selasar-loader

Gunung Es Narkoba di Kalangan Pilot

LINE it!
Hari Nugroho
Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training
Journal Dec 9, 2017

pilot

Kasus-kasus pemakaian narkoba oleh pekerja transportasi penerbangan telah banyak ditemukan dalam beberapa tahun terakhir, namun demikian derasnya informasi tersebut tak menjadikan pemakai narkoba di kalangan pekerja transportasi penerbangan hilang. Ibarat gunung es, kasus-kasus yang muncul hanyalah puncak, sementara bagian besar dari gunung tersebut belum terlihat. Padahal sangat mungkin kasus-kasus kecelakaan penerbangan berhubungan dengan pemakaian narkoba.

Hasil analisis yang dilakukan oleh Badan Keselamatan Transportasi (NTSB) Amerika Serikat terkait kecelakaan penerbangan pada tahun 1990 hingga 2012 mengungkap bahwa hasil positif pada tes toksikologi obat kepada pilot yang mengalami kecelakaan penerbangan cenderung meningkat, 10% di tahun 1990 menjadi 40% di tahun 2012, dengan 2,8% di antaranya adalah positif menggunakan narkoba. Tak jauh berbeda, survei nasional penyalahgunaan narkoba yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Pada Tahun 2013 juga mengungkapkan prevalensi pemakaian narkoba setahun terakhir pada pekerja sektor transportasi udara sebesar 3,9%.

Pada Senin (4/12), Polres Kupang dan Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali mengungkap kasus pilot senior yang menggunakan narkoba jenis sabu, disertai barang bukti sabu seberat 0,3 gram, dan alat hisap (bong). Tentu hal ini menjadi tanda tanya bagi masyarakat, dan bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat baik lokal maupun internasional, terkait keselamatan penerbangan di Indonesia akan terus turun.

Para stakeholder terkait harus segera berpikir dan bertindak untuk mencegah peristiwa serupa terulang. Selama ini, jika terjadi kasus-kasus pemakaian narkoba di kalangan pekerja transportasi penerbangan, kebijakan yang diambil lebih banyak bersifat temporer dan hanya memadamkan api yang sedang menyala. Akar permasalahan mengapa pilot dan pekerja transportasi penerbangan lainnya menggunakan narkoba jarang sekali dievaluasi, sehingga tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan terkait hal ini.

Tes Urine Saja Tidak Cukup

Tes urine narkoba kemudian diandalkan untuk mencegah para pilot menggunakan narkoba. Namun kebijakan ini juga tidak konsisten, tes urine hanya dilakukan secara insidental setelah adanya kasus pemakaian narkoba, atau menjelang kegiatan besar seperti mudik lebaran. Sementara prosedur pre-flight check yang dilakukan dua jam sebelum penerbangan pertama hanya berupa pemeriksaan tekanan darah dan kadar alkohol.  

Tes urine juga sering hanya dilakukan ketika menjalani pemeriksaan kesehatan berkala untuk mendapatkan sertifikat medis agar dapat terbang, di mana para pilot pengguna narkoba dapat mengantisipasi hal ini dengan tidak menggunakan narkoba beberapa hari sebelumnya agar hasilnya negatif. Sanksi pemecatan menjadi keputusan final dalam penanganan kejadian ini yang sejatinya belum menyelesaikan masalah.

Kebijakan yang komprehensif terkait permasalahan ini sudah semestinya diambil. Dalam mencegah para awak penerbangan menggunakan narkoba, tes narkoba harus menjadi prosedur rutin yang dilakukan secara random dan berkala pada saat akan tugas, setelah tugas, setelah insiden atau kecelakaan, maupun pada pemeriksaan kesehatan rutin dengan prosedur yang benar.

Kegiatan pencegahan yang bersifat membangun kesadaran para awak penerbangan tentang bahaya penggunaan narkoba saat tugas juga perlu terus diupayakan, perusahaan penerbangan juga harus berkontribusi dalam upaya ini. Seiring dengan pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia, analisis beban kerja, evaluasi dan penjadwalan tugas yang rasional harus dilakukan. Bukan tidak mungkin para pilot yang menggunakan narkoba didorong oleh kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome) akibat beban kerja yang terlalu tinggi.

Faktor kelelahan kronis ini akan memicu timbulnya masalah fisik maupun mental. Rasa tidak puas, konflik antar pegawai dan manajemen perusahaan akan meningkat, yang dapat memicu penggunaan narkoba sebagai upaya self-medication. Oleh karena itu, sistem pendukung untuk para pilot yang terindikasi mengalami masalah – baik penggunaan narkoba maupun kesehatan mental – juga harus dibentuk, sistem ini dapat berupa pelatihan mencegah burn out, gaya hidup sehat, manajemen mengatasi kelelahan, rujukan dan monitoring setelah terapi, maupun sistem dukungan sebaya (peer support). Sistem dukungan yang baik akan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik dan mental para awak penerbangan yang dapat mencegah penggunaan narkoba.

 

Hari Nugroho

Mahasiswa Master of Science (MSc) in Addiction Studies

King’s College London

Penerima beasiwa Chevening 2017/18

*artikel ini dimuat di Koran Jawa Pos edisi Kamis (7/12) 2017 dengan judul yang sama

376 Views