selasar-loader

Engkaulah Kebanggaanku

LINE it!
Mhd Fadly
Mhd Fadly
Freelancer, penulis
Journal Nov 15, 2017

B95c2Z--O9DI-eKTNOXWtlLfpW2smSo5.jpg

sumber gambar : pixabay.com

Beliau bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi seperti Ayah lainnya, bukan juga ahli agama yang mampu menasihati, membimbing, ataupun mengarahkan kami langsung kepada jalan agama yang ada dalam pemikirannya. Ayah hanya seorang yang mungkin saja tamat SMP atau tamat SMA, karena ia selalu tidak menjawab ketika ditanya mengenai pendidikan terakhirnya.  

Beliau bukanlah seorang yang kaya, pekerjaan yang sukses, dan bukan juga dari keturunan yang kaya yang mempunyai harta hingga tujuh turunan. Ayah hanyalah seorang pegawai rendahan dan setelah pensiun (tenaganya tidak mampu lagi bekerja di perusahaan) ia hanya berjualan yang ditopang oleh ibu di rumah.

Beliau bukanlah seorang yang alim, pengetahuan agamanya hanya pas-pasan. Sebagai anak ke 15 dari 16 bersaudara menjadikannya tidak dapat perhatian pendidikan agama yang berlebih ketika masa mudanya.

Haruskah aku tidak bangga menjadi anakmu? Haruskah aku menyesal hidup dilahirkan dari keturunanmu? Haruskah aku minder karena berayahkan sepertimu? Dan ketika pertanyaan itu dilontarkan kepadaku, aku akan menjawab:

AKU BANGGA MENJADI ANAKMU, AYAH…….. TERIMA KASIH AYAH.

Bagiku, Ayah adalah orang yang paling sabar yang pernah aku temui. Sejauh ingatan, hanya sekali engkau memukulku di antara ribuan kenakalan yang telah aku perbuat. Selebihnya engkau hanya menepuk meja dengan jari-jari yang membuat irama sebagai penanda bahwa engkau sedang menahan emosi atas kenakalan anak-anakmu.

Bagiku, Ayah adalah seorang teman baik, ya teman yang sangat baik. Tidak jarang engkau bermain dan bercanda, bergelut, piting-pitingan dengan anakmu yang kedua-duanya adalah lelaki. Adapun cara menghormati seorang Ayah di genarasimu (generasi X) adalah Ayah yang kehormatannya ditunjukkan selalu patuh pada keputusannya, otoriter terhadap kebijakannya. Namun engkau selalu mengajak kami untuk dapat memutuskan dan menjalani keputusan itu.

Bagiku, Ayah adalah seorang yang paling dermawan dan seorang ilmuwan yang rendah hati, walau tak punya harta miliaran bahkan triliunan ataupun ilmu akademis yang tinggi setinggi langit. Petuah engkau adalah “Tidak akan meninggalkan harta untuk kalian (anaknya), tapi tuntutlah ilmu untuk mencari kehidupan kalian”.

Bagiku, Ayah adalah seorang Psikolog, yang sangat mengerti perilaku dari rentang usia perkembangan anak-anaknya. Menjadi abang ketika anaknya sudah besar, menjadi sosok Ayah ketika anaknya butuh perlindungan. Mengerti akan darah mudah anaknya ketika mempertahankan argumentasinya di depan khalayak ramai, ia hanya berpesan “Engkau yang kini lebih banyak tahu banyak perbedaan pandangan dalam beragama dari pada Ayah, hanya satu pesan Ayah jangan tinggalkan salat”.

Bagiku, Ayah adalah seorang perencana yang unggul, walau ia tidak mengerti strategi berpolitik. Ayah sangat mengerti apa yang harus diperbuatnya untuk anaknya di masa mendatang dan untuk dirinya sendiri. Ayah sangat ingin di akhir hidupnya, anaknya lah yang mengurusi jenazahnya, maka dari sejak tamat SD kami disekolahkan di pesantren.

Dan akhirnya engkaulah pelopor jenazah yang disalatkan di musala kecil, orang yang pertama sekali di lingkungan itu tidak menunggu waktu zuhur untuk disemayamkan.

Terima kasih Allah, yang memberikan Ayah kepada kami. Kami sangat bangga menjadi Anakmu. Doa kami agar senantiasa dijauhkan azab kubur darimu dan jauhkan api neraka untukmu. Amiiin.

Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

Sumber : medandeli.com

330 Views