selasar-loader

Skenario Pemuda di Satu Abad Indonesia

LINE it!
Isma Saparni
Isma Saparni
Alumni kajian ketahanan nasional
Journal Nov 27, 2017

N6gifvKPVfImLn2v8lZir3LfHiBZdj39.jpg

Satu abad Indonesia adalah momentum emas untuk melihat pencapaian bangsa Indonesia. Perjalanan satu abad sebuah negara tentunya sangat dipengaruhi oleh berbagai fondasi yang dibangun serta perkembangan situasi yang terjadi hari ini.

Kemajuan teknologi, perubahan kondisi geopolitik, pengaruh globalisasi, dan perkembangan kualitas SDM tentunya sangat menentukan bagaimana kondisi Indonesia di tahun 2045, beserta peluang dan tantangannya yang mungkin lahir. Dalam hal ini, pemuda sebagai generasi penerus tentunya memiliki peran yang sangat krusial dalam menentukan arah Indonesia di ulang tahun emasnya.

Indonesia di satu abad kemerdekaannya telah coba dirumuskan dalam skenario Indonesia 2045. Istilah Skenario Indonesia 2045 lahir dari hasil riset Lemhannas RI yang diketuai Panutan S. Sulendrakusuma. Menurut panutan, Skenario adalah kisah tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Skenario dibentuk bukan hanya untuk lebih memahami masa depan, melainkan lebih dari itu, yaitu untuk memengaruhinya.[1] Skenario Indonesia 2045 memberikan jawaban tentang kondisi NKRI, peluang, dan tantangannya pada momentum satu abad Indonesia tersebut.

Lemhannas RI merumuskan empat skenario untuk Indonesia tahun 2045. Masing-masing skenario dipicu oleh kekuatan penggeraknya, yaitu demografi, ekonomi, geopolitik, dan perubahan iklim.[2] Skenario yang dihasilkan diberi nama Skenario Mata Air, Skenario Sungai, Skenario Kepulauan, dan Skenario Air Terjun.

Skenario mata air dengan demografi sebagai kekuatan penggerak menggambarkan bahwa pada tahun 2045, penduduk Indonesia didominasi generasi berpendidikan tinggi, menguasai penggunaan teknologi informasi, aktif bermedia sosial, serta terpapar nilai-nilai global.

Generasi baru di tahun 2045 kebanyakan berasal dari keluarga biasa, yang terpaut jauh dari generasi pendahulu pada masa kemerdekaan sehingga ide tentang cara berindonesia yang baik juga berbeda dengan ide generasi pendahulunya. Generasi ini juga terbiasa memperlakukan semua orang sederajat. Menurutnya, mempertahankan NKRI harus lebih didasarkan kepada prinsip integrasi fungsional jika dibandingkan dengan integrasi historis.

Dalam skenario mata air, pemerintahan di tingkat pusat diprediksi sudah berjalan transparan, cepat, dan adil, serta kualitas institusi dan SDM sudah membaik. Namun, masih terjadi percampuran kepentingan antara bisnis, politik, dan bisnis birokrasi. Elite bisnis semakin banyak menjadi pemimpin di lembaga negara.

Di sisi lain, pemerintahan di tingkat daerah masih diwarnai kualitas institusi dan SDM yang tidak merata, yang terkadang menghambat pembangunan. Kondisi ini menimbulkan terjadinya ketimpangan antardaerah dan berbagai gesekan sosial antar masyarakat. Akibatnya aspirasi untuk memisahkan diri pun kadang-kadang masih terdengar.

Selanjutnya dalam skenario sungai yang digerakkan oleh kekuatan ekonomi digambarkan bahwa Indonesia di 2045 telah keluar dari ancaman 'failed state' dan merupakan negara industri cukup maju dengan struktur ekonomi 'belah ketupat'. Artinya  jumlah kelas menengah lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin maupun konglomerat.

Kemitraan antara sektor besar, menengah, dan kecil juga digambarkan berjalan lebih baik dengan didukung infrastruktur, tata ruang, reforma agraria, kebijakan perbankan, fiskal, moneter, dan pasar modal. Dukungan iptek juga membuat sektor agroindustri berkembang sehingga terjadi peningkatan kemakmuran di perdesaan.

bZ8h_PX0ABmH_W0Fo_gUqJ8tEBop1xMP.jpg

Tantangan skenario ini berada pada permasalahan ekonomi yang berdampak pada kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial, serta korupsi. Juga, masih terjadi konflik lahan dan buruh yang diberi upah di bawah UMR. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan penduduk besar dan sangat beragam juga masih menjadi persoalan tersendiri yang berdampak secara ekonomi, sosial, politik, maupun pertahanan dan keamanan.

