selasar-loader

Malaka, Setitik Cahaya di Maros

LINE it!
Fadil Ihsan
Fadil Ihsan
Ilmu Komunikasi UNHAS 2015 | Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar Angkatan 8
Journal Nov 12

WJ7OEjp0a7xnaXMxYKtciDfz79U_FEJp.jpg

Indonesia merupakan negara dengan kehidupan yang beragam, mulai dari  bahasa, tarian, suku, hingga alam yang membuat negeri ini menjadi paru-paru dunia. Keberagaman ini lahir dari sesuatu yang kecil yang berkumpul menjadi satu atas nama Indonesia dan di ujung sana ada hal kecil itu yang bersinar menjadi salah satu bukti atas keberagaman itu.

Tempat itu adalah Malaka, dusun yang terletak di Desa Cenrana Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dengan waktu kurang lebih 4 jam dari pusat kota Makassar, dengan jalur yang melewati tempat rekreasi Bantimurung, para pengunjung bisa tiba di sana. Desa Cenrana Baru terdiri dari lima dusun dan salah satunya adalah Malaka.

300 Dari 1200 kepala keluarga yang ada di Desa Cenrana Baru tinggal dengan tentram di dusun yang dikelilingi oleh pegunungan. Bapak Zaenal adalah pemimpin dari desa itu yang telah menjabat sebagai kepala desa selama tiga tahun. Beliau telah delapan tahun tinggal di Malaka dengan berbagai macam sambutan hangat dari para warga.

Jika melihat dari aspek ekonomi, sangat jarang ditemukan pegawai negeri sipil dan 10% masyarakat merantau keluar daerah. Profesi masyarakat di sana mayoritas adalah petani. Hal itu ditunjang karena keadaan alam yang melimpah. Cabai, kacang-kacangan, kemiri dan sayuran lainnya menjadi jantung dalam perputaran ekonomi di daerah itu. Aktivitas bertani itu sendiri mulai dilakukan ketika musim penghujan tiba.

Hasil pertanian biasanya dikonsumsi oleh masyarakat dalam kesehariannya dalam arti lain menyuplai makanannya sendiri terkecuali ikan yang sangat jarang didapatkan. Sisanya akan dijual keluar Malaka oleh pengumpul yang rutin datang sebagai distributor pemasaran. Para pengumpul juga memilih hasil alam apa yang laku untuk dijual ke pasar terdekat. Cabai dan tomat merupakan hasil alam yang sulit terjual dan hal itu dikeluhkan oleh warga. Penjualan terbesar terjadi pada kemiri dan kacang-kacangan yang sangat melimpah. 

Tapi progres dari para petani belum mencapai puncaknya. Mereka masih kurang terampil dalam bekerja, ilmu dan skill masih tak memadai karena selama ini mereka hanya mendapatkan semua hal itu secara turun-temurun. Seiring berjalannya waktu, kepala desa telah mengupayakan untung mendatangkan para ahli yang diharapkan dapat memaksimalkan produksi petani untuk kemajuan ekonomi Malaka itu sendiri.

Untuk bahan bakar memasak, warga Malaka lagi-lagi mengandalkan hasil alam sebagai pijakannya. Kayu yang kering diproses menjadi arang yang nantinya dipakai dalam keperluan memasak. Ketika sampai di sana, terdapat banyak galian berbentuk persegi yang akan membuat para pengunjung heran. Galian itu sendiri merupakan wadah dari proses pembuatan arang. Kayu yang sudah tua dan kering akan dibakar dan ditimbun dalam satu malam. Kemudian keesokannya akan dibuka dan diambil sebagai kebutuhan masak masyarakat.

99 Persen warga di desa Cenrana Baru beragama Islam dan 100 persen di dusun Malaka beragama Islam pula. Ketika selesai Salat Isya ataupun Subuh, jamaah di masjid mengadakan dzikir bersama dengan cara yang berbeda, dengan cara yang menarik perhatian bagi yang melihatnya, dan aliran itu disebut dengan Khalwatiah. Sebuah pemahaman yang sudah lama terikat di daerah itu.

Hubungan masyarakat di sana sangat kental. Hal itu menjadi kunci kemajuan Dusun Malaka. Bisa dilihat dari sambutan masyarakat yang begitu ramah, senyuman yang mudah dan berkesan, penawaran untuk berteduh di rumah mereka, tatapan yang mengambarkan jika mereka senang dengan para pengunjung. Semuanya lahir dari jauh-jauh hari yang dipersiapkan menjadi kuat agar budaya tak terkikis oleh zaman.

