selasar-loader

Millennials = Generasi Micin?

LINE it!
A. Khalil Gibran Basir
A. Khalil Gibran Basir
Rumah Kepemimpinan Regional 7 | CEO dan Co-Founder Panrita Studio | FIM 19
Journal Nov 13

ZOOnM-6g936BXYLVmIIt2vq8oIXkcc-8.jpg

Pernahkah kita berpikir bahwa hampir setiap istilah beken yang kita dengar saat ini merupakan hasil dari produk generasi millenial?

Generasi millenial saat ini memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa, terkhusus karena generasi ini menghimpun pemuda pemudi yang produktif dan berpotensi untuk berkontribusi bagi lingkungan sekitar, bangsa, dan negara. Generasi ini memiliki ciri kreatif dan peka terhadap perkembangan zaman terutama dalam hal perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih.

Meski demikian, kepekaan ini tidak dibarengi dengan pola pikir ke-Indonesia-an yang mulai mengalami dekadensi akibat arus budaya dampak globalisasi yang menyusup melalui sisi-sisi menarik yang ditawarkan zaman ini.

Data menunjukkan sekitar 82 persen pengguna internet di Indonesia didominasi oleh pemuda dengan rentang usia sekitar 20-24 tahun serta 25-29 tahun. Angka ini lebih tinggi dari kelompok usia lain berdasarkan riset yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Dengan persentase seperti ini, dipastikan sekitar 22,3 juta jiwa penduduk usia 20-24 tahun dan sekitar 24 juta jiwa penduduk kelompok usia 24-29 tahun merupakan pengguna aktif internet di Indonesia yang terpapar dengan arus budaya globalisasi dari luar Indonesia.

Hal ini merupakan implikasi dari akses informasi yang semakin luas serta komunikasi yang saat ini lebih mengandalkan media sosial sebagai media utama. Senada dengan pergeseran pola komunikasi serta akses informasi yang luas, terjadi dekadensi nilai nilai ke-Indonesia-an mulai dari sisi perilaku, budaya turun temurun, serta yang terutama, bahasa.

Bahasa Indonesia dewasa kini tidak menemukan jati diri utamanya lagi. Banyak yang telah mengalami modifikasi sebagai bentuk penyesuaian dengan zaman sekarang. Bahkan, istilah istilah yang berkembang sekarang merujuk ke arah menjustifikasi suatu kaum yang berasal dari generasinya sendiri.

"Generasi millenial menciptakan suatu produk yang destruktif di zaman kini, yaitu kata-kata"

Perlahan tetapi pasti, generasi millenial mengotak-kotakkan dirinya sendiri dalam stigma negatif. Menyerang satu sama lain dengan menggunakan media yang sama sekali abstrak sehingga dapat menimbulkan keambiguan dalam mengutarakan statement ataupun pendapat. Keambiguan dalam menyampaikan pendapat di media sosial seperti ini yang kemudian dapat menjadi faktor utama stigma-stigma negatif tersebut melekat erat pada generasi millenial. Cyber bullying pun memenuhi trending topic di media sosial.

u7HAfAd8EOrRzC3-Gql9nFuyycWPYqRc.png

Ada apa dengan generasi millenial?

Generasi millenial adalah generasi yang paling produktif dalam satu dekade terakhir. Berada pada tahun kelahiran antara 1980 sampai dengan 1997, generasi ini dikatakan paling gencar melakukan inovasi dalam berbagai sektor. Tidak heran banyak terobosan-terobosan kreatif yang dilakukan oleh generasi ini.

Sebut saja salah satunya Mark Zuckerberg, CEO dan Founder Facebook yang menuai kesuksesannya di usia muda. Kreativitas, keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, serta semangat yang menggebu-gebu dalam menunjukkan kebolehan diri membuat generasi ini kemudian dijuluki dengan generasi millenial.

Sayangnya, dengan potensi besar yang dimiliki generasi millenial ini, masih banyak yang tidak terarah dengan tepat. Sumbu emosi yang labil bagi sebagian kaum dari generasi ini kadang menjadikan generasi ini sebagai korban dari cyber bullying. Bahkan yang anehnya, generasi millenial sendiri yang memberikan “cap” khusus bagi mereka (generasi millenial) yang berpikiran pendek sebelum bertindak.

