selasar-loader

Perlukah Berhenti Sekolah/Kuliah untuk Memulai Bisnis?

LINE it!
Fajrin Rasyid
Fajrin Rasyid
Cofounder and CFO, Bukalapak
Journal Jan 2, 2018

nF_fFln5MtRJtMtx5PA8wLcgOFz0rXzU.jpg

Salah satu kegiatan yang cukup rutin saya lakukan adalah sharing atau berbagi cerita di hadapan berbagai pihak, termasuk pelajar/mahasiswa. Dalam salah satu kesempatan berbicara di sebuah SMA beberapa waktu lalu, pihak yang mengundang saya bercerita bahwa ada seorang siswa yang mogok sekolah, tidak ingin bersekolah, karena ingin berbisnis. Ia merasa bahwa pendidikan di Indonesia ini salah. Ia menyebutkan contoh Ibu Susi yang bisa sukses menjadi menteri meski tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Sayang sekali, siswa ini tidak hadir ketika saya berbicara di SMA tersebut. Untuk itu, saya coba tuliskan pendapat saya di sini. Mudah-mudahan dibaca oleh siswa tersebut... dan juga pihak-pihak lain yang barangkali berpikir hal yang sama.

Kesamaan antara Mark Zuckerberg, Steve Jobs, dan Bill Gates

Salah satu kisah yang saya sukai apabila bercerita tentang entrepreneurship kepada pelajar/mahasiswa adalah bertanya kepada peserta akan kesamaan ketiga tokoh ini. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjawab, “Sama-sama DO”. Pertanyaan saya berikutnya biasanya membuat mereka terdiam, “Jadi, apakah lebih baik DO saja agar bisa sukses?”

Saya kemudian menjelaskan pendapat saya terkait hal ini kepada mereka. Menurut saya, salah apabila kita berpikir bahwa karena DO (drop out), mereka dapat sukses. Yang benar adalah karena mereka sudah memiliki purpose yang jelas, sudah menunjukkan tanda-tanda kesuksesan bisnis tersebut, mereka memilih untuk DO.

8Eli14ktH4Dhz4u-b1Qu8-nW_Ximfy2x.png

Sebagai contoh, Zuckerberg memulai Facebook ketika masih berkuliah di Harvard. Zuckerberg memilih untuk DO ketika Facebook telah memiliki hampir 1 juta pengguna. Zuckerberg bukannya tidak mempercayai pendidikan di Harvard, namun ia sudah memiliki tujuan yang jelas sehingga ia memilih untuk berfokus di hal tersebut dibandingkan dengan meneruskan kuliahnya.

Lies, Damned Lies, and Statistics

Ibu Susi adalah seorang menteri dengan pencapaian yang luar biasa. Namun, mengambil contoh Ibu Susi untuk mengambil kesimpulan bahwa tidak penting mengenyam pendidikan tinggi merupakan hal berbahaya.

Ini merupakan contoh mengambil kesimpulan salah dari statistik. Benar bahwa Ibu Susi merupakan bukti bahwa pemegang ijazah SMP pun dapat menjadi orang sukses. Namun, secara statistik, orang yang memiliki ijazah pendidikan tinggi memiliki persentase keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak.

Secara statistik pun, mayoritas kumpulan orang-orang sukses memiliki ijazah pendidikan tinggi. Saya belum memiliki data untuk di Indonesia, tetapi data di bawah adalah contoh untuk Amerika Serikat.

ir3BvT4tiQ0N54OxA-UutakikY4E9roK.png

Sekali lagi, bukan berarti bahwa lulusan SMA/SMP tidak bisa sukses. Bahkan, beberapa orang terkaya di dunia ini juga hanya memiliki ijazah SMA/SMP. Namun, secara persentase, jauh lebih sedikit mereka yang sukses daripada yang tidak sukses. Jarang sekali mereka yang tidak sukses ini, yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang sukses, diliput oleh media. Jangan sampai kita menutup fakta akan hal ini.

Kembali ke pertanyaan terkait perlukah berhenti sekolah/kuliah untuk memulai bisnis, saya mencoba merangkum dalam poin-poin di bawah ini.

1. Apabila Anda masih mencoba-coba, jangan sampai berhenti sekolah/kuliah

Apabila Anda baru pertama kali memulai bisnis, masih mencoba mencari tahu, tidak yakin apakah bisnis Anda akan berjalan, maka "bunuh diri" apabila Anda langsung berhenti sekolah/kuliah. Persentase kegagalan bisnis itu lebih dari 90%. Apa yang akan terjadi jika kemudian Anda bangkrut?