Skenario selanjutnya adalag skenario kepulauan. Skenario ini didasarkan pada kekuatan geopolitik Indonesia. Skenario ini menggambarkan pada 2045, Indonesia tetap eksis di tengah-tengah peradaban modern dunia sebagai bangsa yang multietnik, multikultur, bangsa yang pluralis, tetapi  dengan kadar nasionalisme yang tipis.

Kekuatan militer Indonesia digambarkan sudah besar, tetapi belum efektif dan efisien karena teknologi dan penguasaannya tidak sesuai lagi dengan zamannya. Skenario kepualauan membuat Indonesia disibukkan dengan pengamanan poros maritim dunia dan eksplorasi bawah laut yang dilakukan state dan non-state actor di sekitar NKRI.

Pada era ini, regionalisasi pengaturan operasional penerbangan di wilayah udara RI sudah terjadi, tetapi dikendalikan negara tetangga. Di tahun 2045, ketahanan nasional RI belum tangguh secara menyeluruh. Pengakuan regional/internasional atas kapasitas diplomasi RI juga belum tinggi sehingga Indonesia sulit memperjuangkan kepentingan nasionalnya di forum internasional.

Skenario terakhir adalah skenario air terjun, yakni penggeraknya didasarkan pada perubahan iklim. Skenario ini menggambarkan Indonesia pada tahun 2045 sudah menerapkan perencanaan pembangunan yang berbasis rendah karbon dan mengadaptasi pemanfaatan ruang berdasarkan penataan ruang wilayah yang baik.

Pemerintah secara bertahap mencoba meninggalkan praktik pengambilan keputusan yang berdasarkan pada keuntungan jangka pendek serta lebih mencoba cara yang ramah lingkungan meskipun manfaatnya hanya dirasakan dalam jangka panjang.

Pembangunan yang dilakukan telah memperhatikan prinsip-prinsip sustainable development goals, yaitu environmental sustainability, economic sustainability, dan social sustainability. Sektor swasta telah berperan aktif dalam pembiayaan program pembangunan berkelanjutan melalui konsep green banking dan green financing.

Low carbon development menjadi strategi utama yang dilakukan guna meningkatkan ketahanan energi di dalam negeri. Selain itu, kedaulatan pangan di 2045 dijadikan fokus utama dalam mengelola ketahanan pangan.

Tantangan Bagi Pemuda Indonesia

YeESAc2IRmibrqBF-u1N7808Xhx_zj6t.jpg

Skenario Indonesia 2045 memberikan gambaran mengenai berbagai tantangan yang mungkin terjadi ketika Indonesia berumur satu abad. Dalam skenario mata air, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah ketika peluang bonus demografi tidak dapat dikelola dengan baik.

Peluang bonus demografi yang tidak terkelola dengan baik justru dapat berubah menjadi "bencana demografi", yakni generasi muda yang seharusnya berkontribusi positif justru menjadi beban negara akibat minimnya skill dan rendahnya daya saing SDM yang dimiliki. Jika terus dibiarkan, Indonesia di tahun 2045 justru menjadi negara terbelakang akibat SDM-nya tidak mampu berdaya saing.

Oleh karenanya, akses pendidikan mesti dibuka seluas-luasnya kepada generasi muda agar mereka bisa mengembangkan kapasitasnya sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penguasaan IT dan paparan nilai-nilai global yang diprediksi akan diterima secara luas oleh generasi Indonesia di 2045 juga akan menjadi boomerang jika kecenderungan masyarakat terhadap integrasi fungsional lebih besar dibanding integrasi historis. Karena dalam integrasi fungsional, masyarakat hanya dilihat sebagai sistem yang dipersatukan oleh adanya kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi melalui interaksi diantara unsur-unsur yang ada.[3]

Kondisi ini tentunya mengancam keutuhan dan kekokohan NKRI sebab kecenderungan terhadap integrasi fungsional secara tidak langsung akan mengikis rasa nasionalisme. Hal ini patut diwaspadai sebab memudarnya nasionalisme tentunya akan merenggangkan ikatan kebangsaan yang sudah ada sehingga akan berpotensi terhadap terjadinya perpecahan dan disintegrasi bangsa.

