selasar-loader

Siri' Na Pacce: Falsafah Suku Bugis-Makassar yang Salah Interpretasi

LINE it!
A. Khalil Gibran Basir
A. Khalil Gibran Basir
Rumah Kepemimpinan Regional 7 | CEO dan Co-Founder Panrita Studio | FIM 19
Journal Nov 14

ig8ID3BJ3MXlhV9c_jxVFEa1rt5o9LQa.jpg

Jika dahulu hanya dibutuhkan seorang Sultan Hasanuddin untuk membuat pemerintah kolonial Belanda merasa segan, mungkin sekarang ini dibutuhkan seribu pemuda Makassar untuk menggantikan posisinya. Pemuda Makassar sekarang ini kehilangan jiwa patriotik seorang Sultan Hasanuddin, yang sebenarnya sedari dulu tertanam pada jiwa berani orang-orang suku Bugis-Makassar.

Keberanian seorang Sultan Hasanuddin rentan disalahdiartikan oleh generasi muda Makassar saat ini. Saling bertukar pukulan, menghujankan anak panah, tawuran mahasiswa, serta generasi geng motor yang menjamur, inikah wajah Makassar yang akan ditampilkan ke seluruh dunia? Ke manakah perginya “Ayam jantan dari Timur” yang selalu didengungkan dahulu?

wVi-IGwlKMGpLuvWV7tqTThnhBUt7uhH.jpg

Suku Bugis-Makassar dikenal mencetak banyak tokoh dengan watak kepemimpinannya seperti Sultan Hasanuddin, Tun Abdul Razak, Jenderal M. Yusuf, dan Jusuf Kalla. Keempat tokoh tersebut adalah putra asli Bugis-Makassar yang memegang erat falsafah hidup suku Bugis-Makassar. Falsafah itu dikenal dengan Siri’ Na Pesse’ (dalam bahasa Bugis) atau Siri’ Na Pacce (dalam bahasa Makassar). 

Siri’ Na Pacce merupakan gabungan dari dua unsur adat Bugis-Makassar yaitu Siri’ dan PacceSiri’ dalam bahasa Makassar diartikan sebagai rasa malu, harga diri, dan menjaga kehormatan. Siri’ merupakan hal yang sakral bagi masyarakat Bugis-Makassar. Bahkan menurut kepercayaan Auku Bugis-Makassar, ketika seseorang telah kehilangan Siri’-nya maka tidak ada lagi artinya untuk hidup di dunia ini.

Menjaga harga diri bagi masyarakat Bugis-Makassar sampai akhir hayat lebih penting dibandingkan dengan nyawa sendiri. Oleh karena itu,  Siri’ menjadi kekuatan spiritual yang menggerakkan hati masyarakat Bugis-Makassar untuk rela mengorbankan nyawa demi sebuah perjuangan. Prinsip Siri’ inilah yang membentuk watak keberanian masyarakat suku Bugis-Makassar.

Berbeda dengan Siri’Pacce diartikan sebagai rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial. Pacce membentuk masyarakat Bugis-Makassar menjadi masyarakat dengan solidaritas dan rasa empati yang tinggi. Dalam bermasyarakat dan kepemimpinan, masyarakat Suku Bugis-Makassar selalu mengutamakan kepentingan bersama sehingga kepemimpinan berjalan dengan merakyat. Hal inilah yang mendorong masyarakat Bugis-Makassar memiliki kemampuan mudah berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat. Jusuf Kalla adalah salah satu sosok yang berhasil mengaktualisasikan kemampuan ini untuk mendamaikan konflik berkepanjangan antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). 

szPdpMnRFSeW-y-lVrhd1YIVthnLMOmS.jpg

Meskipun Siri’ dan Pacce merupakan dua hal yang berbeda, keduanya interdependen. Hal ini dikarenakan keberadaan Siri’ mendukung pengaktualisasian Pacce, begitu pula sebaliknya. Kedua prinsip ini menjadi pegangan hidup bagi masyarakat Sulawesi Selatan di dalam mengatur pranata dan sistem sosial yang telah diterima secara turun-temurun serta melalui proses yang panjang. Demikian, falsafah inilah yang membentuk jiwa kepemimpinan tokoh-tokoh besar di Sulawesi Selatan.

Berkaca pada realitas satu dekade terakhir, nilai-nilai Siri’ Na Pacce mengalami alienasi dari masyarakat Sulawesi Selatan. Nilai-nilai moral Siri’ dan Pacce mengalami dekadensi yang cukup tajam akibat lemahnya sikap, melunturnya etika dalam kehidupan bermasyarakat serta perspektif pemuda Makassar yang timpang. 

