selasar-loader

Blue Zero Waste by Cleaning Divers

LINE it!
Agus Rahman
Agus Rahman
Departemen Biologi Unhas ||RK VII Makassar
Journal Nov 13

gfvP6jeHJJC8hvePqslKPl8VBvKXDqvs.jpg

There will be more waste plastic in the sea than fish by 2050, unless the industry cleans up its act”

-Ellen MacArthur

Fenomena sampah plastik bawah laut (marine plastic debris) merupakan ancaman serius bagi nasib lingkungan hidup hari ini, terutama lingkungan laut. Isu pemanasan global adalah hilir dari permasalahan sampah plastik di lautan. Sekitar delapan juta ton sampah plastik beredar di lautan dunia setiap tahun, menurut riset yang dikemukakan pada pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS).

Ketika sampah plastik telah masuk ke dalam lautan, sampah plastik akan lebih sukar rusak, hancur, atau terurai. Jika hal ini tidak dipandang sebagai masalah global yang serius, bukan tidak mungkin lelucon di atas akan menjadi kenyataan.

Lautan memegang peranan penting untuk kelestarian mahluk hidup. Lautan merupakan genangan air tebesar yang berperan untuk merehabilitasi gas-gas dan polutan berbahaya. Sekitar 71% dari luas permukaan bumi adalah perairan dan 97,5% dari wilayah perairan adalah perairan asin (lautan).

Berdasarkan data dari departemen biologi Dalhousie University oleh mora (2011), lingkungan laut dihuni oleh sekitar 2,2 juta jenis organisme dan lebih dari 50% populasi manusia hidup di daerah pesisir dan banyak memanfaatkan sumber daya dari daerah ini (Anderson, 2009).

Dari timur Indonesia, Sulawesi Selatan hadir dengan membawa potensi laut yang sangat besar. Menurut koalisi pemerhati wilayah pesisir Sulawesi Selatan (2015), Provinsi Sulawesi Selatan memiliki garis pantai sepanjang 1.937 km dan luas perairan laut 266.877 km2 dengan 263 pulau-pulau kecil (Kepulauan Spermonde) yang tersebar di beberapa kabupaten di antaranya Makassar, Kabupaten Selayar, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Kangkaje’ne dan Kepulauan (Pangkep). Namun potensi ini belum dapat teroptimalkan karena adanya pendegradasian lingkungan laut secara terus menerus yang disebabkan (salah satunya) oleh sampah plastik.

Telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah sampah plastik di lautan, baik penerapan kebijakan seperti pemberlakuan kantong plastik berbayar, pelarangan mendirikan bangunan di sekitar DAS, filter sampah di pintu air sebelum ke laut, pengadaan kapal sampah atau dengan sosialisasi/pengedukasian seperti aksi sanitasi, kampanye diet kantong palastik, konsep 3R, dan lain sebagainya. Tentunya semua metode yang dilakukan bertujuan untuk menyelesaikan polemik sampah plastik di lautan.

Namun kembali lagi, kesadaran untuk menciptakan lingkungan laut yang bersih haruslah menjadi milik pribadi. Oleh karena itu, upaya penyelesaian masalah ini harus terus digencarkan dengan metode-metode yang lebih inovatif dan kreatif. Salah satu metode penanggulangan sampah yang inovati dan tren dikalangan kaum milenial hari ini adalah konsep zero waste adventure.

Zero waste adventure sendiri merupakan satu gerakan untuk tidak membawa sampah ketika melakukan pendakian. Hal apapun yang berpotensi menjadi sampah seminimal mungkin tidak digunakan. Selain itu, seorang pendaki memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjaga kebersihan lokasi pendakian, tetapi juga membawa pulang atau mengambil sampah yang ditemukan dari tempat pendakian.

Dengan kata lain ketika mendaki dilarang membawa sampah, ketika turun diharuskan untuk membawa sampah yang ditemukan di lokasi pendakian. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk kampanye atau ajakan mencintai dan peduli lingkungan demi terwujutnya cita cita sustainable development goals 2030. Tentunya ini merupakan tren ekspedisi yang sangat positif.

Konsep zero waste adventure dapat dibawa ke lingkungan laut sebagai salah satu solusi penanggulangan sampah plasti bawah laut (marine plastic debris). Sebagai tempat yang memiliki daya tarik wisata, lautan adalah tempat yang sering di akses oleh manusia, baik dengan aktivitas berenang, snorkling, atau aktivitas olahraga ekstrim seperti diving.

Tren zero waste adventure dapat diterapkan dengan melakukan aktivitas parawisata/hobi seperti biasa, sembari membiasakan diri mengambil sampah plastik yang ditemukan dan membawanya ke daratan untuk diolah selanjutnya. Meskipun aktivitas ini tidak mengurangi angka sampah plastik di lautan secara signifikan, metode ini dilakukan lebih kepada bentuk kampanye atau ajakan untuk menjaga laut dari sampah plastik.

Adapun aktivitas parawisata bahari yang sangat diminati oleh banyak kalangan hari ini adalah aktivitas diving (selam). Keindahan bawah laut yang spektakuler adalah daya tarik utamanya. Meskipun biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang diver cukup mahal, tidak sedikit orang yang mau membayar mahal untuk menikmati keindahan bawah laut tersebut. Selain kepentingan parawisata, aktivitas ini dilakukan karena beberapa kepentingan lain seperti kepentingan penelitian, survei/monitoring, underwater photography, pendidikan, training, olahraga dan lain- lain.

