selasar-loader

Kisah si Joko dan Startup yang Layu Sebelum Berkembang

LINE it!
Andrew Ryan Sinaga
Andrew Ryan Sinaga
cofounder dan partner Pedals.id
Journal Dec 4

NvJadurUuaA9lfnKZYA_paxc9aZRLo4K.jpg

Spoiler Alert:
Perlu saya ingatkan kepada pembaca yang budiman bahwa seluruh tulisan saya ditujukan untuk para pemula di bidang startup. I try to make it as simple as possible so everyone can understand it. Bila Anda termasuk ahli atau sudah merasa ahli dalam bidang startup, I do not think this post will satisfy you. Thank you.

With spoiler has been alerted, let us get to the story.

Joko, seorang fresh graduate jurusan bisnis datang ke sebuah startup conference, melihat betapa keren, bahagia, dan excited-nya para founders yang sedang pasang booth dan pameran di sana. Pada satu sesi talkshow, dia mendengar seorang startup founder papan atas Indonesia berkata, I believe everyone can build their own startup. You just have to start.

Sepanjang perjalanan pulang naik ojek online, Joko membulatkan tekad untuk membuat startupnya sendiri. Namun ketika sampai di rumah, Joko baru tersadar bahwa dia tidak punya ide startup dan tidak bisa coding.

To solve the first problem, dia googling ide startup yang menarik dan tiba di crunchbase.com (kalau kamu mau cari ide startup, website ini boleh dikunjungi), menjelajahi berbagai startup company yang ada di seluruh dunia, dan berakhir pada satu ide startup yang menarik.

Lalu, momen Eureka! dengan tagline Ini belum ada di Indonesia, nih” terjadi.

Joko  melanjutkan proses googling-nya untuk mengetahui potensi pasar Indonesia berupa data pengguna smartphone di Indonesia”, “data pengguna internet di Indonesia, dan data-data umum lainnya untuk membuat presentasi bisnis yang menarik.

Setelah presentasinya selesai, Joko tahu bahwa dia tinggal menemukan seorang programmer yang bisa mengeksekusi ide brilian dan belum ada di Indonesia miliknya.

Joko lalu blast sebuah pesan di seluruh grup WhatsApp dan Line yang ia miliki, Ada yang punya kenalan programmer bagus, gak?

Seorang teman membalas pesan Joko, lalu memberikan kontak Bambang, fresh graduate Informatika, yang dia tahu sangat ahli di bidangnya.

Joko lalu bertemu dengan Bambang di sebuah coffee shop.

 

ft-lVXKWxPJl-JHZPHjwJdkM005zoUiv.jpg
Joko dan Bambang. Hmm...kayaknya salah deh, foto ini. (shutterstock)

 

Bambang adalah programmer yang sedang galau antara bekerja di perusahaan dengan gaji tinggi atau membangun sebuah startup.

Bertemu Bambang, Joko mempresentasikan idenya dengan sangat meyakinkan, menunjukkan potensi pasar yang luar biasa berdasarkan Data Pengguna Smartphone di Indonesia, mengatakan bahwa betapa saat ini, belum ada yang membuat aplikasi ini, dan lain-lain.

Bambang yang 80% hidupnya dihabiskan di depan layar komputer langsung tertarik dengan ide Joko. Dia merasa bahwa Joko adalah seseorang yang memiliki visi yang luar biasa.

Akhirnya, mereka sepakat untuk bekerjasama membangun rencana bisnis Joko menjadi sebuah kenyataan.

Oke, Bro! Kita setup meeting lagi minggu depan, ya! Kita bicarain detail product-nya

Mereka berdua pulang ke rumah, feeling excited about the project, dan merasa ini adalah momen mereka untuk bersinar dan membuat seluruh orang di sekitar mereka terkagum-kagum.

Joko setiap hari sharing video tentang cerita sukses dari Mark Zuckerberg, Elon Musk, Reid Hoffman, dan Larry Page melalui WhatsApp kepada Bambang.

“Ini waktunya kita, Bro!” adalah pesan yang seringkali dikirimkan oleh Joko kepada Bambang.

Satu minggu berlalu. Mereka berjumpa lagi. Diawali dengan senyum lebar dan basic bro handshake, meeting pun dimulai...

...and then they talk about the details of the product,

...and this part is when everything goes sh*t.

Joko, yang merasa bahwa dia adalah sang pemilik ide, bersikeras bahwa harus ada fitur A, B, C, D, E dalam produk yang akan dibuat. Itu diharuskan karena dia ingin membangun sebuah integrated services, all in one, one stop for all startup.

Sounds familiar?

Sementara, Bambang yang memiliki pengalaman membangun beberapa project untuk perusahaan selama berkuliah memahami bahwa untuk membangun fitur A secara optimal saja, dibutuhkan waktu yang lama.

Mereka bertemu berulang kali untuk membicarakannya. Joko, being a good communicator that he is, mendominasi pembicaraan dan tidak mendengarkan reasoning yang diberikan oleh Bambang.