Siri’ dan Pacce dewasa kini diartikan sebagai ajang unjuk kekuatan. Ketika terjadi pertikaian antara dua pihak, kedua pihak saling melemparkan cacian, makian, bahkan tidak jarang berakhir dengan pertumpahan darah. Menggunakan rasa Siri’ sebagai dalil pembenaran lalu bertindak tanpa konsep hanya untuk menunjukkan pihak yang lebih hebat. Akibatnya, kedua pihak yang saling bertikai tidak ada yang mau mengalah.

Kedua pihak yang saling bertikai terus mempertahankan sikap arogannya. Meskipun tidak jarang permasalahan diakibatkan oleh hal yang sepele seperti permasalahan antara individu dan individu lainnya. Namun, hal inilah yang memicu pecahnya konflik antarkelompok. Kedua pihak berdalih, bahwa ini adalah implementasi dari sikap Pacce. Padahal tidak semua permasalahan dapat diselesaikan secara berkelompok. Miris, realitas pemuda Makassar sekarang ini kontra dengan makna Siri’ dan Pacce yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena Siri’ dan Pacce hanya dipandang sebelah mata, tidak dimaknai secara mendalam.  

Budaya mengajarkan tentang falsafah hidup manusia. Tergerusnya nilai-nilai falsafah hidup Siri’ Na Pacce merupakan bukti tergesernya nilai budaya lokal. Pergeseran nilai budaya lokal diperparah oleh derasnya arus globalisasi yang mengakibatkan budaya global dan budaya lokal memiliki batasan yang semakin tidak jelas, terutama dalam konteks sosial dan perilaku.

Hal yang memprihatinkan adalah masyarakat memiliki kecenderungan lebih cepat mengadopsi budaya global yang negatif jika dibandingkan dengan budaya lokal yang positif dan produktif. Tampak bahwa lemahnya sikap dan daya kritis masyarakat mengakibatkan kurangnya kemampuan menyeleksi budaya global sehingga terjadi pengikisan nilai-nilai lokal yang positif.

Lemahnya sikap dan daya kritis masyarakat terhadap perkembangan budaya tidak terlepas dari pemahaman masyarakat yang tidak memadai atas esensi kebudayaan. Pemahaman atas esensi kebudayaan merupakan hal yang penting agar dapat menjadi filter kebudayaan bagi masyarakat. Namun, sebelum seseorang memahami esensi dari kebudayaan, terlebih dahulu harus memecahkan pertentangan-pertentangan yang ada di dalamnya.

Kesadaran tentang perkembangan unsur-unsur kebudayaan merupakan pertentangan pertama yang harus dipecahkan. Perlu diketahui bahwa suatu kebudayaan bersifat stabil akan tetapi juga bersifat dinamis sehingga setiap kebudayaan mengalami perubahan-perubahan yang kontinu. Setiap kebudayaan selalu mengalami perkembangan, hanya budaya yang mati saja yang bersifat statis. Seringkali masyarakat tidak menyadari perubahan ini.

Sebagai contoh, dengan perkembangan teknologi saat ini, gaya berkomunikasi lebih cenderung menggunakan jasa gadget dan internet. Hal ini menyebabkan akses untuk berkomunikasi lebih mudah. Namun, perkembangan semacam ini dapat berdampak negatif pada kebudayaan lokal jika tidak diantisipasi secara benar.

Contoh lainnya yaitu gaya berpakaian zaman dahulu dan sekarang. Jika dahulu gaya berpakaian cenderung tertutup, berbeda dengan zaman sekarang yang cenderung terbuka. Bahkan sekarang di masyarakat tidak jarang kita menemukan seseorang dengan gaya berpakaian yang tidak sesuai dengan nilai budaya lokal.

Mungkin perubahan-perubahan seperti ini dianggap biasa oleh masyarakat. Namun, perubahan dan penyesuaian budaya semacam ini seharusnya tidak diterima secara mentah-mentah oleh masyarakat. Masyarakat harus sadar dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Masyarakat harus mengetahui unsur-unsur budaya yang tetap stabil dan unsur-unsur budaya yang mengalami perubahan. Dengan demikian, masyarakat dituntut untuk bersifat kritis terhadap perubahan yang terjadi.

Selain bersifat kritis terhadap perubahan yang terjadi, masyarakat harus menyadari bahwa kebudayaan turut serta menentukan jalan hidup seseorang. Banyak dari anggota masyarakat tidak menyadari hal ini. Meskipun kebudayaan merupakan atribut manusia, jarang kita menemukan seseorang yang mengenali dan meyakini kebudayaannya sendiri secara utuh.