Di Sulawesi Selatan sendiri, diving adalah olahraga yang banyak digeluti oleh berbagai kalangan. Baik dari kalangan mahasiswa, peneliti, ataupun seorang penyelam wisata. Di samping itu, frekuensi aktivitas diving yang cukup tinggi, mengingat banyaknya gugusan pulau di Kepulauan Spermonde yang menyimpan surga bawah laut.

DwbXiEM1TDGWUBubVmM2V8Vh6ZV9DZX2.jpg

Kerbatasan orang lain untuk menggakses lingkungan bawah laut membuat seorang penyelam memiliki tanggung jawab yang besar untuk menerapkan konsep zero waste advanture, baik untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Selain itu, beberapa hal yang perlu direnungi oleh seorang penyelam yaitu (1) tidak ada orang di luar sana yang akan mengangkat sampah plastik di dalam laut ketika dia yang dapat mengakses hal itu tidak berbuat apa-apa. (2) dengan melakukan konsep zero waste advanture kita dapat berkontribusi untuk lingkungan melalu apa yang kita sukai (hobi).

Pada pertengahan tahun 2017, tepatnya di bulan September telah diselenggarakan aksi bersih sampah bawah laut oleh berbagai kalangan penyelam dari berbagai komunitas selam yang tergabung dalam persatuan olahraga selam seluruh Indonesia Sulawesi Selatan. Berangkat dari kecintaan sekaligus keprihatinan terhadap lingkungan laut Sulawesi Selatan, ribuan partisipan yang terdiri atas kelompok penyelam dan snorkling datang secara suka rela mengikuti aksi bersih sampah bawah laut dengan mengangkat tema “Save our seas” . Lokasi  penlaksanaan aksi tersebar di 8 pulau di Kepulauan Spermonde. Aksi ini juga mendapat dukungan langsung dari Kementerian Koordinasi Kemaritiman.

xPxRBzVkvhp3GjpX4px7oUY4GyAytig_.jpg

Kegiatan aksi bersih sampah bawah laut pada dasarnya tidak akan dapat menurunkan jumlah akumulasi sampah di lautan Sulawesi Selatan. Selayaknya konsep zero waste, penyelam dilarang membawa bahan jenis apapun yang dapat berpotensi sebagai sampah, tetapi dituntut untuk mengangkat sampah plastik yang ditemukan ketika aktivitas penyelaman.

Aksi ini lebih dimaksudkan untuk mengampanyekan pentingnya menjaga laut dari kontaminasi sampah plastik. Di samping itu, aksi ini juga dapat membawa pesan bahwa “Membuangnya (sampah plastik) ke laut adalah satu perkara yang mudah kemudian mengangkatnya dari laut adalah hal yang sulit dan sangat menguras tenaga”.

Aksi ini dimulai dengan tahapan pendaftaran bagi para penyelam. Selanjutnya para peserta yang telah diterima, mengikuti pembekalan dan petunjuk teknis perihal aksi. Dalam pembekalan tersebut, ribuan peserta akan dibagi ke dalam 8 keberangkatan kapal untuk 8 pulau target di sekitar Kepulauan Spermonde.

Peserta yang telah di data dipersilakan masuk ke dalam kapal selanjutnya menuju ke lokasi aksi pembersihan sampah. Sampah yang diambil dari dalam laut di simpan di atas kapal untuk kemudian diolah selanjutnya di darat. Setelah semua kapal kembali dan membawa sampahnya, hasil sampah yang berhasil diangkat dari lautan ditimbang terlebih dahulu. Terakhir sampah yang telah dikumpulkan di distribusikan ke tempat pengolahan sampah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penimbangan, jumlah sampah plastik yang berhasil di angkat dari setiap pulau yang di targetkan sebagai berikut:

 

NO

NAMA PULAU

SAMPAH YANG DIPEROLEH

(kg)

1

Kodingareng keke

40

2

Bone batang

45

3

Barang caddi

91

4

Lumu-lumu

186,5

5

Samalona-Kodingareng

keke

43

6

Lae-lae dan Barang

1.418,5

 

Jumlah

1.824

 

Sebanyak 1,8 ton sampah plastik berhasil diselamatkan dari lautan. Pulau dengan perolehan sampah terbanyak ada pada Pulau Lae-lae dan Pulau Barang Lompo. Jika dilihat dari kondisi Pulau Lae-lae yang sangat dekat dengan daratan Makassar dengan frekuensi pengunjung yang cukup tinggi, data di atas dipastikan cukup menggambarkan kondisi Pulau Lae-lae.

Sedangkan Pulau Barang Lompo adalah pulau yang paling padat penduduknya dibandingkan dengan pulau lain digugusan pulau Makassar maka tidaklah heran jika perolehan jumlah sampah di pulau tersebut cukup tinggi.

Setelah aksi selesai, ada banyak hal yang dapat kita pelajari, bukan soal seberapa banyak sampah yang diperoleh, bukan soal apa yang telah dilakukan. Namun lebih kepada terbangunnya kesadaran pribadi. Sebagai manusia yang diberikan amanah oleh tuhan untuk menjaga lautan, yang kini sedang sekarat oleh sampah plastik.

sumber gambar: nmssanctuaries.blob.core.windows.net

SUMBER:
doi:10.1371/journal.pbio.1001127
Anderson, 2009, Keaneka ragaman hayati laut, ITB, Bandung.

104 Views

Author Overview


Agus Rahman
Departemen Biologi Unhas ||RK VII Makassar

Top Answers


Mengapa orang takut berbisnis?
2 weeks ago

Siapa itu Homo Neandertal?
2 weeks ago