selasar-loader

Beban Anies Lebih Berat dari Ahok

LINE it!
Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar
A good world needs knowledge, kindliness, and courage - Bertrand Russell
Journal Oct 23, 2017

j_KePpUEYcommrF8m-yZhJl9O_QlHdRt.jpg

Di pertengahan Oktober, DKI Jakarta telah memiliki pemimpin baru. Anies Baswedan dilantik sebagai gubernur, dan Sandiaga Uno sebagai wakil gubernur. Anies berangkat dari latar belakang dunia pendidikan, dan Sandi dari kalangan pengusaha.

Di atas kertas, kolaborasi dua kutub latar belakang itu terbilang sangat ideal. Anies dapat menciptakan budaya yang memiliki ruh pendidikan, dan Sandi bisa melejitkan pola pikir dan tren yang membuka keran kesejahteraan.

Ya, mereka sama-sama punya rekam jejak terbilang istimewa di dunia karier masing-masing sebelum menghuni balai kota di kampung besar bernama DKI Jakarta.

Hanya saja, tanda tanya pastilah muncul di benak banyak orang; apakah pengalaman mereka masing-masing akan berpengaruh pada terangkatnya kehidupan masyarakat di Jakarta?

Untuk saat ini, mereka belum sepekan menjabat. Langkah-langkah mereka belum cukup teraba. 

Yang baru menonjol adalah pidato saat pelantikannya yang panjang dan bertele-tele hingga menuai protes lantaran menyinggung perihal sensitif yang terasosiasikan ke dikotomi pribumi-nonpribumi.

Soal pidato itu, semestinya lebih baik dibuat mirip kata pengantar di buku-buku saja. Artinya, apa yang ingin dilakukan, bagaimana bayangan "isi buku", hingga apa yang ingin diketengahkan dari buku tersebut.

Sayangnya, pidato itu lebih mirip naskah "lomba pidato" yang bertabur kalimat indah, dan terlihat seperti seseorang sedang berkhayal menjadi presiden.

Ya, jamak diketahui, menjadi gubernur di provinsi sekelas DKI bisa menjadi tiket untuk menjadi presiden. Toh, Joko Widodo sendiri memang telah membuktikan itu.

Perbedaannya, Jokowi yang memang meninggalkan DKI di tengah jalan, tak sepenuhnya meninggalkan pekerjaannya. Sebab ia masih punya perpanjangan tangan pada sosok Basuki Tjahaja Purnama, seorang eksekutor yang memang tak punya kemampuan bermanis-manis bahasa seperti Anies.

Rencana Jokowi dan Ahok memang tak sepenuhnya tereksekusi, dan ini tak lepas dari kekuatan politik yang begitu tekun menciptakan riak hingga Ahok pun tumbang sebelum waktunya.

Djarot, terlepas juga telah bekerja sepeninggal Ahok, namun tak sepenuhnya bisa melanjutkan konsep yang diusung Jokowi-Ahok di awal mereka menjabat. Sebab, Djarot cenderung mendapatkan peran sebagai "figuran" dalam perjalanan visi diusung pasangan sebelumnya. 

Paling tidak proyek diusung Jokowi-Ahok tak sampai terhenti karena langkah mereka terhenti. Sedikitnya, ini yang membuat pasangan tersebut tak sampai harus dihantui perasaan bersalah.

Gol-gol yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat, kesehatan, hingga pendidikan tak sedikit telah dieksekusi Jokowi-Ahok-Djarot.

Belum selesai. Sebab Jokowi pun tak bisa menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur, sebab posisi presiden sedang membutuhkannya.

Apa iya kursi presiden membutuhkannya? Bagi yang anti sosok mantan pengusaha meubel ini, dapat dipastikan lebih tertarik mengatakan jika Jokowi sendiri yang silau dengan kekuasaan yang lebih tinggi.

Tak apa-apa. Sebab, jika Jokowi tidak mencalonkan diri saat itu, maka Prabowo Subianto hampir dipastikan menjadi presiden. Jika itu terjadi, aroma-aroma Orde Baru sedikitnya akan kembali.

Bukan rahasia jika Prabowo sendiri bisa meraih karier militer istimewa tak lepas dari kedekatannya dengan Soeharto yang notabene mertuanya. Terlepas, prestasinya pun disebut-sebut turut andil dalam melejitkan kariernya, namun di tengah kultur nepotisme "masih halal", tetap saja prestasi itu tak cukup dapat dibanggakan.

Paling tidak gagasan-gagasannya dalam menyejahterakan prajurit di lingkarannya, menjadi sebuah prasasti tersendiri yang boleh jadi dapat mengilhaminya untuk menyejahterakan rakyat. Itu cerita jika saja Prabowo jadi presiden.

Namun Prabowo tersandung justru karena Jokowi memilih maju dengan bekal yang terbilang "remeh" di mata pihak yang antipari kepadanya; bekas pengusaha meubel, jadi wali kota Solo, dan hanya setengah jalan memimpin DKI. Sialnya, bekal yang terbilang "setengah" tersebut justru memuluskan langkah Jokowi menjadi presiden, dan Ahok justru jadi penggantinya di posisi gubernur DKI.