 Tradisi di Malaka juga banyak. Lahirnya kekeluargaan yang erat salah satunya dikarenakan kegiatan-kegiatan bersama seperti acara pernikahan, khitanan, barang baru dan peringatan kematian. Pernikahannya sangatlah unik dan memegang budaya Bugis yang kuat pula.

Salah satu keunikannya, sebelum menikah para pengantin akan diantar ke guru yang mengajarkannya mengaji dan guru itu akan diberikan kue atas ucapan terima kasih. Hal itu pula dilakukan terhadap imam dan kepala desa setempat. Alhasil rumah dari ketiga pihak yang dianggap penting di dusun itu dipenuhi oleh kue yang beraneka warna dan mereka bingung ingin dikemanakan kue itu saking banyaknya. Indahnya adalah di dusun ini masih ada yang dituakan dalam artian menjadi panutan masyarakat seperti mereka kepala desa dan imam.

 Menariknya lagi setiap warga yang memiliki barang baru yang mewah seperti mobil, masyarakat akan membuat acara makan untuk menyampaikan rasa bersyukurnya kepada yang Maha Kuasa dan menggambarkan bahwa mobil itu menjadi barang yang mempersatukan antar individu bukan untuk saling memamerkan kepada pihak lain yang akan menimbulkan pemikiran negatif.

Hal menarik lainnya adalah setiap tahun diadakan peringatan kematian. Warga yang wafat tiap tahunnya akan dibuatkan acara untuk didoakan, seperti berzikir bersama. Jadi orang-orang yang telah wafat, tidak pergi dan dilupakan begitu saja, akan tetapi selalu tetap dikenang tiap waktunya.

Segala macam kegiatan itu dipersiapkan satu pekan sebelum hari perayaan. Jadi para warga telah bersiap jauh-jauh hari seperti membuat panggung, atap, dan segala macam yang dibutuhkan untuk memeriahkan kegiatannya. Sangat berbeda di kota yang hanya membutuhkan satu hari persiapan contohnya dalam acara pernikahan.

 Banyak hal kecil lainnya yang sangat indah seperti para ibu yang melipatkan baju kepala desa, kepala desa yang sangat jarang makan di rumah karena tawaran dari para tetangga, dan semua itu menggambarkan bahwa nomor rumah hanyalah formalitas, bukan untuk membedakan. Semua rumah adalah milik mereka satu sama lain di dusun yang amat indah.

Gotong royong dalam membersihkan dusun juga akan sering tampak. Masjid merupakan alat penginformasian gotong royong itu dan kegiatan-kegiatan lainnya. Jadi tidak heran jika melihat tatanan rumah, keindahan, keasrian, yang begitu baik di Malaka. Banyaknya tradisi itu melahirkan kekuatan kekeluargaan yang begitu kokoh. Akan sangat mustahil melihat Malaka tanpa adanya acara di tiap bulannya.

Keamanan juga sangat tinggi karena kesadaran tiap warga yang begitu baik. Motor pun dengan kunci terpajang di atasnya, tak akan ada warga Malaka yang berani melakukan tindakan menyimpang seperti mencuri karena sekali lagi tingkat kesadaran. Begitu pula dengan remaja di sini. Mereka melakukan penyimpangan yang masih bisa ditolerir oleh masyarakat. Dalam mencari hiburan pun, anak-anak lebih sering memainkan permainan tradisional seperti bermain karet, dende, kelereng dan masih banyak lagi. Biasanya juga para remaja keluar dari desa mencari hiburan yang tentu positif.

Guna memajukan dusun Malaka yang lebih baik, Kepala Desa berupaya keras membangun pendidikan secara perlahan. Hal yang pertama kali diubah adalah pola pikir para orang tua yang beranggapan bahwa dengan mengetahui baca dan tulis itu sudah cukup untuk menyambung hidup karena dengan begitu para anak-anak bisa lebih meluangkan waktunya untuk membantu orang tua bekerja.

Di kota, para orang tua rela mengorbankan biaya yang mahal agar anaknya bisa sekolah tinggi-tinggi, tapi di Malaka berbeda. Motivasi orang tua untuk menyekolahkan keturunannya masih minim, tapi setelah melihat perbedaan yang nyata dari seorang anak dengan pendidikan rendah dan tinggi ditambah lagi doktrin dari kepala desa, membuat Ibu dan Bapak di sana mulai memahami arti dari sebuah ilmu yang sesungguhnya.

