selasar-loader

Sejarah Filsafat August Comte

LINE it!
Fajar Cahyono
Fajar Cahyono
Mahasiswa Ilmu Filsafat UGM, Peserta Rumah Kepemimpinan Reg. Yogyakarta
Journal Jan 8, 2018

lqGqimcJFnmEp5EPoS2aaamLmsczqYXr.jpg

Auguste Comte merupakan filsuf Perancis abad ke 19. Comte lahir pada 17 Januari 1798. Nama asli dari Comte yaitu Isidore Marie Auguste Comte, ia berasal dari keluarga bangsawan Katholik. Ia menempuh pendidikan di Ecole Polytechnique dan mengambil jurusan kedokteran di Montpellier. Namun, dalam studinya Comte tidak sempat menamatkannya. Comte juga merupakan murid sekaligus sekretaris dari Saint Simon yang mengawali pemikiran Positivisme.

Sepanjang hidupnya Comte mengahasilkan banyak karya Intelektual diantaranya System of Positive politics; The Scientific Labors Necessary for Reorganization of Society (1882); The Positive Philosophy (6 jilid 1830-1840); dan Subjective Synthesis (1820-1903).

Pemikiran Auguste Comte, sangat dipengaruhi oleh Revolusi Perancis. Revolusi Perancis menjadikan masyarakat terbelah menjadi dua. Pertama masyarakat yang optimis dan positif memandang masa depan lebih baik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan demokrasi. Kedua masyarakat yang pesimis dan negatif memandang masa depan dan perubahan yang dinilai menimbulkan anarkisme, konflik sosial, dan sikap individualistik. Pada pilihan ini Comte cenderung pada pilihan nomor satu.

Selain itu, Comte juga sangat dipengaruhi gurunya yang merupakan tokoh awal dari positivisme yaitu Saint Simon. Walaupun dalam perkembangannya, Comte yang akan mempopulerkan positivisme. Selain itu, Comte juga merupakan penaruh batu pertama pada studi sosiologi sehingga Comte dikenal sebagai “Bapak Sosiologi”.

Pandangan Comte jika diklasifikasikan dalam gerak sejarah termasuk bagian dari ide kemajuan[1]. Ide kemajuan ini oleh Comte dideskripsikan sebagai suatu proses akumulatif perbuatan manusia dan pencapaian-pencapaian sepanjang masa. Proses kemajuan manusia semakin berkembang dan sedikit demi sedikit semakin mendekati tujuan akhir manusia. Tujuan tersebut merupakan kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan sepenuhnya atas alam.

Sebagai seorang positivisme, Comte menolak pandangan metafisis. Comte hanya menerima fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah[2]. Baginya tidak ada artinya seorang mencari hakikat di balik kenyataan. Hal yang penting yaitu savoir pour prevoir, “mengetahui supaya siap untuk bertindak atau mengetahui supaya manusia dapat menantikan apa yang akan terjadi”[3].

Manusia harus mencari dan meneliti konsep-konsep dan hukum-hukum yang terdapat dialam agar dapat meralamkan apa yang akan terjadi. Hukum bersifat positif. Positif didefinisikan oleh Comte sebagai yang berguna untuk diketahui.

Pergerakan Sejarah Comte

Sejarah gerak umat manusia, baik itu jiwa manusia, individu, kelompok, negara, dan masyarakat akan berkembang menurut hukum tiga tahapan ilmiah atau positif. Comte dalam bukunya yang berjudul “The Positive Philosophy” (1954) mengatakan:

“The law is: that each of our leading conceptions, each branch of our knowledge, passes successively through three different theoretical conditions: the theological, fictitous; the metaphysical, or abstract; and the scientific, or positive[4]

Comte mengatakan terdapat tiga tahapan perkembangan manusia yakni tahap teleologis, tahap metafisik, dan tahap positif. Tahap teleologis merupakan tahapan awal perkebangan manusia. Manusia dalam tahap ini selalu berusaha mencari sesuatu yang ada. Gejala yang terdapat di alam selalu dikaitkan dengan zat Yang Mutlak.

Pada tahap ini ditandai masyarkat yang diatur oleh para raja yang menyatakan diri sebagai wakil dari Tuhan di dunia ini[5]. Rohaniawan lahir juga sebagai wakil utusan Tuhan di muka bumi.  Sedangkan susunan militer pada jaman ini adalah masyarakat yang bersifat militer.