Di sinilah masalahnya. Kalangan konservatif yang diwakili masyarakat Muslim garis keras, tak bisa menerima; lha kok seorang Kristiani, seorang Tionghoa, yang notabene mayoritas ganda jadi pemimpin?

Di sanalah lahir penolakan demi penolakan. Rencana demi rencana yang pernah digagas Ahok bersama Jokowi tak sepenuhnya mulus karena penolakan tersebut. Bahkan ketika ada terobosan dilakukan, maka tudingan itu sebagai pencitraan pun berdatangan. Bahkan teror demi teror tetap menyinggahi  pengganti Jokowi di DKI tersebut.

SnqfrVcs5C9OdFfKhwPtOBaFx-7flEv8.jpg

Teranyar, gelombang demonstrasi yang berangkat dari agitasi bahwa ada penodaan ayat suci, menjadi bumbu sukses bagi kelompok oposisi mendepak Ahok. Ini sekaligus menjadi kunci sukses bagi Anies hingga ia menguasai DKI.

Jika ditanyakan, apakah Anies menjadi gubernur karena ide-ide dan konsep pembangunannya? Ataukah ia mampu menawarkan sesuatu  yang berbeda?

Ada guyonan yang muncul, bahwa ada kelebihan Anies dengan Sandi adalah mereka telah menambah kata "plus" untuk program yang telah ada sebelumnya. Mereka hanya meniru, dan melanjutkan dengan caranya. 

Jika melihat dari guyonan itu sendiri, sejatinya Anies dan Sandi sudah lebih gampang. Mereka tak perlu harus membuat rambut rontok memikirkan kompleksitas masalah DKI. Cukup dengan mengacu pada program sebelumnya, memoles sedikit, dan mengklaim sebagai program andalan mereka.

Pertanyaannya, apakah akan semudah itu? Di atas kertas, memang semudah itu. Sebab sulit bagi Anies dan Sandi untuk begitu saja melakukan gebrakan yang bertentangan dengan pemerintahan sebelumnya di DKI. Mengambil risiko "main hantam" justru dapat memunculkan "hukum pantul" ke muka mereka sendiri. Sebab, apa yang sudah digagas Jokowi-Ahok-Djarot sudah menyentuh banyak sendi kehidupan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga DKI.

Ada pekerjaan besar diusung Jokowi-Ahok, dan sejatinya hanya berpotensi diteruskan Ahok. Bagaimana perencanaan tersebut, bagaimana peta masalah, hingga bagaimana peta solusinya, hanya dipahami Ahok karena dialah yang terlibat langsung dalam perumusan program sejak awal.

Namun, Ahok telah kalah, dan alih-alih mendapatkan penghargaan, justru ia diseret ke penjara karena masalah yang justru berada di luar pekerjaannya sebagai gubernur. Ia dituduh menistakan agama, setelah Buni Yani "menyulut api", hingga membakar amarah masyarakat Muslim di DKI dan Indonesia.

Anies pun menemukan jembatan sekaligus panggung secara langsung atau tidak langsung. Ia menanjak naik berkat isu yang berbau SARA, dengan asap yang terus diembuskan dengan tekun oleh sebuah kekuatan politik, hingga menjadi api yang terus dipelihara.

Api itu yang lantas membuat semua semakin matang; rencana Anies mengobati sakit hati didepak dari posisi menteri karena dinilai tak becus bekerja kecuali membangun citra, menemukan jalannya.

Kursi gubernur cukup menjadi obat. Terlebih ada bayangan peluang untuk nanti dapat mencicipi pertarungan di Pemilihan Presiden, tak heran jika ekspresi senyuman hampir tak lepas dari wajahnya. 

Belum lagi bahwa fakta baru tak dapat ditampik bahwa Anies telah menemukan kunci untuk dapat berkuasa; manfaatkan keluguan sebagian besar masyarakat, maka jangankan kursi gubernur, kursi presiden pun bakal dapat diraih.

Apalagi bukan rahasia pula jika di belakang Anies ada kekuatan politik yang pernah harus menelan fakta sebagai pecundang, dan merasa harus membayar itu; keberhasilan Anies menguasai DKI telah menjadi satu harga terbayar. Belum semuanya lunas.

Lalu apa masalah bagi Anies? Masalahnya tak lain adalah bagaimana ia bisa menjalankan dua kepentingan besar sekaligus; berahi politik kekuatan di belakangnya yang memang sangat besar, dan bagaimana ia dapat menciptakan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Sebelumnya, saat debat calon gubernur pun ia telah sesumbar jika pencapaian gubernur sebelumnya belum apa-apa. Sekarang, Anies dalam tantangan besar untuk membuktikan, apakah hasil kerjanya akan lebih besar dari mulutnya? Itulah beban Anies yang lebih berat dibandingkan Ahok.

Tulisan ini telah dimuat di kompasiana.com

Sumber gambar 1: Pilkada - Liputan6.com
Sumber gambar 2: Merdeka.com

568 Views

Author Overview


Zulfikar Akbar
A good world needs knowledge, kindliness, and courage - Bertrand Russell