070EatyJm7HHAq1ftrYObOvSgV5jMgKU.gif

Betapa sulitnya untuk menguasai budaya secara utuh di zaman modern ini, seolah-olah budaya dipelajari secara terpisah dari diri sendiri. Padahal kebudayaan merupakan abstraksi pola perilaku yang menunjukkan kepribadian seseorang sehingga kebudayaan memegang peran atas keputusan-keputusan yang diambil oleh seseorang untuk menentukan jalan hidupnya.

Kebudayaan menunjukkan ciri khas perilaku dan kepribadian masyarakat. Kehilangan identitas budaya sendiri berarti kehilangan kepribadian yang menjadi ciri khas masyarakat setempat. Oleh karena itu, kehilangan identitas budaya sendiri mempengaruhi jalan hidup manusia kedepannya.

Melihat fenomena yang terjadi pada generasi muda Makassar saat ini merupakan bukti terjadinya krisis identitas budaya. Menemukan kembali identitas budaya Bugis-Makassar merupakan tantangan terbesar bagi generasi muda Makassar di samping semakin cepatnya arus globalisasi saat ini.

Untuk mengembalikan identitas budaya Bugis-Makassar, diperlukan strategi yang efektif. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan aktualisasi falsafah hidup Siri’ Na Pacce pada tempatnya. Aktualisasi falsafah hidup pada hakikatnya berawal dari pemahaman yang  mumpuni atas falsafah hidup itu sendiri.

Hal ini berarti falsafah Siri’ Na Pacce dapat diaktualisasikan jika pemahaman atas falsafah Siri’ Na Pacce  dipahami secara menyeluruh. Pemahaman yang bersifat parsial akan menyebabkan ketimpangan perspektif atas falsafah itu sendiri. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan Siri’ Na Pacce.

Dalam menginterpretasikan Siri’ Na Pacce tidak terlepas dari keterkaitannya dengan unsur-unsur adat lainnya. Siri’ Na Pacce tidak dapat berdiri sendiri jika tidak dikaitkan dengan unsur adat lainnya. Salah satu unsur adat yang penting yaitu mangngalli.  Mangngalli merupakan unsur adat yang mencakup kualitas keagamaan, pengetahuan, kepribadian yang baik, dan kekayaan.

Dalam perspektif keagamaan, Siri’ merepresentasikan rasa pengabdian kepada Tuhan. Rasa Siri’ mengarahkan seseorang untuk tidak melupakan Tuhan yang telah menciptakan manusia, dunia, dan seisinya.

Dalam perspektif pengetahuan, Siri’ dan Pacce merepresentasikan rasa ingin tahu dan implementasi pengetahuan kepada masyarakat.

Siri’  Na Pacce menciptakan rasa malu dan takut dicap sebagai orang tidak berpendidikan sehingga memacu seseorang untuk menuntut ilmu pengetahuan, kemudian mengimplementasikan ilmunya kepada masyarakat sebagai bentuk pengabdian.

Dalam hal pembentukan kepribadian dan kekayaan, rasa Siri’ dan Pacce memacu sifat tanggung jawab, rasa hormat terhadap orang lain, serta kerja keras untuk mencapai kesejahteraan.

Demikian, integrasi mangngalli dan falsafah Siri’ Na Pacce akan mendorong terciptanya jiwa intelektual, rasa hormat kepada orang lain, tanggung jawab, serta kerja keras yang tetap tidak melenceng dari koridor keagamaan.

Penyampaian nilai moral Siri’ Na Pacce di era modern ini adalah tantangan besar bagi masyarakat Sulawesi Selatan sebab eksistensi nilai budaya lokal semakin tergeser oleh budaya global. Sekadar menyampaikan tidaklah cukup. Dibutuhkan strategi dan penyampaian secara efektif agar nilai Siri’ Na Pacce tersampaikan secara komprehensif.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah memasukkan unsur kebudayaan lokal ke dalam berbagai pelatihan kepemimpinan. Sekarang ini banyak ditemukan pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk membentuk jiwa seorang pemimpin. Namun, konsep pelatihan kepemimpinan sekarang ini cenderung sama. Masih sedikit ditemukan pelatihan kepemimpinan yang menyertakan nilai budaya lokal di dalam muatan materinya sehingga, ditinjau dari pemahaman budaya lokal, tujuan pelatihan tidak tercapai sepenuhnya.

Akibatnya, bibit pemimpin yang dihasilkan masih awam terhadap budaya lokal. Pelatihan kepemimpinan seharusnya membentuk pemimpin yang memahami budaya lokal seperti Siri’ Na Pacce agar pemimpin dapat membaca karakteristik masyarakat. Demikian, seorang pemimpin dapat menemukan gaya kepemimpinan yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.

