selasar-loader

Memburu Surga bersama Jendela Dunia

LINE it!
Asep Abdurrahman
Asep Abdurrahman
Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang
Journal Nov 14

iyeQBJXNtFp5VfJyKZwpbdmpduiie-uu.jpg

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan ketenangan dan kedamaian dalam meniti hidupnya. Kedamaian yang dicari di zaman digital ini adalah kedamaian yang bermuara pada peningkatan keimanan kepada sang pemberi kehidupan.

Kala kita tengok jalan-jalan protokol, tempat hiburan, pusat perbelanjaan, tempat makan, dan pusat kegiatan masyarakat lainya, selalu dipenuhi hilir mudik kendaraan dan berjubelnya lautan manusia. 

Namun, kegiatan yang biasa dilakukan di waktu liburan dan akhir pekan tersebut hanya memberikan ketenangan dan kebahagian sementara. Setelah liburan usai, masalah yang terkategori psikologis tersebut hadir kembali menyapa masyarakat.

Tidak jarang masyarakat, ketika menghadapi problem yang muncul akibat intensitas kedekatan dengan tuhannya semakin berkurang, maka bukan tidak mungkin segala upaya untuk meraih kebahagian yang dianggap vital dalam rangka memenuhi kebutuhan batiniah adalah hal yang tidak boleh diremehkan.

Melalui kedekatan dengan tuhannya bisa dipastikan kondisi kehidupan masyarakat akan kembali damai, tenang, dan penuh optimistik dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan zaman ini.

Salah satu upaya untuk membuka kembali kedekatan dengan sang maha pemberi hidup adalah melalui kegiatan membaca yang rutin tanpa beban, seperti membaca di perpustakaan. Terlebih pemerintah Indonesia sudah memiliki wajah baru perpustakaan, yang digadang-gadang sebagai perpustakaan tertinggi di dunia.

Perpustakaan meretas kebahagian

Menurut Mulyani A. Nurhadi (1983) perpustakaan merupakan unit kerja yang mengumpulkan, menyimpan, memelihara, dan mengelola pemanfaatan koleksi untuk para pemakainya.

Perpustakaan milik pemerintah yang sudah menampakkan wajah barunya, kini menyimpan sekitar 3,6 juta koleksi buku, naskah, foto, film, audiao visual, jurnal, majalah, dan 5 ribu koleksi Braille.

Perpustkaan yang memberikan kenyamanan kepada pengunjung tersebut, diharapkan mampu menjadi wisata rohani dan intelektual yang memberikan wawasan keilmuan di berbagai bidang. Yang tidak kalah pentingnya lagi adalah mampu memberikan rasa kedamaian, ketenangan, dan kebahagian kepada pengunjung usai membaca buku- bukut tersebut.

Kehadiran perpustkaan yang menyediakan area bermain tersebut, secara tersirat pemerintah mempunyai tujuan yang mulia yaitu agar pengunjung tertarik datang ke puspenas bersama keluarga tercinta yang dapat menumbukan minat baca bagi masyarakat Indonesia.

1J0WdY3OBAnEUnXow7DMf75_GV31b-RJ.jpg

Melalui perpustakaan juga, pemerintah ingin mencerdaskan anak bangsa, baik cerdas intelektualnya maupun cerdas rohaninya. Banyak buku-buku yang mengupas bahwa dengan memperbanyak baca, kita akan kembali mengoptimalkan fungsi daya pikir yang pada akhirnya dapat menekan angka kepikunan menjelang usian senja.

Bahkan menurut Aidh al-Qarni (2007) membaca dapat menghilangkan kesedihan, karena dalam membaca kita akan diajak untuk menyelami indahnya ilmu pengetahuan yang masuk meresap ke ruang batiniah yang pada akhirnya akan melupakan kesedihan dalam dirinya.

Namun sayang kehadiran wajah baru perpustkaan nasional yang diresmikan belum genap dua bulan tersebut, diperkirakan akan viral di media sosial ternyata sampai tulisan ini diturunkan belum mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat.

