selasar-loader

Revitalisasi Pancasila: Sebuah Refleksi Bangsa

LINE it!
Usep Taryana
Usep Taryana
USEP TARYANA_HUKUM_UNIVERSITAS SEBELAS MARET_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA
Journal Feb 7, 2018

sloY8KuIfu-6TwFWOfjzfUnw69Pjslav.jpg

Dalam pidatonya yang berjudul ‘To Build The World a New’ yang disampaikan dalam Sidang Umum PBB ke-XV tanggal 30 September 1960, Bung Karno dengan semangatnya yang berapi-api menawarkan suatu gagasan dalam upaya membangun tatanan dunia kembali, yang memang pada saat itu tengah hancur oleh maraknya imperialisme dan kolonialisme.

Gagasan yang saat itu ditawarkan  Bung Karno ialah dengan menjadikan Pancasila sebagai sebuah ideologi yang universal. Menurutnya, Pancasila dapat menjadi pedoman praktis bagi bangsa-bangsa yang ingin membangun kembali sebuah peradaban baru yang lebih baik.

Sebuah pelajaran berharga yang disampaikan oleh Bung Karno tentang Pancasila itu tentu saja membuat kita kembali bertanya, apa itu Pancasila? Dan seberapa hebatkah Pancasila itu sehingga diakui kesaktiannya oleh dunia?

Mencoba Memahami Pancasila

Secara etimologis, istilah Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yang menurut Muh. Yamin, dalam struktur katanya itu sendiri memiliki dua macam arti secara leksikal, yakni: Panca yang berarti lima, dan Sila yang berarti sendi, alas, dasar, dan/atau peraturan tingkah laku yang baik. Dengan kata lain, Pancasila ialah lima dasar pokok yang menjadi pedoman bangsa.

Adapun secara garis besar, kelima nilai itu ialah nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Kelimanya merupakan suatu kesatuan yang utuh, bulat, dan saling menjiwai serta mendasari antarkelima nilai tersebut sehingga nilai-nilai dalam Pancasila itu tidak dapat dipisahkan.

Pancasila merupakan pandangan hidup, pedoman hidup, dan petunjuk hidup yang terarah bagi semua aktivitas di segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan munculnya suatu paradigma bahwasanya masyarakat itu sendiri memiliki kewajiban untuk dapat memahami secara mendalam mengenai Pancasila apabila ditinjau dari latar belakang histroris dan konseptual penciptaannya.

Mengapa demikian? Perlu disadari bersama bahwa pada hakIkatnya, Pancasila digali dari nilai-nilai yang hidup di bumi Indonesia yang kemudian dikristalkan menjadi suatu philosofische grondslag (dasar filosofi) dan/atau weltanschauung (pandangan hidup).

Pancasila lahir dari hasil kesepakatan bangsa yang memiliki legalitas dan kebenaran yang secara nyata dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya yang majemuk. Sebagai contoh, misalnya dalam masyarakat Jawa dikenal istilah Tepo Seliro (tenggang rasa) dan gotong-royong (berat ringan ditanggung bersama) yang menunjukan adanya proses yang humanis (perikemanusiaan), misal lain, di masyarakat Bolang Mongondow ada istilah Na’buah Pinayung (tetap bersatu dan rukun) yang menunjukan adanya konsep nasionalistis (persatuan).

Nilai-nilai itu selanjutnya menjadi karakteristik Pancasila yang keberadaannya telah diakui sampai saat ini dan menjadi pembeda dengan ideologi lainnya. Dengan demikian, Pancasila haruslah dipahami sebagai spirit dan jiwa yang dapat menjadi sumber inspirasi, pendorong, pengendali, dan juga kerangka berpikir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah yang harus dipahami dari sebuah ideologi bernama Pancasila.

Meskipun secara konseptual Pancasila dapat diakui sebagai mahakarya yang sempurna, bukan berarti dalam perjalanannya tidak menemui kendala. Ada banyak sekali permasalahan yang timbul yang kemudian mengancam eksistensi falsafah bangsa tersebut. Apa sajakah itu?