2. Apabila bisnis Anda sudah berjalan, apakah Anda benar-benar harus berhenti sekolah/kuliah?

Mungkin Anda memiliki bisnis yang mulai berjalan dengan baik, dan untuk itu, saya ucapkan selamat bagi Anda. Namun, Anda mungkin merasa bisnis Anda masih belum berjalan optimal, lalu Anda merasa hal itu karena Anda tidak berfokus 100% kepada bisnis Anda.

Pertanyaan saya kemudian, apakah memang Anda harus menghabiskan 100% waktu Anda di dalam bisnis? Di zaman serba online seperti sekarang ini, banyak pekerjaan dapat dilakukan secara remote, dan banyak pihak yang dapat Anda berdayakan untuk membantu Anda menjalankan bisnis Anda sehingga Anda tidak harus mengorbankan amanah Anda di bidang lain, termasuk pendidikan.

Namun, apabila Anda merasa bahwa bisnis Anda sudah berada di dalam trajectory yang baik, dan juga Anda merasa bahwa kehadiran 100% diri Anda di dalam bisnis dapat memberikan dukungan eksponensial, maka Anda boleh mempertimbangkan untuk berhenti sekolah/kuliah.

Backup Plan

Jika kemudian Anda memutuskan ingin benar-benar berhenti sekolah/kuliah, maka saya memiliki beberapa pertimbangan tambahan untuk Anda. Pertimbangan pertama, apakah Anda memiliki rencana cadangan? Sebab, meskipun bisnis Anda saat ini berjalan dengan baik, badai sewaktu-waktu dapat menerpa.

Pertanyaan apa yang akan terjadi jika kemudian Anda bangkrut masih berlaku. Bagaimana Anda dapat menghidupi diri Anda (dan keluarga Anda) apabila di kemudian hari terjadi masalah dalam bisnis?

Pendidikan, khususnya pendidikan menengah dan tinggi, bagi saya adalah salah satu cara untuk memperoleh rencana cadangan tersebut. Pada saat saya memutuskan untuk berfokus menjalankan Bukalapak, saat itu saya berpikir bahwa worst comes to worst, saya bisa melamar pekerjaan entah di perusahaan sebelumnya atau lainnya.

Hal ini mungkin berbeda bagi sebagian orang, namun bagi saya, perasaan memiliki backup plan membuat saya dapat berpikir jernih dalam melihat persoalan bisnis karena saya dapat memisahkannya dari masalah personal.

Tentu saja, banyak sekali manfaat pendidikan selain sebagai tempat untuk menyiapkan rencana cadangan. Saya menemukan bahwa banyak pola pikir yang saya pelajari di perkuliahan yang saya gunakan sampai sekarang. Selain itu, banyak sekali kesempatan yang saya tidak lagi dapat peroleh setelah lulus dari kuliah, sehingga pendidikan menurut saya merupakan sarana yang tepat untuk foster passion.

Mencari Rida Orang Tua

Pertimbangan kedua, khususnya bagi Anda yang masih memiliki wali atau orang tua, adalah fakta bahwa mengenyam pendidikan menurut saya adalah salah satu amanah/tanggung jawab Anda sebagai anak. Dalam agama Islam, dikenal istilah rida Allah tergantung pada rida orangtua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua.

Sebagai orangtua dari anak-anak yang masih kecil, saya memang tidak memiliki pengalaman menghadapi anak yang tiba-tiba ingin berhenti sekolah secara permanen. Di satu sisi, saya tentu menghargai minat/passion anak, namun di sisi lain, saya tentu ingin agar anak saya memperoleh yang terbaik.

Yang dapat saya pikirkan sekarang, rasanya secara jujur saya akan lebih rida jika anak saya berkata, “Ayah, aku mau berhenti sekolah/kuliah karena mau fokus mengembangkan usaha” dan pada saat itu, ia sudah dapat menunjukkan bisnisnya yang sudah berjalan, dibandingkan apabila pada saat itu ia belum dapat menunjukkan apa-apa.

Ngomong-omong, Zuckerberg baru-baru ini ternyata memperoleh gelar dari Harvard, seperti diberitakan di artikel ini. Begitu juga dengan Ibu Susi yang memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari ITS Surabaya.

Dengan demikian, apabila saya ditanya perlukah berhenti sekolah/kuliah untuk memulai bisnis, mungkin saya akan menjawab, “Sebisa mungkin jangan berhenti sekolah/kuliah. Jangan salah, Zuckerberg dan Ibu Susi pun tetap memiliki gelar, lho!

 

Ilustrasi via Pixabay

1583 Views
Sponsored