selasar-loader

Ada Apa dengan Ustadz Abdul Somad?

LINE it!
Suhardi  El-Behrouzy
Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)
Journal Dec 12, 2017

dvaQyHIbcljLFEMDX7hukr4xaWfPcjNJ.jpg

Nama Ustadz Abdul Somad (UAS) yang kian hari dakwahnya mendapat tempat di hati serata anak negeri, mendadak mendapat penolakan dari sekelompok kecil masyarakat yang  mengatasnamakan dirinya Komponen Rakyat Bali (KRB). Mereka menolak kedatangan UAS di Bali dalam rangka dakwahnya sempena Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka melakukan sweeping hingga hotel tempat menginap UAS, bahkan mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya dialamatkan kepada sosok ulama yang bersahaja dan kebanggaan umat Islam itu.

Mereka menuduh UAS sebagai ustadz yang intoleran, tidak Pancasilais, anti-NKRI dan kebhinekaan. Ada apa dengan UAS sehingga tuduhan itu dengan mudahnya meluncur dari mulut-mulut mereka. Benarkah tuduhan-tuduhan itu berpijak di dunia nyata? Atau hanya sekedar isu yang sengaja dihembuskan untuk menghambat dakwah UAS yang saban hari selalu dibanjiri umat? Atau jangan-jangan sebagai bentuk kepanikan sekolompok orang di negeri ini melihat geliat dan kebangkitan Islam.

Menuduh UAS sebagai intoleran, tidak Pancasilais, anti-NKRI dan kebhinekaan, sejatinya adalah ungkapan yang salah alamat alias alamat palsu. Dalam bentang panjang dakwahnya, UAS selalu mengungkapkan bagaimana ia hidup bertetangga dengan non-muslim, bahkan ketika menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir, UAS indekos di tempat seorang yang beragama non-muslim hingga selesai kuliahnya. Dan tak satu baitpun dalam ceramahnya UAS menyampaikan kebencian kepada agama lain.

Dalam menjawab pertanyaan seorang jamaah yang ibunya non-muslim, UAS menyampaikan bagaimana Islam mengajarkan bersikap terhadap orangtua yang berbeda agama. UAS bahkan menyampaikan bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan sosial dengan orang yang berbeda agama. UAS mengisahkan bagaimana nabi menerima pakaian, madu dan kendaraan yang diberikan oleh non-muslim kala itu dan menyitir hadis Nabi yang mengatakan, “Barangsiapa menyakiti kafir dzimmi (non-muslim yg berdamai) , maka aku (Rasulullah) akan menjadi lawannya di hari kiamat”.

Terkait dengan sikap kebangsaan dan kecintaannya terhadap negeri ini, tak usah ditanya lagi. Apa yang diungkapkannya bahwa UAS lulus mata pelajaran Pancasila dan P4 sebelum melanjutkan pendidikan ke Mesir dan lulus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), mengindikasikan, bahwa ia bukanlah generasi yang lahir dalam alam yang tidak mengenal jati diri dan ideologi bangsa. Bahkan foto-foto bagaimana UAS memasang bendera dan melakukan upacara memperingati kemerdekaan 17 Agustus di daerah terpencil yang dihuni Suku Talang Mamak Riau kini tersebar di Media, menunjukkan bagaimana kecintaan UAS pada negeri dan bangsa ini.

UAS dan sahabat-sahabatnya bahkan rela menyambangi perjalanan yang jauh dan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan tanah dan bermalam di rumah-rumah penduduk, sembari mengajar, bergaul, dan bermain dengan anak-anak desa yang jauh dari hiruk pikuk dunia.

NC5hFt-YfAS4ZXhRelMF3iT4aoYDLPeN.jpg

Sesekali terlihat UAS tertidur sambil duduk bersandarkan pohon, mungkin akibat kelelahan. UAS tidak memekikkan dengan suara pongah kecintaannya kepada bangsa ini seperti kelompok-kelompok lain yang mengklaim diri mereka paling Pancasilais, toleran, cinta NKRI dan kebhinekaan. UAS memilih tindakan nyata dan melakukannya dengan sunyi. UAS tidak butuh puja-puji agar ia dikatakan cinta negeri ini. UAS  bak melakakun ‘tasawuf cinta” pada negeri ini.