Sekelumit Masalah dalam Perjalanan Pancasila

“Pancasila seolah hilang dari kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dibahas, dan apalagi diterapkan, baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi, justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik,”  kalimat yang pernah disampaikan oleh B.J Habibie dalam acara peringatan Hari Lahirnya Pancasila itu seolah-olah menggambarkan kondisi Pancasila saat ini. Pancasila yang sejatinya diharapkan untuk dapat hidup dan bergerak dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kini seperti mulai terlupakan. Ada banyak masyarakat, dengan lapisan sosial yang berbeda, yang mulai melupakan Pancasila.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Depok pada tahun 2012 saja misalnya, tercatat sebanyak 70% pelajar Depok tidak hapal dan mengetahui Pancasila. Survei ini dilakukan terhadap 100 responden yang berasal dari SD-SMA yang berbeda di Kota Depok.

Survei yang sama juga dilakukan kepada mahasiswa di perguruan tinggi di Jawa Barat, yakni sebanyak 40% mahasiswa mengaku tidak memahami dan hapal Pancasila. Meskipun tidak mewakili seluruhnya, seyogyanya dua bukti empirik tersebut menjadi gambaran krisisnya generasi muda dalam mengenal dan memaknai Pancasila.

Kondisi memprihatinkan di atas juga terjadi bukan hanya pada mereka yang masih berstatus sebagai pelajar, namun juga pada mereka yang telah memiliki pangkat, gelar, dan penghargaan kehormatan lainnya. Bahkan, kejadian yang memalukan pernah terjadi ketika Komisi III DPR-RI melakukan fit & proper test terhadap seorang calon hakim Mahkamah Konstitusi (MK).

Ketika diminta untuk menyebutkan bunyi pancasila, calon hakim yang bertugas untuk menguji undang-undang itu salah dalam menyebutkan bunyi dari sila kedua dan keempat. Padahal, sebagai calon hakim konstitusi, bukan saja harus hapal tiap sila-nya, namun makna filosofis dari masing-masing sila dalam Pancasila itu juga harus paham. Oleh karena Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum yang ada.

Sebagian kecil kasus yang terjadi yang berkaitan dengan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap Pancasila seperti di atas, tentu saja menjadi ironi yang membuat kita kembali bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Pancasila seolah ‘lenyap’ dari kehidupan masyarakatnya?  Dalam hal ini, B.J Habibie pernah memaparkan dua alasan utama yang menyebabkan pancasila berada dalam kondisi ‘kritis’ seperti itu.

Pertama, karena situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah, baik di tingkat domestik, regional, maupun global. Situasi kehidupan bangsa pada tahun 1945 telah mengalami perubahan yang nyata pada saat ini. Adapun bentuk perubahan itu, seperti misalnya: terjadinya proses globalisasi, berkembangnya gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbangi dengan kewajiban HAM-nya, dan juga lonjakan pemanfaatan informasi yang tidak didukung dengan filterisasi yang baik.

Perubahan-perubahan itu menyebabkan  terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, yang kemudian dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Kedua, euforia Reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Tidak dapat dipungkiri bahwa di masa lalu, katakanlah masa Orde Baru, memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur, dan masif, yang tidak jarang dijadikan sebagai senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tidak sepaham dengan pemerintah sebagai ‘Anti-Pancasila’.

Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, muncullah suatu demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila sebagai simbol, ikon, dan instrumen politik zaman Orde Baru tersebut. Pada akhirnya, Pancasila ikut dipersalahkan karena menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolistik yang kemudian membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Kedua alasan di atas menjadi cermin yang memantulkan kesalahan berpikir masyarakat Indonesia dalam memandang hakikat Pancasila. Pancasila yang terbentuk sebagai sebuah konsensus bangsa, sejatinya tidaklah diperuntukkan dan dimiliki oleh suatu rezim yang berkuasa pada periode tertentu.

