selasar-loader

Tes Psikologi, Bolehkah Dipublikasi?

LINE it!
Rahmat Haqqi
Rahmat Haqqi
Mahasiswa Psikologi Unpad
Journal Feb 6, 2018

Mo8LPA8yluwKFVeeOSaNNIiN0GGox715.jpg

Baru-baru ini kita cukup dikagetkan dengan tersebarnya alat tes Roschach di “Line today”, bahkan bukan hanya alat tesnya saja yang tersebar tetapi sampai hasil interpretasi “abal-abal”. Menapa saya bilang “abal-abal”? Karena interpretasinya sudah hampir saya pastikan, hampir SALAH 100%. Di sana sangat terlihat bahwa hasil interpretasinya tidak mengikuti dan tidak sesuai dengan prosedur yang pernah saya ketahui. Karena untuk melakukan interpretasi sebuah alat tes psikologi, tidak semudah itu, melainkan perlu melalui sekolah kurang lebih 6 tahun (sarjana 4 tahun + megister profesi 2 tahun) dan memiliki prosedur yang cukup panjang dan pastinya tidak boleh diinterpretasikan oleh sembarang orang.

Lalu bagaimana kalau hasil interpretasi yang ada di “Line today” adalah dari seorang psikolog? Dalam setiap profesi pasti memiliki sebuah aturan yang mengatur kegiatan berprofesi mereka, yang biasa disebut “Kode Etik”. Hal tersebut tidak terlepas dari profesi psikologi. Berdasarkan kode etik psikologi pasal 12, disebutkan bahwa ilmuan psikologi/psikolog harus menjaga kerahasiaan data dalah hal ini termasuk alat tes jadi apabila yang menyebarkan alat tes beserta interpretasinya adalah seorang psikolog, sudah hampir dipastikan melanggar kode etik psikologi dan sanksi terberatnya adalah pencabutan izin praktik psikolognya.

Kemudian, apa sanksi yang diberikan kalau bukan ilmuan psikologi/psikolog yang menyebarluaskannya? Hal ini yang masih menjadi titik lemah profesi psikologi, karena dasar hukum hanya kode etik psikologi sehingga hanya mengikat dalam internal profesiny,  tidak dapat mengikat di luar profesi. Kalau kita mencontoh profesi lain, seperti dokter, mereka sudah memiliki Undang-Undang tentang profesi kedokteran, yaitu Undang-Undang No 29 Tahun 2004 Tentang Profesi Dokter, sehingga dapat mengikat orang lain dari profesi dokter bahkan sanksinya sendiri bisa dikenakan hukum pidana.

Maka dari itu, saya menawarkan solusi untuk permasalahan ini:

1. Himpsi segera mengusut kasus penyebarluasan alat tes dan apabila pelakunya adalah seseorang yang berprofesi sebagai psikolog dapat di kenai sanksi tegas agar tidak terulang lagi

2. DPR segera menyelesaikan dan mengesahkan RUU Profesi Psikologi agar apabila terdapat orang di luar profesi psikologi yang melakukan penyebarluasan alat tes dapat dikenai sanksi pidana.

3. Sebagai mahasiswa psikologi, mari kita propagandakan bahwa SEMUA alat tes yang tersebar di internet/media sosial itu adalah hal yang salah dan hasil interpretasinya pun sudah hampir dipastikan salah.

Kasus penyebarluasan alat tes sendiri bukan hal yang baru, terutama dengan semakin melesatnya laju penggunaan alat komunikasi dan internet. Akan tetapi, semoga hal ini semoga menjadi yang terakhir dan kita sebagai mahasiswa psikologi sudah sebaiknya membantu mencegah hal ini terjadi.

 

Referensi:

1. https://timeline.line.me/post/_dd7yML7PHou0l_Lt5tdSChYx8udshK5WPgEqDU4/1150738481510012922
2. http://ilmpi.org/ruu-keprofesian-psikologi-urgensi-dan-peran-strategis-profesi-psikologi-di-indonesia/
3. http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol12079/banyak-penyimpangan-profesi-psikolog-himpsi-akan-ajukan-ruu-psikologi
4. https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU29-2004PraktikKedokteran.pdf
5. Kode Etik Psikologi Indonesia

 

Ilustrasi via pixabay.com

249 Views