Yang tidak boleh luput diberikan juga tentang risiko dari sikap seksual yang mereka lakukan seperti yang telah teteh jabarkan di atas. Semakin dini diberikan, semakin banyak informasi yang mereka dapatkan, diharapkan mencegah mereka untuk menjadi korban pelecehan seksual atau melakukan hubungan seksual pranikah.

Seks jangan lagi dijadikan hal yang tabu.  Raise the awareness, Spread the Information, Stop the Bad Effect.

Yuk, saling bantu untuk menyampaikan informasi ini!

254 Views
Sponsored

Author Overview


faradiba maharani
Koordinator Litbang Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2017