selasar-loader

Membaca Sasar Panah Politik Golkar

LINE it!
Suhardi  El-Behrouzy
Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)
Journal Dec 6

b82TkwV6epthCdJmiH1IX0aNxS2pwng6.jpg

Partai Golkar seakan tak pernah hilang dari perbincangan publik. Rasanya baru kemarin pemandangan keributan antar dua kubu di internal Golkar yang menyita semua mata. Kini kembali menarik perhatian jutaan rakyat Indonesia, manakala sang nakhodanya, Setya Novanto (Setnov), ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sontak saja, apa yang menimpa Setnov selaku pemangku utama Partai Golkar menuai beragam pertanyaan publik dan prediksi politik. Apakah Golkar akan menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa dengan cepat? Siapa tokoh Golkar yang akan menggantikan Setnov? Atau ke arah mana sasar panah politik Golkar pascaterpilihnya nakhoda baru nantinya? Semua pertanyaan tersebut sangat dinanti publik jawabannya. Mengingat, bagaimanapun juga Partai Golkar adalah partai yang tidak terlepas dari arus utama politik negeri ini.

Terkait dengan Munaslub, tampaknya Golkar sangat hati-hati dalam menyikapinya. Ini terlihat dari hasil Rapat Pleno DPP Golkar (21 November 2017) lalu, bahwa untuk menggerakkan mesin partai, Golkar resmi menunjuk Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Golkar sampai adanya putusan praperadilan yang diajukan Setnov. Kehati-hatian ini sesungguhnya untuk menciptakan konsolidasi, harmonisasi internal, dan juga membaca arah politik, serta untuk menjaga agar jangan islah kembali terbelah akibat perebutan kursi ketua umum partai.

Hanya saja label Plt sebagaimana hasil rapat pleno DPP Golkar tak mungkin disandang lama-lama oleh Idrus Marham. Sebagai partai besar, Golkar tentu harus berhitung cermat dan menentuhkan langkah tepat, agar Golkar memiliki nakhoda baru yang benar-benar bisa membawa Golkar dalam jalur yang benar.

Namun pekerjaan memilih nakhoda bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi Partai Golkar memiliki banyak kader potensial, dan yang lebih menyulitkan lagi, Golkar memiliki faksi-faksi yang mempunyai pandangan dan arah politik yang berbeda. Bila, pemilihan sang nakhoda tidak dilakukan dengan baik, akan berpotensi membuat Golkar akan terbelah kembali.

Hanya saja ini kemungkinan akan kecil terjadi, mengingat pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 yang semakin menjelang. Terlalu besar taruhannya kalau seandainya Golkar terbelah dan terjadi lagi dualisme kepengurusan.

Publik tentu menunggu sasar panah politik Golkar pasca-Setnov. Setidaknya ada tiga kemungkinan sasar panah politik yang akan dilakukan Golkar. Pertama, bila praperadilan Setnov ditolak, Setnov dengan kekuatannya akan menempatkan orang-orangnya untuk bisa menggantikan kedudukannya. Bila ini tercapai, Golkar akan tetap menari dengan tarian Setnov yang menggunakan gaya politik “soft”-nya mendukung pemerintahan. Akan tetapi dalam irama yang berbeda dengan sebelumnya.

Kedua, bila kubu Agung Laksono yang naik sebagai ketua umum, sasar panah politiknya akan semakin erat dan sejalan dengan sasar panah politik Jokowi. Golkar akan mengamankan pemerintahan Jokowi hingga 2019 dan akan mengusung kembali Jokowi sebagai calon presiden mendatang. Bukti ini terlihat dari komentar, seperti Dedi Mulyadi Ketua Golkar Jabar, yang menginginkan Ketua Golkar mendatang yang bisa mengamankan dan tetap mengusung Jokowi sebagai Capres 2019.