Bukan juga representasi sekelompok orang, golongan, maupun orde tertentu. Pancasila merupakan dasar yang menjadi pilar penyangga bagi bangsa Indonesia. Dengan kata lain, sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan tetap menyertai perjalanannya.

Dengan mencermati hakikat Pancasila bagi terciptanya Indonesia yang kuat, sekaligus untuk mengembalikan eksistensinya yang mulai ‘terlupakan’, sudah selayaknya diperlukan suatu pengejawantahan nilai-nilainya yang lebih konkret dalam kehidupan bermasyarakat, yakni melalui Revitalisasi Pancasila.

Dengan begitu, Pancasila nantinya akan kembali menjadi living ideology dan working ideology yang dapat menjamin dan menuntun terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia, yakni Indonesia yang adil, makmur, cerdas, dan sejahtera.

Memaknai Revitalisasi Pancasila dan Perwujudannya

Upaya revitalisasi atau menghidupkan kembali Pancasila merupakan suatu idiom untuk memberdayakan ideologi dan/atau falsafah bangsa tersebut yang dinilai perlu untuk dilakukan. Ini dapat dijadikan dasar dalam upaya mengatasi krisis dan disintegrasi yang mulai menggerus sendi-sendi kehidupan di masyarakat.

Dengan merevitalisasi Pancasila, diharapkan masyarakat mampu mengenal dan memaknai Pancasila, bukan hanya sebagai sebuah simbol, melainkan sebuah nilai yang memiliki substansi untuk mengatur kehidupan masyarakatnya. Pancasila haruslah dianggap sebagai sebuah entitas yang menampung apa saja yang ideal dan senantiasa sebagai suatu sumber segala kebenaran. Sehingga, hakikat Pancasila sebagai ideologi yang ‘sakti’, dapat menampilkan taring kesaktiannya itu sepanjang zaman.

Dalam upaya merevitalisasi Pancasila, penjabarannya dapat dilakukan melalui dua tingkatan, yakni pada tataran ide dan tataran praktis. Dalam tataran ide, yang paling penting adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada ajaran yang ditawarkan Pancasila. Seperti misalnya, dengan menumbuhkan kembali semangat dan sikap gotong royong, tenggang rasa, dan membudayakan pola musyawarah. Mekanisme ini bisa mempengaruhi masyarakat untuk membuang sikap apatisnya terhadap Pancasila.

Sementara itu, dalam tataran praktis, utamanya menyangkut relasi penyelenggaraan negara dengan masyarakat, karena revitalisasi ini dapat dimulai, ketika adanya optimisme publik terhadap pemerintahannya. Sebagai contoh, misalnya dengan membuat suatu kebijakan dan/atau peraturan perundang-undangan yang secara legalitas dan konseptual senapas dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila akan tumbuh kembali.

Kenyataan bahwa mayoritas masyarakat indonesia masih ingin bertahan dengan Pancasila di tengah himpitan persoalan separatisme berbagai golongan serta proyeksi masa depan untuk berganti haluan, tentunya harus menjadi sikap teladan yang dipikirkan seluruh umat. 

Maka merevitalisasi Pancasila dalam sendi-sendi kehidupan perlu dijadikan sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan sebagai pilihan yang mudah diabaikan. Pancasila harus tetap menjadi bukti otentik peradaban bangsa Indonesia yang diterjemahkan melalui pengamalan secara nyata dalam setiap ruang kehidupan masyarakatnya. Mutlak.

Sumber gambar: https://www.berita168.com/lsi-denny-ja-728-umat-muslim-indonesia-pilih-demokrasi-pancasila/

147 Views
Sponsored

Author Overview


Usep Taryana
USEP TARYANA_HUKUM_UNIVERSITAS SEBELAS MARET_CALON PENDAFTAR SELEKSI BAKTI NUSA

Top Answers


Kontribusi apa yang bisa kamu berikan kepada Bangsa dan Negara ini? (sekarang dan yang akan datang)
7 months ago