selasar-loader

Inovasi Digital terhadap Kelistrikan

LINE it!
Muhamad Reza, PhD
Muhamad Reza, PhD
Expert in Energy Technology & Business Development
Journal Jan 16, 2018

-SHSJXzbgI2kWEiR8DuOu7WN7aP53MzL.jpg

Pembicaraan tentang dunia digital hari ini merebak di mana-mana. Saking luasnya pembicaraan ini, kita lupa mengenai satu teknologi yang sebenarnya menopang hidup kita sehari-hari, termasuk dunia digital itu sendiri, yaitu listrik. Listrik memang sudah sangat menubuh dalam keseharian kita. Kehidupan tanpa listrik, hari ini, pasti dianggap sebagai kehidupan yang sangat ganjil.

Agak sulit untuk melacak siapa yang menemukan tenaga listrik untuk pertama kalinya. Di antara literatur ada yang mengatakan bahwa listrik ditemukan oleh William Gilbert di abad ke-17 yang kemudian diteruskan secara intensif oleh Benjamin Franklin pada abad ke-18. Namun ada juga referensi yang menyebutkan bahwa sudah sejak berabad-abad sebelum masehi, orang-orang Mesir mengenali fenomena “ikan listrik” yang mempunyai kemampuan menyetrum ketika disentuh. Ikan listrik tersebut kemudian dijuluki “guntur dari Sungai Nil” dan dianggap sebagai ikan yang menjaga ikan-ikan lainnya.

Di abad ke-19, listrik mulai digunakan di mana-mana. Listrik dianggap sebagai tenaga yang penting untuk membantu pelbagai kerja manusia. Di abad ke-21 ini, saking sudah mengglobalnya keberadaan listrik, sampai-sampai tidak merasa perlu dibicarakan lagi. Listrik sudah menyatu dalam keseharian dan laku hidup manusia. Bahkan membicarakan listrik dianggap sebagai sesuatu yang sangat ketinggalan.

Memang secara keseluruhan, belakangan ini, perubahan di sistem tenaga listrik dirasa tidak secepat dibandingkan misalnya dengan dunia telekomunikasi, elektronika, dan digital. Perubahan di sistem tenaga listrik tidak terasa dramatis, karena itu tadi, dalam satu abad terakhir, listrik sudah begitu banyak digunakan.

Padahal sebenarnya, sistem tenaga listrik merupakan salah satu sistem fisik buatan manusia yang terbesar di muka bumi, membentang hingga ratusan dan ribuan kilometer untuk mengalirkan daya hingga ribuan MW, serta melibatkan perputaran uang triliunan hingga puluhan-, ratusan triliun rupiah atau lebih hanya di satu negara per tahunnya. Itulah sebabnya, faktor ketersediaan (availability) dan keandalan (reliability) sangat penting dalam dunia suplai tenaga listrik.

Komponen-komponen yang digunakan di dunia ketenagalistrikan banyak yang berukuran raksasa (pembangkit listrik, tiang-tiang transmisi listrik, gardu listrik, dll) yang dirancang untuk dapat bekerja selama puluhan tahun (25—50 tahun) sehingga perencanaan sistem pun dibuat sekaligus untuk puluhan tahun ke depan. Hal tersebut menjadi wajar mengapa hal ikhwal teknologi listrik tampak tidak mengalami perkembangan.

Namun membicarakan listrik sebenarnya bukan sesuatu yang berbau romantisme. Justru sekarang, dengan perkembangan inovasi digital, sektor tenaga listrik menjadi sesuatu yang sangat penting. Satu data penting menyebutkan, di negara maju seperti Amerika Serikat saja misalnya, komponen-komponen sistem ketenagalistrikan sudah banyak yang berusia tua. Hampir 70 persen dari seluruh komponen tenaga listrik di AS saat ini telah berusia lebih dari 25 tahun [Sumber: Harris Williams & Co.]. Hal ini juga diikuti oleh kenyataan bahwa di AS, 40 persen dari tenaga kerja di bidang ketenagalistrikan akan memasuki masa pensiun dalam 5 tahun ke depan.

