selasar-loader

Menerjemahkan Militansi: Refleksi Spirit 212

LINE it!
Ghulam Azzam Robbani
Ghulam Azzam Robbani
Alumnus STAN dan FEBUI
Journal Dec 3

hupfYQ2YFpXzxZfWuHWIZQ0l0yi3q6jH.jpg

Apa yang terpikir ketika pertama kali mendengar istilah militan? heroik, kepahlawanan, berani, pemberontakan, demonstrasi, aksi jalanan, membela yang benar, teriakan? Anda bisa menyebutkan kata-kata lainnya yang identik dengan, “Militan”. Kata yang seringkali terdengar angker dan identik dengan Islam militan. Kalau sering gaul dengan aktivis dakwah, istilah militan ini kerap didengar. 

Oktober s.d Desember 2016 lalu menjadi rentang waktu peristiwa yang mencatatkan sejarahnya di Indonesia dengan berbagai aksi bela Islam. 14 Oktober 2016 menjadi awal mula aksi yang kemudian berlanjut sampai aksi-aksi lainnya, 411 dan 212.  Aksi bela Islam jilid II yang terjadi pada 4 November 2016 boleh dikatakan sebagai aksi yang ketika itu begitu membetot perhatian khalayak Indonesia. Diperkirakan (bukan perhitungan pasti) sekitar 2 juta orang turun ke jalan dan melakukan demonstrasi mempertanyakan sikap Presiden Jokowi dalam menyikapi kasus penistaaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Aksi yang dimulai dengan sholat berjamaah di Masjid Istiqlal itu menghiasi berita di mana-mana, mulai dari berita di Indonesia sampai dengan luar negeri. Pun halnya dengan aksi 2 Desember, kabarnya, Sholat Jumat tersebut adalah yang terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia setelah Sholat Jumat yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih ketika penaklukan Konstantinopel. Keren! Siapa yang bisa memobilisasi massa dengan jumlah sekitar 7 juta orang tersebut? Banyak kalangan yang salah mengira, dalam kedua aksi itu pada awalnya hanya diperkiran puluhan ribu orang. Nyata-nyatanya, salah duga. Jauh sekali.

Beberapa multiplier effect kemudian terjadi, salah satunya adalah terbentuknya Koperasi Syariah 212 dan 212 Mart (yang saya temukan, tokonya bernama Kita Mart). Suatu ikhtiar dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi bagi umat Islam di Indonesia, yang seperti kita ketahui bersama, ekonomi dan politik adalah dua hal menonjol yang kita rasakan secara nyata begitu tertinggalnya umat Islam dalam hal ini. Kemarin, Sabtu, 2 Desember 2017 juga menjadi ajang "reuni" para pelaku aksi 212 yang dikenal dengan istilah alumni 212. Berbarengan dengan momentum maulid Nabi Muhammad SAW. 

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pelaku aksi (saya pun mengikuti ketiga aksi di tahun 2016 tersebut), ikhtiar ekonomi dan politik ini mungkin perlu dievaluasi kembali. Rasanya semuanya menjadi ujug-ujug, terburu-buru. Ibarat pelari yang bersemangat lari 100 meter dengan kecepatan penuh tetapi dalam lomba lari marathon. Bisa berhenti di tengah jalan. Pingsan dan tidak dapat melanjutkan perlombaan.

Barangkali, kita lupa bahwa dasar dari sebuah pembangunan apapun itu, butuh sebuah desain dan juga eksekusi yang matang. Buah dari pendidikan dan pembinaan bertahun-tahun. Layaknya sebuah bangunan yang indah dan kokoh, didesain oleh seorang arsitek mumpuni dan dikerjakan oleh para tukang berpengalaman yang sudah saling memahami dalam mengintrerpretasikan gambar desain arsitek menjadi bangunan utuh.

Apalagi kita yang sering menggaungkan, “Membangun Peradaban”. Bangun rumah yang bagus saja butuh arsitek dan tukang bangunan yang mempuni, apalagi kita ini yang katanya mau membangun peradaban. Mungkin kita harus berkaca diri, para individu, termasuk saya sendiri tentunya. Bahwa militansi umat Islam kita khususnya Indonesia mungkin baru sebatas lari 100 meter, bukan lari maraton yang butuh stamina, strategi, dan juga pelepasan energi terbesar ketika menjelang finish line.