Pemahaman budaya lokal tidak hanya dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Setiap detik, menit, hari, dan tahunnya terlahir generasi potensial yang merupakan bibit seorang pemimpin. Agar penyampaian nilai moral Siri’ Na Pacce berjalan secara sustainable, pemahaman budaya lokal harus ditanamkan sejak dini melalui jalur pendidikan. Sistem pendidikan saat ini membutuhkan budaya lokal untuk menciptakan pelajar yang berkarakter.

Berbagai kurikulum telah dirumuskan oleh pemerintah, tetapi melihat perilaku pelajar Indonesia saat ini, ternyata kurikulum yang ada belum efektif membentuk generasi muda yang mencintai budaya lokal secara utuh. Oleh karena itu, perlu kurikulum pembelajaran yang menjadi abstraksi pengimplementasian budaya lokal secara spesifik mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Pada kurikulum pembelajaran tingkat sekolah dasar, implementasi nilai budaya lokal ditekankan pada pemahaman budaya lokal. Penyampaian nilai budaya lokal dilakukan secara komunikatif, interaktif, dan bertahap sesuai dengan usia. Metode ini dilakukan sebab pada usia sekolah dasar anak-anak lebih mampu menyerap nilai budaya lokal jika konsep pembelajaran budaya lokal dilakukan sambil bermain. Misalnya, pada beberapa sesi pembelajaran diadakan perlombaan permainan tradisional serta studi wisata tempat bersejarah.

Kegiatan seperti ini akan mendorong sifat rasa ingin tahu anak-anak terhadap budaya lokal. Namun di samping itu, satu hal yang perlu diperhatikan bahwa sebagai pembimbing, seorang guru berkepentingan untuk menjelaskan nilai esensial dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Dengan  demikian, pembelajaran nilai budaya lokal secara interaktif dan komunikatif akan membantu anak usia sekolah dasar lebih mudah menyerap materi pembelajaran.

Pada kurikulum pembelajaran tingkat menengah pertama dan atas, implementasi nilai budaya lokal ditekankan pada pemahaman secara komprehensif dan pengaplikasian nilai budaya lokal pada lingkungan sekitar. Pengaplikasian dapat dilakukan dengan meningkatkan intensitas kegiatan yang bernuansa kearifan lokal misalnya tudang sipulung

Tudang sipulung merupakan budaya politik Suku Bugis-Makassar. Secara harfiah tudang sipulung berarti “duduk bersama”, tetapi secara konseptual merupakan ruang bagi publik untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan dalam mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh suatu kelompok atau masyarakat. 

Tudang sipulung inilah yang merupakan abstraksi ruang publik otentik yang dapat memediasi antara masyarakat dan pemimpin. Dengan meningkatkan intensitas kegiatan bernuansa kearifan lokal seperti ini bukan hanya bertujuan membentuk generasi muda yang cinta budaya lokal akan tetapi membantu dalam melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang mulai ditinggalkan.

Sementara itu, di tingkat perguruan tinggi, pengaplikasian nilai budaya lokal dilakukan secara paripurna mencakup skala yang lebih luas. Mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan, social control, serta iron stock. Sebagai agen perubahan, seorang mahasiswa bukan hanya menjadi penggagas perubahan di masyarakat, namun harus menjadi role model atas perubahan yang digalakkan.

Sehingga mahasiswa bukan hanya giat menyuarakan pentingnya nilai budaya lokal, tetapi juga harus mencontohkan kepada masyarakat bahwa mahasiswa adalah generasi bangsa yang memahami dan mencintai budaya lokal. Oleh karena itu, di setiap gerak-gerik mahasiswa seharusnya menggambarkan tindakan yang berbudaya. Dengan cara ini,  di setiap kegiatan mahasiswa, dampak negatif seperti tawuran serta orasi yang berakhir bentrokan dapat diminimalisir.

UD8mVRuNCHeeYlO8tswzjJeF2DIiOaYs.jpg

Penginterpretasian dan pengimplementasian Siri’ Na Pacce secara tepat akan membentuk generasi muda pemimpin masa depan yang memiliki akhlak serta moral patriotik. Seperti Sultan Hasanuddin, bukan hal yang tidak mungkin jika sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, Makassar akan menghasilkan seribu generasi pemimpin yang mampu bersaing di kancah percaturan dunia.

148 Views

Author Overview


A. Khalil Gibran Basir
Rumah Kepemimpinan Regional 7 | CEO dan Co-Founder Panrita Studio | FIM 19

More Journal from A. Khalil Gibran Basir


Millennials = Generasi Micin?
1 week ago

Top Answers


Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?
3 weeks ago

Online Marketplace apa saja/mana saja yang ada di Indonesia untuk saat ini?
3 weeks ago