Bahkan menurut Asma Nadia yang dilansir oleh Refublika 28/10 pada kolom resonansi menyebutkan bahwa perpustakan nasional yang mengalahkan tingginya perpustkaan di Cina tersebut, baru menarik ratusan pengungjung.

Jauh dari yang diperkiran akan viral di media sosial, begitu diresmikan oleh pemerintah tanggal 14 September 2017, perpustakaan yang terdiri dari 24 lantai tersebut kurang mendapat respon positif dari masyarakat.

Padahal membaca adalah titah tuhan dalam Kitab suci yang mampu memberikan rasa kebahagian, kedamaian, ketenangan, dan secara normatif diberikan pahala yang berlimpah oleh tuhan bagi hamba-Nya sebagai modal dasar untuk membahagiakan dirinya.

Di samping itu dengan membaca kita diajak untuk berinteraksi dengan pengarang buku, seolah-olah kita diajak diskusi tanpa tersekat oleh ruang dan waktu. Yang membuat kita menjadi merasa ada teman tanpa kesepian walaupun yang kita dihadapi adalah benda mati yang tak mampu berbicara kepada pembacanya.

Jadikan Perpustakaan sebagai Rumah Sendiri

676UsDkWpgf8MaDBwYr-5UIa0lZDCWy1.jpeg

Perpustkaan yang mendapat julukan jendela dunia, kini nasibnnya berada diambang kesedihan. Beberapa perpustakaan yang pernah saya kunjungi cukup sepi, tetapi ramai pada saat musim tugas.

Sehari-hari perpustakaan banyak dikunjungi oleh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dengan tujuan yang berbeda beda. Pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum biasanya akan mencari buku-buku yang ditugaskan oleh guru dan dosen bahkan ada yang sekedar ngadem untuk melepas panas di luar sampai sekedar mencari informasi lewat Koran dan majalah yang sudah disediakan di perpustakaan. 

Sejatinya, perpustakaan adalah tempat menyingkap wawasan dan pengetahuan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, perpustakaan perlu mendapat sentuhan manajemen yang mampu membangkitkan semangat masyarakat untuk berkunjung dan membaca sebagai wujud manusia yang dianjurkan untuk berpikir.

Menurut hemat penulis, perpustakaan perlu dijadikan sebagai rumah sendiri agar kita bisa bersentuhan dengan semua buku yang terdapat di dalamnya. Dengan buku lah kita bisa meneropong masa depan. Dan dengan bukulah kita mampu menganalisis berbagai kejadian yang menyangkut kehidupan masyarakat banyak.

Kiranya pengelola perpustakaan baik pemerintah maupun masyarakat perlu membuat gebrakan dan terobosan baru agar masyarakat benar-benar tertarik untuk berkunjung ke perpustakaan. Misalnya; mengadakan acara-acara dengan menghadirkan orang-orang besar yang gila membaca yang telah sukses mempengaruhi banyak orang.  

Lalu bebas akses perpustakaan namun terkendali, kenggotaan tidak terbatas teritorial wliayah, pelayanan terbaik, mendapat makan siang gratis, sebulan sekali diadakan pemilihan pengunjung teraktif kemudian dijadikan duta oleh pemerintah, perpus keliling lebih dimaksimalkan, sampai wacana perpustkaan buka 24 jam seperti yang ada diberbagai negara seperti India, dll.

Selain itu, pengelola perpus perlu memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa perpus ini anggap saja seperti rumah sendiri. Jika ada buku yang berserakan bisa dirapihkan, bila haus dan lapar bisa mengambil sendiri di dapur, pengunjung tidak tertib bisa sama-sama diingatkan dan mengembalikan buku ke tempat setelah selesai dibaca.

Semua itu perlu komitmen serius dari berbagai pihak, agar perpustakaan betul betul menjelma dalam diri pengungjung seperti rumah huni seperti surga yang menawarkan kenyamanan untuk anggota keluarganya.

Selamat datang di jendela di dunia, salam kebahagian!

127 Views