Gejala memudarnya nasionalisme di antaranya dapat dilihat dari menguatnya primordialisme dan isu SARA. Gejala ini sudah kita temukan pada beberapa waktu terakhir, khususnya dalam kontestasi pilkada. Budaya politik masyarakat yang masih rendah dengan mengedepankan isu SARA dalam menarik dukungan tentunya menjadi celah bagi berkembangnya perpecahan di masyarakat.

Kondisi ini juga diperparah oleh penetrasi nilai-nilai global yang sebagiannya tidak sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang majemuk. Misalnya saja penetrasi nilai-nilai individualism yang berpotensi merenggangkan ikatan kebangsaan yang akhirnya memudarkan nasionalisme anak bangsa. 

Di samping itu, ekses kemajuan TIK yang semakin memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan, disisi lain perlahan juga menghapus interaksi antar masyarakat. Oleh karenanya,  penguatan rasa nasionalisme dan paham kebangsaan perlu terus digalakkan dan ditanamkan dalam diri generasi muda. Hal ini penting mengingat di tahun 2045 pos-pos strategis Indonesia tentunya akan diisi oleh generasi muda yang ada hari ini.

Tantangan lain dari skenario Indonesia 2045 yang perlu dijawab oleh generasi muda hari ini adalah menyiapkan kader terbaik bagi kepemimpinan nasional. Kepemimpinan nasional tentunya sangat dibutuhkan dalam menjamin keberlangsungan Indonesia di masa yang akan datang.

Sementara kepemimpinan nasional yang ada hari ini dinilai belum optimal perannya. Belum optimalnya peran kepemimpinan nasional disinyalir disebabkan oleh pola rekrutmen dan kaderisasi pemimpin yang belum berjalan efektif. Pola rekrutmen dan kaderisasi yang tidak matang melahirkan pemimpin yang terlalu berorientasi kekuasaan serta minim sifat kenegarawanan.

Jika generasi muda hari ini belum mampu menyiapkan kader terbaik untuk mengisi pos-pos kepemimpinan nasional, kehidupan Indonesia di tahun 2045 diprediksi akan sarat dengan menonjolnya kepentingan kelompok yang akhirnya akan menimbulkan banyak gesekan baik politik, ekonomi, maupun sosial. Gesekan ini tentunya akan berpengaruh terhadap stabilitas  nasional dan mengancam keutuhan negara.

48PhH2a_PNz-dEpYZyVmf1P4jhFFe2Pw.jpg

Oleh karenanya, masyarakat pada umumnya dan generasi muda pada khususnya mesti membekali diri dengan pendidikan politik yang baik. Pendidikan politik mesti diberikan sejak dini terhadap masyarakat, khususnya generasi muda agar budaya politik masyarakat di masa yang akan datang menjadi semakin baik. Masyarakat dengan budaya politik yang baik tentunya akan melahirkan pemimpin yang baik pula.

Sementara dalam skenario sungai, Indonesia memiliki kemungkinan besar untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, tetapi sekaligus juga bisa mengalami "middle income trap". Potensi SDA yang dimiliki dapat menjadi peluang Indonesia menguasai perekonomian dunia. Namun jika skill dan kapasitas SDM tidak terus menerus dikembangkan, kondisi perekonomian Indonesia justru akan stagnan. Apalagi jika potensi SDA yang dimiliki semakin menipis.

Oleh karenanya, perlu ada kebijakan pemerintah dalam melakukan transformasi struktural di bidang ekonomi dan memunculkan berbagai inovasi guna memperoleh manfaat lebih dari sumber pertumbuhan yang ada saat ini.

Di sisi lain kesadaran generasi muda hari ini juga perlu dibangun terus menerus, guna meningkatkan skill dan kapasitasnya serta mengembangkan inovasi. Sebab negara-negara yang mampu keluar dari middle income trap adalah negara-negara yang tingkat inovasinya tinggi. Sementara menurut Global Innovation Index 2017, peringkat inovasi Indonesia hanya berada di posisi 87 dari total 127 negara.[4]

Di sisi lain, dalam skenario kepulauan tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mewujudkan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. Karena dengan menjadi poros maritim dunia, kondisi geopolitik Indonesia akan menjadi kekuatan yang dapat memajukan Indonesia.

Namun upaya mewujudkan poros maritim juga masih terkendala banyak hal. Di antaranya adalah minimnya infrastruktur yang dimiliki, terutama pelabuhan dan juga teknologi yang dimiliki. Begitu juga halnya dengan sarana dan prasarana pengamanan yang dimiliki Indonesia. Hal ini penting mengingat rentang kendali  wilayah laut Indonesia yang cukup luas.