Pola pikir yang telah diubah itu menghasilkan hal yang menjanjikan pula. Alhasil dalam segi pendidikan, Malaka lagi-lagi berada di depan dibanding dusun lainnya. Dusun itu menjadi daerah yang satu-satunya memiliki SMA, karena dusun lainnya hanya terdapat SD dan SMP. Tapi selalu ada batu yang tak kuat menahan beban di atasnya. Malaka kekurangan tenaga pendidikan. Adanya motivasi yang tinggi tanpa didukung dengan kondisi yang ada juga tak dapat menghasilkan suatu yang maksimal. Para guru pun kebanyakan berasal dari luar daerah itu.

Di lain sisi, sang Kepala Desa melarang keras para siswa untuk melanjutkan sekolahnya di luar Malaka alasannya adalah para murid ditakutkan hanyut oleh budaya luar dan akan merusak secara perlahan dusun Malaka. Tapi lambat-laun melihat keadaan yang tidak kondusif, ditambah lagi keinginan dari anak-anak dan remaja yang tak bisa dibendung lagi, Kepala Desa pun membiarkan mereka menuntut ilmu di luar sana. Selalu ada dua hal yang dibawah pulang, positif dan negatif, tinggal bagaimana masyarakat Malaka mampu menyaring hal-hal dari luar yang akan merusak budaya mereka.

Manusia yang menetap di lingkungan alam terbuka memungkinkan warganya tak rentan terkena penyakit karena mereka telah menyatu dengan alam. Jadi sangat jarang ada warga Malaka yang sakit. Dengan begitu dalam aspek kesehatan, para warga terbantu dengan kekuatan fisik yang mereka miliki.

Faktanya di Malaka ini masih kekurangan tenaga medis. Ternyata di daerah ini hanya terdapat satu bidan saja, dan itu merupakan satu-satunya tenaga medis yang dimiliki Malaka. Jika ada warga yang sakit parah, dulunya para warga beramai-ramai menggotong atau membawa pasien keluar jalan poros untuk selanjutnya dibawah oleh kendaraan yang lalu lalang di jalan. Mereka melakukan hal itu karena akses jalan yang tidak memadai ditambah lagi masih minimnya kendaraan yang dimiliki.

Setahun belakangan ini skala akses jalanan dengan jarak 1.92 km sedang dalam proses pengecoran dan akan dibeton. Jauhnya lokasi rumah sakit dari dusun Malaka menambah beban warga, oleh karena itu jika ada yang sakit, pasien akan dirawat di puskesmas terdekat.

Malaka adalah dusun termaju di Desa Cenrana Baru. Dalam tiga tahun masa jabatan kepala Desa saat ini, sudah ada empat penghargaan yang didapat. Desa Cenrana Baru juga selalu mengadakan lomba tiap tahunnya antar dusun dan hasilnya Malaka menjadi juara satu di tahun 2014 dengan penilaian kebersihan, kegiatan masyarakat, penataan rumah dan masih banyak lagi. Jadi jangan heran ketika datang melihat dusun yang sangat tertata rapi.

Segala keluhan masyarakat telah didengar oleh para pihak berwenang. Hal itu terbukti dengan kunjungan para pejabat Gubernur sampai Bupati yang sering kali dilakukan ke dusun ini. Tahun 2016 ada perencanaan pembangunan bendungan untuk memudahkan kebutuhan air masyarakat dan itu menjadi bukti tambah dari sikap pemerintah terhadap daerah kecil.

Ada banyak kekayaan di sini, ada banyak hal yang terpendam yang harus tetap dijaga oleh semua pihak salah satunya adalah keindahan air terjun Lacolla yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan. Lagi-lagi itu terjadi karena salah satu stasiun televisi nasional pernah datang meliput keasrian dari dusun Malaka. Ada setitik cahaya indah di ujung sana, dan itu adalah Malaka.

46 Views

Author Overview


Fadil Ihsan
Ilmu Komunikasi UNHAS 2015 | Rumah Kepemimpinan Regional 7 Makassar Angkatan 8

Top Answers


Bagaimana cara fundraising yang tepat untuk membiayai startup bisnis yang kita miliki?
3 weeks ago

Mengapa orang takut berbisnis?
3 weeks ago