Kita perlu meracik ulang strategi, menjaga stamina dan semangat, dan juga mengetahui kapan mengeluarkan energi terbesar di saat yang tepat untuk kemudian menjadi juara. Sayangnya, finish line umat Islam di dunia ini rasa-rasanya belum terlihat secara jelas bagi orang awam seperti saya, Yang saya tahu dan saya pahami, finish line pertama bagi seorang muslim adalah ketika Islam akan kembali berjaya seperti yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Tentu apabila tujuan itu tercapai, yang kita juga tidak tahu kapan datangnya masa itu, menjaganya tentu akan lebih sulit daripada meraihnya.

Berbicara mengenai kemenangan yang dijanjikan, kita tentu tidak mengetahui kapan keterjadiannya. Namun, saya ingin kita merefleksi diri, secara individu bahwa memang kita harus mengislamiyah qobla jamiyyah. Memperbaiki diri sebelum berjamaah. Meredefinisi militansi  dan mengejewantahkannya memang perlu dari hal-hal kecil, mentor saya seringkali mengatakan, “Back to basic”. Konsep Islam saya kira tak usah kita ragukan. Konsep Islam ini asalnya dari Tuhan semesta alam, mungkin jasad dan jiwa manusia ini yang belum bisa menerapkan konsep Islam secara nyata dalam kesehariannya. Kalau kita berkaca diri, termasuk saya, kita ini lalai dalam hal-hal kecil padahal menjadi fondasi dalam keseharian apalagi berjamaah: nilai-nilai kedisiplinan, profesionalitas, kejujuran, tanggung jawab, mental untuk memperbaiki diri, dan menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter. Karakter Baik dan Kuat. Baik adalah adil, jujur, amanah. Kuat adalah berani, disiplin, sungguh-sungguh. Konsep karakter yang disusun oleh Aa Gym.

Sebagai muslim, kita perlu mengejawantahkan konsep Islam dalam bentuk militansi yang konkrit dan tahan lama, alangkah baiknya jika kita bisa meredefinisi makna militansi seorang muslim dari sekedar berdemonstrasi, meneriakkan kekhalifahan, dan berbagai aksi short-time lainnya menjadi seberapa sering kita sholat shubuh berjamaah, mendirikan qiyaamullail kita, menghabiskan waktu untuk belajar, mengembangkan keahlian kita di bidang yang kita geluti, membina raga dan fisik, berpuasa, dan melakukan perbaikan di masyarakat (membina, mengajar Al Quran, mengadakan pengajian, mengadakan pelatihan-pelatihan keterampilan). Juga melakukannya secara kontinyu, terus menerus, dan berupaya menaikkan kualitasnya.

Sulit? Siapa yang bilang mudah, kawan… Kita memang perlu latihan seumur hidup di dunia, karena memang perjuangan seorang muslim itu finish line-nya bukan di dunia. Dunia ini tempatnya bercocok tanam untuk negeri akhirat. Demikian mentor saya menyampaikan kutipan ayat Al Quran itu dalam suatu pertemuan. Bukankah amal yang lebih disukai itu adalah yang meskipun sedikit, namun kontinuitasnya lebih panjang? daripada banyak namun hanya sebentar. Tentu, idealnya adalah banyak dan kontinuitasnya panjang. 

Prof. Dr. Raghib As-Sirjani – seorang ulama, penulis, dokter spesialis urologi, sejarawan, dan haafidzul quran – berpesan dalam bukunya, “Menjadi Pemuda Peka Zaman”,

“Hati sanubari saya sangat miris jika melihat seorang pemuda yang kuat agamanya, gemar membaca Al Quran, melakukan sholat dengan penuh kekhusyukan, dan berdakwah di jalan Allah, namun ia mengalami kegagalan. Apakah ini makna kepahaman terhadap agama? Apakah ini makna kepahaman terhadap Islam? Islam sangat bertentangan dengan pemahaman seperti ini. Islam adalah agama yang mengajak pemeluknya berprestasi dalam setiap bidang spesialisasi hidup dan profesional dalam setiap pekerjaan.”

***

Note: Dalam beberapa konteks, turun ke jalan dan mengumandangkan pendapat kita tetap diperlukan.

Gambar via pojoksatu.id

251 Views
Sponsored