Bambang, yang lebih mahir berkomunikasi dengan bahasa pemrograman dibanding bahasa Indonesia, akhirnya kalah berdebat dan merasa terpaksa untuk memenuhi keinginan Joko.

Bambang membangun fitur A,B,C,D,E dengan seadanya, merasa bahwa Joko tidak mengerti apa-apa tentang rumitnya dunia pemrograman, dan merasa diperlakukan seperti karyawan alih-alih sebagai partner oleh Joko.

Joko, sambil menunggu produk jadi, terus bergelut dengan Google Search, Youtube Video, dan Startup Media untuk mencari hal-hal positif tentang produk yang sedang dia bangun.

Joko rutin mendatangi acara-acara startup untuk membangun relasi dengan sesama startup founder dan investor.

Setiap ada startup founder atau investor papan atas yang sedang mengisi sesi di sebuah acara, dia akan senantiasa menunggu sampai sesi selesai, menghampiri startup founder sekaligus investor tersebut untuk memperkenalkan diri, dan menceritakan tentang startup yang sedang ia bangun.

Si startup founder dan investor papan atas yang diwajibkan oleh PR (public relation) consultant mereka untuk terlihat baik dan ramah di setiap public event (karena mewakili brand perusahaan) mendengarkan Joko berbicara selama 3 menit, lalu memberikan template response yang mereka pakai setiap ada startup founder yang bercerita tentang ide startup. Wah bagus sekali idenya. Terus semangat, ya!

Joko selalu pulang dari setiap event dengan perasaan puas karena semua orang berpikir bahwa idenya bagus sekali”.

Joko semakin menekan Bambang untuk membuat fitur yang dia inginkan.

Bambang keep coming back dengan keluhan bahwa fitur yang akan dibangun sebenarnya tidak terlalu krusial untuk user.

Joko terus membantah setiap argumentasi Bambang.

Logika pikir Bambang adalah seperti ini: Mas Yunus aja yang startupnya udah "unicorn" bilang ide gue bagus. Tahu apa si Bambang bau kencur ini?

Akhirnya, tibalah waktu peluncuran produk. Joko, being very excited with the product, mengumumkan peluncuran produknya di setiap media sosial dan grup chat miliknya.

Bambang yang merasa ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya langsung pulang ke kostan dan tidur sepanjang hari akibat kelelahan melakukan coding nonstop selama 3 bulan proses pembuatan produk.

After launching, nobody give a sh*t.

Like, nobody.

Tidak ada yang mengunduh aplikasi buatan mereka, kecuali keluarga Joko dan Bambang. Itu pun hanya diunduh. Tidak digunakan.

Joko yang masih percaya diri terus memasarkan produknya dengan mendatangi acara-acara startup sekaligus meminta semua orang yang dia ajak ngobrol untuk mencoba unduh dan memakai aplikasinya.

Semua orang melakukan hal tersebut. Ini memberikan kepercayaan diri kembali kepada Joko.

Yang Joko tidak tahu adalah satu menit setelah mereka selesai ngobrol dengan Joko, seluruh orang tersebut delete aplikasinya.

They download it just to look nice to Joko.

It turns out that nobody wants the product.

Aplikasi yang bagus dan sukses di luar sana ternyata tidak otomatis akan bagus dan sukses di Indonesia.

Ketika Joko mulai menyadari realita pahit ini, dia mulai mengontak Bambang kembali untuk berdiskusi tentang revisi produk.

Bambang yang sudah jenuh dengan attitude Joko selama 3 bulan pembuatan produk ternyata sudah apply dan diterima untuk bekerja di Microsoft Indonesia.

Joko marah dan kecewa dengan Bambang. Dia menyalahkan Bambang atas kegagalan produknya.

Joko berkata bahwa Bambang gagal membangun fitur-fitur produk secara optimal, membuat produk yang masih penuh dengan bug, dan menyebabkan user menghapus aplikasinya.

Bambang cuma mengatakan satu kalimat yang tidak akan pernah terlupakan oleh Joko:

Jok, I think you are not a startup founder. You are just a wanna be founder.

Joko termenung. Ia menyeruput segelas kopi Starbucks yang tadi dibeli.

Pahit, rasanya.

The end.

***

Jadi, bagaimana cara agar tidak menjadi seperti Joko?

Saya akan coba elaborasi tentang peranan ideal dan peranan masing-masing founder sebuah startup di Indonesia minggu depan.

So, stay tune.

See you, guys!

 

Ilustrasi via Pixabay

211 Views
Sponsored

Author Overview


Andrew Ryan Sinaga
cofounder dan partner Pedals.id

More Journal from Andrew Ryan Sinaga


Technical dan Nontechnical Founder dalam Startup
3 days ago

Top Answers


Apa beda antara startup dan perusahaan lainnya? Mengapa istilah startup begitu naik daun?
3 days ago