Sebut saja yang menjadi perbincangan hangat saat ini adalah “generasi micin”. Generasi micin merujuk pada perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak mampu untuk dimengerti, memiliki tingkah laku aneh, dan tidak pada umumnya. Generasi micin dalam konteks ini dapat juga merujuk pada generasi yang gemar makan micin sehingga kualitas pemikiran anak zaman dahulu berbeda dengan anak zaman sekarang yang dalam hal ini sebagian kaum dari generasi millenial masih dianggap labil dan berpikiran pendek.

Maklum, stigma negatif telah melekat pada micin yang dikatakan dapat secara perlahan merusak otak manusia. Namun, betulkah demikian?

Apa yang salah dengan micin?

Micin atau secara ilmiahnya kita biasa sebut dengan MSG (Monosodium Glutamat) merupakan senyawa aditif yang menyebabkan ketergantungan, biasanya digunakan dalam bumbu praktis penyedap makanan. Konon, micin dikatakan sebagai penyebab utama terjadinya sindrom restoran cina yang merupakan sindrom yang muncul setelah seseorang mengkonsumsi makanan cina (chinese foods). Gejala-gejala yang ditimbulkan pun beragam seperti sakit kepala, mual, dan mati rasa.

Betulkah micin menyebabkan kebodohan?

1NuFcb4eCKe6BvzlNJjlJp4E2o5V75eM.jpg

Nama baik micin sepertinya telah terlanjur ternoda dengan stigma “penyebab kebodohan” jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Namun tahukah kita bahwa sampai saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang mampu menjelaskan seorang anak akan menjadi bodoh jika secara terus menerus mengkonsumsi micin?

Dikutip dari hasil evaluasi oleh Journal of Nutrition, penelitian yang membuktikan kerusakan otak akibat micin (MSG) memiliki beberapa kelemahan, yakni menggunakan subjek tikus atau primata (selain manusia), dalam dosis tinggi yang tidak mungkin terjadi pada manusia.

Selain daripada itu, pada primata, dosis diberikan langsung dengan cara disuntikkan, berbeda dengan manusia yang dikonsumsi tidak secara langsung melalui bumbu penyedap makanan. Namun demikian, jika diberikan kepada orang hipersensitif dalam dosis tertentu dapat menyebabkan pusing, mual, sakit kepala, keringat dingin, hingga perubahan pada perilaku. Pada orang umumnya, micin dapat menyebabkan hipertensi. 

Kaitan Generasi Micin dan Generasi Millenial

Generasi micin sebenarnya hanya kata kiasan yang digelontorkan beberapa orang yang kemudian menjadi viral di media sosial. Hal yang perlu diperhatikan adalah generasi micin diperuntukkan bagi mereka yang memiliki pikiran pendek sebelum bertindak. Artinya, secara kasar, generasi micin merupakan julukan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang “bodoh”.

Demikian, cap yang diberikan generasi millenial terhadap “generasi micin” saat ini sebenarnya kurang tepat. Adapun kebodohan bukan disebabkan oleh micin, tetapi  disebabkan oleh diri kita sendiri yang malas untuk belajar dan berusaha.

Kebodohan hanya bisa diberantas dengan belajar terus menerus. Kita sebagai generasi millenial pun harus lebih belajar lagi sebelum memberikan cap generasi micin kepada seseorang.  

302 Views

Author Overview


A. Khalil Gibran Basir
Rumah Kepemimpinan Regional 7 | CEO dan Co-Founder Panrita Studio | FIM 19

More Journal from A. Khalil Gibran Basir


Siri' Na Pacce: Falsafah Suku Bugis-Makassar yang Salah Interpretasi
6 days ago

Top Answers


Bagaimana cara membangun tim awal startup/perusahaan?
3 weeks ago

Online Marketplace apa saja/mana saja yang ada di Indonesia untuk saat ini?
3 weeks ago