selasar-loader

Bule Depok dan Eksistensinya

LINE it!
Raihan Hudiana
Raihan Hudiana
Mahasiswa FHUI
Journal Dec 13, 2017

iy8xFFHIyZqBDA6IsNS3OTFgl2DooUTy.jpg

Depok sebagai kota yang menghubungkan Kota Jakarta dan Kota Bogor menjadi wilayah yang cukup diminati banyak pekerja yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Selain karena wilayahnya yang tidak jauh dari Ibukota, di Depok juga harga hunian rumah relatif lebih murah daripada di Jakarta. Harga rata-rata untuk sebuah rumah di Depok adalah Rp 8,7 juta per meter persegi, sedangkan di Jakarta harga rata-rata rumah berkisar antara Rp 10,2 juta s.d. 21,9 juta per meter persegi[1].

Selain karena Depok menawarkan lokasi yang strategis, ternyata di Depok sendiri memiliki catatan sejarah yang menarik untuk dibahas. Terdapat beberapa peninggalan bangsa Belanda yang masih tersisa di sana, khususnya dalam hal kependudukan. Sebut saja istilah Bule Depok yang sering menjadi ikon penduduk Depok yang berbeda dari yang lain. Istilah tersebut menjadi sebutan bagi orang yang katanya keturunan Belanda yang bermukim di Depok. Namun benar tidaknya hal demikian masih dipertanyakan keabsahannya. Dan sayangnya kebanyakan penduduk Depok sendiri tak banyak yang tahu apa sebenarnya cerita di balik istilah tersebut.

Perlu diketahui bahwa istilah Bule Depok sama dengan istilah Belanda Depok. Masyarakat di sana lebih mengistilahkan dirinya sebagai Belanda Depok daripada Bule Depok. Untuk membahas lebih jauh mengenai Belanda Depok, perlu kiranya untuk kita bahas lebih lanjut tentang seseorang berkebangsaan Belanda yang datang ke Depok dan memberikan banyak warna bagi penduduk Depok pada saat itu hingga sekarang.

Pada abad ke-17, seorang pegawai VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di wilayah Batavia dari pemerintah Belanda untuk dijadikan perkebunan. Tepatnya pada tahun 1693, Chastelein membeli wilayah Noordwijk (sekarang Pintu Air Jalan Juanda), Lapangan Banteng, Lenteng Agung, dan Depok. Tanah tersebut merupakan tanah partikelir sehingga tuan tanah berhak melakukan apapun terhadap tanahnya[2].

Untuk mengurus tanah yang sudah dikuasainya itu, Chastelien membutuhkan orang-orang asli pribumi untuk membantunya sebagai budak. Orang-orang yang membantunya didatangkan dari Bali, Makassar, Ambon, dan beberapa wilayah di Indonesia Timur.

Sebagai seorang Kristen yang taat, Chastelien mempekerjakan budak-budaknya dengan penuh cinta kasih serta menunjukan keteladanan kristiani yang diimaninya. Dalam surat wasiatnya, Chastelien menyatakan bahwa ia akan memberikan kebebasan kepada budak-budaknya dan menghibahkan harta serta tanahnya agar mereka membangun Depok dan hidup berdampingan dengan sejahtera[3].

Budak-budak Chastelien (Belanda Depok) yang tinggal di Depok semakin berkembang hingga mereka dibagi menjadi 12 marga, yaitu: Basac, Isakh, Jonathans, Jacob, Leon, Laurens, Tholens, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Orang-orang tersebut dari tampilan fisiknya tak berbeda dengan penduduk asli Depok, tetapi dalam hal bahasa, mereka terbiasa untuk menggunakan bahasa Belanda dalam percakapan sehari-hari. Dari perbedaan bahasa tersebut menjadikan ciri tersendiri bagi Belanda depok.

vfmTGJhLBJGPXdk4cDjP3SOa_Umo4_Oi.jpg

Perubahan status sosial yang dialami Belanda Depok mempengaruhi gaya hidup, pergaulan, bahasa yang digunakan, dll. Status mereka yang semula merupakan berstatus budak, berubah menjadi orang merdeka bahkan menjadi “anak emas” pemerintah Belanda yang pada saat itu berkuasa. Hal demikian membuat mereka merasa istimewa dibandingkan dengan penduduk sekitar, yaitu masyarakat Depok asli.

Selain itu kaum Belanda Depok juga menanamkan gaya hidup orang-orang Eropa karena mereka juga berinteraksi dengan orang Eropa dan secara perlahan mengimitasi gaya orang Eropa tersebut. Dengan masyarakat pribumi, kaum Belanda Depok juga saling berinteraksi, seperti saling membantu dalam melakukan aktivitas pertanian.

Walaupun dalam catatan sejarah terdapat perbedaan kelas sosial antara masyarakat Depok asli dengan komunitas Belanda Depok, mereka tetap menjalankan kehidupan secara berdampingan, hal ini terlihat pada kegiatan pertanian, perayaan hari-hari besar, kehidupan beragama, dan hal-hal lainnya[4]. Adapun peninggalan sejarah yang masih tersisa di sana adalah Gereja Immanuel dan tugu Cornelis Chastelien yang berada di daerah Depok lama.


[1] https://kreditgogo.com/artikel/Investasi/Perbandingan-Harga-Properti-Di-BODETABEK.html
[2] Dofany, Ganista. Penerapan Faktor-faktor Interaksi Sosial pada Kehidupan Komunitas Belanda Depok dari Masa Cornelis Chastelein hingga Pra Kemerdekaan Republik Indonesia. Makalah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. September 2013.
[3] Ibid.
[4] Ibid.

916 Views