Kini tuduhan palsu itu akan terus menerus dibalut dengan berbagai cara agar terlihat nyata oleh orang-orang yang tidak ingin Islam tegak di negeri ini. UAS akan terus menerus diserang dengan berbagai cara, sebab UAS sudah menjadi magnet yang mampu menyedot umat untuk sadar siapa dirinya, sadar tentang agamanya, sadar dalam bersikap, dan dengan kedalaman ilmunya mampu menyatukan umat dalam perbedaan.

Mata orang yang tidak suka dengan UAS akan terbelalak, melihat bagaimana setiap kehadiran UAS selalu dibanjiri umat, terutama di dunia maya. Puluhan ribu orang menghadiri dan menonton live streaming-nya, puluhan ceramahnya ditonton ratusan ribu, bahkan jutaan oleh netizen dari berbagai kalangan. Bahkan kalau mau jujur sudah lama umat tidak seantusias ini dalam mendengarkan dakwah. Terakhir kita diingatkan bagaimana umat selalu ramai ketika dai kondang KH. Zainuddin, MZ menyampaikan ceramahnya.

Apa yang menimpa UAS di Bali, sejatinya tidaklah berdiri sendiri.  Boleh jadi ini bentuk ketakutan akan bangkitnya kekuatan umat Islam di Indonesia sehingga mereka panik dan stres menghadapi fenomena kebangkitan umat. Bak ungkapan Ustadz Felix Siauw, “Kalau orang panik, ketika mau tenggelam dan tak memiliki apa-apa, jerami pun ia pegang untuk menyelamatkan diri”.

Hari ini kita disuguhkan bagaimana kepanikan dan ketakutan itu dipertontonkan dengan vulgar dan jauh dari nilai-nilai yang mereka teriakkan. Mereka menepuk dada sebagai kelompok yang Pancasilais, toleransi, NKRI dan kebhinekaan. Namun faktanya, mereka menginjak-injak  nilai-nilai tinggi yang membalut itu semua. Klaim sebagai kelompok yang Pancasilais, toleran, cinta NKRI dan kebhinekaan, hanyalah topeng yang akan membuat wajah-wajah “buruk” mereka, akan semakin buruk dan terlihat jelas sekali sifat asli pemakainya.

Kini, nama UAS semakin terkenal dan dicintai umat. Gelombang kecintaan umat ini, boleh jadi dilihat oleh pihak lain sebagai ancaman terhadap kepentingan kelompok-kelompok tertentu di negeri ini. Ibarat berniaga, boleh jadi dagangan dan jualan mereka tidak akan laku lagi.

Sebab umat kian cerdas dan sudah bisa melihat mana yang emas dan mana yang loyang. Akibatnya, mereka panik dan melakukan tindakan yang kontraproduktif dan hanya akan membuat “dagangan” mereka akan semakin tidak laku dan dilirik lagi oleh umat.

Terkait dengan judul di atas, UAS memang ada apa-apa. Kalau tidak ada apa-apa, tak mungkin setiap dakwahnya dibanjiri umat di serata tempat. UAS adalah ulama yang bersahaja, dan kecintaaanya kepada bangsa ia tunjukkan dengan nyata, bukan dengan slogan atau uar-uar kata. Kedalaman ilmunya, retorikanya yang indah, candaan dalam setiap selipan dakwahnya menjadi dambaan umat. UAS ibarat air di tengah padang sahara yang selalu dinanti tetesan tausiahnya oleh jutaan umat.

Semoga Allah senantiasa melindungi UAS dan ulama-ulama lainnya. Apa yang diungkapkan UAS setibanya di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru-Riau (10/12) kemarin, bahwa apa yang dialaminya adalah bunga-bunga dakwah dan belum sebanding apa yang dialami oleh baginda Nabi Muhammad SAW, serta pesannya agar terus menerus  menjaga harmonisasi umat dan persatuan bangsa, sejatinya menggambarkan siapa sesungguhnya UAS.

UAS adalah ulama besar yang sadar, mengerti dan memahami bagaimana mencintai bangsa ini dengan cinta sejati nan tulus suci.

3235 Views

Author Overview


Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

More Journal from Suhardi El-Behrouzy


Menenun Silaturahmi Kebangsaan
2 years ago

Menakar Pilgub Jabar
1 year ago

Cerpen: Janji Aini
2 years ago

Pertaruhan Politik PPP
2 years ago

Membaca Sasar Panah Politik Golkar
1 year ago

Top Answers


Siapa Abraham "Haji Lulung" Lunggana, mengapa ia dipecat dari Partai Persatuan Pembangunan dan apa kesalahannya?
2 years ago