3G64l4aDGoRu390aLVlenzhFa0QgFzEc.jpg

Ketiga, sasar panah yang ingin meluncur berbeda dengan kubu Setnov dan Agung. Sasar ini dimiliki oleh kubu Aburizal Bakri atau Ical. Sasar politiknya dengan terang tidak ingin terus menerus di bawah bayang-bayang politik Presiden Jokowi. Golkar sebagai partai besar tidak ingin disebut sebagai pengekor, atau mencari untungnya saja, dengan terus bergantung dengan gaya politik aji mumpung dan “menjual” idealisme partai.

Membaca dan menakar dari ketiga sasar panah politik Golkar tersebut, sesungguhnya memiliki plus minus bagi Partai Golkar itu sendiri. Memilih ketua partai yang sejalan dengan pemerintahan dan mengusung Jokowi pada 2019 mendatang, akan memberikan keuntungan terhadap terpilihnya kader-kader Golkar di kabinet dan juga beberapa posisi penting lainnya di pemerintahan, serta mempermudah gerak partai.

Hanya saja, Golkar tidak lagi bisa “membusungkan” dada dan tidak bisa mencalonkan kader potensialnya sebagai capres. Golkar akan semakin kehilangan pemilih potensialnya.

Sebaliknya, bila terpilih ketua yang tidak sejalan dengan pemerintahan dan membawa Golkar keluar sebagai partai pendukung pemerintah, akan berdampak terhadap gerak partai. Dan islah yang baru terjalin 18 bulan lalu, bisa saja terbelah kembali. Bila ini terjadi, maka akan  merugikan Partai Golkar. Terlebih menjelang Pilkada 2018 dan Pileg serta pemilihan presiden 2019. Bisa-bisa elektabilitas Golkar akan semakin merosot.

Namun, bila ketua terpilih mampu membangun konsolidasi dan harmonisasi, tidak mustahil Golkar akan bisa benyanyi dengan nada sendiri yang bisa saja “viral” dan memikat hati rakyat.

Pilihan sasar panah politik Golkar, sejatinya sulit. Namun menurut hemat penulis, Ketua Umum Golkar terpilih nanti harus mampu membawa Golkar kembali pada posisi on the track. Mampu membangun konsolidasi dan harmonisasi partai, menjadi partai modern yang bisa keluar dari setiap jebakan politik yang menjeratnya, dan membuktikan dengan nyata janji politiknya kepada rakyat, bahwa apa yang menimpa partai Golkar dan kadernya akhir-akhir ini, adalah ujian gelombang yang akan membuat Partai Golkar semakin kuat dan melahirkan kader-kader yang potensial dan bisa dipercaya rakyat.

Jujur diakui, pekerjaan untuk meyakinkan rakyat agar Golkar diberi kepercayaan kembali untuk memimpin negeri ini sejatinya tidaklah mudah. Kendatipun demikian, tidak mustahil, apabila Golkar dipimpin oleh orang yang tepat dan melakukan “revolusi politik”, Golkar akan kembali mendapat tempat di hati rakyat. Apalagi Golkar di era Orde Baru telah banyak memberikan kontribusi dalam membangun negeri. Walau tidak terlepas dari kontroversial kala itu.

Kini, publik sedang menanti sasar panah politik Partai Golkar, apakah sasar itu terus menerus terbungkus dalam tangan politik lawan yang dibalut dengan sebutan kawan dalam pemerintahan. Ataukah sasar panah politik itu bisa keluar, selaras dengan bidikan idealisme Golkar tanpa adanya intervensi angin politik yang menerpanya. Keberanian itu sekarang sedang diuji.

Berselindung di balik kekaryaan, hanya akan membuat Partai Golkar akan terus-menerus membuatnya terbuai dan terjebak dalam zona aman masa lalu. Padahal bak ungkapan anak milenial sekarang, “Ini zaman now, politiknya juga harus selaras dengan zaman now, Bung"

138 Views
Sponsored

Author Overview


Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Top Answers


Siapa Abraham "Haji Lulung" Lunggana, mengapa ia dipecat dari Partai Persatuan Pembangunan dan apa kesalahannya?
9 months ago