Dari segi SDM, kebutuhan untuk eksplorasi dan pengolahan hasil laut Indonesia rata-rata 200 ribu orang per tahun, namun perguruan tinggi baru mampu meluluskan sekitar 1.000 sarjana tiap tahun.[5] Kebutuhan ini yang juga mesti dijawab oleh generasi muda guna menyukseskan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Dalam skenario air terjun, pengelolaan yang tepat dapat menempatkan Indonesia menjadi paru-paru dunia serta memiliki banyak sumber energi. Namun skenario ini juga sangat rawan terhadap terjadinya krisis energi dan kerusakan lingkungan ketika Indonesia tidak mampu mengantisipasi perubahan iklim.

X4-HBsYpS_Ix3aPs1m5hAwS-YTVeqEbL.jpg

Kondisi ini dapat terjadi ketika pemahaman mengenai dampak perubahan iklim rendah sehingga kesadaran mengantisipasinya juga rendah baik di masyarakat maupun di elit pemerintahan. Kesadaran yang rendah membuat masyarakat melakukan eksplorasi besar-besaran terhadap sumber daya yang dimiliki. Sementara kesadaran yang rendah di elite pemerintahan membuat kebijakan yang lahir tidak pro terhadap antisipasi perubahan iklim.

Dalam konteks ini kesadaran pemuda terhadap dampak perubahan iklim mesti dibangun secara optimal sedari dini. Sebab di masa depan mereka yang harus mengambil peran untuk membangun kesadaran masyarakat serta merumuskan kebijakan pemerintah, terutama terkait upaya antisipasi perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim yang tidak terantisipasi dengan baik pada akhirnya akan berujung terhadap konflik di tengah masyarakat. Pemanasan global tahun 2045 akan diikuti perubahan iklim dan meningkatkan curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir dan erosi. Lingkungan yang sudah rusak dan krisis energi berpotensi menimbulkan konflik sosial di masyarakat yang juga berujung pada upaya disintegrasi.

Berbagai tantangan yang mungkin muncul di ulang tahun emas Indonesia pada akhirnya bermuara pada tuntutan peran generasi muda. Generasi muda sebagai pengisi pos-pos strategis di masa depan mesti memperrsiapkan diri untuk mewaspadai dan mengantisipasi dampak negatif di masa depan.

Dalam hal ini penguatan nasionalisme dan paham kebangsaan perlu dimassifkan untuk selalu mempererat engagement di masyarakat. Peningkatan kapasitas dan daya saing anak muda di tataran global juga menjadi PR tersendiri untuk mewujudkan Indonesia emas di ulang tahun emasnya.

Begitu juga kesadaran akan pentingnya poros maritim dan dampak perubahan iklim yang mesti terus dipupuk agar anak muda Indonesia tidak lagi gamang menghadapi masa depan.

Terakhir, investasi terhadap potensi generasi muda hari ini pada akhirnya menentukan wajah Indonesia di masa depan. Akankah menjadi Negara unggul di 2045 ataukah terjebak dalam tantangan skenario 2045 itu sendiri.

Kita yang menjawabnya..


[1] Budiman Tanuredjo, 15 Februari 2016, Skenario Indonesia 2045 (1): Seabad RI dalam Empat Skenariohttps://dedipanigoro.blogspot.co.id/2016/02/seabad-ri-dalam-empat-skenario-1.html, diunduh pada 26 November 2017, pukul 13.34
[2] Media Indonesia, 4 februari 2016, Skenario Indonesia 2045, http://www.mediaindonesia.com/news/read/27181/skenario-indonesia-2045/2016-02-04, diunduh pada 26 November 2017, pukul 13.37
[3] Paulus Wirutomo. Sistem Sosial Di Indonesia. (Jakarta : Universitas Indonesia, 2012), Hal. 33
[4] Kompas, 27 september 2017, http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/27/155707726/berinovasi-dan-keluar-dari-middle-income-trap, diunduh pada 26 november 2017, pukul 13.41
[5]Republika, 27 Juni 2013, Sarjana Kelautan dan Perikanan Masih Minim, http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/13/06/27/mp21kz-sarjana-kelautan-dan-perikanan-masih-minim, diunduh pada 26 November 2017, pukul 13. 57

886 Views

Author Overview


Isma Saparni
Alumni kajian ketahanan nasional

More Journal from Isma Saparni


Masa Depan Palestina
2 years ago

Menelisik Rohingya
2 years ago