selasar-loader

Bahkan KPK Punya Dokter

LINE it!
Nurul Muizah
Nurul Muizah
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM | www.sepotongpermen.wordpress.com
Journal Nov 12

Xuh6ofJcGb8_LKcKy_LjfISGHaAiLbXL.jpg

Mendengar kata dokter, setiap dari kita mungkin membayangkan seseorang berjas putih lengkap dengan stetoskop dan bekerja di Rumah Sakit atau klinik. Atau mungkin kita teringat salah satu cita-cita paling mainstream yang pernah ada. Masuk Fakultas Kedokteran seakan menjadi sebuah keniscayaan untuk menjadi seorang dokter. Padahal beium tentu.

Tahukah anda? Bahwa pilihan karir seorang lulusan Fakultas Kedokteran lebih luas dari menjadi dokter yang yang berpraktik di klinik atau Rumah Sakit?

Perkenalkan, Dokter Kunto Wiharto, dokter spesialis Kedokteran Nuklir yang pernah bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2010. Dokter Kunto Wiharto turut andil dalam pengusutan kasus korupsi selama beliau bertugas di KPK.

Dalam penanganan kasus korupsi maupun kejahatan lainya, seorang dokter dapat memiliki andil yang cukup besar. Tak jarang terdakwa atau tersangka benar-benar memiliki gangguan medis atau hanya pura-pura sakit agar dapat menghindari proses hukum.

Sakit merupakan salah satu alasan paling klise untuk menghindari KPK. Karena jika tidak dalam keadaan sehat, seseorang yang dicurigai korupsi  tidak boleh disidik, ditahan, atau disidang. Jadi jangan heran jika koruptor hari ini banyak yang mangkir karena “sakit” katanya. Di sinilah keahlian seorang dokter profesional yang mampu menegakkan keadilan diperlukan untuk memastikan apakah terdakwa benar-benar sakit atau hanya berpura-pura sakit.

Dalam kasus Anggodo Widjojo pada persidangan tanggal 11 Mei 2010 misalnya. Terdakwa perkara percobaan pemimpin KPK ini mengeluh sakit kepala, gangguan telinga kanan, dan nyeri sekujur tubuh sehingga mengaku tak dapat melanjutkan persidangan. Anggodo juga menunjukkan surat keterangan sakit yang menuliskan bahwa Anggodo menderita sakit maag.

Di saat seperti ini, dokter Kunto Wiharto beraksi dengan memeriksa terdakwa saat itu juga. Hasil pemeriksaan vital menunjukkan bahwa kondisi Anggodo normal. Tanda dan gejala yang ditunjukkan Anggodo saat itu juga tidak cocok dengan penyakit maag. Anggodo dinyatakan sehat dan diminta melanjutkan persidangan. Baru masuk ruangan, Anggodo kembali mengeluh sakit namun persidangan tetap dilanjutkan. Benar saja, Anggodo tetap mampu berdebat meskipun sedang “sakit”.

Lain lagi dalam kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) dengan tersangka Nunun Nurbaeti. Nunun mengaku menderita sakit lupa berat sehingga pergi ke Singapura untuk pengobatan meskipun dicari oleh KPK. Tim Dokter KPK, termasuk dokter Kunto Wiharto pun menyelidiki rekam medis Nunun yang menuliskan bahwa Nunun menderita penyakit lupa. Namun Nunun tak juga kembali ke tanah air dan baru tertangkap pada tanggal 9 Desember 2011 di Bangkok, Thailand. Nunun dijatuhi hukuman dua tahun dan enam bulan penjara serta denda Rp 150 juta subsider tiga bulan penjara.

Dalam kasus suap proyek Wisma Atlet SEA Games, Muhammad Nazaruddin mengalami stress sehingga sakit. Ada masa di mana Nazaruddin harus dirawat inap di RS karena menurut salah satu dokter KPK, dokter Yohanes, Nazaruddin muntah sampai 15 kali dan harus dirawat inap. Ada lagi masa di mana Nazaruddin yang stres tampak lesu namun menurut pameriksaan dokter KPK masih cukup kuat untuk dilakukan pemeriksaan hukum.

Ada juga tersangka korupsi yang bergulung-gulung dan terbatuk-batuk di lantai, namun ketika diperiksa oleh dokter semuanya normal sehingga tetap diproses karena dinyatakan sehat. Namun, belakangan Hengky Samuel Daud, tersangka dalam kasus proyek mobil pemadam kebakaran Kementerian Dalam Negeri,  meninggal saat menjalani masa hukuman di LP Cipinang.

Pada akhirnya pemberantasan korupsi memang bukan tugas seorang dua orang, tapi tugas semua orang. Bukan hanya tugas satu-dua lembaga, tapi tugas semua. Perlawanan melawan kejahatan butuh kolaborasi banyak keahlian dan kekuatan nurani. Tak ada yang tanpa cela, tapi kita bisa bersama saling mengoreksi, mengingatkan, menegakkan keadilan.

#InspirasiOktober #RumahKepemimpinan

 

Referensi

Tim Buku TEMPO. 2013. KPK Tak Lekang. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia-Tempo

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/12/09/151184-kpk-dalami-rekam-medik

https://profil.merdeka.com/indonesia/n/nunun-nurbaetie/

https://news.detik.com/berita/d-1871177/-dokter-kpk-nazaruddin-di-hadapan-saya-muntah-15-kali

http://news.liputan6.com/read/349352/dokter-kpk-pastikan-nazaruddin-sehat

https://nasional.tempo.co/read/351608/kpk-siapkan-dokter-untuk-nazaruddin

56 Views