Tahap teleologis dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, tahap yang paling bersahaja atau primitif, yakni ketika orang menganggap bahwa segala benda berjiwa (animisme). Kedua, tahap ketika orang menurunkan kelompok hal-hal tertentu ketika seluruhnya diturunkan dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya sedemikian rupa hingga tiap tahapan gejala-gejala memiliki dewa sendiri-sendiri (politeisme).

Ketiga, pada tahap ini merupakan tahapan tertinggi. Pada tahap ini orang mengganti dewa dan mengarahkan manusia pada pandangan hakikat yang batiniah atau sebab pertama. Manusia percaya kepada kemungkinan bermacam-macam itu dengan satu roh yang tertinggi yaitu monoteisme. Manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak artinya di balik setiap kejadian ada maksud nilai didalamnya. Tahap teleologis merupakan tahapan pada Yunani Kuno hingga awal abad pertengahan.

Tahap metafisik merupakan tahap peralihan, yaitu dari masa kanak-kanak yang berkembang ke masa dewasa harus melalui masa remaja[6]. Pada tahap ini jiwa manusia sudah mulai bisa terlepas dari kekuatan adikodrati, menuju abstraksi. Ontologi juga pada tahap ini sudah mulai digunakan untuk menerangkan segala sesuatu. Melalui tahap abstraksi manusia mampu menerangkan hakikat atau substansi dari segala sesuatu yang ada.

Tahap metafisik dalam sejarah hidup manusia merupakan bagian dari Abad Pertengahan dan Renaissans. Pemikiran manusia dalam tahap metafisik tidak diarahkan kepada bahwa barang sesuatu itu ada, melaikan diarahkan ke apanya barang sesuatu itu[7]. Pergeseran dari kekuatan adikodrati menjadi kekuatan abstraksi menjadi kunci pada tahapan metafisik.

Tahap positif merupakan tahapan puncak manusia menurut Comte. Pada tahap ini perkembangan manusia sampai pada tahap akhir yang juga merupakan pembebasan manusia yang sebenarnya[8]. Manusia sudah tidak lagi tergantung dengan hal yang adikodrati dan metafisik lainnya. Manusia mencari dan membutuhkan pengetahuan yang rill yang didapatkan melalui pengamatan, percobaan, dan perbandingan. Comte menyebutnya tahap ini sebagai tahapan manusia industri.

Kehidupan masyarakat pada tahap ini diatur oleh kaum elite cendikiawan dan industrialis dengan perkemanusiaan sebagai dasarnya. Jika dala tahap teleologis dasar bagi kehidupan masyarakat adalah keluarga; dalam tahap metafisik dasarnya adalah negara; dan pada tahap positif yang menjadi dasar adalah seluruh manusia.

Berdasarkan ketiga tahapan di atas August Comte melihat perkembangan manusia berlansung linear ke arah positif yaitu kemajuan. Comte juga mengatakan masyarakat masa depan yang telah sampai pada tahap positif merupakan masyarakat yang terbaik dan ideal. Pada tahap ini kehidupan merupakan masyarakat diatur oleh kau cendikiawan dan industrialis. Pengaturan berpedoman pada cinta kasih dan ketertiban sekaligus kemajuan dijadikan tujuannya [8].

Jelasnya, ketiga tahapan perkembangan umat manusia itu tidak saja berlaku bagi suatu bangsa atau suku tertentu, akan tetapi juga individu dan ilmu pengetahuan. Lebih jauh Comte berpendapat bahwa pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan bersifat positif apabila ilmu pengetahuan tersebut memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongrit. 

Dalam hal ini Auguste Comte memberikan analog: manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis dibutuhkan figur dewa-dewa untuk menerangkan kenyataan.  Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis.  Pada tahap dewasa dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah

“Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai manusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”.

[1] Muhsin Z, Mumuh, 2007, Effat al-Sharqawi tentang GERAK SEJARAH, Diktat, Universitas Padjajaran.
[2] Munir, Misnal, 2012, Ide-ide Pokok dalam Filsafat Sejarah, Jurnal Filsafat, Vol. 22, No. 3, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada
[3] Hamersma, H., 1983, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, PT. Gramedia, Jakarta.
[4] Comte, August, 1954, “The Positive Philosophy” dalam Saxe Commins & Robert N. Linscott, Main in The Universe: The Philossopher of Science, Modern Pocket Library, New York.
[5] Ibid, hal. 281
[6] Ibid, hal.281
[7] Ibid, hal. 281
[8] Koento-Wibisono, 1983, Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme August Comte, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[9] Ibid

308 Views
Sponsored