Banyak pakar dan praktisi kelistrikan mengatakan bahwa sekarang ini merupakan momentum yang tepat untuk membicarakan kembali tentang listrik, justru dengan adanya perkembangan yang pesat di dunia digital. Tanpa disadari, permintaan akan kualitas listrik yang handal menjadi sangat penting. Saat ini, kemacetan suplai listrik barang sedikit saja sudah merupakan suatu kerugian besar. Bayangkan jika sedetik saja rumah sakit, fasilitas transportasi, pusat data, industri padat energi, dan pusat-pusat komersial lainnnya mengalami kehilangan listrik walau sedetik. Tentu kerugian yang diakibatkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Namun seiring dengan kesadaran zaman sekarang yang semakin mengarah pada penyelamatan lingkungan, maka energi listrik yang ramah lingkungan menjadi hal yang diutamakan. Misalnya, energi listrik dengan tenaga surya. Secara global, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan ini meningkat 8—10% setiap tahun sejak 2010 yang berarti sekitar 150 GW penambahan energi listrik per tahun.

Dengan inovasi yang sangat pesat di bidang digital sekarang ini, bagaimana inovasi di bidang digital dapat atau akan mempengaruhi dunia suplai tenaga listrik? Hal ini adalah hal yang sepertinya tidak bisa dihindarkan di masa mendatang. Pelanggan listrik mempunyai harapan dan tuntutan untuk memiliki keterlibatan (engagement) yang lebih terhadap penggunaan listriknya.

Dengan miliaran gawai elektronik yang dimiliki pelanggan listrik (smartphones, tablets, computers) terhubung ke internet, pelanggan listrik pun sekarang menuntut untuk mendapatkan kemudahan dalam berhubungan dengan konsumsi, pelayanan dan penggunaan listriknya (di rumah atau di kantor) dengan penggunaan gawai elektroniknya. Ini yang membuat penerapan Internet of Things (IoT) di dunia ketenagalistrikan menjadi tidak terelakan di masa depan. Perlu dicatat untuk Indonesia misalnya, dengan rasio elektrifikasi lebih dari 90%, pelanggan jasa telekomunikasi di tahun 2017 sudah lebih dari 350 juta pelanggan. Artinya sangat besar peluang bahwa pelanggan listrik adalah sekaligus juga para pelanggan yang sudah terkoneksi pada dunia digital.

Dari sisi pelanggan, bentuk-bentuk keterlibatan aktif pelanggan listrik termasuk dalam memanfaatkan perangkat digitalnya bisa berupa pemasangan pembangkit listrik di rumah atau tempat usahanya, misalnya dalam bentuk pembangkit listrik tenaga matahari yang terpasang di atap yang dapat dimonitor selalu dari gawai elektronik, penggunaan dan monitor kendaraan (mobil, motor, sepeda) listrik, pengelolaan data penggunaan dan rekening listrik, monitor kondisi peralatan listrik di rumah atau tempat usahanya (industri/bisnis), monitor kualitas listrik, monitor penggunaan listrik oleh peralatan listrik di rumah atau di kantor, dan lain-lain. Semuanya diinginkan dipermudah dengan penggunaan teknologi digital yang terhubung dengan sistem fisik sistem tenaga listriknya.

Namun keterkaitan antara listrik dan dunia digital ini juga mengandung persoalan. Pertama, adalah masalah keamanan digital (cyber security). Kemudahan akses ratusan jutaan pelanggan pada sistem data ketenagalistrikan misalnya harus diimbangi dengan peningkatan keamanan jaringan - apalagi jika mengingat bahwa jaringan listrik adalah aset yang sangat strategis dalam satu negara -. Tercatat bahwa di tahun-tahun belakangan ini secara global, serangan terhadap infrastruktur kelistrikan menjadi lebih sering dan lebih kompleks (sophisticated). Tahun lalu misalnya, untuk pertama kalinya terjadi serangan digital terhadap Ukraina yang menyebabkan padamnya sistem ketenagalistrikan di negara tersebut (black out).

Lalu apakah dengan risiko cyber security ini, penyedia tenaga listrik harus bertahan untuk tidak segera memanfaatkan teknologi digital yang luas? Tidak ada pilihan. Kombinasi teknologi digital dan ketenagalistrikan ini akan menjadi hal yang lumrah dan harus terus dikembangkan.

Diprediksi pada tahun 2020 di dunia, perusahaan-perusahaan baru yang sebelumnya tidak berbasis pada ketenagalistrikan akan merebut 20% dari pasar retail tenaga listrik. Ini bukti bahwa sudah saatnya kita membicarakan listrik kembali, setelah sebelumnya sudah terlampau menubuh dalam keseharian, dalam kaitannya dengan inovasi teknologi digital yang sedang berjalan, perkembangan teknologi digital akan mempengaruhi sistem tenaga listrik, dan sekarang adalah waktu yang momentum untuk melakukan antisipasinya.

Sumber Foto: www.pymnts.com

(Versi berbeda dari artikel ini pernah dimuat dengan judul yang sama di harian Pikiran Rakyat terbitan 8 Januari 2018)

2930 Views